Kiran begitu terluka ketika mendapati kekasihnya berdua dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Impiannya untuk melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius pun sirna.
Hatinya semakin hancur saat mendapati bahwa pada malam ia merasa hampa atas pengkhianatan kekasihnya, ia telah melalui malam penuh kesalahan yang sama sekali tidak disadarinya. Malam yang ia habiskan bersama atasannya.
Kesalahan itu kemudian menggiring Kiran untuk membuka setiap simpulan benang merah yang terjadi di dalam kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma hajid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raisa
Kiran melangkah pelan menuju kamar Ari. Secara perlahan pula ia membuka pintu kamar. Ruangan itu masih dalam keadaan gelap hanya sedikit cahaya dari celah pintu yang terbuka dan cahaya yang berasal dari dalam. Lampu di atas nakas menyala. Dan apa itu? Mata Kiran membulat seketika. Tampak sosok pria sedang duduk di atas tempat tidur. Sosok pria tinggi besar itu kini telah berdiri sempurna.
"Ari!" pekik Kiran tanpa sadar sembari kemudian menutup mulutnya.
Seketika lampu menyala. "Maaf telah mengecewakanmu," ucap pria itu sembari menarik satu sudut bibirnya, bernada mengejek sembari meletakkan remote lampu di atas nakas.
Siluet pria itu kini telah terpampang secara nyata. Kiran menatap pria itu dengan penuh rasa kecewa, menepis rasa senang yang sempat singgah sebentar dalam hatinya. Pria itu melangkah maju, dan apa itu? Matanya merah dan basah. Apakah tadi ia ...?
"Aku agak skeptis. Kenapa istri seseorang bisa masuk ke kamar pria lain pada malam hari. Apakah ini memang tabiatnya?" tanya pria itu sinis sembari melangkah keluar ruangan.
Kiran menatap datar pada pria di depannya sembari mengepalkan tangannya. Ia mencoba menyembunyikan kekesalannya. Mulai pada saat acara akad nikah hingga kini, pria di depannya ini selalu saja mengolok-oloknya.
"Istri siapa yang kau maksud? Istrimu? Tanyakan dulu pada dirimu, apakah kau sudah menjadi seorang suami? Jika tak mampu memberikan jawaban dengan benar maka tak perlu mengoreksi perilaku orang lain," jawab Kiran dengan berani.
Langkap pria itu terhenti. Kemudian menatap Kiran sinis. "Kau tampak ahli membalas lewat kata-kata. Tak heran jika Ari sampai tergila-gila padamu hingga menghilangkan nyawanya sendiri."
"Apa maksudmu?" tanya Kiran mencoba menahan emosinya. Apa maksud pria ini bahwa dialah penyebab kematian Ari? Bukankah itu sangat keterlaluan.
Pria itu tertawa mengejek. "Ya, memang seperti itulah sifatmu ternyata. Pura-pura tak tahu. Pura-pura lugu," ucapnya sedikit berbisik namun terasa pedas di telinga Kiran. Tubuh Kiran menegang. Mencoba menetralisir dadanya yang mulai bergemuruh.
"Salah seorang sahabat Ari mengatakan bahwa pada malam itu Ari menunjukkan sebuah foto kemudian langsung pergi ketika temannya memberi informasi perihal foto itu. Satu yang perlu digarisbawahi, jika Ari tidak mencari informasi terkait foto itu, tentu ia tidak akan keluar kota, kan? Dan bisa jadi dia masih ada di rumah ini sekarang. Pertanyaan terbesarnya adalah foto siapa yang dia bawa jika bukan foto dirimu."
Kiran mencoba mencerna. Foto? Memang benar pada malam itu Ari mengambil fotonya. Lalu apa hubungannya dengan kematian Ari? Kiran menatap pria di depannya dengan tatapan menyelidik.
Bagaimanapun pria ini sudah benar-benar keterlaluan, pikirnya. Menuduh dan memberikannya gelar wanita murahan mungkin masih bisa diterima. Tapi sebagai penyebab kematian seseorang ...?
