NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Kabut Di Tepi Vltava

​Lantai mobil van hitam itu terasa dingin di bawah sepatu pantofel Arga. Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma pembersih kimia yang menyengat, Arga duduk diapit oleh dua pria berbadan tegap. Pria bertato kalajengking tadi duduk di depan, menatap lurus ke jalanan Praha yang mulai tertutup kabut tebal. Koper kulit kakeknya diletakkan begitu saja di bawah kaki pria itu, seolah benda yang dikejar-kejar organisasi internasional ini hanyalah barang rongsokan.

​Arga tidak diborgol. Mereka tahu Arga tidak akan berani melompat keluar selama bom di apartemen Elina—yang mereka klaim sudah mati—masih bisa diaktifkan kembali dengan satu sinyal radio.

​"Kalian mau membawaku ke mana?" tanya Arga, suaranya tenang meskipun jantungnya berdegup kencang.

​Pria bertato itu tidak menoleh. "Ke tempat di mana hutang darah dibayar dengan informasi, Tuan Muda. Zurich hanya pembukaan. Pemilik koper ini seharusnya tidak pernah membiarkan keturunannya berkeliaran di Jakarta sesantai itu."

​Mobil van itu berbelok masuk ke sebuah kawasan industri tua di pinggiran kota, jauh dari gemerlap lampu turis di Jembatan Charles. Di sana, sebuah gudang tua dengan cat yang sudah mengelupas berdiri angkuh di tepi sungai Vltava. Pintu besi raksasa terbuka otomatis, menelan mobil van itu ke dalam kegelapan.

​Saat pintu mobil dibuka, Arga dipaksa turun. Udara di dalam gudang itu jauh lebih dingin daripada di luar. Di tengah ruangan, di bawah satu lampu bohlam yang berayun pelan, sebuah kursi kayu tua sudah disiapkan.

​"Duduk," perintah salah satu pria.

​Arga menurut. Dia tahu melawan secara fisik sekarang adalah tindakan bodoh. Dia bukan agen rahasia; dia adalah seorang arsitek dan pengusaha yang baru saja belajar cara memegang kekuasaan. Senjatanya bukan otot, tapi otak.

​"Dani, kau dengar aku?" bisik Arga sangat pelan, hampir tidak menggerakkan bibir. Mikrofon di kerah bajunya masih aktif, setidaknya itu yang dia harapkan.

​Hening. Tidak ada jawaban dari earpiece tersembunyinya. Arga menyadari sesuatu: gudang ini dilengkapi dengan pengacak sinyal (signal jammer). Dia benar-benar sendirian sekarang.

​Pria bertato kalajengking itu mendekat, membawa koper kulit tua milik kakek Arga. Dia meletakkannya di atas meja kecil di depan Arga. "Buka. Sekarang. Dan jangan coba-coba trik GPS atau Interpol tadi. Kami sudah memeriksa koper ini dengan pemindai frekuensi. Kau hanya menggertak, kan?"

​Arga menatap koper itu. Di dalamnya ada flash drive yang berisi daftar target pembunuhan, termasuk nama Elina. Dia tahu jika dia membuka koper ini, dia memberikan semua kartu as-nya kepada monster. Tapi jika tidak, dia tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup.

​"Aku butuh air," ucap Arga serak. "Tenggorokanku kering."

​Pria itu mendengus, lalu memberi kode kepada anak buahnya untuk mengambilkan botol air mineral. Saat perhatian mereka teralih sejenak, Arga memperhatikan sekeliling. Di sudut ruangan, ada sebuah monitor kecil yang terhubung dengan kamera pengawas di luar.

​Matanya membelalak.

​Di monitor itu, dia melihat sebuah mobil SUV perak yang sangat dia kenali berhenti di depan gudang. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita turun dengan langkah terburu-buru.

​"Elina?" batin Arga berteriak.

​Bagaimana bisa? Dia sudah menyuruh Dani membawa Elina ke tempat aman. Kenapa Elina malah ada di sini, di sarang serigala?

​Tiba-tiba, suara keras terdengar dari arah pintu depan gudang. Bukan suara ledakan, tapi suara ketukan yang sopan namun menuntut. Pria bertato kalajengking itu segera mengeluarkan senjatanya, mengarahkannya ke pintu.

​"Siapa itu?!" bentaknya.

​Layar monitor di sudut ruangan menunjukkan wanita itu mendekati interkom di gerbang gudang. Arga bisa melihat wajah Elina dengan jelas. Dia tidak tampak ketakutan. Dia tampak marah. Sangat marah.

​Lalu, sebuah suara terdengar dari interkom gudang, suaranya jernih dan berwibawa, sangat berbeda dengan suara Elina yang biasanya lembut.

​"Buka pintunya, Viktor. Atau aku akan memastikan The Iron Circle kehilangan seluruh asetnya di Eropa Timur dalam waktu lima menit."

​Arga terpaku. Itu suara Elina. Tapi... bukan Elina yang dia kenal. Tatapan matanya di kamera itu dingin, setajam silet, persis seperti tatapan kakeknya saat bicara soal bisnis.

​Pria bertato yang dipanggil Viktor itu perlahan menurunkan senjatanya. Wajahnya yang garang mendadak pucat pasi. Dia menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan—antara bingung, takut, dan hormat.

​"Tuan Muda," bisik Viktor dengan suara gemetar. "Kenapa Anda tidak bilang kalau Anda adalah tunangan dari... Sang Pewaris?"

​Arga tidak sempat menjawab. Pintu besi gudang itu terbuka dengan suara derit yang memilukan. Elina melangkah masuk, jaket birunya yang tadi tampak manis kini terlihat seperti seragam perang. Dia berjalan melewati para pria bersenjata itu seolah-olah mereka hanya patung pajangan.

​Elina berhenti tepat di depan Arga. Dia tidak memeluknya. Dia tidak menangis. Dia hanya menatap Arga dengan tatapan yang sangat asing, sebuah jarak baru yang jauh lebih mengerikan daripada ribuan kilometer Jakarta-Praha.

​"Arga," ucap Elina dingin. "Harusnya kamu tetap di Jakarta. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya kakekmu curi dari keluargaku."

​Arga merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya. Ternyata, selama ini bukan Arga yang melindungi Elina. Justru Elina adalah alasan kenapa Arga masih dibiarkan hidup.

​Tiba-tiba, lampu di seluruh gudang padam. Suara tembakan tunggal bergema di dalam kegelapan, disusul oleh suara benda berat yang jatuh ke lantai.

​"Elina! Di mana kamu?!" teriak Arga dalam kegelapan.

​Tidak ada jawaban. Hanya suara air sungai Vltava yang mengalir tenang di luar, dan aroma mesiu yang menusuk hidung. Saat lampu darurat yang remang-remang menyala kembali, Arga melihat koper kakeknya sudah terbuka di atas meja.

​Isinya kosong. Dan Elina... telah menghilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!