Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Orang-orang yang Mencari Aluna
Suasana di halaman rumah Nenek Ratih berubah tegang. Empat pria berpakaian hitam berdiri beberapa meter dari Aluna. Tatapan mereka tertuju pada kalung bulan sabit yang menggantung di leher gadis itu.
Arsen melangkah maju, berdiri tepat di depan Aluna dan Ratih.
"Siapa kalian?" tanyanya dengan suara dingin.
Pria yang tampaknya menjadi pemimpin itu menjawab tenang, "Kami tidak datang untuk membuat keributan."
"Lalu untuk apa?"
"Kami ingin membawa Nona Aluna."
Aluna menggenggam tangan Ratih semakin erat.
"Saya tidak mengenal kalian."
Pria itu mengeluarkan sebuah foto lama dari dalam saku jasnya. Foto tersebut memperlihatkan seorang bayi yang dibungkus selimut putih dengan kalung bulan sabit di lehernya.
"Kami sudah mencari gadis ini selama bertahun-tahun."
Arsen memperhatikan foto itu dengan saksama.
"Kalau memang begitu, tunjukkan identitas kalian."
Keempat pria itu saling berpandangan.
"Kami tidak bisa."
"Kalau begitu, Aluna tidak akan pergi ke mana pun."
Pemimpin mereka mengembuskan napas pelan.
"Kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?" tanya Arsen tajam.
Pria itu tidak menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi dari kejauhan.
Rangga yang diam-diam menghubungi pihak berwajib sejak beberapa menit lalu tersenyum tipis.
"Sepertinya kalian harus menjelaskan semuanya kepada polisi."
Keempat pria itu langsung panik.
"Pergi!"
Mereka bergegas masuk ke mobil dan melaju kencang sebelum mobil polisi tiba.
Beberapa menit kemudian, dua petugas turun dari mobil patroli.
"Apa yang terjadi?"
Arsen menjelaskan kejadian tersebut secara singkat. Polisi mencatat keterangan mereka dan berjanji akan menyelidiki identitas para pria itu.
Setelah polisi pergi, suasana kembali tenang, tetapi wajah Ratih terlihat semakin pucat.
"Nek, masuk saja dulu," kata Aluna khawatir.
Ratih mengangguk pelan.
Di dalam rumah, Arsen duduk berhadapan dengan Ratih.
"Nek, sekarang semuanya sudah semakin berbahaya."
Ratih menundukkan kepala.
"Nenek tahu."
"Kalau Nenek terus diam, Aluna justru akan berada dalam bahaya."
Ratih menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Air matanya perlahan jatuh.
"Nenek bukan tidak ingin bercerita."
"Lalu kenapa?"
"Karena Nenek pernah berjanji kepada seseorang."
Arsen terdiam.
"Janji apa?"
"Janji untuk melindungi Aluna sampai waktunya tiba."
Aluna yang mendengar ucapan itu semakin bingung.
"Nek... sebenarnya siapa saya?"
Ratih menatap Aluna dengan penuh kasih sayang.
"Kamu adalah anak yang sangat berharga."
"Berharga bagi siapa?"
Ratih tidak mampu menjawab.
Di tempat lain, keempat pria berpakaian hitam berhenti di sebuah gudang tua.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun telah menunggu mereka.
"Gagal?" tanyanya dingin.
"Maaf, Tuan. Ada Arsen Mahardika di sana."
Pria itu mengepalkan tangannya.
"Arsen mulai ikut campur."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Pria itu tersenyum tipis.
"Kalau gadis itu tidak bisa dibawa secara baik-baik..."
Ia menghentikan ucapannya sejenak.
"...maka kita gunakan cara lain."
Sementara itu, di rumah keluarga Prasetya, Surya datang membawa laporan terbaru.
"Tuan Damar."
"Bagaimana?"
"Beberapa orang lebih dulu menemukan Nona Aluna."
Damar langsung berdiri.
"Siapa mereka?"
"Belum diketahui."
"Kalau begitu, mulai hari ini tingkatkan pengamanan terhadap gadis itu."
Surya tampak terkejut.
"Tuan ingin melindunginya?"
Damar mengangguk tanpa ragu.
"Ya."
"Padahal Tuan sendiri belum yakin kalau dia benar..."
"Saya tidak ingin terlambat untuk kedua kalinya."
Surya mengerti maksud atasannya.
Ia segera meninggalkan ruangan untuk menjalankan perintah.
Damar kembali memandangi foto Aluna.
"Kalau benar kamu putriku..."
"Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Namun, tanpa disadari Damar, di balik pintu ruang kerjanya, Keisha mendengar hampir seluruh percakapan itu.
Wajahnya berubah pucat.
"Putri?"
"Tidak mungkin..."
Rasa penasaran, takut, dan iri bercampur menjadi satu.
Keisha pun mulai menyadari bahwa Aluna bukanlah gadis biasa. Dan jika semua dugaan itu benar, hidupnya sendiri akan berubah selamanya.