NovelToon NovelToon
I Choose To Love You

I Choose To Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 5
Nama Author: Cut Ria

Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?

Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.

Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.

Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Besok paginya Dinda bangun dengan berat. Padahal setelah menerima telfon dari Mamanya ia tertidur pulas. Dinda membereskan beberapa jahitan pelanggan yang setelahnya akan di sambung oleh mbak Nopa dan mbak Feli.

Namun tiba-tiba suara Tab milik Johan berdering, hingga mengagetkan mbak Nopa dan mbak Feli.

" Din itu Tab, apa gak bisa distel volume dan nada deringnya??, " tanya mbak Feli dengan sedikit kesal karena benar-benar suaranya mengangetkan dirinya yang tengah fokus menjahit.

" Ah, iiya yaa mbak, maaf tar dicoba Dinda stel yaa, kadang suka lupa, " jawabnya yang segera meraih Tab tersebut. Dan terlihat nomor telfon Johan disana. Hal yang tak terduga oleh Dinda bahwa Johan akan menelfon. Dinda pun langsung mengangkat telfon tersebut.

" Hallo??"

" Sampai kapan kau tak akan datang??, " tanya Johan yang menghakimi Dinda. Dan seketika Dinda jadi kelabakan mendengar pertanyaan Johan yang bernada marah.

" Ah, maaf.., saya.., saya masih ada keperluan pribadi, " jawab Dinda terbatah seraya melihat jam ditangannya hampir jam 11 siang.

" Baiklah, jika telah selesai cepat kemari, tugasmu belum selesai, " tukas Johan sedikit mengalah.

" Ah, ya..., te..," komunikasi itu terputus tanpa mendengarkan ucapan dari Dinda. Dinda pun hanya bisa menghela nafas panjangnnya, seraya menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya bahwa tipikal pria ini benar-benar buruk.

Namun seketika Dinda mengambil tasnya, dan memasukkan handphonenya dan Tab milik Johan kedalam tas. Lalu menghampiri mbak Nopa yang tengah menyambung potongan-potongan kain baju pelanggan dimasin jahit.

" Mbak, Dinda pergi sebentar yaa, " ujarnya seraya berjalan mengambil kunci mobilnya.

" Oh, iyya, apa ketempat pengacara itu lagi??, " tanya mbak Nopa sambil melihat Dinda yang seolaha terburu-buru.

Namun Dinda tak menjawab, ia hanya tersenyum simpul seraya berjalan menuju pintu butiknya.

Ketika akan menghidupkan mobilnya. Tiba-tiba suara telfonnya berbunyi. Lalu ia merogoh tasnya untuk meraih handphonenya. Dan terlihat nama dr. Satria disana.

" Hallo??".

" Ya hallo, Dinda, aku telah berada diapartemennya, " ujar dr. Satria memberi info.

" Ah, baik dokter, mungkin sekitar 30 menit lagi Dinda sampai disana, ini baru mau jalan, " tukas Dinda seraya menyalahkan mesin mobilnya. Lalu komunikasi keduanya pun terputus, berlahan roda mobil Dinda berjalan keluar dari parkiran toko butiknya.

🍃🍃🍃

Seperti yang ia prediksikan, akhirnya Dinda sampai pada apartemen yang di tuju. Sesaat Dinda terdiam ketika mesin mobilnya dimatikan, ada rasa ragu dalam dirinya. Namun Dinda menarik nafas panjang dan menghelanya berlahan seolah membuang gugupnya, seraya ia meraih buket bunga lilit putih yang terangkai indah disana.

Lalu ia turun segera untuk menuju lobby apartemen mewah itu yang terlihat beberapa security disana berjaga-jaga. Dinda mengirim pesan singkat pada dr. Satria, dan langsung mendapat balasan seketika dengan memberi tahu lantai ke 8 apartemen no 801.

Dinda bersegera jalan menuju lift dan menekan tombol angka 8. Dengan jantung yang berdebar Dinda terlihat cemas akan bagaimana nanti ketika bertemu dengan keluarga pemilik jantung ini.

" Apa kau senang??, mereka pasti bangga akan dirimu, " ujar Dinda yang berbicara sendiri seolah-olah pemilik jantung itu tau apa yang dirasa.

Ting.

Bunyi pintu lift terbuka, dan Dinda berjalan keluar mencari nomor pintu 801 yang ternyata tak jauh dari pintu lift. Dengan sedikit menarik nafas panjang, ia mencoba menekan tombol bel pintu.

Ting..tong.