"Memang benar pada malam itu Ari membawa fotoku. Tapi tidak ada sedikitpun aku menyuruhnya untuk melakukan hal-hal lain terkait foto itu. Itu hanya foto keluargaku. Tidak ada yang aneh."
Pria itu menarik sudut bibirnya. "Penjara akan penuh jika semua maling mengaku!"
Kiran terkesiap. Kata-kata apa itu? Sama sekali Kiran tidak terima. "Yang aku tahu, bisa jadi Ari terbunuh karena dirimu!" balasnya pedas, tak mau kalah. Pria itu terkesiap. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Ia menatap Kiran dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu? Kau mencoba memutar fakta?"
"Tidak ada yang tahu pikiran Ari. Yang kutahu ia begitu tertekan karena harapanmu. Bisa jadikan ia terbunuh karena tak tahan dengan semua itu?!" ucap Kiran datar namun penuh penekanan.
Pria itu membelalakkan matanya. Merasa tak percaya atas apa yang Kiran ucapkan. "Kau tak tau apa-apa tentang kami, maka jangan sembarangan bicara!"
"Kau juga tak tau apa-apa tentang kami, tapi kenapa kau selalu berbicara dan menuduhku dengan sembarangan!" Kiran membalas sembari menatap mata pria itu dengan tatapan dingin.
Pria itu menghela nafas pelan. "Menurutmu, bisa kita dijadikan sebagai pasangan suami istri jika begini?" tanyanya menyeringai.
"Tergantung." Pria itu menaikkan satu alisnya.
"Tergantung bagaimana sikap suaminya. Jika suami baik maka istri juga bisa lebih baik," lanjut Kiran sembari masuk ke dalam ruangan kemudian menutup pintu.
Pria itu memasuki kamarnya dengan kesal. Wanita itu yang telah memancingnya. Baik. Jika dia ingin melihat seberapa jauh hubungan kematian Ari dengan dirinya. Ia akan membuktikannya.
❇❇❇❇
Begitu mendengar rencana Papa tentang resepsi, Radit segera berniat untuk datang ke kamar Ari. Mencoba mengingat senyum adiknya itu sembari melihat fotonya. Mencoba menghilangkan rasa bersalahnya karena seakan telah mengambil calon istri adiknya.
Namun ia begitu terganggu ketika pintu terbuka di mana wanita itu muncul. Hatinya merasa terusik, dan begitu saja mengeluarkan kata-kata yang kurang baik. Radit sendiri menyesal jika ia harus berkata seperti itu. Tapi melihat wanita itu membalas, membuat dirinya mengeluarkan kata-kata lain yang lebih kasar lagi. Meskipun begitu ia ingin wanita itu tahu seberapa besar kontribusinya atas kematian Ari.
Pria itu mengambil ponselnya dari atas nakas. Melakukan panggilan pada satu nomor panggilan cepat. Bara.
"Akan kukirim nomor Bowo, sahabat Ari. Cari tau darinya kejadian pada malam kematian Ari!" perintah Radit setelah terdengar salam dari sebrang. Setelah itu Radit menutup sambungan telpon.
❇❇❇
"Apa harus secepat ini, Pa? Kuburan Ari juga belum kering. Masih satu bulan setelah kematiannya. Apa tidak apa-apa kita adakan resepsi?" tanya Mama Ariana pada Tuan Mahesa. Mereka berdua sudah ingin tidur namun mengurungkannya karena Tuan Mahesa menceritakan rencana resepsi pernikahan Radit dan Kiran.
"Justru jika terlalu lama, Papa takut mereka akan semakin jauh. Usia Kiran dan Radit juga bukan usia yang kita bisa tunda hingga setahun yang akan datang. Yang paling penting, Papa ingin mengalihkan kesedihan Mama dengan pernikahan mereka."
