Mutasi kerja yang seharusnya menjadi babak baru yang lebih baik dalam hidup seorang dokter umum seperti Amber Zea Letisha ternyata ibarat mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak? Dia justru mengetahui kenyataan bahwa kepindahannya merupakan campur tangan dari mantan suaminya yang tidak lain adalah direktur utama dari Cakrawala Hospital, tempat kerjanya yang baru.
"Dimana anak kita, Amber?"
"Anak apa maksudmu?"
"Katakan yang sebenarnya, sebelum aku yang mengatakannya."
Mata Amber membola. Apakah Chris sudah tau kalau ternyata mereka punya anak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan.
Mata Amber membesar saat mendengar ujaran Chris pada anak mereka. Dia ingin menemaninya berganti pakaian? Yang benar saja!!
"Eennakkk ajjjaaa, nnggggaakk maauuuuuu...."
Namun Chris tau-tau sudah menggendongnya tanpa permisi. Brandon berjalan di samping mereka dengan senyum lucu di wajah.
"Mama lucu kalau digendong papa," katanya polos.
"Chris! Turunkan aku!" Amber mendadak mendapat kekuatan untuk menahan gigilannya. Shiiiiiitttttt dia malu sekali! Orang-orang melihat mereka dengan tatapan iri bercampur terpesona. Entahlah itu tatapan yang bagaimana, yang jelas Amber tidak suka.
"Diam, Sayang. Atau kita akan semakin menarik perhatian semua orang di sini."
"Aku diam atau tidak mereka akan memerhatikan! Kau kira ini kampung halamanmu? Chris!!"
Sialnya, sekeras apapun usaha Amber ingin melompat dari pangkuan Chris, dia selalu gagal. Dia terlalu mini untuk seorang Chris yang raksasa. Lengannya yang berotot itu membelit tubuh Amber dengan kuat.
"Sssttt..." Chris hanya memberi isyarat untuk diam. Lalu Amber pun pasrah. Tidak ada gunanya melawan. Jadinya dia terpaksa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Chris agar orang-orang tidak melihat wajahnya.
Sesampainya di loker tempat penitipan barang, barulah Chris menurunkan Amber. Wanita itu mengutuk pria itu kesal dengan meninju-ninju dada bidang yang kekar itu.
"Bre*gsek kau Chris!"
"Sudah hangat kan? Nggak menggigil lagi kan?" Chris tertawa terkekeh sambil mengambil paper bag yang berisi pakaian kering dan handuk mereka.
"Kau mengerjaiku, hah??"
"Tapi menggigilmu sudah hilang. It works kan, Cintaku?" balas Chris sambil mencubit pipi Amber.
Chris menyerahkan barang-barang Brandon sambil menunjukkan kamar mandi khusus laki-laki.
"Nanti kalau sudah selesai, kamu bisa bermain tapi jangan jauh-jauh. Oke?"
"Loh, badanku kan sudah hangat. Kau nggak perlu menemaniku lagi, hei!"
Chris tidak mendengarkan seruan Amber. Dia membiarkan Brandon masuk dulu ke kamar mandi yang ia tunjukkan. Setelah itu, barulah dia berbalik lagi menghadap Amber.
"Hangat saja kan? Belum panas..."
"Gila ah! Aku masuk sendiri!!" Amber ingin berbalik namun Chris lagi-lagi langsung merangkul pundaknya dengan posesif. Menuntunnya ke suatu tempat yang anehnya bukan ke kamar mandi itu.
"Kita mau kemana, Chris?!"
"Berganti pakaian, Sayang. Memangnya mau kemana lagi??"
"Itu jawaban kalau aku tanya mau ngapain. Aku tanya kemana. Ih tanganmu bisa santai sedikit nggak sih?! Sakit!" Amber menggoyang-goyangkan pundaknya, namun diabaikan oleh Chris.
Ternyata mereka masuk ke toko sovenir tempat mereka membeli baju dan celana tadi. Saat keduanya masuk, Chris langsung menghampiri pemiliknya.
"Saya sama istri saya mau masuk. Oh ya, tolong susul Brandon ke kamar mandi, bawa dia ke sini setelah berganti pakaian."
"Baik, Bos." Si pemilik toko menurut saja dan membiarkan pria bule itu masuk ke sebuah pintu di belakang kasir.
"Kau mengenalnya? Kenapa dia memanggilmu bos?"
"Ini toko Ken. Aku menanam modal cukup banyak. Jadi bisa dibilang ini milikku juga."
"Trus dia kenal Brandon? Kalian sering ke sini?"
"Tidak. Tapi kami sering bertemu kalau lagi main di luar. Kita masuk..."
Chris membuka pintu sebuah kamar dan mengiring Amber masuk.
"Chris! Kau mau apa? Jangan main-main, Chris..." Amber sepertinya sudah mengerti arah dan tujuan pria itu membawanya sampai jauh begini. Dia tidak se-polos itu sampai tidak merasakan gairah Chris sepanjang hari ini.
