Skywa Caeloryn Isyra
Seorang gadis hidup tanpa ibu. Di besarkan oleh orang tua tunggal membuatnya menjadi kepribadian yang mandiri. Dari kalimat yang asal di ucap namun bermakna serius. Mengantarkan Cael—begitu orang memanggilnya ke pernikahan yang dingin. Cael bak kasat mata dalam istana megah. Cinta sepihak menghancurkan seluruh mimpi dan harapannya setelah suaminya—Kavi Danendra Bimantara. Membawa wanita lain sebagai adik madu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersepeda
Setelah makan malam yang panjang dan penuh ketegangan di restoran pelabuhan, Cael akhirnya bisa bernapas lega di dalam kamar hotelnya yang tenang. Ia telah berganti pakaian dengan jubah tidur berbahan sutra yang longgar dan nyaman. Rambutnya yang tadinya disanggul rapi kini dibiarkan tergerai bebas, jatuh di atas bahunya.
Cael melangkah menuju balkon kamar yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Angin malam pelabuhan berembus lebih lembut di sini, membelai wajahnya yang lelah namun tampak sangat rileks. Di tangan kanannya, ia memegang secangkir teh chamomile hangat yang aromanya menenangkan, perlahan mengikis sisa-sisa energi negatif dari restoran tadi.
Sambil menyandarkan kedua lengannya di pagar balkon, ia menyesap tehnya perlahan. Matanya menatap hamparan laut gelap yang dihiasi kerlip lampu kapal di kejauhan, serta pantulan cahaya bulan yang bergoyang di atas permukaan air. Tidak ada lagi tatapan tajam mantan suaminya, tidak ada lagi sindiran beracun, dan tidak ada lagi beban pekerjaan. Di bawah langit malam yang sunyi, ia tersenyum tipis—menyadari bahwa ketenangan jiwa dan kemandirian yang ia miliki sekarang adalah kemewahan terbaik yang tidak akan pernah bisa direnggut oleh siapa pun.
...----------------...
"Sayang ! Kamu sudah tahu, 'kan? Kalau wanita itu bekerja disini." Sheza meluapkan rasa emosi yang bersarang di dadanya. "Apa karena, dia disini kamu memilih hotel ini?!" Tanya nya lagi masih dengan nada yang sama.
"Aku juga baru tahu dan aku sengaja mengundang tim nya untuk makan malam bersama kita. Berkat mereka pesta anniversary kita berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan kamu." Kavi menenangkan tidak ingin terbawa suasana panas itu. Meski di dalam hati riak emosi tidak mereda. "Ayo ke bandara."
Sepasang suami istri itu hari ini memutuskan untuk pulang. Kavi mendorong dua koper di tangannya. Langkah pria matang itu sangat tegas. Keberangkatan mereka saat ini tanpa di dampingi asistennya. Kavi benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua dengan Sheza setelah banyak hal mereka lewati. Namun, tanpa di duga ia bertemu mantan istri nya yang lebih baik dari sebelumnya. Hal itu membuat ego Kavi tersentil dan ada sesuatu yang mengusik dari dasar hati nya yang terdalam. Saat ini Kavi belum mengerti namun yang ia inginkan adalah tatapan Cael seperti dulu sebelum perpisahan itu terjadi.
Langkah pria itu terhenti melihat pemandangan di depannya. Cael tertawa lepas bersama Devan. Entah apa yang mereka bahas sampai gadis itu tidak bisa menghentikan tawa nya. Rasa panas menjalar didalam rongga dada Kavi hingga membuat tangannya mencengkram erat dua gagang koper.
"Ck...ternyata dia juga bisa bahagia disini. Keputusan kamu benar sayang. Dia tidak menggangu pernikahan kita." Seru Sheza tersenyum puas melihat tawa lebar dibibir Cael. Itu artinya mantan madu nya bukan lagi sebuah ancaman dalam rumah tangga nya dan Kavi.
...----------------...
Matahari baru saja terbit di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas permukaan air laut yang tenang. Kota pagi itu masih sepi dari hiruk-pikuk kapal barang, menyisakan aroma garam yang khas dan hembusan angin laut yang segar. Di sinilah mereka berempat berkumpul Cael, Devan, serta dua sahabat setia mereka masing-masing. Kaia dan Sagara.
Bagi mereka, hari libur adalah momen langka yang harus dirayakan dengan mengayuh pedal sepeda.
