Setan itu banyak bentuknya. Tak kasat mata. Mengalir dalam setiap aliran darah manusia-manusia yang penuh dengan amarah, benci dan dendam. Dan inilah yang dialami oleh Marni. Pernikahan yang membuat kehidupannya hancur dan terjun ke dalam lubang penderitaan. Bukan hanya karena kemiskinan yang tak berkesudahan namun perlakuan suami yang tidak beradab. Akankah Marni tetap bertahan ataukah lari mencari kebahagiaan yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Tolong Aku
Dan yang dilihatnya itu adalah petugas motel yang mengantarkan mereka tadi. Marni bisa meliat jelas wajah pria itu.
Tok tok tok!
Marni terdiam di depan pintu sementara matanya masih mengintip dari lubang kecil di pintu.
Dan...
Set!
Si pria tadi tiba-tiba mendekatkan matanya ke lubang pintu dengan senyum yang sangat misterius. Marni yang kaget pun terhuyung ke belakang, dia menutup mulutnya rapat-rapat.
Tangannya gemetaran. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang. Dia berusaha mengingat bagaimana caranya untuk menelepon Jagat.
Kring!
"Tolong jawab sekarang, Mas..." lirih Marni.
Tok tok tok!
Suara ketukan itu masih terdengar seiring dengan suara keran yang nyala di dalam kamar mandi.
Tut tut tut!
Marni cepat menyambungkan lagi sambungan telepon itu lagi.
"Halo, Marni?" suara di seberang sana.
"Mmas---" Marni serasa tercekat.
"Halo? Marni? Ada apa?"
"Tolong aku!" Marni lirih dengan suara yang gemetar. Dia sangat takut jika pria tadi masuk ke dalam kamar.
"Tunggu aku! Jangan matikan teleponnya," kata Jagat.
Marni yang ketakutan melihat raut wajah si pria penjaga motel itu, dia tidak berani mendekat ke arah pintu. Namun dari teleponn itu Marni samar-samar mendengar sesuatu.
"Permisi, ada apa? Apa saudaraku menelepon receptionis?" tanya Jagat.
Marni yang mendengar suara Jagat, melepas sendalnya dan berjalan menuju ke arah pintu. Dilihatnya Jagat sedang bertatap muka dengan si penjaga Motel.
"Oh ini. Saya hanya mau mengantarkan handuk dan juga sabun," ucap si penjaga itu.
"Bukannya sudah ada di dalam, lagi pula siapa yang akan mandi tengah malam seperti ini?" tanya Jagat.
"Ini hanya pelayanan dari kami, Pak..." ucap si pria itu.
"Berikan padaku, dan kamu boleh pergi," ucap Jagat dingin.
"Baik, selamat malam..." ucap si pria yang sekilas melirik pintu kamar Marni.
Jagat yang merasa si pria itu sudah tidak ada pun Jagat menempelkan ponsel ke telinganya dan bilang, "Sekarang sudah aman,"
Ceklek!
Marni keluar dan berhambur ke pelukan Jagat.
Namun jagat secepat kilat mendorong Marni amsuk ke dalam tanpa melepaskan pelukannya.
Bruk!
Pintu pun tertutup.
"Shhh! Tenang ada aku," kata Jagat yang rambutnya basah.
Marni bisa merasakan usapan lembut di kepalanya. Dia lalu menjarak tubuhnya dengan jagat dan mengusap air matanya. Dia benar-benar takut melihat sosok pria itu.
"Maaf ya?" Jagat memehgang kedua pipi Marni, dia mengusap air mata yang keluar dengan ibu jarinya.
"Jadi apa yang terjadi sebenarnya? Maaf tadi aku sedang mandi, jadi aku terlambat mengangkat teleponmu," Jagat menjelaskan kenapa dia tidak langsung mengangkat telepon.
"Aku tidak tahu, yang jelas tiba-tiba ada yang mengetuk. Dan setelah aku lihat ada pria tadi," kata Marni.
"Tapi kamu tidak membukakan pintu, kan?"
"Tidak. aku hanya mengintip dari lubang itu," kata Marni.
"Pintar!" Jagat mengelus kepala Marni lagi.
Ssrrrrr!
