Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 31
Suasana di dalam ruangan kerja Pak Ardi berubah menjadi medan perang dingin. Andra terdiam, namun matanya menyiratkan pergulatan batin yang hebat. Baginya, Reno bukan sekadar bawahan atau sahabat, melainkan sosok yang sudah dianggap keluarga. Namun, bukti-bukti di atas meja itu nyata dan tak terbantahkan.
"Kamu terlalu lunak, Andra!" desis Pak Ardi, suaranya sarat dengan kekecewaan yang mendalam.
"Kelembutanmu itu yang membuat mereka berani menginjak-injak otoritasmu. Kamu membiarkan posisimu sebagai direktur diremehkan oleh mereka sendiri."
Andra mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku hanya berusaha menjaga integritas tim, Pah. Aku tidak ingin gegabah melakukan PHK tanpa dasar yang kuat."
"Dasar yang kuat?" Pak Ardi tertawa sinis, menunjuk tumpukan dokumen hasil kerja keras Nadhira.
"Apa ini belum cukup kuat? Atau kamu justru takut istri tercintamu marah karena sahabatnya di pecat? Sehingga kamu rela mengabaikan kehancuran perusahaan ini?"
"Sekarang," lanjut Pak Ardi dengan tatapan dingin.
"Periksa lokasinya. Aku tahu kamu punya akses pelacakan kendaraan untuk semua staf operasional. Cek di mana mobil Reno berada saat ini."
Andra ragu sejenak, namun desakan ayahnya tak memberinya pilihan. Dia mengeluarkan tabletnya, mengakses sistem GPS perusahaan yang terhubung dengan mobil dinas yang dipakai Reno. Wajah Andra berubah pucat pasi saat melihat titik koordinat yang muncul di layar.
Layar tablet itu menampilkan titik koordinat yang berkedip stabil di sebuah kompleks perumahan yang cukup jauh dari area operasional perusahaan. Andra memicingkan mata, memperbesar peta digital tersebut hingga ke tingkat detail bangunan. Itu adalah rumah Reno.
Suasana ruangan mendadak hening, hanya menyisakan suara dengung halus dari pendingin ruangan yang terasa mencekam. Pak Ardi mendekat, menyilangkan tangannya di dada sambil menatap layar tablet dengan seringai kemenangan.
"Di rumah?" suara Pak Ardi terdengar berat. "Jadi, dia mangkir dari tugas untuk bersantai di rumah sementara proyek perusahaan terbengkalai? Dan kamu masih ingin membelanya, Andra?"
Andra terdiam. Lidahnya kelu. Jika Reno berada di rumah, itu berarti laporan pengintaian yang menduga Reno sedang melakukan transaksi ilegal di luar kota adalah salah. Namun, rasa lega sesaat itu langsung dihantam oleh realita pahit yang lain.
Jika mobil itu ada di rumah, lalu bagaimana dengan Reno sendiri?
Insting Papa Ardi sebagai seorang pimpinan yang sudah lebih berpengalaman dari Reno. Segera meminta Andra membuka aplikasi tambahan, melacak riwayat pemesanan transportasi daring yang terintegrasi dengan akun perusahaan. Matanya membelalak. Ternyata dua hari lalu setelah pulang kerja, pria itu memesan taxi online menuju ke Anyer. Melihat titik Anyer dia teringat akan Diana, istrinya yang mengatakan ada pemotretan di sana.
"Anyer? Apa mungkin dia mendatangi Diana ke Anyer? Bukan menemani istrinya yang sedang sakit?" gumam Andra.
"Papa Ardi menyambar tablet itu, menatap layar dengan mata yang menyipit tajam.
"Anyer. Dan Diana ada di sana untuk pemotretan? Andra, pikirkan logikanya. Reno tidak punya urusan pekerjaan di sana. Jika dia membawa mobil dinasnya ke rumah untuk menutupi jejak, lalu menyelinap pergi dengan taksi. Dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak ingin kita ketahui. Menarik!"
