Terbit setiap senin & jumaat.
Bima seorang detektif swasta yang macho dan keren. Yang dulunya adalah seorang polisi hebat. Dapat job untuk mencari dimana kepala mafia berada. Namun disatu sisi, dia pun harus melindungi seorang wanita. Yang merupakan tokoh kunci dalam sebuah kasus. Namun juga, dicurigai terlibat dalam kasus tersebut. Seharusnya dia profesional dalam menjalani pekerjaannya. Bukankah sudah hal biasa dia menghadapi wanita dengan segala macam bentuknya. Namun entah mengapa, kali ini beda. Diam-diam ternyata dia jatuh hati. Sekarang yang jadi bahan pertanyaan, beranikah dia mengakui perasaannya sedangkan dia lagi menjalani tugas penyamaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketulusan Saras
Gengs, gue lagi gak enak badan. Jadi kayaknya gue ngeluarin eps-nya ngadat-ngadat. Mungkin karena lagi mau memasuki musim pancaroba gue jadi begini. So, kalian jaga kesehatan juga ya. Dan sorry ya, mohon pengertiannya 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tentu kehidupannya gak bisa dibandingkan dengan Saras. Dia terlahir dari keluarga mampu. Dari kecil dia tidak pernah merasakan apa itu 'hidup susah'. Dan meski dia aslinya tinggal sendiri, tapi bukan berarti keluarganya tidak ada. Keluarganya masih komplit. Dia tinggal sendiri itu, ya karena dia seorang pria mapan dan mandiri. Jadi tak terbayangkan bagaimana frustrasinya Saras dengan hidupnya sekarang ini. Apa lagi dari kecil Saras tidak pernah merasakan apa itu 'bahagia'.
Dan saat ini Saras dalam mode pasrah. Hatinya jadi sakit atas itu. Karena dia hanya ada maunya, dan suatu hari akan pergi meninggalkannya.
Tapi, tunggu dulu... Kenapa dia jadi begini? Bukankah dia harus membuang jauh-jauh rasa peduli, iba, gak tega, dan apapun itu?!Bukankah dia juga sudah banyak menghadapi wanita saat lagi menyamar? Dan selama ini dia gak terpengaruh oleh drama-drama yang disuguhkan oleh wanita. Bahkan sampai menjual air mata sekali pun!
"Uhuk!" Boy batuk kecil.
Itu sebenarnya untuk membalikan konsentrasinya. Karena dia ke sini ada tujuannya, dan dia harus fokus. Sebab tugasnya masih menumpuk. Sudah mana kepala mafia itu makin menambah waktu menyamarnya. Setelah kemarin dia tahu orang itu benar-benar main di belakang layar. Mau gak mau dia jadi harus menyusup ke tempat-tempat penting di geng itu. Belum lagi, dia harus menghadapi pengkhianat di geng itu. Juga, masalah kakak beradik ini.
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh. Aku tadi di pesta memang dekat dengan wanita. Tapi harusnya kamu tahu. Kalau wanita-wanita seperti itu tanpa kita dekati pun. Mereka akan berani mendekati diri ke kita. Karena itu, tubuhku bau parfume wanita."
Boy tetap menjaga agar hubungan mereka menjadi asmara. Dengan memberi penjelasan yang tadi menggantung. Tentu karena dia belum mendapatkan apa yang dimaunya.
Ya! Itu tetap berupa alibi. Yang mengartikan kalau wanita malam itu identik liar, dan semestinya Saras paham.
"Kemari lah..."
Boy menarik lembut kepala Saras agar bersandar di pundaknya.
"Aku senang kamu cemburu. Karena itu artinya kamu sayang, bukan? Jadi kamu bebas kalau mau marah sama aku," lanjutnya, sambil mengecup kening wanita di sebelahnya.
"Kamu tadi cerita tentang kehidupanmu, aku juga senang. Karena itu artinya, kamu mempercayai aku sebagai priamu, bukan?" katanya lagi.
"Tapi aku..."
Belum selesai Saras bicara, Boy memotong dengan menaikkan dagu Saras dan mengarahkan ke bibirnya.
"Sudah lah...," kecupnya lembut.
Ya! Dia harus menghentikan kalimat itu. Agar pembahasan itu cukup sampai di sini. Juga, dengan cara itu secara gak langsung adalah berupa pernyataan darinya. Bahwa Saras adalah kekasihnya.
Tentu karena waktu sudah menipis. Sebab dia sudah terlalu lama di sini. Dia harus balik ke rumah bordil itu.
"Tapi aku..."
Rupanya itu tak menpan! Saras tetap mau bicara. Mungkin karena dia tahu diri. Gak mau Boy jadi kebebanan karenanya. Namun lagi-lagi, belum sempat Saras bicara. Mulutnya sudah di bungkam lagi oleh kecupan dari Boy.
"Sudah lah..."
Lalu Boy merangkul mesra, dan mengarahkan badan yang dirangkulnya ke depan. Agar mereka melihat pemandangan bersama.
"Sekarang ini kita sudah baikan, dan aku jarang ke sini. Jadi lebih baik kita menikmati momen kita berdua saja," lanjutnya lagi.
