Amara menyangka pernikahannya dengan Arya adalah akhir bahagia dari cinta terpendamnya sejak kuliah. Namun, Arya justru menjadikannya tawanan dalam rumah tangga yang penuh siksaan. Saat rahasia gelap Arya terbongkar dan ia kehilangan segalanya, keadaan berbalik arah.
Di tengah kehancurannya, Arya datang kembali bersujud memohon pengampunan. Amara yang memiliki hati lembut, akhirnya luluh dan memberikan kesempatan kedua. Namun, benarkah seorang "monster" bisa berubah menjadi malaikat hanya dalam semalam? Ataukah ada duri yang lebih tajam yang sedang disiapkan Arya di balik perhatian manisnya?
Saat kebenaran pahit terungkap dan Olivia kembali muncul di antara mereka, Amara hancur untuk kedua kalinya. Dalam pelariannya mencari keadilan, ia bertemu Rendra, sahabat masa kecilnya yang telah lama hilang. Di titik terendah itu, dengan hati yang hancur berkeping-keping, Amara bertanya dengan getir, "Tak pantaskah aku dicinta?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Malia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Sang Predator
Sepanjang perjalanan, Arya terus memegang tangan Amara, seolah-olah menunjukkan kemesraan di depan ibunya. Namun, Amara bisa merasakan cengkeraman tangan Arya yang sangat kuat, memberikan peringatan tanpa kata agar Amara tetap berada dalam "jalur".
Di kejauhan, sebuah mobil hitam membuntuti mereka dari jarak yang cukup aman. Rio, yang mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Amara dibawa pergi oleh Arya dan Amelia, kini berada di belakang kemudi dengan mata yang menyipit tajam.
"Ada yang tidak beres. Nyonya Amara terlihat sangat tegang," gumam Rio. Ia segera mengaktifkan alat komunikasinya. "Tetap pantau mobil Tuan Arya. Jangan sampai kehilangan jejak. Jika mereka berhenti di tempat yang terlalu sepi, kita bertindak."
-
-
-
Di dalam mobil mewah itu, suasana terasa begitu kontras. Amelia duduk di kursi depan samping sopir, sesekali menoleh ke belakang dengan wajah ceria, menceritakan konsep pesta yang ia bayangkan. Sementara di kursi belakang, Arya duduk merapat ke arah Amara. Tangannya menggenggam jemari Amara dengan sangat erat hingga kuku-kuku Arya sedikit memutih, sebuah peringatan bisu agar Amara tidak melakukan gerakan tambahan.
"Amara, Mama pikir bunga lily putih akan sangat cantik jika dipadukan dengan aksen emas untuk melambangkan kemenangan Aldridge dan Wijaya. Bagaimana menurutmu, Sayang?" tanya Amelia antusias.
Amara menelan ludah. Ia merasakan remasan tangan Arya menguat di jemarinya tepat saat ia hendak menjawab.
"I-iya, Ma. Itu ide yang sangat bagus. Putih dan emas selalu terlihat elegan," jawab Amara dengan suara yang sedikit bergetar. Ia berusaha menatap Amelia, namun sudut matanya menangkap siluet Arya yang sedang menatapnya dengan pandangan dingin yang mengancam.
"Kamu pucat sekali, Amara. Apa AC-nya terlalu dingin?" tanya Amelia cemas.
"Tidak, Ma. Dia hanya masih sedikit lemas," potong Arya cepat sambil mengelus rambut Amara dengan gerakan yang terlihat sangat manis di mata Amelia, namun terasa seperti sentuhan predator bagi Amara. "Istirahatlah di bahuku jika kamu lelah, Sayang."
Amara terpaksa menyandarkan kepalanya di bahu Arya. Bau parfum maskulin Arya begitu terasa menyesakkan.
Sementara itu, di Mobil Rio. Beberapa puluh meter di belakang, Rio terus menjaga jarak aman. Ia melihat bagaimana mobil Arya melaju dengan tenang, namun instingnya sebagai pelindung keluarga Wijaya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah.
"Nyonya Amara tidak pernah terlihat serapuh itu jika hanya karena sakit kepala," gumam Rio. Ia melihat ke arah spion, memastikan anak buahnya juga sudah bersiap di posisi masing-masing.
