Di sekolah, semua orang mengenal keano sebagai “Ice Prince”—cowok paling dingin, pendiam, dan hampir tidak pernah tersenyum. Tidak ada yang berani mendekatinya… kecuali naura, cewek ekspresif yang terlalu ceria untuk cowok sedingin dia.
Awalnya hanya sekadar penasaran, tapi semakin naura mencoba mendekati keano, semakin ia sadar bahwa cowok itu menyimpan banyak rahasia di balik sikap dinginnya. Meski keano selalu bersikap cuek dan berusaha menjauh, naura justru tidak pernah menyerah mengejarnya.
Di antara kejadian konyol, momen manis, dan rahasia yang perlahan terungkap, satu pertanyaan mulai muncul di hati naura:
apakah mungkin seorang “Ice Prince” akhirnya akan mencair… atau justru dia yang akan terluka karena terlalu keras mengejar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilikematchaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 34
Chapter 34 — Terpancing Emosi
Pagi itu, naura datang ke sekolah seperti biasanya. Senyumnya masih terlihat saat ia berjalan bersama viona menuju kelas.
Namun, sesampainya di koridor sekolah, beberapa siswa mulai berbisik sambil melihat ke arahnya.
"Itu naura, kan?"
"Kasian juga"
"Kira-kira dia udah tahu belum?"
"kasian banget ya dia gk bisa jaga pacarnya "
Langkah naur perlahan terhenti.
"Mereka ngomongin apa, sih?" tanyanya bingung.
viona menggeleng pelan. "gue juga gk tau nyet"
Tak lama kemudian, ponsel viona bergetar. Sebuah pesan dari teman sekelasnya masuk ke grup angkatan.
Wajah viona langsung berubah.
"nyet? Ada apa?"
"eh nyet... lo tenang dulu, ya"
viona menyerahkan ponselnya kepada naura.
Mata naura langsung membulat saat melihat foto yang terpampang di layar.
Foto kean bersama keysa di depan sebuah club.
Meski tidak terlihat jelas apa yang terjadi, sudut pengambilan gambarnya membuat mereka tampak datang bersama.
Di bawah foto tersebut terdapat tulisan anonim:
"Ice Prince ternyata punya dua hati?"
Jantung naura seakan berhenti berdetak selama beberapa detik.
lalu ia menggeleng pelan.
"gk. Gk mungkin anjing" umpatnya.
Namun foto berikutnya membuat tangannya sedikit bergetar. Terlihat kean sedang menahan tangan keysa yang hampir terjatuh.
Foto itu sengaja dipotong sehingga terlihat seperti kean sedang menggenggam tangan keysa dengan mesra.
"nyet ?..." panggil viona pelan.
" gue gk percaya, kean lo ........"
viona menggenggam tangan sahabatnya.
"Kita dengerin penjelasan kean dulu" ucap viona
naura mengangguk pelan. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Namun saat sedang berusaha berpikir jernih, keysa tiba-tiba datang menghampirinya.
"eh, lo?"
Tatapan naura langsung berubah dingin.
"ngapa lo? Ini pasti ulah Lo kan anjing?" tanyanya.
keysa menatapnya dengan wajah seolah merasa bersalah.
"sorry kalo lo jadi tau dengan cara kaya gini ya" ucapnya dengan ekspresi sedih yang dibuat buat.
"Maksud lo apa anjing ? "
Kesya menggigit bibirnya pelan.
"gue sebenarnya gk mau hubungan kalian hancur"
naura mulai mengepalkan tangannya, lalu terkekeh pelan.
" cwe gatel lo, najis kayak gk ada cwo lain aja selain kean" kini viona yang membuka suara, ia benar benar tidak habis fikir dengan makhluk bernama keysa ini.
" lo bilang gk mau bikin hubungan gue ancur, tapi lo sadar gk sama apa yang lo perbuat bajingan !" ucap naura
"Tapi kean yang nemenin gue semalem" ucap keysa santai.
Mata naura membulat.
"Itu bohong!"
Kesya menggeleng pelan.
"Dia bahkan rela datang malam-malam saat gue minta tolong"
Kalimat itu mulai membuat pertahanan naura goyah.
"Dia gk mungkin kaya gitu kalo lo gk maksa dia anjing !"
"Apa lo yakin?" tanya Keysa pelan.
Kesya kemudian menunjukkan layar ponselnya.
Terdapat tangkapan layar percakapan yang telah dipotong sedemikian rupa sehingga seolah-olah kean mengkhawatirkan dirinya.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
naura mulai terdiam.
Emosinya perlahan mulai terpancing.
"gue tau kalo lo sayang sama kean," lanjut keysa. "Tapi mungkin lo belum benar-benar mengenalnya"
"Cukup!" bentak viona yang mulai membuka suara lagi.
"gue gk percaya satu kata pun dari omongan lo ya cwe gila"
Kesya hanya tersenyum tipis.
"Terserah lo"
Tak lama kemudian, kean datang menuju kelas naura seperti biasanya.
Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat naura yang berdiri dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan serta air mata yang ingin turun ke membasahi wajah cantiknya.
"naura!"
kean mengernyit melihat ekspresinya.
"lo kenapa?"
naura tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjukkan foto yang sejak tadi digenggamnya.
kean langsung membeku.
"lo dapat dari mana?"
"Jadi ini benar?"
"naura, dengerin gue dulu"
"Jawab pertanyaan gue,anjing !"
Untuk pertama kalinya sejak mereka berpacaran, naura meninggikan suaranya kepada Kean.
Semua siswa di koridor mulai memperhatikan mereka.
"gue emang datang ke sana" jawab kean jujur.
Jawaban itu membuat naura semakin kecewa.
