NovelToon NovelToon
Jodohku Pak CEO DUDA

Jodohku Pak CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO
Popularitas:54.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Ketika seorang duda kaya anak dua terpikat dengan pesona seorang wanita yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama adiknya. Namun kisah cinta mereka harus berasa di Antara Status yang berbeda jauh. Bukan hanya itu, Cinta mereka juga harus berada diAntara dua keyakinan yang berbeda.

Bagaimana kisah keduanya? Siapakah yang akan mengalah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di tribun, Vana berdiri terpaku beberapa detik. Sorak penonton masih menggema, tapi matanya hanya fokus pada satu hal: mobil hitam yang kini melambat dan berhenti di pit.

Aska melompat-lompat kegirangan di sampingnya, pelukan kecilnya membuat Vana tersenyum sambil menahan air mata.

“Abang… menang, Mami! Abang menang!” teriak Aska girang.

Vana mengangguk, suaranya tercekat. “Iya… mami lihat, sayang. Abang hebat.”

Di lintasan, Aksa menurunkan kaca helmnya perlahan. Wajahnya bersinar—bukan hanya karena kemenangan, tapi karena ia melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Mata Vana menatapnya dengan campuran rasa lega dan bangga.

Begitu mobil berhenti, Aksa membuka pintu dan keluar. Kaki menapak di aspal, napasnya masih berat, tapi senyum itu tak bisa disembunyikan. Ia berjalan cepat ke arah tribun.

Vana dan Aska langsung berlari turun dari tribun VVIP, ditemani Agam dan Kenan yang sejak awal menonton dari sana. Langkah mereka dikawal ketat oleh para bodyguard Leo, namun Vana nyaris tak menyadari sekitar. Fokusnya hanya satu: Aksa.

Begitu melihat Vana mendekat, Aksa langsung berlari dan memeluknya erat.

“Mami…”

Satu kata itu saja sudah cukup. Semua mata dan lensa kamera langsung tertuju pada mereka. Aksa memeluk Vana kuat-kuat, seakan ingin memastikan bahwa pelukan ini nyata. Tangis bahagia pecah di dadanya.

“Abang kira Mami nggak akan datang,” ucapnya lirih, jujur, tanpa ditahan.

Vana membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. Tangannya mengusap punggung Aksa berulang kali, seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan.

“Kan Mami sudah bilang,” ucapnya lembut,

“Mami akan usahakan datang untuk mendukung anak Mami.”

Mereka perlahan melepaskan pelukan. Vana mengusap pipi Aksa yang basah oleh keringat dan air mata.

“Mami bangga sama Abang.”

“Terima kasih, Mi… maaf ya, Mami. Tadi Abang terlalu fokus,” ucap Aksa rendah. Suaranya berat, tapi hangat. “Tapi Abang senang banget Mami datang.”

Vana meraih wajah Aksa dengan kedua tangannya. Jari-jarinya sedikit bergetar.

“Nggak apa-apa, Nak. Yang penting kamu selamat.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Mami janji… nggak akan melewatkan lagi momen pentingmu.”

Aksa tersenyum tipis, menepuk tangan ibunya perlahan—sentuhan kecil yang penuh arti.

“Makasih, Mami. Abang janji nggak akan bikin Mami khawatir lagi.”

Di samping mereka, Aska ikut memeluk, menyusup di antara tubuh keduanya. Kehangatan itu terasa lengkap.

“Sekarang… kita rayain kemenangan Abang, ya!” seru Aska dengan mata berbinar.

Vana menatap kedua anaknya. Dadanya terasa penuh oleh rasa syukur yang dalam. Rasa bersalah yang selama ini mengendap perlahan mencair. Ia tahu, hadir di sini—di momen ini—jauh lebih berarti daripada apa pun yang pernah ia lewatkan.

Di lintasan, Bisma dan Leo saling bertukar pandang, lalu tersenyum kecil.

“Dia punya alasan yang kuat sekarang,” gumam Leo pelan.

“Ya,” sahut Agam singkat.

Namun suara lain menyela, dingin dan datar.

“Aksa memang punya alasan yang kuat sekarang,” ucap Kenan tanpa ekspresi. “Tapi itu tidak akan bertahan lama.”

Senyum Leo dan Agam memudar seketika. Kalimat itu terlalu familiar. Terlalu tajam. Keduanya teringat perdebatan sore kemarin.

Tak ada yang menanggapi. Hening menggantung beberapa detik… sampai suasana pecah oleh langkah cepat seseorang.

“AKSAAA!”

Bisma berlari dan tanpa pikir panjang langsung memeluk Aksa dengan keras.

“Selamat, Brother! Anom bangga sama kamu!” serunya penuh semangat.

“Nom—nom… Abang nggak bisa napas,” keluh Aksa tercekik.

“Eh! Sorry, sorry,” Bisma terkekeh, buru-buru melepas pelukan. “Anom terlalu semangat.”

Vana memperhatikan mereka sejak tadi. Ada rasa asing yang aneh—atau justru terlalu familiar. Wajah pria itu, caranya bicara, bahkan gesturnya… seperti potongan memori yang tercecer.

Ia akhirnya angkat suara.

“Bisma.”

Bisma menoleh cepat. Seketika tubuhnya menegang.

“Mbak… Vana.”

Nada itu. Terlalu sopan. Terlalu hati-hati.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Vana menatap curiga.