Jagat baru menyadari sesuatu, jika keran air di wastafel kamar mandi terbuka.
"Kamu tadi mau mandi?" tanya Jagat.
Marni menggeleng.
"Astaga! Kenapa sulit sekali untuk sekedar istirahat, ya?" Jagat menghela nafas.
Langkahnya lalu bergerak ke arah kamar mandi. Dan disana dia tidak melihat apapun. Mungkin makhluk itu pergi setelah Jagat masuk ke dalam kamar itu.
"Jadi bagaimana? Apa mau pergis aja dari sini?" tanya Jagat setelah mematikan kran dan kembali menemui Marni.
Melihat Jagat yang terlihat sudah sangat lelah pun tidak tega jika harus meminta untuk pergi dari motel itu.
"Kmau tidurlah, tidak apa-apa disini," kata Jagat namun Marni diam saja mematung.
"Aku akan duduk di depan pintu, kamu bisa tidur dengan tenang," kata Jagat yang kemudian melayangkan senyuman sebelum hilang dari balik pintu.
Marni kemudian memutar kunci dan mengintip dari lubang kecil di pintu. Dia tidak bisa melihat sosok Jagat, namun dia bisa melihat sepasang kaki yang duduk di lantai.
Sementara Jagat seperti bapak-bapak yang sedang jaga pos ronda, Marni pergi ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan badannya karena tidur dengan badan yang belum mandi rasanya tidak nyaman meskipun masih memakai baju yang sama.
Selama dia mandi tidak ada yang terjadi, tidak ada penampakan apapun. Ya mungkin kran yang tiba-tiba terbuka itu akibat keusilan sosok yang berkeliaran disana, bagaimanapun motel itu kan terdiri dari deretan kamar-kamar yang tidak mungkin terisi terus setiap malam. Dan ruangan yang gelap dan dingin, menjadi tempat yang nyaman untuk makhluk-makhluk yang bergentayangan.
Setelah mandi, Marni melihat ke arah pintu. Dia mengintip lagi, apakah masih ada sosok Jagat di depan pintu atau tidak. Ternyata masih ada.
Sesaat hatinya lega, merasa tidak sendirian disana.
Trilililid!
Suara telepon berdering. Bukan dari ponsel yang diberikan Jagat, tapi dari telepon yang merupakan salah satu fasilitas di motel itu.
Marni perlahan mendekati gagang telepon dan mengangkat telepon itu.
"Halo, manis! Ck! Malam kita tertunda, karena ada penjagamu di depan pintu, shhh jika dia kita usir saja bagaimana ya--"
Brak!
Marni menutup telepon itu dengan kasar. Nafasnya naik turun, dia merasakan debaran jantungnya bertambah dua kali lipat dari biasanya. Tangannya gemetaran dan mencoba menelepon Jagat.
"Halo? Apa kamu masih di depan pintu?" tanya Marni.
"Ya, tentu. Kenapa? Jangan bilang kamu kasihan dan menyuruhku untuk masuk?" ucap Jagat yang sudah setengah sadar.
Marni yang mendengar itu tidak marah, dia mendekat ke arah pintu lagi dan mengecek keberadaan Jagat. Dan masih ada sepasang kaki disana. Dia tidak bisa melihat wajah Jagat, karena mungkin punggung pria itu yang bersandar pada pintu.
Tok tok tok!
Marni mengetok pintu dari dalam.
"Kenapa, Mar?" Jagat yang kemudian menguap.
"Aku masih disini, tenang saja..." lanjut Jagat yang sudah sangat mengantuk.
"Aku pun ada dibalik pintu. Jangan pergi aku takut..." ucap Marni yang membuat Jagat lantas menarik badannya dan menatap pintu tempatnya bersandar tadi.
"Jangan takut. Ada aku disini, aku tidak akan kemana-mana. Kenapa tidak tidur di ranjang saja?"
"Tidak. Aku tidak akan tidur nyenyak sementara ada seseorang yang rela tidur kedinginan tanpa selimut," kata Marni yang membuat satu senyuman mengembang.
'Apa itu artinya kamu sudah mulai mencintaiku, Marni?' Jagat dalam batinnya.
Sementara Marni duduk bersandar dan mulai memejamkan matanya.