"Tuan Rio, mereka mengarah ke Grand Ballroom Hotel Mulia. Sepertinya mereka akan bertemu dengan vendor dekorasi di sana," lapor salah satu anak buah melalui earpiece.
"Tetap di posisi. Jangan lakukan apa pun sampai aku memberi perintah. Kita harus menunggu saat Arya lengah," sahut Rio tegas.
...***...
Sesampainya di hotel, Arya turun lebih dulu dan dengan sangat sopan membukakan pintu untuk Amara. Ia merangkul pinggang Amara dengan sangat protektif saat mereka berjalan masuk ke lobi.
Di dalam ruangan pertemuan yang privat, tiga orang vendor sudah menunggu dengan tumpukan katalog dan sampel kain. Amelia langsung tenggelam dalam diskusi panjang mengenai detail pesta.
"Arya, bisakah kamu ambilkan sampel warna di mobil? Mama rasa ada yang tertinggal di kursi depan," pinta Amelia tanpa menoleh.
Arya ragu sejenak. Jika ia pergi, Amara akan sendirian dengan ibunya. Namun, jika ia menolak, Amelia akan curiga.
"Tentu, Ma. Amara, tetap di sini bersama Mama, ya? Jangan ke mana-mana," ucap Arya sambil memberikan tatapan peringatan yang sangat tajam ke arah mata Amara. Ia mencengkeram lengan Amara sekilas sebelum berbalik pergi.
Begitu Arya keluar dari ruangan, Amara merasa seolah beban berat baru saja terangkat dari dadanya. Ia melihat Amelia yang masih sibuk membandingkan dua jenis kain lace. Ini adalah kesempatannya. Hanya ada dia, Amelia, dan para vendor yang sibuk sendiri.
"Ma..." panggil Amara lirih, suaranya hampir tak terdengar.
Amelia mendongak. "Ya, Sayang? Kamu mau minum?"
Amara mendekat, tangannya gemetar saat ia berpura-pura membantu memegang kain. Ia berbisik sangat pelan, "Ma... tolong Amara. Kamar... kamar apartemen... Arya mengunci..."
Baru saja Amelia hendak mengerutkan kening dan bertanya lebih lanjut, pintu ruangan terbuka dengan sentakan keras. Arya berdiri di sana dengan wajah yang menggelap, memegang sebuah map ditangan nya.
"Ini mapnya, Ma," kata Arya dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Matanya langsung tertuju pada Amara yang berdiri terlalu dekat dengan Amelia.
Arya berjalan cepat menghampiri mereka. Ia bisa melihat raut wajah Amelia yang mulai tampak bingung.
"Ada apa, Ma? Apa Amara mengatakan sesuatu yang aneh lagi? Aku sudah bilang, dia sedang sering melantur karena pengaruh obat sakit kepalanya," ucap Arya sambil menarik Amara menjauh dari Amelia dengan gerakan yang seolah-olah ingin memeluknya.
Amelia menatap Arya, lalu menatap Amara bergantian. "Arya... Amara tadi bilang sesuatu tentang dikunci di kamar?"
Arya hanya tersenyum tenang, sebuah senyum kemenangan yang membuat bulu kuduk Amara meremang.
"Mama, nggak mungkin Arya tega melakukan itu kepada Amara, ya kan sayang?" kata Arya sambil merangkul pundak Amara dengan erat, jemarinya menekan kuat sebagai peringatan.
Amelia menatap Amara lekat-lekat. Ia melihat raut wajah menantunya yang tampak ragu, bibir Amara sedikit terbuka seolah hendak menggeleng, namun tekanan di pundaknya membuat Amara terdiam.
"Arya, kamu tidak sedang mencoba membohongi Mama, kan?" tanya Amelia penuh selidik.
"Nggak, Ma. Untuk apa Arya bohong kepada Mama? Jika Arya mengunci dia di kamar, bagaimana mungkin tadi dia bisa mengangkat telepon dari Mama di ruang tengah?" jawab Arya dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.
Amara menatap Arya dengan tatapan tidak percaya. Hah... aku nggak nyangka kamu ternyata sangat pandai dalam berkata-kata. Sekarang kamu malah membalikkan faktanya padaku. Sepertinya aku harus cari cara lain, batin Amara.
