Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Wangi Melati di Pelataran Melbourne
Tiga minggu setelah insiden di Unit 3B, bau cat merah yang sempat merusak dinding Mint Dream sudah hilang sepenuhnya, diganti dengan tiga lapis cat putih bersih yang membuat ruangan terasa dua kali lebih luas. Pria berjaket kulit itu sudah berada di tahanan federal, dan "Hantu Jakarta" kini sibuk menghadapi rentetan tuntutan baru yang dikirim oleh konsorsium Singapura.
Namun, ketegangan itu mendadak menguap saat pintu kedatangan internasional Bandara Tullamarine terbuka lebar.
"Ibu!" Alya berlari, tidak peduli dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi nyaring di lantai bandara.
Di sana, seorang wanita paruh baya dengan kebaya encim sederhana dan selendang batik melambai pelan. Wajahnya yang sempat pucat karena sakit kini terlihat merona karena bahagia. Ibu memeluk Alya erat, sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa anak perempuannya ini bukan lagi pelarian yang ketakutan.
"Kamu kurusan, Al. Kurang makan santan ya di sini?" bisik Ibu, suaranya serak namun penuh kasih.
Arka menyusul di belakang, langsung mengambil alih koper besar Ibu. Dia membungkuk hormat, mencium tangan mertuanya. "Ibu sehat? Maaf Arka baru bisa ajak Ibu ke sini sekarang."
"Sehat, Ka. Apalagi pas tahu kalian baik-baik saja di sini. Jakarta itu berisik, Ibu lebih suka dengar suara kalian lewat telepon," jawab Ibu sambil mengelus bahu Arka.
Cuti yang Tak Terbantahkan
Alya dan Arka membuat keputusan radikal. Alya mengambil cuti penuh pertamanya sebagai Regional Director, dan Arka menyerahkan operasional harian akuisisinya kepada tim kepercayaannya. Selama tujuh hari ke depan, tidak ada spreadsheet, tidak ada audit, dan tidak ada email dari Singapura.
"Kita mau ke mana hari ini?" tanya Arka sambil memanaskan mesin mobil di depan apartemen.
Ibu, yang sudah duduk manis di kursi belakang sambil memangku Cali (si kucing yang langsung jatuh cinta pada bau minyak telon Ibu), menatap ke luar jendela. "Ibu mau lihat tempat yang sering kamu ceritain, Al. Yang ada burung berisiknya itu."
Mereka membawa Ibu ke Carlton Gardens. Di bawah pohon-pohon plane yang kini mulai rimbun, mereka membentangkan tikar. Alya membawa termos berisi teh melati hangat, sementara Arka mengeluarkan kotak bekal berisi nasi kuning yang dia buat sejak subuh.
"Ini Melbourne, Bu," kata Alya, menyandarkan kepala di bahu Ibunya. "Tempat Alya belajar kalau rumah itu bukan soal koordinat di peta, tapi soal siapa yang ada di samping kita pas kita jatuh."
Ibu menatap gedung Royal Exhibition Building yang megah di depan mereka. "Ibu tahu kamu berat di sini awal-awal. Ibu bisa rasa dari suaramu. Tapi lihat tembok hijau yang kalian ceritain itu... Ibu senang kalian punya warna sendiri."
Kemistri antarah merekah bertiga terasa sangat hangat dan alami. Arka, yang biasanya kaku dengan urusan domestik, terlihat sangat telaten menyuapi Ibu potongan buah, sementara Alya sibuk menjelaskan sejarah gedung-gedung tua di sekitar mereka. Tidak ada lagi bayang-bayang pria jaket kulit. Hanya ada tawa kecil saat seekor burung magpie mencoba mencuri kerupuk Ibu.
Great Ocean Road: Pelarian yang Sebenarnya
Hari ketiga, mereka berkendara jauh menuju Great Ocean Road. Arka menyetir dengan tenang, sementara Ibu tidak berhenti berdecak kagum melihat deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam tebing-tebing kapur raksasa.
Saat sampai di Twelve Apostles, angin laut bertiup kencang, menerbangkan jilbab Ibu. Arka dengan sigap memakaikan jaket tebalnya ke bahu Ibu.