Semilir angin malam berhembus lembut. Menerpa gedung-gedung, dan kapal-kapal, serta orang-orang yang ada di pelabuhan. Bulan dan bintang pun nggak mau kalah turut meramaikan suasana malam. Mereka terus melihat pemandangan nun jauh di sana dari atas gedung.
Kemudian setelah bersikap manis. Sekarang ini adalah saatnya Boy menjalankan niatnya. Biar begitu dia memulai tidak langsung ke inti. Biar bagaimana pun untuk membahas hal itu harus hati-hati. Soalnya biar dia sudah mengambil hati Saras, tapi hal itu bisa jadi boomerang baginya. Karena bisa jadi menimbulkan tanda tanya di hati Saras. Jika dia membahasnya tidak secara natural. Alias membuat Saras nyaman.
"Oh ya, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?" tanya balik Saras.
"Tapi sebelumnya, ini aku bicara gak ada maksud apa-apa ya. Dalam arti, aku gak ada maksud jadi mengingatkanmu. Hal yang menyedihkan tentang kakakmu."
"Ya, tanya aja."
"Ada hal yang ingin aku tahu. Sebelum nasib naas yang menimpa kakakmu. Apa beberapa hari sebelumnya, kakakmu ada menemuimu?"
Mengangguk. "Ada."
Nah, ini!
"Sebenarnya dari kemarin aku mau tanya hal ini. Karena saat kakakmu menyuruhku menjagamu. Dia juga ada berkata, kalau aku harus juga menjaga hal yang tidak boleh diketahui oleh geng. Dan sampai detik ini aku gak tahu itu, apa? Dan terus terang, itu jadi tanda tanya lain di hatiku. Karena kalau hanya masalah kamu tidak tercatat di data kependudukan sebagai adiknya. Kenapa kamu sampai dikejar-kejar begini sama geng. Kamu seperti ingin ditangkap dan dibunuh. Karena kalau kasus seperti kamu dan kakakmu harusnya tidak seperti ini. Paling kamu hanya jadi pemuas bir*hi mereka."
Boy mulai membuat drama. Ya! Dia mulai memasuki ke bagian inti.
Saras mendelik. Apa jangan-jangan dia dikejar-kejar anak geng karena itu? Ya! Pemberian kalung kakaknya tempo itu. Kalau begitu, kasihan Boy jadi menderita karena menjaganya. Tentu itu akan berlangsung seumur hidup selama dia masih bernafas.
Sambil memegang liontin kalungnya, lalu Saras berkata.
"Hari terakhir kakakku menemuiku. Dia ada memberiku ini."
"Kalung?" Boy mendelik.
"Iya. Saat itu dia berkata, tahun depan pas kamu libur kuliah. Kamu pulanglah ke Indonesia, dan pergilah ke bank Mutiara. Dan bawa kalung ini ikut serta. Saat itu, aku bingung dan cemas. Karena ucapan kakakku seperti berupa pesan. Karena kenapa kakakku tidak menyuruhku untuk mengajak bertemu. Namanya kita berpisah selama setahun. Tapi ini malah menyuruhku pergi ke bank. Jadi saat itu, aku berencana mau kuliah di Inggris."
"Boleh aku lihat kalungmu?"
Saras melepas kalungnya kemudian memberinya ke orang yang memintanya. Boy membuka liontin love di kalung itu. Yang isinya berupa foto anak kecil.
"Itu foto aku waktu kecil." Saras memberitahu, untuk apa yang dilihat Boy.
Ya! Gak mungkin Iwan memajang fotonya bersama adiknya. Karena itu nanti akan jadi bahan mencurigakan oleh geng. Jika suatu saat Saras ketangkap. Tapi yang pasti, di balik foto itu ada hal penting. Entah kode, atau apa.
"Kamu pegang saja," ucap Saras lagi.
Boy sedikit terkesima atas perkataan itu. Lalu menatap mata Saras dalam-dalam. Ya! Meski dia akan mengarah ke situ. Namun rupanya tanpa perlu dia bicara, Saras malah memberinya begitu saja.
"Kamu yakin?"
Mengangguk. "Tentu."
Kemudian sehabis ketemu Saras, Boy tidak langsung ke rumah bordil. Rupanya dia berdiri dulu di samping gedung. Tepatnya, sebaik turun dari gedung itu, dia melihat dulu ke atas di mana Saras tinggal. Dia memandangi sambil menggenggam kalung pemberian Saras tadi.
(Gambar hanya ilustrasi)
Ternyata dia gak perlu memikirkan cara gimana harus membahas hal itu, dan bahkan membuat drama. Karena rupanya Saras sangat begitu mempercayainya. Tapi intuisinya mengatakan memang Saras wanita baik-baik.
Sementara itu di atas sana. Orang yang tempat tinggalnya dipandangi pria itu. Juga, melakukan hal yang sama.
Sebaik Boy pergi, Saras terus terpaku memandangi bayangan Boy yang telah menghilang.
Sebenarnya tadi kalau Boy tidak memotong omongannya. Dia ingin berkata, kalau Boy suatu saat akan pergi meninggalkannya. Ya, silahkan saja...
Rupanya benar dugaan pria itu tadi. Saat ini memang wanita itu dalam mode pasrah.