“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16.Villa kedatangan tamu.
Waktu terus berjalan. Hari demi hari berlalu, dan kabar mengenai pernikahan antara keluarga Star born dengan keluarga kerajaan mulai menyebar luas. Persiapan dilakukan dengan terburu-buru namun tetap megah. Seluruh kota Avalon berbisik-bisik, menebak-nebak putri mana yang akan dikirim ke mulut singa, siapa yang akan menjadi korban berikutnya dari Pangeran Ka el.
Di kediaman utama keluarga Star born, suasana terasa kaku dan mencekam. Lord Valde mar dan Lady Seraphina bergerak dengan sigap. Mereka harus memastikan segalanya sempurna demi gengsi keluarga, meskipun di dalam hati mereka penuh dengan perhitungan dingin. Lae ria masih beristirahat memulihkan diri, namun tatapannya kini jauh lebih dingin dan penuh dendam. Ia menunggu saat di mana saudara kembarnya akan jatuh ke dalam lubang yang baru saja ia tinggalkan.
"Kirim orang sekarang juga," perintah Lord Valde mar kepada kepala pelayan utama, Mr. Gareth, seorang pria paruh baya yang setia melayani keluarga itu puluhan tahun. "Jemput nona muda Luna ria. Suruh dia bersiap-siap. Dalam waktu seminggu dia harus sudah berada di sini untuk prosesi pertunangan."
"Tapi, Tuan... Nona Luna ria sudah bertahun-tahun tidak pernah kembali ke rumah utama. Apakah dia mau datang?" tanya Mr. Gareth ragu-ragu.
"Dia tidak punya pilihan," potong Lady Seraphina dengan suara datar, tanpa sedikit pun rasa sayang di matanya. "Dia bagian dari keluarga ini, dan dia punya kewajiban. Jika dia menolak, paksa dia. Bawa dia dengan cara apa pun. Ingat, jangan biarkan dia terlihat compang-camping atau bodoh saat hadir nanti. Rapikan penampilannya, tapi... jangan berikan dia aksesoris atau pakaian yang terlalu berharga. Cukup yang sopan saja."
Perintah itu jelas. Mereka ingin Luna ria hadir, tapi tetap ingin menekannya, tetap ingin memperlakukannya sebagai warga kelas dua.
Mr. Gareth mengangguk patuh. "Baik, Nyonya. Saya akan berangkat sekarang."
Perjalanan menuju villa tempat Luna ria tinggal memakan waktu hampir dua jam penuh. Lokasinya sangat terpencil, berada di kaki bukit yang jauh dari pemukiman penduduk, dikelilingi oleh hutan pinus yang rimbun dan sunyi. Tempat itu indah namun sangat sepi, bagaikan penjara terbuka yang indah.
Kereta kuda keluarga Star born yang megah namun tertutup rapat akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tua yang tinggi dan berkarat. Di balik gerbang itu, terlihat sebuah villa bergaya klasik yang cukup besar, namun terlihat terbengkalai. Taman-tamannya tidak terawat, rumput liar tumbuh tinggi, dan suasana di sekitarnya begitu hening hingga terdengar menyeramkan.
Tidak ada penjaga, tidak ada pelayan yang berdiri di sana. Hanya angin yang berdesir pelan memainkan dedaunan.
Mr. Gareth turun dari kereta diikuti oleh tiga orang pelayan laki-laki yang bertubuh kekar. Mereka memandang sekeliling dengan perasaan tidak nyaman.
"Sudah sampai, Tuan. Ini dia villa tempat nona tinggal," lapor salah satu bawahan.
Mr. Gareth membersihkan jasnya, lalu melangkah mendekati gerbang. "Ketuk pintunya. Panggil seseorang."
Seorang pelayan segera maju dan mengetukkan pengetuk pintu besi yang besar berulang kali. Suara ketukan itu bergema keras, memecah keheningan yang memekakkan telinga.
Tok... Tok... Tok...
Mereka menunggu. Lima menit berlalu. Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
"Apakah tidak ada orang di dalam?" gumam salah satu pelayan. "Atau mereka tidur?"
"Ketuk lagi! Lebih keras!" perintah Mr. Gareth.
Kali ini ketukan dilakukan lebih keras dan lebih cepat. Hingga akhirnya, terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat dari arah dalam. Langkah kaki itu pelan, terdengar lembut namun pasti.
Seketika itu juga, sebuah jendela kecil di samping gerbang terbuka. Dan munculah wajah seorang wanita muda yang sedang mengucek matanya yang masih mengantuk.
Wanita itu memiliki rambut cokelat keemasan yang dikuncir kuda secara acak, mengenakan apron kotor yang penuh noda tepung dan bercak cat minyak. Wajahnya polos tanpa riasan, namun matanya tajam dan waspada.
Itu Ivy. Pelayan setia dan satu-satunya teman yang dimiliki Luna ria.
Ivy terbelalak kaget saat melihat barisan orang berpakaian seragam rapi dengan lencana keluarga Star born yang berkilauan terpasang di dada mereka. Ia langsung mengenali siapa mereka. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena senang, tapi karena firasat buruk langsung menyergap dadanya.