Cael memimpin di depan, tertawa lepas saat angin pagi memainkan rambutnya. Di sampingnya, Kaia mengayuh dengan santai sambil sesekali memotret sudut-sudut estetik pelabuhan lama menggunakan kamera saku.
Tepat di belakang mereka, Devan mengayuh sepedanya dengan ritme yang stabil. Matanya tidak lepas dari Cael, sesekali tersenyum tipis melihat keceriaan yang terpancar dari wajah gadis itu. Sagara yang menyadari pandangan penuh arti tersebut, menyenggol setang sepeda Devan sambil berbisik jahil, memecah keheningan dengan tawa maskulin mereka.
"Biasa saja mukanya. Itu senyum apa pajangan? Lebar sekali," goda Sagara sambil menaik-turunkan alis.
Devan langsung berdeham, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. "Apa sih? Lagi menikmati angin laut ini, segar sekali."
"Alasan! Angin laut apa angin merah muda?" Sagara terkekeh geli, lalu mempercepat kayuhan agar posisinya sejajar. "Aku perhatikan dari tadi mata mu tidak lepas dari dia. Dalam hati mu pasti lagi berkata, 'Untung hari ini libur, jadi bisa melihat dia sepuasnya,' iya, 'kan?"
"Jangan aneh. Aku cuma memastikan mereka jalurnya aman, di depan banyak jalan bergelombang," kilah Devan, meskipun telinganya mulai memerah.
Sagara tertawa renyah, sengaja mengeraskan suara. "Oh, menjaga jalur apa menjaga masa depan? Kalau kamu suka itu katakan, kawan ! Nanti disalip kapal tanker baru tahu rasa kamu!"
Devan tidak bisa menahan senyumnya lagi. Ia menggelengkan kepala sambil sedikit mengayuh sepedanya lebih cepat untuk mengejar rombongan di depan. "Sudah lah, fokus menggoes saja kamu. Tuh, mereka sudah jauh di depan!"
Keempatnya kini duduk melingkar di warung kopi kayu yang menjorok ke laut. Suasana pelabuhan yang mulai hangat berpadu pas dengan aroma kopi hitam dan pisang goreng yang baru matang. Angin laut sesekali meniup rambut mereka, menciptakan atmosfer liburan yang santai namun penuh energi.
"Tadi pas tanjakan dekat mercusuar, aku pikir kakiku mau lepas!" seru Kaia sambil memijat betisnya, memecah tawa di meja.
Cael tertawa lepas sambil menyodorkan piring camilan. "Makanya, jangan kebanyakan begadang. Untung tadi kita tidak sampai ketinggalan jauh di depan."
Mendengar kata 'di depan', Sagara langsung menyenggol lengan Devan di sebelahnya sambil tersenyum penuh arti. "Nah, untung kalian di depan. Jadi ada yang bisa cuci mata sepanjang jalan dari belakang."
Devan hampir tersedak kopi hitamnya. Ia buru-buru meletakkan gelasnya dan menatap sahabatnya dengan pandangan memperingatkan. "Aku tadi cuma fokus lihat jalan, ya. Takut ada lubang."
"Benarkah? Fokus lihat jalan apa fokus lihat yang jalan di depan kamu?" goda Sagara lagi, membuat Kaia ikut menoleh penasaran sambil tersenyum jahil.
Cael yang menyadari arah pembicaraan itu hanya tersenyum tipis. Wajahnya merona merah muda sehangat matahari pagi. Untuk mengalihkan perhatian, ia mengambil secangkir teh hangat lalu menatap Devan. "Terimakasih ya, kamu tadi beberapa kali kasih aba-aba saat melewati jalanan berlubang. Aku jadi merasa aman bersepeda di sini."
Devan mengangguk, senyum tulus kembali terukir di wajahnya. "Sama-sama. Aku cuma mau memastikan hari libur kamu tidak rusak karena jatuh dari sepeda."
Sagara langsung terbatuk fiktif yang sengaja dibuat-buat. "Kopiku mendadak rasanya manis sekali ya, padahal tidak pakai gula," sindirnya yang langsung disambut tawa kompak oleh kedua wanita di meja tersebut.
...----------------...
Peluit kapal kargo yang bersandar di dermaga pelabuhan bersahut-sahutan dengan deru ombak pagi. Cael dan Devan kembali melangkah melewati pintu lobi, siap memimpin ritme kerja mereka yang dinamis.
Semoga kelak, Kavi akan dihinggapi rasa sesal yang mendalam karena telah memilih Sheza