"Papa, ini tidak masuk akal," suara Andra tercekat.
"Apa untungnya Reno pergi ke Anyer? Dia tidak punya kepentingan apa pun ke proyek pemotretan Diana. Lagi pula, Diana bilang dia pergi untuk urusan pekerjaan. Dan dia tak mungkin bertemu dengan Reno diam-diam dibbelakang aku!." jawab Andra walau sedikit gugup.
Apalagi dulu juga sempat dia mendapatkan bukti-bukti kedekatan Diana dan Reno yang jelas nyata terlihat lebih dari sekedar teman. Namun Andra percaya setelah keduanya menjelaskan di tambah dengan Reno yang tak lama dari itu menikah. Tidak mungkin jika Reno dan Diana benar-benar mengkhi-ana-ti dirinya. Andra masih berusaha untuk percya pad akeduanya.
Pak Ardi berjalan mondar-mandir, gurat kemarahan di wajahnya kini berganti dengan kewaspadaan.
"Orang-orang seperti Reno tidak pernah melakukan sesuatu tanpa motif, Andra. Jika dia tidak ada di sana untuk pekerjaan, maka dia ada di sana untuk seseorang," ujar Pak Ardi dingin.
"Dan jika dia rela memalsukan keberadaannya dengan memarkir mobil dinas di rumah agar terlihat seolah dia sedang beristirahat. Berarti ada sesuatu yang sangat berharga atau mungkin sangat berbahaya yang sedang dia sembunyikan."
Andra memejamkan mata sejenak, membayangkan Diana di Anyer, dan Reno yang pergi diam-diam. Pikiran-pikiran liar mulai muncul. Apakah ini tentang pengkhianatan perusahaan, atau sesuatu yang jauh lebih personal dan menghancurkan?
"Apa yang harus aku lakukan, Pah?" tanya Andra pelan, suaranya terdengar pasrah namun penuh dengan tuntutan jawaban.
Pak Ardi menyodorkan tablet itu kembali ke tangan Andra.
"Hubungi orang kepercayaanmu di tim keamanan. Jangan gunakan jalur resmi perusahaan yang mungkin sudah disadap olehnya. Minta mereka pergi ke Anyer sekarang. Kalau dia memang berniat bermain-main di belakang kita, hari ini adalah saat di mana topengnya akan kita robek paksa. begitupun dengan Diana jika terlibat! Apalagi selama ini, kamu terlalu banyak memberikan dia uang untuk dia hamburkan! Termasuk untuk yayasan itu. Aku sudah membekukan semua aksesnya. Tunggu saja, sebentar lagi dia pasti akan menghubungi kamu dan meminta membuka aksesnya!"
Andra kembali ke dalam ruangannya dengan perasaan dan pikiran yang campur aduk. Tiba-tiba, ponsel Andra di atas meja bergetar keras. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar. Nama "Diana" tertera di sana.
Jantung Andra berdegup kencang. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pesan itu.
“Mas Andra, aku butuh bicara. Mas apa kamu lupa belum mengirim dana ke Yayasan? Apa ada Maslaah di kantor? Biasanya kamu tak pernah telat mengirim dana! Tolong, bisa kita bicara sekarang? Aku sedang di jalan menuju Bali.”
Andra menatap pesan itu dengan mata menyipit.
"Dia tidak menanyakan kabarku. Keadaanku yang dia tinggalkan untuk menanggung beban pernikahan kami. Dia malah langsung menanyakan akses uangnya. Dia seolah tak peduli dengan yang lain. Termasuk dengan pernikahan kami kalau aku tak bisa punya anak," bisik Andra getir.
Dia tak membalas pesan Diana. Untuk pertama kali dia mengabaikan pesan dari istrinya selama lima tahun pernikahan. Karena baginya Diana adalah prioritas. apapun yang di inginkan istrinya adalah yang utama.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