"lo bohong sama gue?"
"gue gk bohong! gue dijebak, naura"
" trus kenapa lo gk cerita sama gue? Apa gue gk sepenting itu buat lo hah?!" bentak naura.
"gue bahkan gk tau kalo ada yang fotoin gue!"
naura mulai menahan air matanya.
Ia sangat ingin mempercayai kean.
Namun semua bukti yang ada di depannya membuat pikirannya mulai kacau.
"gue capek terus-terusan ada keysa di hubungan kita, kean! gue cape"
Ucapan itu membuat kean terdiam.
"naura..."
"gue butuh waktu sendiri ! ayo nyet!" ucap naura, ia langsung menarik paksa tangan viona.
Tanpa memberikan kesempatan kean menjelaskan lebih jauh, naura memilih pergi bersama viona.
Kean hanya terdiam memandangi punggung naura yang semakin menjauh.
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa sangat takut kehilangan naura.
Sementara itu, dari kejauhan keysa tersenyum puas melihat semuanya.
Rencananya berhasil.
Ia tidak berhasil memisahkan mereka secara langsung.
Namun kali ini...
Ia berhasil membuat naura meragukan kepercayaannya kepada kean.
Dan itulah yang selama ini ia inginkan.
Setelah pertengkaran di koridor, naura memilih menghabiskan waktu di taman belakang sekolah bersama viona. Ia membolos.
Ia duduk di bangku taman sambil memandangi lapangan yang mulai sepi.
"gue bener-bener bingung, nyet" ucap naura lirih.
Viona mengusap pelan punggung sahabatnya.
"gue tau, ini pasti gk mudah buat lo"
"gue pengen percaya sama kean"
"Kalau begitu, kasih dia kesempatan buat jelasin"
naura menghela napas panjang.
"gue takut kalau kenyataannya justru lebih nyakitin"
Belum sempat viona menjawab, terdengar langkah kaki mendekat.
kean.
Cowok tampan itu berhenti beberapa langkah di depan naura.
"naura... boleh kita ngomong?"
viona menoleh kepada naura, seolah menyerahkan keputusan kepadanya.
Setelah terdiam beberapa saat, naura akhirnya mengangguk.
"gue tunggu di kantin" kata viona sebelum pergi meninggalkan mereka.
Kini hanya naura dan kean yang berdiri di taman.
Suasana terasa canggung.
Kean menarik napas panjang.
"gue minta maaf"
naura menatapnya.
"Minta maaf karena apa?"
"Karena gue gk cerita soal malam itu"
naura menundukkan kepala.
"Kenapa lo diem?"
"gue pikir itu udah selesai. gue gk nyangka bakal ada yang motret dan nyebarin fotonya"
naura menggenggam erat tali tasnya.
"Jadi... apa yang sebenarnya terjadi Kean?"
kean pun menceritakan semuanya dengan jujur.
Tentang pesan yang meminta tolong.
Tentang dirinya yang datang karena mengira keysa benar-benar dalam masalah.
Tentang bagaimana ia langsung pergi ketika sadar ada sesuatu yang tidak beres.
"gue sama sekali gk masuk ke tempat itu, naura"
"gue juga gk pernah punya niat buat nyakitin lo"
Tatapan kean terlihat tulus.
"gue cuma terlalu ceroboh"
Mata naura mulai berkaca-kaca. Pikirannya sangat berantakan sekarang.
" gue... pengen percaya sama lo"
"Kalau begitu, percaya sama gue"
kean melangkah satu langkah mendekat.
"gue gk pernah bohong soal perasaan gue"
Hening.
naura masih belum bisa menjawab, bukan karena ia tidak percaya.
Melainkan karena pikirannya masih dipenuhi foto-foto yang beredar.
"gue butuh waktu" ucapnya pelan.
kean mengangguk.
"Oke"
"Tapi jangan jauhin gue"
Kalimat itu membuat hati naura terasa sesak.
"gue janji bakal buktiin kalau gue gk salah"
Di tempat lain...
Kevin sedang duduk di ruang OSIS bersama Darren. Ponselnya menampilkan foto yang viral di sekolah. Ia memperbesar gambar itu berkali-kali.
"Tunggu..."
Darren mendekat.
"Ada apa?"
Kevin menunjuk ke arah pantulan kaca mobil yang terlihat samar di foto.
"Lihat ini dar"
Darren menyipitkan mata.
"Itu...?"
"Pantulannya"
Kevin kembali memperbesar gambar.
"Dari pantulan ini kelihatan ada orang yang lagi pegang kamera"
Darren mulai mengerti.
"Berarti..."
"Foto ini bukan diambil secara kebetulan"
Kevin mengangguk mantap.
"Seseorang memang sengaja nunggu momen itu"
Darren mengepalkan tangannya.
"Jadi kean bener-bener dijebak"
Kevin kemudian membuka foto berikutnya.
Ia kembali menemukan kejanggalan.
"Semua fotonya diambil dari sudut yang sama"
"Artinya fotografernya sudah siap sejak awal"
Darren mengangguk pelan.
"Kita harus cari siapa yang motret ini"
Kevin tersenyum tipis.
"Tenang"
"gue rasa... kita udah semakin dekat sama jawabannya"
Sementara itu, di ujung koridor, keysa sedang memperhatikan Kevin dan Darren dari kejauhan.
Entah mengapa...Ia mulai merasa tidak tenang.
Karena untuk pertama kalinya...
Ada seseorang yang mulai menyadari bahwa semua foto yang beredar bukanlah sebuah kebetulan.
Dan jika Kevin berhasil menemukan orang yang mengambil foto itu...
Seluruh rencananya bisa runtuh dalam sekejap.