NovelToon NovelToon
Kepincut Musuh Bebuyutan

Kepincut Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:40.4k
Nilai: 5
Nama Author: juyuya

"Awas ya kamu! Kalau aku udah gede nanti, aku bikin kamu melongo sampai iler kamu netes!" teriak Mita.

" Hee… najisss! Ihh! Huekk" Max pura-pura muntah sambil pegang perut.

Maxwel dan Mita adalah musuh bebuyutan dari kecil sayangnya mereka tetangga depan rumah, hal itu membuat mereka sering ribut hampir tiap hari sampai Koh Tion dan Mak Leha capek melerai pertengkaran anak mereka.

Saat ini Maxwel tengah menyelesaikan studi S2 di Singapura. Sementara Mita kini telah menjadi guru di sma 01 Jati Miring, setelah hampir 15 tahun tidak pernah bertemu. Tiba-tiba mereka di pertemukan kembali.

Perlahan hal kecil dalam hidup mereka kembali bertaut, apakah mereka akan kembali menjadi musuh bebuyutan yang selalu ribut seperti masa kecil? Atau justru hidup mereka akan berisi kisah romansa dan komedi yang membawa Max dan Mita ke arah yang lebih manis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juyuya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

max jatuh

Setelah selesai memanen pohon nangka pertama, Max kembali naik untuk membantu mengambil beberapa buah yang tersisa di cabang atas.

Semua berjalan lancar sampai saat ia hendak berpijak di salah satu dahan.

Krek! Suara kayu retak terdengar jelas.

Mata Max membelalak.

Tubuhnya refleks mencari pegangan, namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Brukkk!

Tubuh Max jatuh dari ketinggian dan menghantam tanah dengan keras.

"MAX!" Kali ini suara Mita dan Abah Adul terdengar bersamaan.

Keduanya langsung berlari menghampiri.

"Ya Allah..." napas Mita tercekat.

Max terbaring di tanah sambil meringis kesakitan. Wajahnya pucat, keningnya dipenuhi keringat dingin.

Tanpa berpikir panjang, Mita segera duduk di tanah dan mengangkat kepala lelaki itu ke pangkuannya.

"Max..."

"Aku... gak apa-apa..." gumam Max pelan.

Namun bahkan suaranya terdengar menahan sakit.

Saat itulah mata Mita menangkap bercak merah di bagian belakang baju Max.

Wajahnya langsung memucat.

"Max, punggung kamu berdarah!" Mita menoleh panik.

"Abah! Panggil Koh Tion! Suruh siapin mobil! Kita bawa Max ke rumah sakit sekarang!"

Abah Adul mengangguk cepat. "Iya!"

Beliau langsung berlari keluar kebun.

"Mit..." Max mencoba bangun. "Aku gak apa-ap—akhh..."

Rasa sakit membuat kalimatnya terputus.

Mita langsung menekan bahunya pelan "Udah! Jangan bangun!"

"Tapi aku—"

"Kamu jatuh dari pohon nangka yang tinggi, Max!"

"Aku kuat..."

"Kuat? Dasar kepala batu!"

Max malah tersenyum tipis "Kamu nyari kesempatan ya, Mit?".

Mita melotot."Max, ini bukan waktunya kelahi."

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi?"

Tak lama kemudian terdengar suara langkah tergesa-gesa.

"MAX!"

"Koh Tion!"

Koh Tion langsung berjongkok di samping putranya.

"Astaga... Max..."

Raut wajahnya berubah panik melihat darah yang mulai merembes dari belakang baju anaknya.

"Ayo, Papah bawa ke rumah sakit."

Bersama Abah Adul, ia membantu mengangkat tubuh Max.

Karena kebun belakang sudah dipagari, mereka harus masuk melalui pintu belakang rumah terlebih dahulu.

Baru beberapa langkah masuk ke dapur, suara Mak Leha terdengar "Ya Allah! Max kenapa?!"

