Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan
Permaisuri memanggil Ruoling agar pergi ke kediamannya pada pagi yang terasa lebih tenang dari biasanya. Ruangan itu rapi, harum dupa, dan dipenuhi cahaya matahari yang menembus kain tipis jendela. Tetapi suasana hati Ruoling sama sekali tidak setenang tempat itu.
Ruoling datang dengan wajah datar, dingin, dan sedikit amarah karna sudah beberapa hari mendengar rumor tentang perjodohan yang di rencanakan Permaisuri dan Kaisar untuknya.
Dia sudah beberapa kali mendatangi kediaman mereka, tapi jawaban pengawal selalu sama sibuk atau mereka sedang tidak ada di dalam.
Tapi separah apapun amarahnya pada wanita itu Ruoling tetap sopan, memberi hormat pada Permaisuri.
"Aku dan Yang Mulia Kaisar telah membuat keputusan penting untuk kebaikanmu,” kata Permaisuri dengan suara yang dibuat selembut mungkin, meski nada kekuasaan tetap tak bisa disembunyikan. “Kami memutuskan untuk menjodohkanmu."
"Aku... tidak bisa menerimanya." Tolak Ruoling tanpa ragu sekaligus takut hingga tidak berani mengangkat kepalanya.
"Kau tahu sekalinya Yang Mulia Kaisar sudah turun tangan maka tak ada seorangpun yang bisa menentangnya." Setelah berbincang cukup lama dengan suaminya, mereka membuat keputusan ketika Permaisuri memanggil Ruoling maka dirinya di izinkan mengatas namakan titah Kaisar.
Hal itu bertujuan supaya Ruoling tidak berani membantah atau menolak lebih jauh karna itu adalah titah langsung dari Kaisar.
"Tapi aku belum ingin menikah," balas Ruoling mencoba menawar. "Aku... juga yakin pemuda-pemuda itu tidak tulus menerimaku. Mereka hanya ingin kedudukan di sini."
Saat itu Ruoling pergi ke kediaman permaisuri hendak mengatakan keberatannya karna perjodohan, tepat hari ke lima dirinya bersabar mendengar rumor yang tersebar.
Tapi tanpa sengaja Ruoling malah mendengar kalau ada banyak keluarga dari pemuda terpandang baik dari kerajaan mereka atau kerajaan lain yang menolaknya dengan alasan kepribadiannya yang buruk.
Hal itu membuat Ruoling senang lalu mengurungkan niat untuk datang, ia yakini tidak akan ada yang bersedia menerima perjodohan itu, tapi ternyata dugaannya salah dan Ruoling menyesal tidak menghentikan rencana gila ini.
"Kami sudah membicarakan tentang itu," balas Permaisuri dengan santai. "Dan kami sepakat tidak mempermasalahkan itu. Selagi dia mampu membuatmu menjadi lebih baik maka kami tidak masalah."
"Tidak mungkin, pasti ada yang salah. Tidak ada satupun kelurga yang bersedia menikah dengan seseorang yang terkenal mempunyai karakter buruk."
Permaisuri Lin menggeleng pelan. "Kau terlihat tidak menyesal atau malu karna memiliki karakter buruk."
Ruoling terdiam, menyesal mungkin tidak karna menyadari semua karakter itu sengaja di buat untuk membela diri. Menunggu hukuman dari kerajaan tidak membuat Ruoling puas jadi lebih baik membalas orang-orang jahat dengan caranya sendiri.
"Andai saja kau memiliki karakter yang baik... tapi ya sudah, jangan membicarakannya lagi. Tapi semoga dengan pernikahan ini sikapmu menjadi baik bahkan seperti dulu lagi."
"Aku masih Ruoling yang dulu," balas Ruoling. "Tapi perlakuan mereka yang membuat aku sadar untuk tidak diam saja saat di tindas."
Permaisuri Lin hendak membuka suara, tapi mengurungkannya. Sejak Selir Hua di nyatakan sebagai tersangka sampai meninggal, ada banyak perubahan pada Ruoling.
Anak itu jadi lebih sensitif, emosian dan yang paling fatal suka main tangan memukul pelayan, teman-teman di kelas menempuh pendidikan dan semua orang yang jabatan jauh lebih rendah darinya.
Semua orang yang tinggal di wilayah kerajaan awalnya membiarkannya karna berpikir Ruoling sedang berduka hingga melampiaskan rasa sedih, tapi semakin lama anak itu semakin keterlaluan.
"Kali ini pemuda itu tidak menolaknya karna dia mengenalmu dengan baik," kata Permaisuri pada akhirnya. "Maafkan aku, karna tidak bisa membantumu. Aku tidak punya keberanian besar untuk menentang keinginan, Yang Mulia. Tapi mungkin saja Yang Mulia akan mengabulkan keinginanmu kalau kamu memintanya."
Ruoling menggeleng pelan, pasti tidak akan di dengarkan. "Tapi aku belum ingin menikah."
"Bicaralah pada ayahmu, mungkin dia akan berubah pikiran."
Ruoling tidak menanggapi tapi memikirkan saran dari Permaisuri. Ada banyak hal yang bersarang di kepala Ruoling yang tentu saja tidak bisa di katakannya pada Permaisuri yang terus menasehatinya.
Karna sibuk dengan pemikirannya Ruoling hanya mengangguk saja saat Permaisuri mengatakan dirinya butuh Istirahat karna wajahnya sudah agak pucat.
Ruoling kembali kediamannya, pintu kamarnya tertutup, Ruoling menendang kursi hingga terbalik. Napasnya memburu, matanya merah.
Sebenarnya menikah di usianya sangat wajar di lakukan, tapi Ruoling takut dengan menikah semua rencana yang diam-diam di rencanakan akan terganggu.
Tanpa sadar pandangan Ruoling tertuju pada jendela, di sana Ruoling seperti melihat sesuatu yang mencurigakan lalu memutuskan untuk mendekatinya.