"Amara?" panggil Amelia lembut.
"Iya, Ma?"
"Kamu tidak apa-apa?"
Amara menarik napas panjang. "Nggak apa-apa, kok Ma. Kalau gitu, Amara izin ke toilet sebentar ya, Ma," pamit Amara.
"Iya sayang, silakan," jawab Amelia.
Amara memberikan tatapan tajam yang tertuju langsung pada tangan Arya di pundaknya. Tanpa kata, Arya menarik lengannya perlahan. Begitu terbebas, Amara berbalik dan melangkah lebar meninggalkan aula. Di balik pilar besar, Rio sudah menunggu, matanya mengikuti gerak-gerik Amara, bersiap mengekorinya dalam diam.
"Ma, Arya permisi sebentar mau menghubungi seseorang," ucap Arya pada mamanya.
"Ah, iya. Ya sudah, Mama mau lanjut membahas detail dengan para vendor lagi," sahut Amelia.
Arya mengangguk, lalu berbalik dan menyusuri koridor dengan langkah lebar. Dari kejauhan, Rio memperhatikan Arya yang tengah mengekor di belakang Amara. Tak lama kemudian, ia melihat Amara berbelok dan masuk ke dalam toilet wanita.
Ternyata dia benar-benar ke toilet. Baguslah, batin Arya.
Ia memilih berdiri bersandar di dinding koridor, agak jauh dari pintu toilet namun posisinya memastikan ia bisa melihat siapa pun yang keluar-masuk. Matanya tidak lepas dari pintu itu, waspada jika Amara mencoba kabur.
Di belakang Arya, Rio menjaga jarak dengan sangat hati-hati. Ia memperhatikan posisi Arya yang tampak sangat protektif—atau lebih tepatnya, seperti sipir yang menjaga narapidana.
...***...
Di dalam toilet, Amara berdiri di depan cermin besar. Ia menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menjernihkan pikirannya yang kacau.
Aku harus menghubungi seseorang, tapi dengan apa? Ponselku sudah tertinggal di mobil Bayu. Aku tidak tahu apakah sudah dihancurkan Arya atau belum. Dan Bayu... bagaimana keadaannya? Arya tidak mungkin membunuhnya, kan? Amara mencemaskan nasib pria yang telah membantunya itu.
Tiba-tiba, sebuah bilik toilet terbuka. Seorang wanita keluar dan berjalan ke arah wastafel. Amara melihat ponsel wanita itu tergeletak di atas meja wastafel. Sebuah ide muncul. Amara mendekat dengan wajah memohon.
"Permisi, maaf Mbak. Boleh pinjam ponselnya sebentar? Saya harus menghubungi seseorang, ponsel saya rusak," pinta Amara halus.
"Ah, boleh. Ini," jawab wanita itu ramah sambil menyodorkan ponselnya.
"Terima kasih banyak, saya hanya pinjam sebentar," ucap Amara tulus.
Wanita itu mengangguk setuju. Amara pun segera berjalan menjauh ke pojok toilet yang paling dalam, lalu menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Di koridor, Rio tersentak saat merasakan ponselnya bergetar. Ia segera melangkah menjauh untuk mencari posisi aman sebelum mengangkatnya.
"Halo, siapa ini?" tanya Rio berbisik.
"Rio, ini aku, Amara."
"Nyonya!" Rio terkejut sekaligus lega.
"Rio, dengar. Aku butuh bantuanmu," kata Amara cepat.
"Apa, Nyonya? Katakan saja, saya akan segera bertindak."
"Tolong carikan ponsel untukku. Tidak perlu bagus, yang penting bisa aku gunakan untuk komunikasi diam-diam. Ponselku sudah entah ke mana."
"Baik, Nyonya. Akan saya siapkan. Ada lagi?"
Amara terdiam sejenak. "Satu lagi... tolong cari tahu di mana Bayu. Cek kondisinya, tanyakan apa dia baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, segera kabari aku."
"Baik, Nyonya. Ada hal lain?" tanya Rio.
" Tidak ada Rio, hanya itu " jawab Amara.