"Kita mandi bersama," jawab Chris enteng sambil mengunci pintu.
"Chris..." Amber melepaskan dirinya dengan lembut. Pun suaranya direndahkan sedikit untuk menyadarkan Chris. Mereka tidak pantas melewati batasan mereka. Ini tidak benar.
"Iya, Mamanya Brandon?" namun pria itu berubah jauh lebih serius. Secepat itu dia membaca perubahan dalam diri Amber.
"Kita jangan begini, Chris..."
"Kenapa?"
"Ki...kita sudah bercerai. Aku bukan istrimu lagi. Hari ini bukankah kita sudah berciuman? Apa itu belum cukup?"
"Siapa yang sudah bercerai? Itu pendapatmu saja. Kau istriku. Selamanya istriku, Amber." Chris masih bertahan pada nada terendah suaranya. Seharusnya ia bergairah melihat paha mulus, kaki jenjang dan kaos transparan Amber yang berdiri di hadapannya saat ini. Tapi perkataan Amber barusan melukai perasaannya dan membuatnya merasa hambar.
"Itu pun hanya pendapatmu. Bukannya tadi pagi kau bilang tidak akan memaksaku?"
"Aku hanya ingin mandi denganmu, itu saja. Kenapa pikiranmu jauh sekali, Nyonya?" ujar Chris sambil membuka kaosnya di hadapan Amber. Sebenarnya hati Chris sudah diliputi amarah sekarang. Tapi tentu saja dia tidak akan mengeluarkannya. Satu-satunya cara harus bersabar. Demi mendapatkan cinta wanita itu.
Setelah membuka kaosnya, dia pun bersikap seperti ingin membuka celana boxernya. Namun Amber cepat-cepat memekik dan menutup wajahnya.
"Huftt. Kau lemah sekali," ejek Chris. Lalu dia menyambar paper bag dari tangan Amber.
"Aku duluan, setelah ini kau," katanya akhirnya. Setelah itu dia masuk sendiri ke kamar mandi.
Sepeninggal Chris, Amber menghela napas. Tubuhnya yang sejak tadi tegang kini bisa sedikit lebih rileks. Dia memandangi dirinya sendiri. Pantas saja Chris begitu bergairah. Seharusnya dia memilih kaos berwarna gelap tadi, sesalnya.
Namun penyesalannya kini jauh lebih besar setelah dia sadar sudah menolak Chris. Pria itu pasti lagi-lagi akan merasa kecewa padanya. Dia memang selalu merusak suasana. Sejak tadi mereka sudah baik-baik saja. Apakah setelah keluar dari kamar mandi Chris masih akan berbicara padanya?
Cukup lama Amber berdiri di daun pintu kamar. Bersandar di sana hanya untuk memikirkan bagaimana reaksi Chris padanya nanti. Hingga tau-tau pintu kamar mandi terbuka dan pria itu muncul, sudah dengan pakaian lengkapnya yang tadi pagi.
"Giliranmu, Nyonya..." kata Chris sambil menyodorkan kantong kertas baju yang bersisa baju kering Amber di dalamnya.
Amber memerhatikan wajah pria itu. Biasa saja. Tidak ada emosi berlebihan di sana. Lalu bagaimana dengan sorot matanya? Amber pun tidak menemukan sesuatu yang berbeda. Chris masih menatapnya dengan biasa. Bola matanya tidak kabur-kaburan jika memang dia sedang tidak enak hati.
Mendapati pria itu baik-baik saja membuat perasaan aneh menyelusup di benak Amber. Jangan-jangan tadi Chris tidak serius menginginkannya? Dia hanya ingin menggoda saja? Jahat sekali.
"Baju basahmu kau letak di mana?"
"Kubuang."
"Hah? Kenapa?"
"Aku tidak pernah membawa baju murahan pulang ke rumah..."
Amber mengernyitkan dahi. "Jadi aku apa juga harus membuang ini, nanti?"
"Terserahmu saja. Aku keluar dulu. Kalau sudah selesai keluarlah. Aku di depan."
Nah ini. Dia menghindariku, batin Amber sedih.
"Kenapa tidak menungguku? Aku takut sendirian di tempat asing."
"Tidak perlu takut. Ini tempat aman. Lagian aku ada di luar," ujar Chris sambil tersenyum. Setelah itu dia hendak membuka gagang pintu.
"Chris...!" Amber menahan tangannya lagi.
"Kau marah?"
"Ck! Hari ini kau sudah menanyakan ini sebanyak dua kali. Kau tau aku akan marah, tapi tetap saja kau tidak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk tidak membuatku marah. Sudahlah. Aku tidak marah."
"Chris!"
"Ap..." kata-kata Chris terpotong saat Amber mengecup bibirnya dengan spntan. Chris terkejut bukan main.
"Apa yang kau lakukan, Amber??" Chris cepat-cepat menarik wajahnya.
