Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?
Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Babak baru: Sialan
Apakah kamu ingin aku temani sampai halte bus terakhir, sebelum kita menaiki bus yang berbeda? atau sampai persimpangan dimana kita harus memilih arah masing-masing?
Aku tidak tahu sampai sejauh mana aku boleh ada disisimu, apa aku hanya persinggahan diperjalanan mu? atau seseorang yang akan kau genggam hingga tujuan akhir mu?
Aku tahu tidak semua perjalanan harus berakhir bersama, tapi kalau boleh bertanya, kalau boleh berharap, bisakah aku tinggal lebih lama? Aku hanya ingin keberadaan ku sempat menjadi berarti untuk mu.
Bisakah aku tinggal sampai senja terakhir tiba? Berkisah tanpa ada tergesa, hingga aku dan kau tertawa tanpa harus dibayar oleh perpisahan.
...----------------...
2 Hari setelah Pia mengambil keputusan besar...
Satu malam, aku pernah bermimpi. Aku berada di lorong sekolah. Lorong yang sama, dengan keramik putih dan dinding yang penuh poster usang. Tapi kali ini tidak ramai. Tidak ada suara. Tidak ada orang lain.
Hanya aku, dan El.
Ia berdiri beberapa langkah dariku, mengenakan seragam putih abu-abu, seperti dahulu. Wajahnya imut, versi El yang selalu ada di kepalaku, bukan yang terakhir kulihat di dunia nyata.
“kakak."
Ya...tuhan, suaranya. Suara yang senantiasa aku rindukan.
Aku menoleh perlahan, takut jika bergerak terlalu cepat, ia akan menghilang. Tapi El memilih tidak pergi. Ia malah mendekat, langkahnya pelan, matanya menatapku seperti dulu, tatapan yang membuatku merasa dipilih, diinginkan, dimiliki.
“kakak capek ya?”
Aku terbungkam. Tenggorokanku terkunci.
“kakak selalu maksa kuat,” katanya sambil tersenyum kecil.
“padahal kalau capek, kakak boleh kok bersandar.”
"bersandar kemana? kepada siapa? apa yang bisa aku jadikan tempat bersandar?"
Aku hanya bisa protes melalui getaran batin. Ingin sekali aku bersorak sorai kepadamu, tapi, seperti di kehidupan nyata, dalam mimpi milikku sendirpun aku tidak mampu melontarkan perasaanku sebenarnya kepadamu .
Namun karena ini mimpi, aku ingin melewati batas, aku ingin menghapus norma, sekali saja, izinkan aku merasakan bahwa hadirmu adalah nyata.
Aku memberanikan diri untuk melangkah maju, hampir penuh sadar. Tanganku menggenggam ujung seragam El, seperti tidak tahu malu, aku mengisyaratkan bahwa jiwa ini takut kehilangan dia.
El tertawa pelan. Ia mengerti maksudku, kini aku berhasil masuk ke dalam pelukan El.
Pelukan itu…dadaku menempel di atas dadanya, bersama tangan kekar milik El, semilir nafas yang tak lagi pernah aku rasakan, suara beliau seolah lantunan doa di sepertiga malam.
"Tuhan, aku benar-benar lupa betapa aku merindukannya, penyangkalanku selama berjuta detik, beribu menit, adalah ketiadaan yang sia-sia"
Aku bisa merasakan degup jantung milik El, nyaman, seperti rumah yang lama kutinggalkan. Jemari itu mengusap punggungku perlahan, berulang, seolah menenangkan anak kecil yang terlalu lama menangis sendirian.
“El di sini,” bisiknya lirih. “El tidak ke mana-mana.”
Kalimat kecil milik El berhasil meluluhlantakkan seluruh keyakinan, nan sempat aku bangun dengan gagah perkasa.
Aku menangis di dekapannya. Tangisku pecah, tidak lagi terbendung, seperti muara air mata yang kutahan dalam bendungan berbulan-bulan, akhirnya diberi izin terjun bebas. Bahuku bergetar. Nafasku tersengal. Tapi El tidak menjauh.
Bertambah kencang tangisanku, maka sekencang itu pula Ia memelukku lebih erat.
“kakak masih sayang aku, ya?”
“Iya…,” jawabku, nyaris tidak terdengar. “masih.”
Ia mengangkat wajahku. Ibu jarinya menghapus air mataku satu-persatu, penuh sabar. Pupil mata El menatapku lama, terlalu lama untuk seseorang yang di dunia nyata bahkan tidak menoleh lagi.
“aku juga."