"Nyonya," sela Rio, "saya ada di koridor, cukup jauh dari toilet. Jika Anda mau kabur sekarang, saya akan bantu. Saya akan alihkan perhatian Tuan Arya supaya Anda bisa keluar melalui pintu servis."
Amara terkejut. "Kamu ada di sini?" tanya Amara.
"Iya, Nyonya. Mata Tuan Arya tidak lepas dari pintu toilet. Dia takut Anda kabur." jawab Rio.
Amara memejamkan mata, menimbang keputusan. "Hah... terima kasih, Rio. Tapi aku tidak akan kabur sekarang. Aku akan mengikuti permainannya. Aku ingin tahu rencana apa lagi yang akan dia mainkan."
"Nyonya, Anda yakin?" tanya Rio cemas.
"Ya, aku yakin. Kerjakan saja tugasku, cari tahu keberadaan Bayu dan cek kondisinya," tegas Amara.
"Baik, Nyonya. Segera saya laksanakan."
"Hati-hati, Rio. Jangan sampai Arya menyadari keberadaanmu." kata Amara mengingat kan.
Amara mematikan panggilan tersebut. Dengan cepat ia menghapus log panggilan di ponsel itu, lalu berjalan mendekat ke wanita tadi untuk mengembalikannya.
"Ini, terima kasih banyak ya sudah meminjamkan," kata Amara dengan senyum tipis.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap wanita itu lalu pergi.
Amara menarik napas panjang, merapikan riasannya sekali lagi, dan bersiap keluar menghadapi suaminya yang sudah menunggu seperti serigala di depan pintu.
...***...
Di koridor luar, Arya yang sedang bersandar di dinding tampak terus-menerus melirik ke arah layar ponselnya, namun matanya tidak pernah benar-benar lepas dari pintu toilet wanita. Kegelisahannya mulai terbaca.
Tiba-tiba, ia mendengar suara pintu terbuka. Arya segera mendongak dan memasukkan ponselnya ke saku jas. Ia menatap tajam, namun ternyata yang keluar adalah wanita lain yang berjalan melewatinya begitu saja. Arya kembali menatap pintu kayu itu dengan curiga.
Bukan Amara. Kenapa dia lama sekali di dalam? Apa yang dia lakukan? Dia tidak mungkin kabur, kan? batin Arya gusar. Ia mulai melangkah mendekati pintu toilet, niatnya untuk masuk dan menyeret Amara keluar sudah di ujung tanduk.
Tepat saat langkahnya sampai di depan pintu, pintu itu kembali terbuka. Amara muncul dari sana. Mata mereka langsung beradu, menciptakan ketegangan sesaat di koridor yang sepi itu.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sampai selama itu?" tanya Arya dengan nada penuh selidik.
Amara membalas tatapan itu dengan wajah datar yang tenang. "Aku hanya buang air kecil dan mencuci muka. Itu saja," jawab Amara singkat.
Arya menatap Amara lekat-lekat, mencari kebohongan di matanya, namun ia hanya mendapati ketenangan yang dingin. Ia akhirnya menghela napas panjang untuk meredam kecurigaannya.
"Ya sudah. Kita kembali ke aula. Mama pasti sudah menunggu lama, jangan sampai kita membuatnya curiga karena terlalu lama di luar," kata Arya sambil meraih lengan Amara, seolah-olah menggandengnya dengan mesra namun sebenarnya adalah sebuah cengkeraman agar Amara tetap dalam kendalinya.
"Ya," sahut Amara dingin.
Sementara itu, Rio segera berjalan cepat meninggalkan koridor. Saat melintasi belokan, Amara sempat menangkap sekilas bayangan punggung Rio yang menjauh.
Rio... batin Amara dalam hati, merasa sedikit tenang karena tahu orang kepercayaannya sudah mulai bergerak.
Arya menyadari perubahan raut wajah Amara. Ia melirik istrinya dengan curiga, lalu mengikuti arah pandangan Amara ke ujung koridor. Namun, ia tidak mendapati siapa pun di sana karena Rio sudah menghilang di balik pintu darurat menuju parkiran.
Di area parkir, Rio segera masuk ke dalam mobilnya. Ia tidak membuang waktu dan langsung menghubungi anak buahnya untuk melacak keberadaan Bayu.
