Bagaimana jadinya jika kita sebagai ibu susu pengganti dari anak mantan kekasih yang dulu. Casandra tidak pernah tahu siapa orang tua dari bayi mungil yang di asuhnya selama ini. Sepenuh hati dia merawat dan memberinya asi.
Bayi mungil itu sudah di anggapnya seperti anak sendiri karena anaknya telah lama pergi. Sejak kejadian kecelakaan waktu itu, hidupnya berubah drastis.
Dengan susah payah dia menyambung hidup, mencari pekerjaan kesana kemari hasilnya nihil. suami yang dulu menyayanginya, kini menyia-nyiakannya. Akankah Sandra bisa bertahan? Bagaimana perasaannya setelah tahu ayah dari anak yang dia asuhnya ternyata laki-laki di masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mas Bri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Sejak semalam Haris tidak bisa tidur dengan tenang akibat ulah kekasihnya. Pagi ini matanya terlihat sembab dan sedikit berantakan.
Tubuhnya masih terhimpit sesuatu yang tidak bisa dia tolak, takut jika dia pindahkan maka kekasihnya akan terbangun.
Wajah cantik itu terlihat sangat nyenyak. Cahaya matahari mulai menyusup menyinari setiap inchi wajahnya. Ini adalah pemandangan langka yang belum pernah dia dapat. Sejak kebersamaannya, baru kali ini dia benar-benar menikmati kecantikan Sandra saat tertidur.
Mata Sandra perlahan mulai terbuka, memandang setiap sudut ruangan. Dirinya baru ingat kalau kemarin dia bermain dengan Varel di tempat tidur kekasihnya. Entah angin apa yang membawanya hingga memasuki kamar Haris.
Karena kelelahan, kedua orang itu akhirnya tertidur di atas kasur berukuran besar. Rasanya sangat nyaman dan sejuk, makanya mereka berdua terlena dengan kenyamanannya.
"Sudah sadar?" sarkas Haris dengan posisi menghadap Sandra.
"Sa-sadar?" cicitnya. "Oh ... Ke-kemarin aku tidak sengaja masuk ke sini bersama Varel. Karena lelah bermain, kami pun tertidur," jelas Sandra sedikit takut.
Laki-laki itu tersenyum senang. Padahal Haris tidak marah sama sekali. Dirinya malah senang Sandra mau tidur di kamarnya, sekalian melatih nanti ketika mereka sudah menikah.
"Aku nggak akan marah, malah senang kalau kamu mau tidur di sini. Mulai nanti malam kita tidur bersama, bagaimana?" tawar Haris.
"Lain kali saja," balasnya singkat.
Senyum laki-laki itu semakin mengembang mendengar jawaban kekasihnya. "Kamu ganti baju, setelah ini kita ke rumah Mama."
"Sama aku? Ke sana? Ngapain?"
"Ikut saja. Cepat ganti baju, aku tunggu di bawah."
Di perjalanannya keluar kamar Haris, bayang-bayang masa lalunya yang begitu menyakitkan muncul lagi. Sandra masih ingat betul, bagaimana ibu kekasihnya menghancurkan semua usaha orang tuanya dengan bantuan beberapa orang yang juga teman dari ayahnya. Karena tidak mau beresiko, mereka mau bekerja sama menghancurkan usaha ayahnya. Sejak saat itu hidupnya mulai berantakan. Tidak mudah untuk orang tuanya bangkit dari keterpurukan.
"Apa salahnya di coba. Siapa tahu Tuhan membuka pintu hatinya," gumam Sandra meski dalam hatinya ada sedikit keraguan.
.
Tidak butuh waktu lama untuk dia merias diri. Menggunakan baju yang sopan dan minim riasan, Sandra terlihat begitu elegan. Bahkan mata Haris sampai tak bisa berkedip saking terpesonanya.
"Sudah siap?" tanya Sandra begitu dekat dengan kekasihnya.
"Su-sudah," balas Haris tergagap.
"Varel biar aku yang gendong. Kamu cukup duduk manis saja," lanjut Haris mengambil alih anaknya. Tidak lupa dia juga menyiapkan hadiah untuk ke dua orang tuanya atas nama Sandra.
.
.
.
Wajah wanita itu terlihat sedikit tegang, tangannya pun penuh keringat karena kegugupannya. Haris yang menyadari hal itu, memegang tangannya dan menggenggamnya erat. "Jangan takut ada aku dan Varel di samping kamu. Kami akan selalu menjagamu, ok?"
Ingatan-ingatan masa lalu semakin terlihat jelas bagaimana rumahnya hancur berantakan, dirinya juga harus pindah sekolah karena ulah ibu Haris. "Tapi, Mas ..."
"Tenang saja, jangan takut. Ini demi kebaikan kita berdua." Haris terus memberi semangat untuk calon istrinya.
Ke duanya melangkah memasuki rumah megah dan di sambut dua pelayang yang sudah menunggu sejak tadi.
"Di mana Mama?" tanya Haris kepada pelayan.
"Ada di taman belakang, Tuan."
Haris melangkah menuju taman masih dengan menggenggam tangan kekasihnya. Sedangkan Varel dia berikan kepada pelayan yang biasa menjaganya saat di rumah orang tuanya.
"Ma," panggil Haris.
Wanita paruh baya itu hanya diam tidka menjawab. Dia tahu maksud kedatangan putranya melalui suaminya.
"Untuk apa kamu ke sini dengan membawa wanita murahan itu?!"
"Ma! Dia wanita baik-baik! Dia tidak seperti yang Mama pikirkan. Hanya dia satu-satunya wanita yang singgah di hati Haris sampai detik ini dan selamanya, Ma. Haris mohon restui kami untuk menikah."