Bisma terkekeh kecil, jelas gugup. “Hehe… Mbak nggak kerja?”tanya balik.

“Jawab pertanyaan Mbak dulu,” potong Vana.

Bisma melirik Leo panik, berharap diselamatkan. Namun Leo hanya diam dan terkesan tak peduli.

“Itu, Mbak…” Bisma ragu. “Sebenernya—”

“Anom kan pemandu balap Abang,” celetuk Aska polos. “Anom juga adiknya Papi.”sambung nya.

Waktu seakan berhenti. Vana menatap tak percaya Bisma.

“Ha?” Vana menoleh ke Aska.

“Aduh, Aska…” desis Bisma refleks. Bisma menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

“Mami nggak tahu kalau Anom ini adiknya Papi,” lanjut Aska tanpa dosa.

Tatapan Vana langsung tertuju pada Kenan.

“Adik… kamu?” ucapnya pelan, hampir tak percaya.

“Enggak.”

Satu kata. Tegas. Dingin.

Semua menoleh ke Kenan.

Bisma menelan ludah. “Bang…”

Kenan melangkah maju satu langkah. Sorot matanya tak berubah, datar seperti biasa.

“Dia bukan adik saya,” ucap Kenan. “Secara satu rahim. Tapi secara nama. Secara keluarga,Dia memang adik saya. ”

Vana masih tak percaya mendengar itu semua. Bagaimana bisa Bisma itu adiknya Leo? Kalaupun benar tidak seharusnya Bisma bekerja jadi seorang pelayan. pikiranya.

Pandangan Vana kembali ke Bisma—kali ini lebih lama. Ada keterkejutan, kebingungan, juga sesuatu yang samar: rasa tidak terima.

“Kalau kamu adiknya ,” ucap Vana akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, “kenapa kamu kerja kayak gini?”

Bisma terdiam. Senyumnya yang biasa muncul tak terlihat kali ini.

Bisma hendak membuka mulut, namun Leo lebih dulu bicara.

“Itu pilihannya,” ucap Leo datar. “Nggak ada yang maksa.”

Bisma mengangguk kecil. “Iya, Mbak. Aku yang minta.”jawabnya bohong.

"Lo nggak tau aja mbak, gue rela jadi babu demi membantu abang gue menyadari perasaan nya terhadap lo, mbak. " batin Bisma.

Vana menghela napas pelan. “Tapi tetap aja…” matanya sedikit menyipit. “Aneh.”

“Aneh buat Mbak,” sahut Bisma lirih, “tapi normal buat aku.”bohong nya sekali lagi.

Vana terdiam sejenak. Kepalanya masih dipenuhi keterkejutan. Kebenaran ini datang terlalu tiba-tiba, terlalu bertabrakan dengan logika yang ia kenal.

“Udah lah, Mi,” sela Aska tiba-tiba. Nada suaranya ringan, polos seperti biasa. “Nggak usah dipikirin Anom itu adiknya Papi atau bukan.”

Aksa mendekat lalu memeluk Vana erat.

“Yang penting, Mami itu Mami Abang.”

“Dan adek,” sambung Aska cepat sambil tersenyum lebar.

Vana tersenyum kecil. “Iya,” gumamnya pelan.

“Ayo ke ruang istirahat, Mi,” lanjut Aksa sambil menarik tangan Vana. “Abang belum makan.”

“Adek juga belum makan,” tambahnya manja.

“Iya, sayang,” jawab Vana lembut.

Aksa dan Aska pun langsung menarik Vana menuju ruang istirahat, meninggalkan Bisma yang masih berdiri di tempatnya.

Bisma menghela nafas lega, saat Vana sudah menjauh dari mereka.

"Selamat.... "ucapnya. " Lo yang harus tanggung jawab semua ini ya, bang. "ucap Bisma pada Leo.

Leo sama sekali tidak memperdulikan ucapan itu. Ia hanya fokus menatap punggung Vana dan kedua anaknya menghilang dari pandangannya.

Bersambung,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

1
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban
fanny tedjo pramono
kenapa ceritanya tdk dilanjutin? sy tunggu jawaban guys
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Farah HakimKapau Farah Hakim
Ending nya gi mana ini...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Masih menunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
Kapan up episode baru ni... Lama dah tunggu...
Farah HakimKapau Farah Hakim
👍👍👍👍👍
Farah HakimKapau Farah Hakim
😍😍😍😍😍
Azarrna
maaf ya say,
akan diusahain setiap hari up🙏😍😊
Farah HakimKapau Farah Hakim
Jangan lama2 up episode nya darlings.. Makin penasaran ini
Azarrna
/Bye-Bye/🤭
Farah HakimKapau Farah Hakim
Still waiting...
Azarrna: thank you for waiting🤭
total 1 replies
Farah HakimKapau Farah Hakim
Makin penasaran aja
Azarrna
makasih kk😍
falea sezi
ngakak q/Curse//Curse/
falea sezi
cie aska Aksa cmburu mami nya meluk anak lain/Chuckle/
falea sezi
ceritanya bagus q suka
falea sezi
SMP seumuran anak ku anak ku. tidur aja kagak. mau deh di. kelonin malu katanya
Azarrna
oke kk😍
Farah HakimKapau Farah Hakim
Terima kasih... Tunggu update seterusnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!