Mama Ariana menatap Tuan Mahesa dengan sorot mata mengandung kesedihan. Genangan air itu sudah muncul di sana. "Tidakkah Ari akan sedih nanti jika dia tahu bahwa calon istri yang begitu diharapkannya telah menikah dengan Kakaknya bahkan tidak lama setelah kematiannya."
Tuan Mahesa menggeleng pelan. Kemudian menangkup tangan Ariana di atas tangannya. "Ketika seseorang meninggal maka terputuslah urusannya dengan dunia. Ia hanya peduli pada urusannya di alam barzakh. Justru kita yang di dunia, jangan sampai memberatkannya dengan ratapan kita, Ma."
"Kita juga punya anak yang lain. Jangan sampai kita melupakan Radit karena kehilangan Ari. Justru kita harus semakin memikirkan Radit. Karena dia putra kita satu-satunya sekarang. Untuk Ari, kita berikan doa terbaik untuknya." Mama Ariana perlahan mengangguk meski hatinya merasa berat untuk itu.
❇❇❇
Meski sudah menjadi direktur di perusahaan yang dulunya dipimpin oleh Ari, tetap saja Radit masih menempatkan Makarim Group sebagai kantornya. TJ hanya di awasi dari jauh. Beberapa kebijakan diambil dari kantor Makarim Group. Bahkan mengawasi pekerjaan bawahan juga ia lakukan dari jauh. Sesuai prediksi Tuan Mahesa, saham TJ langsung naik dan berada dalam kondisi stabil.
Pertemuan terakhir antara Kiran dan Radit di kamar Ari pada malam itu menyisakan tanda tanya besar di hati Kiran. Apa hubungan antara foto itu dengan kematian Ari? Sebenarnya apa yang Radit ketahui?
Kiran ingin menemui Radit dan bertanya padanya perihal ini, namun ternyata itu sangat sulit meskipun mereka tinggal di dalam rumah yang sama. Radit pun tak pernah datang ke kantor TJ lagi. Jika pun ada pekerjaan yang diinginkan, pria itu menghubunginya lewat Bara. Mereka sama sekali tidak ada kontak. Makan malam di keluarga Makarim pun seakan sunyi. Sebab Tuan Mahesa dan Radit acap sekali lembur dan pulang malam. Hari berjalan seperti itu hingga sepekan tak terasa telah dilalui oleh Kiran.
❇❇❇
Kiran memasuki kamarnya dengan langkah gontai. Begitu ia masuk ke dalam, hatinya merasa bingung sebab semua kopernya sudah tidak ada lagi di kamar itu. Baju yang tersusun di lemari sudah tidak ada. Peralatan mandinya pun hilang.
Kiran melongok keluar dan tanpa sengaja melihat salah seorang pelayan yang lewat. "Maaf Mba. Apa Mba tau, koper saya ada di mana?"
Pelayan yang semula menganggukkan kepalanya sedikit itu kemudian memberikan senyuman. "Nyonya meminta kami memindahkannya ke kamar Mas Radit, Nona."
Kiran terkesiap. Dia lupa menghitung. Mungkin sudah waktunya Raisa pulang. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun melangkah dengan tergesa menuju kamar Radit. Kiran masih merasa ragu untuk masuk ke dalamnya, mengingat kejadian salah kamar pada waktu yang lalu. Menarik nafas pelan, Kiran pun membuka handle pintu dengan perlahan.
Seperti yang ia tahu. Kamar itu sunyi. Dari kebiasaan yang terjadi, tidak akan mungkin Radit pulang cepat hari ini. Kiran pun mengambil beberapa bajunya yang ternyata juga sudah disusun dengan rapi di dalam lemari kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Bahkan perlengkapan kamar mandinya sudah dipindahkan ke sini. Setelahnya Kiran beranjak menuju lantai dua, kamar mertuanya, Mama Ariana.
"Kakak ipar...!" Seorang gadis menyambut Kiran dan langsung memeluknya. Kiran sedikit terkejut namun langsung paham. Dia pasti Raisa. Sedikit banyak Mama Ariana sudah cerita bahwa Raisa orang yang mudah akrab dan ramah kepada siapa saja dan tentunya agak sedikit manja.