"Ibu nggak kedinginan?" tanya Arka khawatir.
"Nggak, Ka. Hati Ibu hangat lihat kalian berdua," jawab Ibu pelan. Beliau memandang ke arah laut lepas. "Al, Arka... Ibu tahu soal masalah di Jakarta. Adikmu cerita sedikit."
Alya dan Arka tertegun. Mereka saling pandang.
"Ibu nggak marah kalian nggak cerita," lanjut Ibu, matanya berkaca-kaca. "Ibu cuma mau bilang, jangan pernah balik ke sana karena rasa takut. Kalau pun suatu saat kalian balik, baliklah karena kalian rindu, bukan karena dipaksa. Ibu sudah aman sekarang. Arka sudah kirim orang-orang baik buat jagain Ibu."
Alya memeluk Ibunya dari samping, air matanya jatuh terkena angin laut. "Maafin Alya ya, Bu. Gara-gara Alya, Ibu jadi keseret-seret."
"Hus! Anak mana ada yang nyeret ibunya. Ibu bangga punya kalian. Kalian itu kayak karang di bawah sana," Ibu menunjuk tebing batu yang kokoh dihantam ombak. "Mau ombaknya setinggi apa pun, kalau kalian pegangan tangan, kalian nggak akan hancur."
Makan Malam dan Pengakuan Mr. Henderson
Malam terakhir kunjungan Ibu, mereka mengadakan makan malam kecil di Unit 3B. Arka memasak rendang yang bumbunya tercium sampai ke koridor.
Tiba-tiba, pintu diketuk.
"Oh no, Mr. Henderson lagi?" gumam Alya sambil membuka pintu.
Ternyata benar. Mr. Henderson berdiri di sana, tapi kali ini dia tidak membawa gerutuan. Dia membawa sebotol anggur non-alkohol dan sebuah kotak cokelat kecil. Di belakangnya, Mrs. Higgins ikut tersenyum.
"Saya dengar... ibumu sedang berkunjung," kata Mr. Henderson, suaranya kaku, matanya tidak berani menatap Alya langsung karena rasa bersalah soal insiden pria jaket kulit. "Saya hanya ingin memberikan ini. Dan... maaf soal yang kemarin. Saya orang tua yang bodoh."
Ibu, yang mendengar suara di pintu, langsung mendekat. Dengan keramahtamahan khas orang Indonesia, Ibu mengajak mereka masuk. "Ayo masuk, Tuan. Kita makan rendang sama-sama."
Malam itu, Unit 3B menjadi saksi rekonsiliasi yang aneh. Mr. Henderson duduk di samping Ibu, mencoba menjelaskan rasa rendang yang menurutnya "seperti kembang api di mulut", sementara Mrs. Higgins sibuk bertanya resep pada Alya.
Arka menatap pemandangan itu dari dapur. Dia melihat Alya tertawa lepas, melihat Ibunya diterima dengan hangat oleh tetangga mereka yang paling galak, dan melihat Cali tertidur pulas di pangkuan Mrs. Higgins.
"Bang," panggil Alya, mendekati Arka.
"Ya?"
"Makasih buat cuti ini. Aku ngerasa... aku bener-bener sudah menang sekarang."
Arka merangkul pinggang Alya, mencium keningnya di tengah riuh rendah suara percakapan di ruang tamu. "Kita sudah menang sejak kita mutusin buat nggak lari lagi, Al. Kedatangan Ibu cuma cara semesta buat bilang kalau pilihan kita benar."
Di luar, langit Melbourne bertabur bintang. Tidak ada lagi misteri di balik lemari, tidak ada lagi bayangan di lorong. Hanya ada harum melati yang kini menyatu dengan aroma rendang, menciptakan wangi baru yang akan mereka ingat selamanya: Wangi Kemenangan.
Apakah Ibu akan memberikan restu penuh jika suatu saat mereka memutuskan untuk menetap selamanya di Australia? Ataukah ada kejutan lain yang menanti mereka saat cuti berakhir??
ahh pria solo itu lagii🤣🤣