Wanita itu baru keluar dari kamar dan langsung membeku melihat keadaan Max."Mit, Max kenapa, Mit?"

"Aduh Mak, nanti dulu ya!" jawab Mita terburu-buru. "Sekarang Mita mau ke rumah sakit!"

Tanpa menunggu balasan, ia langsung berlari keluar menuju mobil putih yang sudah terparkir di depan rumah.

Pintu belakang dibuka.

Max dibantu duduk di kursi belakang.

"Mit, kamu jaga Max di belakang ya," ujar Koh Tion.

Mita mengangguk."Iya"

Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan Gapura Kampung Jati Miring.

Koh Tion menginjak pedal gas cukup dalam.

"Astaghfirullah..." Abah Adul berkali-kali beristighfar sambil berpegangan pada dashboard. "Yon, ingat... nyawa kita cuma satu!"

"Diam dulu, Dul," sahut Koh Tion tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Aku lagi fokus."

Perjalanan menuju kota terasa sangat lama.

Mita duduk di samping Max.

Sesekali ia mencuri pandang.

Kelopak mata Max mulai berat.

Napasnya terdengar kasar seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Tangan Mita perlahan mengepal di atas pangkuannya.

Sebenarnya ia ingin menggenggam tangan lelaki itu.

Ingin memastikan Max baik-baik saja.

Namun niat itu ia kubur dalam-dalam.

Setelah hampir setengah jam perjalanan, mobil akhirnya berhenti di salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota.

Petugas medis segera datang membawa brankar.

"Permisi!"

Max langsung dipindahkan ke atas brankar dan dibawa masuk ke ruang penanganan.

Sementara itu Koh Tion, Abah Adul, dan Mita hanya bisa menunggu di luar.

Suasana koridor terasa begitu sunyi.

Abah Adul menunduk lama sebelum akhirnya menghampiri Koh Tion."Yon..."

Koh Tion menoleh.

Abah Adul mengusap wajahnya kasar "Aku minta maaf."

"Minta maaf apa?"

"Max jadi begini gara-gara aku."

"Dul—"

"Kalau tadi aku nggak nyuruh dia manjat pohon nangka, mungkin dia nggak bakal masuk rumah sakit."

Suara Abah Adul terdengar penuh penyesalan.

Koh Tion menatap sahabat lamanya itu beberapa saat.

Lalu menggeleng pelan.

"Ini bukan salah kamu."

"Tapi—"

"Ini kecelakaan, Dul."

"Tetap aja..."

Koh Tion memegang bahu sahabatnya.

Abah Adul terdiam.

"Aku nggak mau dengar kamu nyalahin diri sendiri lagi."Mata Koh Tion mulai memerah.

"Sekarang kita sama-sama berdoa aja. Semoga Max nggak kenapa-kenapa."

Abah Adul mengangguk pelan.

Tak lama kemudian pintu ruang tindakan terbuka.

Seorang dokter dan dua perawat keluar menghampiri mereka.

"Dengan keluarga Saudara Maxwell?"

"Saya orang tuanya, Dok," jawab Koh Tion cepat.

Dokter membuka berkas di tangannya.

"Maaf sebelumnya, apakah putra Bapak pernah mengalami kecelakaan cukup serius?"

"Hah?" Koh Tion mengernyit."Seingat saya tidak pernah, Dok."

Dokter terlihat sedikit heran. "Begini, Pak. Saat Saudara Maxwell jatuh, benturan keras di punggungnya menyebabkan jahitan lamanya terbuka kembali."

"Jahitan?"Bisik Mita pelan.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

Dan tanpa sadar, percakapan beberapa hari lalu kembali terngiang di kepalanya.

"Dulu saya juga pernah ditabrak lari seperti ini."

Mita menoleh waktu itu, Namun hanya sepersekian detik.

"Gara-gara kecelakaan itu..."Max menghembuskan napas panjang."...aku jadi punya bekas jahitan yang cukup besar di punggung."