"Kau marah." itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Jika pria itu baik-baik saja, dia pasti akan dengan senang hati menyambut ciumannya bukan? Wah, kini berganti hati Amber yang seperti sedang diremas oleh tangan kasat mata. Sakit sekali.
"Lalu karena itu kau menciumku? Kau mengasihani aku? Kau tau aku tidak suka dikasihani, Amber. Itu merendahkanku," tandas Chris cepat. Kali ini eksperinya sangat jujur. Ia kesal atas tingkah Amber yang seakan menarik ulur hatinya.
Tanpa menunggu balasan wanita itu, Chris membuka pintu dan segera keluar. Meninggalkan Amber yang hanya bisa terdiam membisu di tempatnya berdiri.
******
Keheningan pun melanda mobil mahal yang kini sudah melaju membelah jalan untuk kembali pulang ke rumah. Brandon sudah ikut di dalam mobil Chris, tidak di dalam bus sekolah lagi. Semua anak pun sudah ikut mobil orangtuanya masing-masing mengingat sudah tidak ada Gita di dalam bus sekolah.
Untungnya Brandon pun sedang tidur di pangkuan Amber sehingga mereka tidak harus memaksakan diri untuk berinteraksi jika anak mereka mengajak berbicara.
Sesampainya di rumah pun Chris masih mendiamkan Amber. Dia sudah tidak bisa membohongi dirinya. Dia kecewa atas penolakan Amber yang sudah berkali-kali ia dapatkan. Amber tidak pernah mempertimbangkan perasaannya sedikitpun. Setelah apa yang sudah ia ketahui tentang perbuatan Chris selama mereka berpisah pun, hatinya tidak kunjung melunak. Apa Chris salah jika kini menyematkan kata egois pada wanita cantik tersebut?
Chris masih berada di sofa ruang tengah sampai jam satu pagi. Sementara Amber dan Brandon sudah masuk ke kamar sejak jam sepuluh. Chris merasa tidak nyaman jika harus berdekatan dengan Amber sekarang. Hatinya yang menolak.
Ceklek.
Suara pintu terbuka terdengar. Entah pintu yang mana, Chris tidak tertarik untuk memeriksanya. Dia fokus bermain game di Mac Book yang ada di pangkuannya.
Ternyata itu Amber. Wanita itu duduk di samping Chris begitu saja. Chris tidak menoleh.
"Papanya Brandon?"
DEG!
Dia tidak salah dengar kan? Amber tidak pernah memanggilnya demikian.
"M? Kau belum tidur?" tanya Chris masih dengan sikap abai.
"Tidak bisa tidur karena kau tidak kunjung masuk ke kamar."
"Sebentar lagi ini selesai. Tidurlah."
"Chris..." Amber menyentuh tangan lelaki itu pelan.
"Hm?"
"Kau tidak berencana mengabaikanku sampai besok pagi kan?"
"Aku hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau aku tidak ada artinya bagimu. Kau hanya akan menolakku lagi dan lagi. Sekeras apa pun aku berusaha, jatuhnya aku hanya akan terlihat konyol di matamu."
Amber meremas ujung piyamanya. Dia merasa sangat tertampar oleh kalimat Chris. Apa benar begitu? Apa dia akan menolak Chris lagi dan lagi jika pria itu berusaha lagi besok dan besoknya lagi?
"Maafkan aku, Chris. Aku..."
"Tidak usah diteruskan, aku sudah tau. Tidurlah. Sudah malam."
Amber memperhatikan Chris sedang mematikan Mac Book-nya. Sebelum benda tipis itu benar-benar mati dan Chris akan meninggalkannya lagi, Amber cepat-cepat menyela.
"Chris... a... aku. Aku memang belum mengetahui apa kemauanku yang sebenarnya. Aku terjepit di antara hati dan pikiranku yang tidak sejalan. Kau benar, aku tidak sepantasnya harus mengabdi pada masa laluku. Untuk itu, maukah kau membantuku menentukan apa yang sebenarnya sudah ku pilih namun aku tidak menyadarinya?"
Lipatan di kening Chris terbentuk pertanda dia sedikit tidak mengerti arah kalimat panjang Amber barusan. "Maksudmu?"
"Rayu aku sekali lagi. Buat pertahananku runtuh malam ini..."
*****
NB : Guys, udah pada follow IG-ku belumm? Follow yaa @Ootbahoo 😁😁😁
kalo untuk pacaran mgkn oke hanya mengandalkan cinta.
tp untuk hidup bersama ga hanya butuh cinta walaupun sebenernya cinta itu luas dan mencakup banyak hal.
komitmen + komunikasi + saling terbuka + berbagi kasih + menekan ego
yg punya itu semua aja masih ttp bida lewatin ujian. tp asalkan bs berusaha mengimbangi, ujian bs terlewati 🤤
romantis, suami setia, bertanggungjawab pd keluarga, family man, tegas tp bijak dalam waktu bersamaan, ga kolot aaaahhh chris 🤤
tau2 idungku ikut perih