Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: LANGIT YANG TIDAK AKAN RETAK LAGI
Waktu di Istana Celestia berjalan dengan iramanya yang unik, tidak terikat oleh jam dan menit seperti di dunia fana. Siang dan malam berganti bukan karena pergerakan matahari, melainkan karena perubahan warna langit yang megah dari biru terang menjadi ungu pekat yang mempesona.
Hari ini adalah hari yang istimewa.
Bukan karena ada perayaan besar atau upacara kenegaraan. Tapi karena hari ini adalah hari di mana segalanya terasa benar-benar sempurna. Luka di langit telah sembuh. Retakan di hati telah terikat kembali. Dan keseimbangan yang rapuh kini telah menjadi kokoh seperti berlian.
Di taman terindah di istana, tempat bunga-bunga surgawi bermekaran sepanjang masa, Myrrha berdiri di antara rerimbunan cahaya.
Sayap emasnya yang megah terkulai lembut di punggungnya, berkilauan indah di bawah sinar bintang-bintang yang dekat. Wajahnya teduh, memancarkan kedamaian yang menular ke sekelilingnya. Namun di dalam matanya yang cokelat keemasan itu, tersimpan dua dunia.
Ia adalah Myrrha sang Dewi Cahaya, pelindung langit yang bijaksana. Namun ia juga tetap Lira, gadis kecil desa yang penuh kepolosan, yang tahu betul rasanya lapar, rasanya lelah, dan rasanya dicintai oleh orang tua angkat yang baik hati.
Perpaduan itulah yang membuatnya kini begitu kuat.
“Berpikir apa lagi kau di sana, Penyelamat Dunia?”
Suara yang akrab terdengar dari belakangnya. Tidak dingin seperti dulu, tidak penuh perhitungan, melainkan terdengar santai dan hangat.
Myrrha menoleh, tersenyum melihat sosok Nyxarion yang berjalan mendekat dengan tangan di saku jubah hitamnya. Pria itu kini tampak berbeda. Aura gelap yang dulu selalu mengelilinginya kini tidak lagi menakutkan, melainkan terasa misterius dan anggun, menjadi pelengkap bagi cahaya terang Myrrha.
“Aku hanya berpikir,” jawab Myrrha lembut, “Betapa anehnya takdir. Dulu kita hampir saling menghancurkan. Sekarang, kita berdiri di sini seperti ini.”
Nyxarion berdiri di sampingnya, ikut menatap hamparan awan yang luas di bawah kaki mereka.
“Kau yang mengubah segalanya, Myrrha,” kata Nyxarion jujur. “Dulu aku percaya bahwa kekuatan ada pada hukum yang keras, pada ketegasan yang dingin, dan pada kemampuan untuk membuang yang lemah demi kemajuan.”
Ia menoleh menatap wajah wanita di sampingnya itu dengan rasa hormat yang tulus.
“Tapi kau membuktikan bahwa kekuatan terbesar justru ada pada kerelaan untuk memberi, pada kelembutan, dan pada pengorbanan. Kau mengajarkanku bahwa menjadi ‘utuh’ tidak berarti harus menelan segalanya, tapi berarti mampu menerima perbedaan.”
Myrrha tertawa kecil, suaranya merdu seperti lonceng perak.
“Dan kau juga mengajarkanku banyak hal, Nyxarion,” balasnya. “Kau mengajariku untuk berani, untuk tidak takut menghadapi kegelapan, dan untuk selalu mempertanyakan segalanya agar tidak menjadi bodoh dan sombong.”
Mereka terdiam sejenak, menikmati kebisuan yang damai itu.
Dulu, langit ini retak karena keserakahan, karena kesalahpahaman, dan karena kurangnya pengertian antar sesama. Namun kini, setelah melewati api penyucian dan air mata perpisahan, langit itu jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ia tidak akan retak lagi.
Bukan karena temboknya yang lebih tebal atau penjaganya yang lebih banyak. Tapi karena hati-hati para penjaganya telah tumbuh dewasa. Mereka mengerti bahwa mereka adalah satu. Bahwa cahaya dan gelap, panas dan dingin, kuat dan lemah, semuanya saling membutuhkan untuk menciptakan harmoni.
“Ke mana kau akan pergi selanjutnya?” tanya Nyxarion tiba-tiba. “Apakah kau akan tetap di sini selamanya, memerintah sebagai Ratu Langit?”
Myrrha memejamkan mata sejenak, merasakan angin kosmik yang berhembus menyapa kulitnya.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Hatiku ada di sini, bersama kalian semua. Tapi jiwaku juga memiliki ikatan yang kuat dengan dunia di bawah sana. Aku rindu Bunda Mira. Aku rindu tanah basah dan suara burung berkicau.”
Ia membuka matanya, dan di sana terpancar tekad yang baru.
“Jadi aku akan bolak-balik. Aku akan menjadi jembatan. Karena para Dewa tidak boleh melupakan rasanya menjadi manusia, dan manusia juga harus tahu bahwa di atas sana ada yang menjaga dan mencintai mereka.”
“Rencana yang bagus,” komentar Nyxarion tersenyum miring. “Seperti biasa, kau selalu menemukan jalan tengah yang indah.”
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang cepat dan riang terdengar mendekat.
“Myrrha! Nyxarion! Ayo cepat! Altharion mau menunjukkan bintang baru yang baru saja dia ciptakan!” teriak Elyndra dari kejauhan, melambaikan tangannya dengan antusias seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Wajahnya berseri-seri, tidak ada lagi bayangan kesedihan yang pernah menghantuinya.
Myrrha tertawa lepas melihat tingkah sahabatnya itu.
“Ayo!” seru Myrrha, dan tanpa menunggu lagi, ia membentangkan sayapnya lebar-lebar.
Dengan satu kepakan kuat, tubuhnya melayang naik ke udara. Angin menerbangkan rambut indahnya ke sana kemari. Ia terbang bebas, melingkar tinggi menuju menara utama istana, di mana saudara-saudaranya yang lain sudah berkumpul menunggunya dengan senyuman dan tawa.
Nyxarion menggelengkan kepala melihat kegembiraan itu, namun ia pun ikut tersenyum. Ia pun melompat dan terbang mengikuti jejak cahaya emas itu, menyatu dengan kelompok para penguasa langit yang kini telah utuh kembali.
Di atas sana, di tengah keindahan yang tak terhingga, kesembilan sosok itu berdiri bersama.
Mereka menatap ke depan, menatap masa depan yang terbentang luas dan cerah. Tidak ada lagi bayangan hitam yang mengancam. Tidak ada lagi pertengkaran atau rasa curiga. Hanya ada persaudaraan, kekuatan, dan cinta yang tak terhingga.
Lira telah menemukan kembali dirinya sebagai Myrrha.
Myrrha telah menemukan kembali rumah dan keluarganya.
Dan langit yang pernah retak itu… kini telah menjadi saksi bisu bahwa dari kehancuran terbesar pun, bisa lahir keindahan yang paling abadi.
Kisah ini telah usai. Namun perjalanan cinta dan kekuatan itu… akan terus bersinar selamanya.
TAMAT~
Terimakasih sudah membaca dan selamat untuk finishing membacanya semoga semua suka dan menikmati keindahan katanya terimakasih ~