Gadis itu memeluk Kiran dengan erat sembari mengeluarkan isak tangis pelan. "Adik ipar Kakak telah meninggal, Kak," katanya kemudian.
Kiran menepuk bahu Raisa pelan. Mencoba menyabarkan. Matanya melirik Mama Ariana yang tersenyum penuh arti. Bagaimana pun, Kiran jadi paham. Raisa tak tahu bahwa ia dulunya yang sebenarnya akan menjadi calon istri Ari mengingat bahasa yang diberikan Raisa bahwa Ari adalah 'Adik ipar'nya.
Tangan Mama Ariana melambai. Meminta agar Kiran dan Raisa mendekat. Kiran menjauhkan tubuh Raisa sedikit, menghapus air matanya dan membimbing adik iparnya itu untuk duduk di dekat Mama Ariana seperti yang wanita itu inginkan.
"Sudahlah, Raisa. Kakak iparmu itu pasti sedang lelah. Dia baru pulang dari kantor. Sini kembali ke samping Mama." Raisa mengangguk kemudian kembali naik ke atas tempat tidur.
"Apa kau kaget hari ini, Kiran?" tanya Mama Ariana tersenyum penuh arti. Meski senyum itu tak secerah dulu.
Kiran menatap Mama Ariana kemudian menghadirkan senyum manisnya. "Tidak terlalu, Ma," jawabnya. Padahal hatinya kaget bukan main.
"Kalian harus saling belajar Kiran. Jika tidak begitu, kalian tidak akan pernah dekat."
Raisa yang tidak paham hanya mendengarkan sambil melirik ke Kiran dan Mamanya bergantian. Ia tak tahu bahwa sebelumnya Kiran tidur di kamarnya. Sebab ketika ia datang, barang-barang Kiran sudah dipindahkan.
"Bagaimana kabar Mama hari ini?" tanya Kiran sembari memegang tangan Mama Ariana dan meletakkannya di atas tangannya.
"Seperti yang masih bisa kau lihat. Mama belum berani keluar. Semua bagian di rumah ini masih mengingatkan Mama dengan Ari. Mungkin hanya kamar ini yang sedikit kurang dari ingatan tentang Ari," jawab Mama sendu.
Itu memang benar. Sejak kematian Ari, jarang sekali Mama Ariana keluar kamar. Semua kegiatan dilakukan di dalam kamar. Makan malam pun mereka lakukan di kamar. Di balkon lantai dua.
Raisa seperti apa yang diceritakan oleh Mama Ariana, memang gadis yang mudah akrab. Pertemuan pertama Kiran dengan adik iparnya itu, tak tampak bahwa mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Kiran dengan mudah pun dapat menyesuaikan diri.
Setelah melakukan percakapan ringan dengan Raisa dan Mama, sholat dan makan malam di lantai dua, Kiran pun melangkah keluar menuju kamarnya. Kamar Radit di lantai tiga.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika ia melangkah keluar. Hatinya bimbang. Perasaan tak enak menghampirinya. Bagaimana pun ia masih merasa belum berbaikan dengan Radit. Permohonan maaf yang ingin ia sampaikan belum terucapkan. Bisa jadi pria itu masih marah atas apa yang ia katakan sebelumnya.
Kiran menarik nafas pelan sembari memegang handle pintu. Jam segini Radit pasti sudah pulang. Dan sudah pasti sedang berada di kamar sekarang.
Kiran mencoba mencari kata-kata ketika masuk dan bertemu pria itu nanti. Ia ingin agar hubungan mereka tidak meruncing lagi. Meskipun belum bisa menjadi suami istri sesungguhnya, setidaknya jangan selalu bertengkar.
Kiran menarik handle pintu di depannya dengan perlahan. Apa ini? Tidak bisa? Kiran berusaha lagi, kini dengan lebih kuat dari sebelumnya. Namun pintu itu tetap tidak bisa terbuka. Pintunya terkunci!
❤❤❤💖