Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Hari libur pun tiba. Dua hari lagi Anna akan berangkat berlibur ke pantai bersama keluarga Elion. Untuk menyegarkan pikirannya yang sempat penat, Anna memutuskan untuk jalan-jalan santai di taman kota pada pagi hari yang cerah ini.
Ini adalah kali pertama bagi Anna mengenakan pakaian yang sedikit berani setelah masuk ke dunia novel ini. Ia memakai celana jeans pendek yang panjangnya hanya sebatas paha, dipadukan dengan baju croptop putih yang memperlihatkan sedikit pinggang rampingnya, serta jaket putih longgar yang sengaja tidak dikancingkan. Rambut panjangnya ia ikat cepol asal di atas kepala, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya.
Kombinasi pakaian itu membuat kulitnya yang putih mulus tampak bersinar di bawah terpaan matahari pagi. Wajah cantiknya yang natural tanpa make-up berlebih, ditambah dengan aura segar, modis, dan sedikit effortless, membuat siapa pun yang berpapasan dengannya di taman tidak bisa hidup tanpa menoleh dua kali. Anna benar-benar memancarkan aura gadis kota yang sangat memikat pagi itu.
Anna berjalan santai menyusuri setapak taman, menikmati embusan angin pagi dan aroma rumput basah. Perasaannya mulai membaik. Setelah puas berjalan-jalan, ia merasa haus dan memutuskan untuk ikut mengantre di sebuah kedai minuman estetik di area taman.
Namun, saat sedang asyik mengantre dan melihat-lihat menu, tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya dengan cukup kuat.
Anna tersentak kaget. Saat ia menoleh, jantungnya serasa berhenti berdetak. Berdiri di sampingnya adalah Ezkiel. Cowok itu mengenakan pakaian kasual, namun tatapan matanya tampak begitu berantakan, frustrasi, dan dipenuhi emosi yang meledak-ledak.
Anna refleks mencoba menarik tangannya. "Kiel?! Lepasin gak! Ngapain lo di sini?" bisik Anna ketakutan, matanya mengedar waspada, takut kalau ada tokoh utama lain atau antek-antek Ezkiel di sekitar sana.
Bukannya melepaskan, cengkeraman tangan Ezkiel justru semakin mengerat, menahan Anna agar tidak kabur lagi darinya. Ezkiel memajukan tubuhnya, menatap Anna lekat-lekat dengan napas yang memburu.
"Gue nyariin lo, Anna. Lo blokir nomor gue, lo pindah sekolah tanpa bilang-bilang, dan sekarang lo sekalian mau ngilang dari hidup gue, hah?" desis Ezkiel dengan suara yang terdengar serak dan sarat akan keputusasaan.
"Gue udah bilang kita gak ada hubungan apa-apa lagi, Kiel! Urus aja cewek lo itu dan lepasin tangan gue!" gertak Anna, berusaha tetap tegas walau hatinya ketakutan setengah mati mengingat plot asli novel ini.
Ezkiel menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es kini melunak, menatap Anna dengan kilat penyesalan yang mendalam.
"Nggak, Anna. Dengerin gue dulu," ucap Ezkiel, suaranya melemah namun terdengar sangat serius. "Gue gak suka lo menjauh kayak gini. Gue benci saat lo gak bisa dihubungin. Selama lo menghilang, gue baru sadar... gue gak peduli lagi sama cewek lain. Anna, gue menyukai lo. Gue suka sama lo, jadi tolong jangan pergi lagi."
Kata-kata yang keluar dari mulut sang tokoh antagonis itu seketika membuat Anna terdiam membeku. Otaknya mendadak blank. Ezkiel... menyukai gue? Karakter antagonis kejam ini baru saja menembak gue? batin Anna menjerit bingung, benar-benar syok karena alur novel ini sudah berbelok terlalu jauh dari yang seharusnya.
Anna benar-benar kebingungan di dalam posisinya sekarang. Otaknya berputar keras, mencoba mengingat-ingat setiap bab dari novel aslinya. Tidak ada satu pun bab di plot novel itu yang menjelaskan kalau Ezkiel menyukai Anna balik. Di dalam cerita aslinya, cinta itu berjalan searah—hanya Anna yang mengejar-ngejar Ezkiel dengan bodohnya, sementara Ezkiel hanya peduli pada tokoh utama wanita.
Tapi sekarang? Kenapa dia malah bilang suka sama gue? Apa alur novel ini beneran udah berubah total?! pikir Anna panik. Perubahan alur yang drastis ini membuatnya merasa tidak aman, karena ia tidak bisa lagi memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya.
"K-Kiel... lo ngomong apa sih?" tanya Anna ragu, matanya mengerjap tak percaya menatap cowok di hadapannya.
Bukannya memberikan penjelasan lebih lanjut, Ezkiel justru menarik tubuh Anna ke dalam dekapannya. Ia memeluk Anna dengan sangat kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan pelukan itu sedikit saja, Anna akan langsung menghilang dan lari lagi darinya. Ezkiel menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anna, menarik napas dalam-dalam di sana untuk menenangkan rasa frustrasinya yang menumpuk sejak kemarin.
Sementara itu, Anna hanya bisa mematung kaku di dalam dekapan hangat Ezkiel. Kedua tangannya menggantung canggung di udara, sama sekali tidak membalas pelukan itu. Aroma tubuh Ezkiel yang maskulin menyeruak masuk ke indra penciumannya, namun alih-alih merasa senang karena "cintanya" terbalas, Anna justru merasa merinding dan ngeri mengingat betapa kejamnya cowok ini di dalam plot aslinya.
cerita ny bagus banget 😍