Suara itu terdengar. Dan tak berselang lama pintu itu terbuka, terlihat wanita muda menyambut Dinda dengan senyum hangat.

" Apa kau yang bernama Dinda??, " tanya wanita itu memastikan.

" Ya, saya Dinda Gandis".

" Syukurlah, ayo masuk, semua telah memunggu dirimu, " ujarnya ramah dan berlahan pintu itu terbuka lebar dan terlihat suasana terang dari ruang tengah apartemen itu. Dan sayup-sayup suara obrolan itu memelan seiring dengan langkah kaki Dinda yang masuk hampir ketengah ruang.

Dan terlihat disana seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya yang terlihat terpaku pada Dinda. Wanita itu berlahan bangun dari duduknya dan berjalan kehadapan Dinda yang tak bergeming.

Wanita itu menatapa Dinda dengan wajah sedih, tangannya berlahan mencoba menyentuh wajah Dinda, mengusapnya dengan lembut. Dan berlahan tangannya turun ke dada Dinda yang terlihat masih memakain coat merahnya. Sorot matanya memandang lama pada dada Dinda yang terletak jantung milik putrinya.

" Kenapa kau lama sekali pulang??, mommy.., mommy rindu kamu, !!" ujar wanita paruh baya itu dengan suara bergetar dan seketika air matanya lolos dari pelupuk matanya.

Dan dengan nalurinya Dinda memeluk wanita itu yang ia yakini adalah ibu dari si pemilik jantungnya. Entah mengapa jantungnya ikut sakit melihat wanita itu menangis. Dan ia pun ikut menangis bersama wanita itu yang terdengar suara tangisan rindu yang mendalam.

" Maaf.., !!" lirih suara Dinda berbisik disisi wanita yang akhirnya menumpahkan kerinduannya pada putri satu-satunya. Sesaat suasana ruangan itu menjadi haru biru, terlihat dr. Satria pun ikut menitikkan air mata begitu juga dengan pria paruh baya itu, bahkan wanita muda tadi pun ikut menangis bersama dalam moment itu.

🍃🍃🍃

Setelah beberapa saat suasana haru itu pun berlalu, wanita paruh baya itu yang ternyata bernama Nyonya Ivo Lim, kesehatan masih terus dipantau oleh pihak medis karena ia belum benar-benar belum sembuh dari sakit pisikisnya. Dan kini Nyonya Ivo Lim terlihat tertidur karena pengaruh obat, pertemuan tadi cukup menguncang jiwannya.

Kini terlihat pria paruh baya itu menemani istrinya. Dinda merasa bersalah ketika melihat kondisi kedua orangtua itu. Ada rasa sesal dihatinya. Namun tiba-tiba wanita muda itu menarik dirinya untuk kembali duduk diruang tengah yang terlihat dr. Satria tengah berbicara dengan kakak dari si pendonor jantung.

" Apa, nyonya tidak apa-apa??, " tanya Dinda yang cemas.

" Mommy akan baik-baik saja, yaa tidak sebaik yang terlihat karena jiwanya yang masih terluka, " jawab wanita itu tenang.

" Ah, sedari tadi aku belum memperkenalkan diri, namaku kak Selly, aku istri dari kakaknya Vanya, " jelasnya senang seraya membawa Dinda menuju kamar Utama.

Tiba-tiba langkah kaki Dinda terhenti, ia seolah mendengar nama yang tak asing dipendengarannya.

" Kenapa??, " tanya kak Selly yang melihat Dinda yang terpaku.

" Ah, bukan apa-apa.., " ucap Dinda ragu. Lalu seketika ia menyesali diri karena belum membuka isi dari amplop yang diberikan oleh dr. Satria kemarin.

" Masuklah, " ujar kak Selly seraya ia masuk kedalam kamar yang terlihat nuansa putih dan jendela besar yang tertutup tirai gorden setengah.

Dengan ragu Dinda masuk kedalam, langkah kakinya tak ingin, tapi jantungnya seolah memerintahkan otaknya untuk menyuruh masuk kedalam kamar itu.

" Ini adalah kamar Vanya, sehari sebelum tabrakan ia sempat membereskan kamarnya, lalu yaa begitu laah musibah itu benar-benar merenggut segalanya, " jelas kak Selly seraya membuka tirai gorden agar terbuka lebar, dan ia bercertia seolah-olah Dinda paham akan penjelasannya.