"Koh Tion tahu?" tanya Mita saat itu.

Max menggeleng kecil."Waktu itu aku nggak mau bilang ke siapa pun. Papah lagi sibuk. Aku nggak tega kalau dia sampai syok lihat kondisi aku."

Mita menunduk.

Ternyata selama ini Koh Tion benar-benar tidak tahu.

Bahkan saat Max menceritakannya, ia sempat mengira luka itu tidak terlalu serius.

Kini kenyataannya jauh berbeda.

Beberapa jam kemudian, kondisi Max akhirnya stabil dan dipindahkan ke ruang rawat.

Koh Tion masuk lebih dulu ke dalam kamar.

Sementara Mita dan Abah Adul memilih menunggu di luar.

Tak ingin mengganggu suasana antara ayah dan anak itu.

Di balik pintu kamar yang tertutup, suasana terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, Mita menyadari bahwa di balik senyum jahil dan tingkah menyebalkan Max selama ini, ada banyak hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

"Mit..."

"Hm?"

Abah Adul menatap putrinya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara pelan."Kamu tolong jagain Max ya."

Mita sedikit mengernyit.

"Abah nggak enak sama Koh Tion."Suara lelaki paruh baya itu terdengar penuh penyesalan.

"Kamu tolong jagain Max sampai dia benar-benar sembuh, Mit."

Mita menoleh.

Baru kali ini ia melihat wajah Abah Adul sekhawatir itu.

Ada rasa bersalah yang begitu jelas terpancar dari sorot matanya.

Hati Mita ikut terasa tidak nyaman melihatnya.

Perlahan ia mengusap pundak abahnya "Iya, Bah."

Senyumnya tipis."Mita jagain Max."

"Alhamdulillah..."Abah Adul mengembuskan napas lega.

"Walaupun kamu sama Max sering bertengkar, sebenarnya kalian itu punya rasa empati masing-masing."

Mita hanya diam mendengarkan.

"Mit..."

"Iya?"

"Kamu tahu nggak waktu kamu kecelakaan kemarin?"

"Max yang bawa kamu ke rumah sakit?"

Mita terdiam.

"Max juga yang bayar biaya rumah sakit kamu."

"Hah?"Mata Mita langsung membesar.

"Bukannya kemarin susternya bilang gratis ya, Bah?"

Abah Adul malah terkekeh geli."Hahaha... rumah sakit sebagus itu mana ada yang gratis, Mit."

Mita mengerjapkan mata.

"Kalau kamu pakai BPJS mungkin beda cerita."

Kini setelah dipikir-pikir lagi...

Memang benar.

Rumah sakit tempat ia dirawat waktu itu termasuk rumah sakit swasta yang cukup besar.

Kenapa dulu ia bisa begitu percaya kalau semuanya gratis?

"Iya juga ya..." gumamnya pelan. "Kenapa dulu Mita nggak ngeh sama sekali?"

Abah Adul tersenyum kecil. "Mit."

"Max itu orangnya tulus."

Lagi-lagi mita hanya mendengarkan.

"Selama dia bantu Abah, dia nggak pernah sungkan. Padahal kita sama-sama tahu dia orang berada."

Mita menunduk.

Entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.

Mengingat kembali semua pertengkaran dan ejekan yang sering mereka lakukan.

"Jadi sekarang Abah mohon sama kamu."

Mita kembali mengangkat kepala.

"Kalian itu sudah besar."Abah Adul tersenyum lembut."Nggak bagus kalau tiap hari bertengkar terus."

"Abah yakin pikiran kamu sekarang juga sudah matang."

"Jadi usahakan jangan sering-sering berantem."

Beliau lalu tertawa kecil."Walaupun sama musuh bebuyutan kamu itu."

Mita tak kuasa ikut tersenyum."Iya, Bah."

"Nah gitu."

Cklek.

Pintu ruang rawat terbuka.