"Halo. Lacak keberadaan Bayu sekarang. Saya akan kirimkan nomor ponselnya," perintah Rio tegas.
"Baik, Tuan," sahut anak buahnya di seberang telepon.
Rio segera menyalakan mesin mobil dan melesat meninggalkan hotel. Tak lama kemudian, ponselnya berdering kembali. Rio langsung menekan tombol earpiece di telinganya.
"Halo, bagaimana? Sudah menemukannya?" tanya Rio cepat.
"Sudah. Saat ini posisi sinyalnya berada di Rumah Sakit Medica," lapor anak buahnya.
"Rumah sakit?" Rio mengernyitkan dahi. Perasaan buruk mulai menyelimutinya.
"Iya, Tuan."
"Cari tahu apa yang dia lakukan di sana. Jika dia dirawat, cari tahu nomor kamarnya. Jika bukan dia yang dirawat, cari tahu siapa yang sedang dia jenguk atau urusan apa yang dia miliki di sana. Segera laporkan padaku," perintah Rio.
"Baik, akan saya perintahkan tim di lapangan untuk mencari tahu detailnya," jawab bawahannya.
"Ya," sahut Rio singkat sebelum memutus panggilan. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, mengarahkan mobilnya menuju Rumah Sakit Medica dengan penuh tanda tanya.
-
Di dalam aula, Amelia melihat Amara dan Arya berjalan masuk bersama sambil berpegangan tangan. Senyum mengembang di wajahnya, ia segera melangkah menghampiri anak dan menantunya itu.
"Syukurlah kalian sudah kembali. Ayo, sekarang kita pulang. Urusan di sini sudah selesai, besok mereka akan mulai mendekorasi tempat ini," ucap Amelia dengan nada puas.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang," sahut Arya singkat.
"Tunggu sebentar, Arya. Bagaimana kalau kita makan malam bersama dulu? Sebentar lagi sudah masuk jam makan malam," usul Amelia.
Arya tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh dan menatap Amara, seolah sedang meminta persetujuan atau sekadar memastikan istrinya itu tidak akan bicara macam-macam di depan ibunya nanti.
Kenapa dia melihat ke arahku? Apa maksudnya? batin Amara dalam hati, merasa tidak nyaman dengan tatapan Arya yang sulit diartikan itu.
Amelia menyadari kebisuan mereka. Ia kemudian menatap Amara dengan hangat. "Amara, bagaimana menurutmu jika kita makan malam bersama, hm?" tanya Amelia.
Amara sempat bimbang sejenak, namun ia tahu menolak hanya akan membuat Amelia curiga. "Mmmm... ya sudah, Ma. Ayo kita makan malam bersama," jawab Amara akhirnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Baiklah! Bagaimana jika kita makan di Restoran Lexus?" tanya Amelia antusias.
"Boleh, Ma. Ayo," sahut Arya menyetujui, sambil tetap mengeratkan pegangan tangannya pada Amara, seolah memberi tanda bahwa sandiwara ini harus berlanjut hingga makan malam usai.
Sementara itu di Rumah Sakit Medica, Rio sedang memarkirkan mobilnya dengan perasaan campur aduk. Tepat saat ia mematikan mesin, ponselnya kembali berdering.
"Halo, bagaimana?" tanya Rio dengan nada mendesak.
"Dia sedang dirawat di rumah sakit itu, Tuan. Nomor kamar B5, Ruang Tulip. Laporannya, dia ditemukan di pinggir jalan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya oleh seseorang yang kebetulan melintas, lalu langsung dibawa ke IGD. Saat ini kondisinya masih dalam masa perawatan, tapi syukurlah nyawanya selamat dan dia sudah sadarkan diri," lapor anak buahnya dengan detail.
Rio mengembuskan napas panjang, ada sedikit rasa lega yang menyeruak. "Baik, terima kasih," ucap Rio singkat sebelum menutup telepon.
Ia segera keluar dari mobil dan melangkah cepat menuju lobi rumah sakit. Pikirannya tertuju pada satu hal: ia harus segera memastikan kondisi Bayu secara langsung dan mendapatkan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu, agar ia bisa segera memberi kabar kepada Amara.
...***...
Bersambung.....
Amiin. 💪