“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Jangan Pulang Tanpa Seroja
"Terima kasih," ucap Seroja sedikit canggung. Ia berusaha berdiri dengan benar.
Ryu sedikit tersentak sebelum akhirnya berdehem kecil.
"Ehm. Santai aja," ucapnya dengan nada suara datar. Ia mengalihkan pandangannya.
"Apa yang aku lakukan?" batin Ryu. "Kau sudah punya pacar."
Ia tak tahu kenapa malah tertegun menatap wajah Seroja dan mencium aroma tubuhnya. Aroma minyak telon dan ramuan obat di tubuh gadis itu terasa... menenangkan.
Sudut bibir Jordi terangkat samar, meski mata dan hidungnya masih merah karena menangis tadi.
"Kalau begitu kita balik ke rumah Bu Dhe," ujar Jordi santai. "Kami pamit, Pak, Bu." pamitnya mengangguk sopan.
Ryu melakukan hal yang sama sebelum mereka akhirnya keluar dari rumah itu.
Jordi membuka pintu penumpang bagian belakang. Sedang Ryu membuka pintu penumpang bagian depan.
"Bos," panggil Jordi setengah berbisik. "yakin gak mau duduk sama calon istri?"
"Berisik," sergah Ryu, lalu masuk dan duduk dengan tenang.
"Galak banget," gerutu Jordi pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Seroja. "Silakan masuk Nona Seroja," ucapnya ramah.
Seroja mengangguk kecil, lalu masuk. Jordi segera menutup pintunya setelah memastikan Seroja duduk dengan nyaman.
Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan rumah Bu Rami dan Pak Nurdin.
"Sejak kapan nenek saya meninggal?" tanya Seroja. Logat Jawanya tidak terlalu terasa. Beda dari para warga desa itu.
"Sekitar setengah jam lalu," sahut Ryu datar, tanpa melirik Seroja dari kaca spion, apalagi menoleh.
Seroja hanya mengangguk tipis. Pandangannya mengarah ke depan tapi pikirannya tak ada di sana. Ingatan percakapannya dengan neneknya beberapa hari lalu kembali tanpa dipinta.
Di kamar nenek Winarsih, wanita itu terbaring lemah. Seroja duduk di tepi dipannya, dengan telaten menyeka tubuh renta itu.
"Seroja," ucap Winarsih dengan suara lirih. "Suamimu akan segera menjemputmu."
Tangan Seroja berhenti menyeka kulit keriput itu. "Nek, aku belum menikah," ucapnya lembut.
"Sudah," bantah Winarsih meski suaranya serak. "Kamu sudah menikah. Nenek baru bisa tenang kalau suamimu sudah menjemputmu," lanjutannya, napasnya tampak berat.
Seroja menghela napas pelan, memilih tak menanggapi. Karena bukan baru kali ini neneknya mengatakan ia sudah bersuami.
"Nenek istirahat saja," ujar Seroja setelah selesai membersihkan tubuh Winarsih.
"Nenek...sudah tak kuat lagi," ucap Winarsih.
DEG!
Seroja yang baru saja beranjak dari duduknya terdiam. Ia tahu neneknya sudah tua dan kemungkinan usianya sudah tidak panjang lagi. Tapi mendengar perkataannya membuat Seroja was-was. Tak tahu berapa lama lagi neneknya bertahan.
"Nek..." gumam Seroja. Tangannya meremas kain wash lap dalam genggamannya.
"Jika dia sudah datang menjemput," lanjut Winarsih. "Nenek bisa mati dengan tenang."
Seroja memejamkan matanya sejenak. Lalu saat kelopaknya terbuka, ia memerhatikan Ryu yang duduk dengan tenang di depannya.
"Apa dia orang yang Nenek maksud?" pikir Seroja. Namun sesaat kemudian ia menggeleng cepat. "Apa yang aku pikirkan? Nenekku meninggal, kenapa aku malah memikirkan hal ini?"
Seroja menarik napas dalam, pikirannya kembali pada neneknya. "Aku bahkan tak ada saat Nenek menghembuskan napas terakhirnya."
Dadanya sesak oleh rasa sesal, karena tak ada di sisi neneknya saat wanita itu berpulang.
Di kursi depan, Ryu duduk diam menatap jalan di hadapannya. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Tapi pikirannya tidak setenang itu.
Karena bayangan saat menangkap tubuh Seroja dan berada dalam jarak yang begitu dekat dengan gadis itu tak mau pergi dari benaknya.
Wajah itu polos tanpa polesan apa pun. Meski tadi terlihat lelah, kesan segar dan terawat pada diri Seroja tetap tak bisa disembunyikan.
Gadis itu juga tidak berpakaian tradisional seperti yang ia pikirkan. Ia memakai celana dan blouse lengan panjang.
"Dia memang cantik, tidak terlihat kampungan, dan dihormati warga," batin Ryu. "Tapi tetap saja gadis desa. Tidak sekolah tinggi, tidak akan nyambung kalau diajak bicara bisnis."
Lalu Ryu teringat rumah joglo tadi. Tak ada aroma dupa yang tercium, tidak ada aura atau barang-barang mistis.
Dan saat Seroja menolong ibu melahirkan tadi..
"Kalau lima belas menit lagi belum lahir, segera bersiap ke rumah sakit."
Ryu teringat perkataan Seroja itu.
"Sepertinya tdak percaya takhayul," gumamnya dalam hati. "Tapi dia tinggal di desa. Dia mungkin bahkan tidak tahu bagaimana dunia yang biasa kujalani."