Dinda terus terpaku, dan kali ini ia benar-benar mendengar dengan jelas nama " Vanya ". Ia terus mengingat bahwa nama itu juga pernah disebutkan oleh Johan. Apakah ini orang yang sama?? atau hanya suatu kebetulan nama yang sama??. Hati Dinda terus bergulat dengan pemikirannya sendiri.

Lalu ia melihat sebuah bufet sedang yang terdapat beberapa foto seorang gadis disana.

Dan seketika ia melihat sebuah lukisan kupu-kupu disana dan mengambilnya.

" Ah, entah mengapa Vanya sangat menyukai kupu-kupu, ia menganggap dirinya adalah..,"

" Kupu-kupu, " sambung Dinda berlahan dan hal itu mendapat reaksi dari kak Selly yang terkejut.

" Bagaimana kamu tau??, " tanya kak Selly menatap Dinda.

Dinda terdiam, ia hanya tersenyum simpul pada kak Selly yang membenarkan seprai tempat tidur putih itu. Tapi jauh dilubuk hati Dinda ia merasakan nyeri yang tak bisa ia jelaskan. Dan tanpa sengaja ia menyenggol sebuah foto album mini hingga jatuh kelantai.

Bruk.

Kak Selly reflek melihat kearah bunyi itu, Dinda pun ikut terkejut, karena merasa bersalah menjatuhkan benda itu kelantai. Berlahan ia menurunkan tubuhnya untuk meraih album itu dan tak sengaja membuka halamannya album. Dan ketika ia melihat halaman foto itu, sorot mata Dinda terpanah.

" Ini??, " ujarnya terpaku.

" Ah, itu??, itu adalah foto kekasih Vanya, Johan.., Johan B. Bastian. Pada saat kejadian itu..., " kak Selly terus bercerita, namun seolah-olah waktu berhenti disekeliling Dinda, ia bahkan tak bisa mendengar apa pun dan terus terpaku melihat foto ala prawed disana, sosok wanita yang anggun dan pria yang hangat.

Sorot mata Dinda terpanah, ia merasa syok berat ketika melihat foto Johan disana tersenyum bahagai.

Tak..,tak..

Tanpa Dinda sadari kedua air matanya jatuh begitu saja diatas album foto itu.

" Bagaimana bisa ?? ini??, " lirih Dinda, dan ia merasa jantungnya beraksi nyeri yang membuatnya tak nyaman. Dan seketika kaki Dinda lemas, tubuhnya tiba-tiba roboh terduduk dilantai seraya memegang dadanya.

Bruk..

Kak Selly beraksi terkejut ketika melihat hal itu, .

" Apa kamu baik-baik saja??," ujarnya cemas, seraya mendekat pada Dinda yang terlihat menangis.

" Maaf.., ini aneh.., aku.., aku bahkan tidak bisa menahan tangisku sendiri..,!!" ujarnya yang benar-benar menangis melihat foto Johan dan Vanya.

Dan karena hal itu, kak Selly buru-buru keluar kamar dan memanggil dr. Satria untuk melihat kondisi Dinda yang menangis.

" Kau kenapa??, mengapa sesakit ini??, " ujarnya sesegukan menahan sakit dijantungnya dan terus menangis, hal yang tak pernah ia rasa sebelumnya.

Dinda benar-benar tak bisa mengontrol dirinya, entah mengapa ini begitu menyakitkan bagi Dinda mengetahui kenyataan bahwa pemilihan jantung ini adalah kekasih seorang Johan B. Bastian.

1
inchieungill
perlahan bukan berlahan.
inchieungill
hati tenang
ione
Luar biasa
Putri Purwanti
Biasa
Dara
Wah....Author ngendorse juga rupanya ya👍😂😂😂😂
arfan
up
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ¢ᖱ'D⃤ ̐NuR❗☕𝐙⃝🦜
Karya yang sangat luar biasa keren,cerita yang sangat bagus dan selalu terkenang......
Lis Ha
suka banget sama ceritanya,,, semangat terus thor
Rini Haryati
,bagus
sukses
semangat
mksh
Febrysofia Dejesus
aku udah bca kelnjutanya...pengacara topan...bagus banget ceritanya
Mariana Frutty
Mariana Frutty
🥺
Mariana Frutty
✖️
Susanti Deliana
happy ending ya thor
Ris Andika Pujiono
ini mah de best di NT
Ris Andika Pujiono
aku terharu. Kakak author pintar
Halimah Tusahdiah
baik
Ris Andika Pujiono
keren nih keknya ceritanya 🥰🥰🥰🥰
Daudia Ramadani
👍👍👍
dream
Ter Love....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!