Kebun jagung milik Bu Sarah selalu berbuah lebat setiap saat, dengan luas yang begitu luar biasa sehingga bila tidak tau jalan maka akan tersesat di dalam sana.
Namun kabar yang beredar mengatakan bahwa kebun jagung itu memang meminta tumbal nyawa manusia, kebun milik janda cantik itu memang sudah di jauhi oleh para warga karena Mereka sangat takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Kehilangan
Orang tua begitu kebingungan sekali karena sampai saat ini anak mereka tak kunjung kembali, semula mereka mengira bahwa Amel sedang pergi dengan teman sehingga memutuskan untuk menginap. namun sekarang sudah di tanya ke sana kemarin namun tetap saja tidak ada yang tahu Amel pergi ke mana, tentu saja orang tua ini menjadi kebingungan dengan nasib sang anak.
Terlebih lagi mereka juga sudah mendengar bahwa saudara dari Amir yang baru datang dari kota tidak berhasil ditemukan oleh para warga, jadi ini jelas orang tua Amel merasa ketakutan dan kebingungan untuk mencari anak di bagian mana desa ini, tidak mungkin bila Amel sampai kesasar di desa tempat tinggal dia sendiri.
Rasa parno dan juga cemas mulai timbul di dalam hati mereka dan kemungkinan saat ini ada rasa curiga di dalam hati mereka semua, Bu Nur sangat bingung untuk mencari Amel ke mana namun dia berusaha untuk tetap tenang, masih di dalam hati juga timbul rasa berdebar yang sangat kuat.
Takut bila ternyata memang Amel sudah tidak ada lagi dan mereka tidak berhasil menemukan di mana keberadaan gadis tersebut, Amel kadang juga sangat keras kepala bila di beritahu untuk tidak keluar malam. dengan alasan bahwa dirinya masih gadis sehingga membutuhkan hiburan, padahal dia bila sudah keluar malam maka pasti akan melakukan perbuatan buruk itu dengan sang kekasih.
"Apa Obet ada ya, Bu Siagian?" Bu Nur mendatangi orang tua Obet.
"Loh dia sudah tidak pulang beberapa hari ini, mungkin ada pekerjaan yang harus pergi ke kota." Bu Siagian menjawab dengan santai saja.
"Amel juga tidak ada di rumah dan kata teman mereka pergi berdua saat itu." jelas Bu Nur dengan wajah sedih.
"Obet tidak ada bilang kalau mau pergi dengan Amel kemarin, tapi mungkin saja mereka memang pergi berdua." Bu Siagian sama sekali tidak ada menyangkal ucapan dari lawan bicara dia saat ini.
"Ponsel Amel sama sekali tidak aktif sehingga saya tidak bisa menghubungi dia, apa Obet masih ada menghubungi Ibu?" tanya Bu Nur.
"Enggak ada juga, ini sebenarnya saya juga baru mau mencari dan bertanya dengan teman dia." Bu Siagian baru sekarang menyadari bahwa kasus semakin serius.
"Aduh saya jadi takut ini karena sebelum mereka menghilang begini, udah ada juga yang menghilang." cemas Bu Nur.
Mendengar ucapan calon besan dia maka Bu Siagian semakin bingung dan tidak tahu harus bagaimana, sulit sekali untuk mencari tahu karena ponsel mereka berdua memang sudah tidak aktif lagi sehingga mau menghubungi terasa begitu sulit dan hanya menemukan jalan buntu saja.
"Aduh gimana kalau kita minta tolong dulu sama Purnama?" usul Bu Siagian karena dia juga sudah takut.
"Baiklah, saya juga sudah kepikiran tentang hal itu karena ini desa sedang tidak aman." Bu Nur setuju dengan hal tersebut.
"Semoga saja mereka tidak mengalami nasib seperti yang sedang kita pikirkan saat ini." harap Bu Siagian.
"Cepat lah kita datangi saja Purnama biar dia bisa mencari keberadaan Amel dan juga Obet." Bu Nur berjalan terlebih dahulu.
"Kenapa juga kebun jagung itu menjadi tempat yang sangat menakutkan, ini kalau saja tidak ada kebun jagung itu maka kita pasti tidak akan ketakutan." rutuk Bu Siagian.
Bu Nur sudah tidak menjawab lagi karena menurut dia itu bukan hal yang penting sekarang, yang paling penting tentu saja harus menemukan keberadaan Amel. kalau sudah ketemu maka mereka bisa membahas masalah lain, ini pikiran masih belum tenang dan berharap nanti akan segera selesai bila Amel sudah berhasil untuk di temukan.
"Mereka pasti pacaran di dekat kebun jagung itu sehingga sampai jadi korban seperti." Bu Nur sudah sangat yakin dengan hal tersebut.
"Eh jangan langsung berpikiran buruk seperti itu, siapa tahu saja mereka memang sedang ada di luar kota." hibur Bu Siagian.
"Ah aku sudah sangat yakin, ini Amel juga bandel sekali kalau di kasih tau." Bu Nur terus saja mengomel untuk membuang rasa kesal di dalam hati.
"Marah dia." batin Bu Siagian memilih untuk diam saja.
"Sudah aku bilang kalau pacaran jangan yang aneh aneh, tapi masih saja dia begitu." rutuk Bu Nur masih tetap berlanjut karena sangat dongkol.
Sebagai orang tua maka tentu saja jelas ada rasa dongkol di dalam hati, sudah berusaha untuk tetap lapang dada namun tetap saja rasa kesal itu tidak bisa hilang di dalam hati, rasa penyesalan dan juga marah semua bercampur menjadi satu sehingga Bu Nur terkesan begitu jutek kepada lawan bicara. memang terkesan seolah dia menyalahkan Obet, namun mau bagaimana lagi karena Amel juga salah.
...****************...
"Semua teman Imron sama sekali tidak ada yang tau." Razi menatap para saudara nya.
"Asli ini memang mereka pasti di makan iblis kebun jagung." Amir sangat yakin.
"Jangan gitu lah, kau menyalahkan langsung." protes Ridwan.
Amir memang sudah sangat yakin bahwa Imron dan juga Alia pasti menghilang di dalam kebun jagung itu, tapi tidak untuk Ridwan karena dia tidak mau menuduh orang secara sembarangan tanpa ada bukti sama sekali, sebab mereka juga sudah mencari di bagian sana dan tidak berhasil menemukan barang bukti walau hanya sedikit saja.
Sedangkan Purnama dan juga Arya sudah pernah mendatangi kebun jagung itu namun tidak berhasil menemukan ada yang aneh, atas dasar itu maka Ridwan percaya bahwa kebun jagung tidak mungkin memiliki sesuatu yang sangat mengerikan, jadi dia beranggapan Imron dan Alia pasti pergi di tempat yang tidak mereka ketahui.
Amir memiliki prasangka tersendiri sehingga dia tetap yakin bahwa saudara mereka menghilang dalam kebun jagung itu, memang mereka memiliki firasat masing-masing dan tidak bisa juga untuk menyangkal hal tersebut, jadi mereka berempat memiliki firasat tersendiri dan tidak bisa untuk saling menyalahkan satu sama lain atas apa yang telah terjadi.