Ryu memijit pelipisnya. Ia tak sanggup membayangkan mengajak Seroja makan malam bersama rekan bisnis, menghadiri gala, atau datang ke acara kalangan atas lainnya.
Sedangkan Jordi sesekali melirik Ryu yang duduk di sampingnya dan Seroja yang duduk di kursi belakang dari kaca spion.
"Tampan dan cantik. Mereka serasi," katanya dalam hati. "Dari perkataan nenek Seroja tadi, sepertinya mereka dijodohkan sejak kecil."
Alisnya bertaut samar. "Tapi.. bos 'kan pacaran sama Clara. Apa mereka sudah putus?"
Mobil terus melaju, membawa tiga orang dengan pikiran mereka masing-masing.
Dari kejauhan, Seroja melihat bendera kuning telah dipasang di depan pagar rumahnya.
Saat mobil Ryu memasuki pelataran rumah yang sudah dipenuhi motor dan sepeda, di teras dan di bawah terpal biru sudah ada beberapa bapak-bapak duduk melingkar sambil berbicara pelan.
Di dapur, suara minyak yang mendesis dan spatula yang beradu dengan wajan bercampur dengan isak tertahan para ibu.
Rumah itu ramai. Tapi anehnya, bagi Seroja semuanya justru terasa terlalu sunyi.
Seroja keluar dari mobil dengan dada sesak. Langkahnya terasa berat.
"Seroja sudah pulang," seru seorang pria.
"Cepat suruh orang di masjid buat pengumuman," sahut yang lainnya.
Ucapan demi ucapan belasungkawa diberikan warga saat berpapasan dengan Seroja.
"Seroja, yang tabah ya."
"Semoga amal ibadah nenek diterima."
"Semoga husnul khatimah."
Seroja hanya mengucap terima kasih dengan suara lirih.
Saat tiba di ambang pintu, ia melihat jenazah di tengah ruangan yang sudah tertutup kain panjang.
Bu Dhe menghampirinya. "Seroja," ucapnya langsung memeluk Seroja.
Beberapa detik mereka diam saling berpelukan. Seroja memejamkan matanya, namun wajahnya perlahan basah oleh air mata.
"Bu Dhe sengaja belum minta orang ngumumin di masjid," kata Bu Dhe, perlahan melepaskan pelukannya. "Takut kamu gak fokus pas bantu menantu Bu Rami melahirkan."
"Aku mengerti," sahut Seroja lirih seraya mengusap air matanya.
"Jenazah nenekmu sudah dimandikan dan dikafani," lanjut Bu Dhe. "Karena kamu belum pulang dan kondisimu lagi bantu orang melahirkan, warga sama Bu Dhe memutuskan mengurus dulu. Tinggal nunggu yang menggali kubur selesai."
Seroja mengangguk tipis. "Terima kasih, Bu Dhe," ucapnya tulus.
Pemakaman berjalan cepat karena warga meyakini jenazah sebaiknya segera dimakamkan. Menunda tanpa alasan yang jelas bukan kebiasaan yang dianjurkan.
Malam harinya, acara tahlilan digelar. Rumah ramai oleh warga. Baik dari desa itu sendiri maupun dari desa tetangga.
Setelah tahlilan selesai, Ryu dan Jordi terpaksa ikut melekan bersama para warga karena merasa tidak sopan jika pulang dalam situasi saat ini. Apalagi tempat tinggal mereka jauh.
Ryu mengembuskan napas panjang.
"Jangan pulang kalau tidak membawa Seroja pulang."
Kata-kata nenek Hanifah itu kembali terngiang di kepalanya.
Ia melirik ke arah Seroja yang duduk diam memeluk foto neneknya dengan tatapan kosong.
Baru saat itu Ryu menyadari satu masalah besar.
Bagaimana caranya membawa pulang gadis itu dalam situasi seperti ini? Bahkan Seroja sendiri belum tahu kalau ia adalah calon istrinya.
Dan ada satu hal lain yang tak kalah mendesak.
Pekerjaannya tak bisa ia tinggalkan terlalu lama.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang seseorang datang bukan untuk mengisi kehilangan, melainkan muncul tepat saat kita sedang kehilangannya."...
..."Pemakaman mengajarkan satu hal: manusia bisa kehilangan seseorang dalam sehari, tetapi membutuhkan waktu lama untuk menerima kepergiannya."...
..."Ia datang untuk menjemput seorang gadis, tapi tak pernah menyangka harus menjemput seluruh hidupnya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat ya, Kak Nana... Up Bab Baru-nya Kak 🙏🙏🙏
Ponsel Ryu berdering - Jordi yang menghubungi. Ryu menerima telepon di balkon.
Mereka membicarakan bisnis. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon Ryu bisa melihat Seroja yang tersenyum ketika sedang berbincang dalam sambungan telepon. Ryu cemburu.
Selesai membahas soal pekerjaan, Ryu tanya pada Jordi. Pria yang bertemu istrinya di restoran tadi siang itu siapa.
Jordi sebut nama pria itu Evan.
Nama yang di lihat tadi Tony. Ryu jadi berpikir - ada berapa banyak pria di sekitar Seroja.
Pikirannya melayang pada tiga nama - Agus, Evan, dan Tony.
Ini baru sehari menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Ya harus menjaga privasi masing-masing terlebih dahulu.
Nah kan - pertanda tidak atau belum boleh menyentuh barang pribadi istrinya. Jari Ryu tinggal beberapa sentu dari ponsel - pintu kamar mandi terbuka. Seroja terlihat muncul.
Aku tau! tapi aku harus menemui Clara itu, untuk memutuskannya! 😁😁😁