"bohong, bohong, kemana semua janjimu itu? mana usahamu? Sampai situ saja kekuatanmu? aku bahkan merubah seluruh kepribadianku. Kenapa El, kenapa? kenapa hanya kakak yang berjuang, kenapa kakak yang sakit sendirian?"
Omelanku hanyalah hujan dipadang pasir, tidak menyisakan jejak berarti. "Kakak jangan nangis." El sama sekali tidak merespon. "perasaanku seutuhnya milik kakak. Kan pemegang kunci kandang buaya ini kakak, hehehe."
Dan saat itu, anehnya, aku kembali percaya. Aku benar-benar percaya. Sialannya aku malah terbangun dengan napas terengah, padahal mimpiku belum selesai.
"bajingan," tanganku masih memeluk bantal, bukan lagi pinggang milik El. Pipiku basah dan leherku hangat oleh air mata. Tenggorokanku sakit, seperti habis menjerit tanpa suara.
Jam menunjuk pukul 02.17.
Tidak ada El. Tidak ada lorong sekolah. Tidak ada pelukan.
Yang ada hanya aku, sendiri, duduk di ranjang sambil menutup mulut agar tangisku tidak terdengar siapa pun.
"oh shit, mimpi lagi?"
Seperti laut yang tenang, permukaannya menjadi cermin, ia senantiasa menyimpan wajah langit nan syahdu. Namun tak ada sebutir pasir yang tahu, tak seekor kerang juga iya ceritakan, tak satu bintang ia bisiki, betapa sang laut ingin mendekap langit.
"apa aku gila? sudah pasti, aku gila. Pergi dari El adalah pilihanku, mengapa aku tersiksa? ini salah Pia, sadarlah, jangan merepotkan!"
Sampai kini aku masih berusaha melupakanmu, sebuah ruangan senantiasa aku kunci rapat-rapat, tapi kamu selalu tahu celah mana untuk bisa mengetuk masuk.
.
.
.
Ke-esokan hari, ditanggal sekolah...
"Pia?"
"kenapa?"
"semangat dikit kek."
"aku malas."
"kali ini apa? El lagi? ayolah Pia."
"kenapa aku sangat sulit melupakan El Ana? padahal semuanya keputusanku."
"tentu saja karena kamu setia, apa lagi? tapi kamu harus bangkit, sekarang ujian akhir Pia, jangan sampai nilai kamu terjun bebas."
Tepat dua hari setelah semuanya selesai, aku menghadapi ujian akhir. Penentu antara hidup dan mati sesungguhnya. Akhir dari seluruh perjuanganku selama tiga tahun.
Persetan dengan roda kehidupan, sekolah terasa sunyi, lebih sunyi daripada kuburan. Seakan kosong, lebih kosong dari bangunan tinggal. Aku baru tahu kalau anak kelas sepuluh diliburkan selama kami menjalani ujian akhir.
Koridor yang selalu riuh kini hanya diisi langkah kaki dan gema sepatu. Aku berjalan pelan, membawa tas, membawa pikiran yang terlalu penuh untuk ukuran pagi hari.
Dan artinya...apakah kalian tahu? sejak detik itu,
aku tidak lagi melihat El.
Aku duduk di ruang ujian, menatap kertas soal yang dipenuhi sandi-sandi morse. Aku membaca satu pertanyaan, lalu pikiranku melayang, terbang, hingga menghilang.
Aku tetap menulis jawaban dengan tangan otomatis. Aku tahu aku bisa mengerjakannya, namun kali ini aku memilih percaya pada peruntungan. "biarlah, aku ingin cepat selesai."
Mungkin sekitar tiga puluh menit? Aku berhasil membabat habis seluruh sandi morse, tidak, ralat. Lebih tepatnya sandi rumput.
Ketika itulah aku memiliki waktu mengamati, mataku tertuju pada sebuah lapangan, tempat ia sering berlalu-lalang, entah itu urusan OSIS atau sekedar urusan kelas. Lama aku memandang ke satu tujuan, berharap pada suatu kemustahilan, tidak ada dia, tidak ada tawanya, bahkan sekedar bayangannya.
"aku rindu" lagi, lagi, terus menerus lagi, tiada kata selain rindu, kian hari aku bertambah tidak tahu diri.
"aku selalu bermohon pada kesukaran yang amerta. Ingin sekali jiwaku menatap mata teduh miliknya, senyum hangat yang selalu bersembunyi dibawah rindang-rindang pepohonan, ingin aku kembali kepada peraduan tenang milik seorang penembang. Penembang lara yang bernama asmaraloka."