"Lencana itu seperti milik ibuku dulu, jangan... " Gumamnya pelan.
Ivy lalu merapikan pakaiannya, dan berlari ke gerbang villa.
"Tuan...tuan siapa?!" seru Ivy pelan, matanya membelalak melihat Mr. Gareth pelayan utama keluarga itu berdiri di sana. "Kalian mau bertemu siapa?"
Mr. Gareth menegakkan badannya, menampilkan aura resmi dan dingin. "Buka gerbangnya, aku kepala pelayan keluarga Star born ingin bertemu dengan nona muda. Kamu pasti Ivy putri Maria?."
"Benar saya Ivy, kalau begitu tunggu sebentar saya akan bukanya."
Ivy lalu mencari kunci di saku bajunya, dan segera membuka pintu gerbang villa itu.
Lalu mempersilahkan mereka masuk, sambil bertanya kepada Ivy kondisi mereka selama tinggal disana.
"Antarkan aku menemui nona. "
Ivy awalnya ragu karena, nonanya berbeda dengan rumor yang dibicarakan orang sekitar.
"Baik tuan, tapi mohon anda jangan terkejut. "Ucapnya dengan tersenyum.
Awalnya Gareth tidak mengerti maksud ucapan Ivy, tapi saat di tunjukkan ke tempat Luna ria berada dirinya akhirnya paham.
Mereka berjalan melewati koridor rumah yang sepi dan menuju ke arah pintu belakang yang terbuka lebar. Suara tawa riuh terdengar jelas, memecah keheningan yang selama ini menyelimuti villa itu. Mr. Gareth yang berjalan di depan semakin bingung. Siapa yang tertawa begitu keras di tempat terpencil ini?
Saat mereka melangkah keluar menuju halaman belakang yang luas, mata Mr. Gareth dan para pelayan lainnya terbelalak tak percaya. Mereka terpaku diam di tempat, seolah tubuh mereka dipaku ke lantai.
Di sana, di atas sebuah karpet anyaman yang ditaruh di tengah rumput, duduklah sosok yang mereka cari. Luna ria Star born.
Namun, apa yang mereka lihat sama sekali tidak sesuai dengan bayangan mereka. Gadis itu tidak duduk anggun membaca buku atau menenun kain seperti putri bangsawan pada umumnya. Luna ria justru duduk bersila dengan santai, kakinya ditekuk, dan wajahnya berseri-seri penuh tawa. Di sekelilingnya ada tiga anak remaja—Rian, Bimo, dan Lira—yang merupakan sekelompok anak remaja nakal yang juga warga desa dekat villa tersebut.
Mereka berempat sedang asyik bermain kartu.
"Wah! Nona Luna menang lagi! Curang nih pasti!" teriak Bimo dengan pipi merona.
"Siapa yang curang?! Itu namanya skill! Kalian saja yang kurang jago!" bantah Luna ria sambil tertawa lepas, menepuk pelan kepala Bimo. Wajahnya cerah, matanya berbinar, dan ekspresinya sangat hidup. Tidak ada kesan lemah atau penakut sedikitpun.
"Ah, Nona jahat! Tadi janjinya kalau kalah harus belikan es krim!" seru Lira menarik lengan gaun Luna ria.
"Iya-iya, besok kita pergi ke kota bareng-bareng ya!" jawab Luna ria santai, lalu dengan gerakan cepat ia menyambar kartu di tangan Rian. "Hei! Jangan curang dong Rian! Kartunya mau diselipkan ke mana ha?!"
"Hahaha! Ketahuan!"
Suasana begitu akrab, begitu hangat, dan sangat liar. Gaya bicara Luna ria lugas, tegas, dan santai layaknya pemimpin kelompok jalanan yang disegani anak-anak itu. Ia tertawa lepas, berdebat dengan lantang, dan bergurau tanpa beban.
Mr. Gareth menelan ludah dengan susah payah. Mulutnya terbuka sedikit namun tak bisa mengeluarkan suara.
Ini... ini gadis yang disebut pendiam, penakut, dan lemah? batin Gareth syok. Bahkan auranya lebih galak dan berwibawa daripada Nona Lae ria saat sedang marah! Ini benar-benar gadis jalanan yang hidup bebas tanpa aturan!
Para pelayan di belakangnya pun saling pandang dengan wajah kebingungan. Rumor yang beredar di kota mengatakan Nona Luna ria adalah gadis yang tidak berguna dan selalu menunduk ketakutan. Namun kenyataan di depan mata mereka? Gadis ini terlihat sangat percaya diri, ceria, dan memiliki karisma yang kuat.
Ivy yang berdiri di samping Mr. Gareth hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sudah saya bilang kan, Tuan... Nona saya itu... berbeda," bisik Ivy pelan.
Luna ria yang baru sadar ada orang asing berdiri memandangi mereka, perlahan menoleh ke arah pintu belakang. Tatapan cerianya perlahan berubah menjadi tatapan datar dan tajam, menatap Mr. Gareth dengan pandangan meneliti.