Abah Adul dan Mita langsung menoleh.

Koh Tion keluar dari dalam kamar.

"Eh, Yon. Gimana Max?" tanya Abah Adul cepat.

"Udah mulai mendingan."Koh Tion tersenyum tipis.

"Dia cuma perlu banyak istirahat."

"Alhamdulillah."

Raut tegang di wajah Abah Adul akhirnya sedikit mengendur.

"Iya, Dul."

Koh Tion menepuk bahu sahabatnya "Makasih udah khawatir sama Max."

"Sama-sama, Yon."Abah Adul menghela napas panjang "Aku sekalian mau pulang dulu. Kasihan si Leha di rumah, dari tadi nanyain terus."

"Haha..."Koh Tion tertawa kecil."Yaudah, aku antar aja sekalian."

Abah Adul langsung menggeleng."Ah nggak usah. Aku naik ojek aja."

"Jangan!."

"Yon..."

"Biar aku antar. Sekalian ada urusan di jalan."

Abah Adul akhirnya menyerah."Yaudah."

Koh Tion kemudian menoleh ke arah Mita."Mit."

"Iya, Koh?"

"Koh Tion titip Max ya."

Mita mengangguk."Iya"

"Hati-hati di jalan koh,Abah juga, Bah."

Abah Adul tersenyum.

Lalu kedua lelaki paruh baya itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga perlahan menghilang dari pandangan.

Mita menatap punggung mereka sampai benar-benar tak terlihat lagi.

Beberapa detik kemudian pandangannya beralih ke pintu ruang rawat.

Melalui kaca kecil di pintu, ia bisa melihat sosok Max yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.

Untuk sesaat Mita hanya berdiri diam.

Lalu...

Cklek.

Ia membuka pintu perlahan.

Ruangan itu terasa sunyi.

Hanya suara pendingin ruangan dan bunyi alat monitor yang terdengar samar.

Mita melangkah mendekat.

Semakin dekat.

Semakin jelas wajah lelaki yang selama ini selalu membuatnya kesal.

Dan entah kenapa...

Langkahnya melambat.

Tatapannya berhenti pada wajah Max.Rahangnya tegas,Alisnya tebal,Hidungnya mancung,Bulu matanya bahkan terlihat cukup lentik untuk ukuran laki-laki.

Mita berkedip beberapa kali.

Lalu buru-buru mengalihkan pandangan.

Namun beberapa detik kemudian tanpa sadar ia menoleh lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Sampai akhirnya dirinya sendiri yang kesal"Astagfirullah..."Mita langsung menepuk dahinya pelan.

"Apa sih yang aku lihat-lihat..."

Ia menarik kursi di samping ranjang lalu duduk.

Berusaha terlihat santai.

Padahal jantungnya justru berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.

1
ijunk2k3
Biji lah si kampret😂😂🤣
indri ana
Up nya jangan lama² thor🥰
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
semangat thor
indri ana
kayaknya bakalan ada yg jatuh cinta nichh🥰
indri ana
lanjut thor🥰
Sri Jumiati
iya lama tdk up date thor
indri ana
semangat Thor, updatenya jgan lama²🥰
Nur Khalimah
ini kok luama ya tak tunggu looch...
bolak balek bukak😄😄
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
semoga berjodoh mak dan mita
Sri Jumiati
lucu ceritanya bikin ketawa sendiri .semangat thor
Aqella Lindi
jangan lama thor,nti lupa cerita ny di tgu ya
Richboy I
seruu thoor... semangat up nya
♪ゞALbie。⁠☆ゞ⁠)
suka
♪ゞALbie。⁠☆ゞ⁠)
sering up Thor jangan lama2
Felycia Fernandez
Bae Suzy Mak 😆
Felycia Fernandez
pasti Max nih yang bayar
Felycia Fernandez
banyak macam janda ya sekarang 😆
Felycia Fernandez
lha 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
udah kemana mana mimpi mu Mita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!