Semua berawal pada malam itu di saat pertunangan seorang teman. Dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa di mengerti. Entah itu duka atau suka di masa depan nanti. Dia terlihat cantik pada malam itu, seperti kunang-kunang di bawah bulan purnama. Entah harus senang atau malu pada saat itu. Kepercayaan cinta pada pandangan pertama tidak mengalahkan pada rasa kewaspadaan; sehingga menganggap setiap hal adalah jenaka semata. Di sisi lain, ada rasa beruntung. Laki-laki mana yang tidak beruntung bertemu dengan makhluk indah di antara makhluk lainnya. Hingga dari fase ke fase, rasa ingin memiliki semakin sulit. Namun tetap merasa beruntung, dengan begini bisa merasa tetap ada dalam hidupnya. Meskipun begitu, kepercayaan pada "usaha tidak mengkhianati hasil" masih teguh nan kokoh di dalam dada. Hingga sebuah kalimat terlontar dari bibir, "Terimakasih pernah menulis buku sejarah indah. Meski harus berakhir seperti ini;)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CAPEK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Kota
Suatu masa, pada bulan awal tahun manusia kembali membangun kehidupan baru, dan beberapa kembali melanjutkan mimpi dari lelapnya tidur. Kembang api, suara petasan, suara terompet, aroma barbeque, tawa canda dan senyum lebar dari sudut bibir, "And Happy New Year" sorak-sorak meriah tanpa ada resah gelisah di wajah mereka. Di mana tahun ini adalah sebuah perpisahan tanpa ingin di anggap sebagai perpisahan.
Aku baru saja risent dari tempat kerja. Dengan beberapa alasan, ada satu impian lagi yang belum tercapai. Memang di tempat sebelumnya memiliki fasilitas yang cukup, hanya saja ingin keluar dari zona nyaman. Meskipun begitu, Direktur memintaku untuk kembali apabila kaki hilang langkah.
Suasana meriah di halaman rumah. Aroma makanan yang menggoda, suara minuman bersoda, dan tawa untuk melepas hal menyebalkan di tahun ini, seakan resah dalam dada melebur dalam api unggun. Semua teman hadir di halaman rumah sederhana, termasuk Hanna dan keluarganya. Pun sekalian ingin memperkenalkan kepada ayah dan ibu, bahwa keluarga mereka yang telah membantuku selama di Spanyol. Dan kebetulan Pak David sedang berada di Indonesia untuk berlibur.
Sebelum itu. Pak David adalah ayahnya Hanna. Beliau memiliki bisnis di negaranya, dan salah satu karyawannya adalah Beko. Beliau juga memiliki apartemen, dan aku tinggal di sana. Awalnya aku ingin membayar sewa, namun beliau menolak. Yang katanya aku adalah teman Hanna yang sedang menempuh pendidikan, dan suatu saat aku akan membayarnya, namun bukan dengan uang. Dan tiba beberapa minggu lalu, beliau menelepon yang katanya ia mendapatkan kabar dari Hanna bahwasanya aku baru saja risent kerja. Dan kebetulan beliau butuh bantuanku untuk membangun aset real estate. Dan di saat itu pula aku teringat apa yang pernah beliau katakan saat masih menempuh pendidikan.
"Gimana kabar kamu?" tanya Pak David seraya menjabat tanganku.
"Sehat, Pak. Bagaimana dengan anda?"
Beliau menjawab, "Seperti yang kamu lihat. Saya sangat sehat, meski rambut hampir dipenuhi uban." Sontak tertawa mendengar jawaban beliau yang ternyata bisa bercanda seperti orang pada umumnya. "Sebelum membahas pembahasan berat, saya ingin bertemu dengan orang tua kamu. Di mana mereka?"
Aku pun memanggil ayah dan ibu yang sedang mengobrol dengan lainnya. "Perkenalkan Pak, ini Ibu saya, dan ini Ayah saya" ucapku.
"Senang bertemu dengan anda," kata Pak David. "—Saya datang kemari selain atas undangan dari Agam, sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada ibu yang telah melahirkan anak seperti Agam, dan kepada anda Pak—yang telah mendidik Agam menjadi seorang pria penuh impian. Yang telah membantu saya saat dalam krisis ekonomi. Jika tidak ada dia dan 2 orang temannya, mungkin saya akan mengalami kebangkrutan."
Pak David pun bercerita tentang dirinya 3 tahun silam saat pasar global benar-benar merosot. Hingga Bu Adalia, Ibunya Hanna, kaget ketika mendengar hal tersebut. Dan beliau baru sadar pada saat itu Pak David tidak pulang untuk beberapa waktu, yang biasanya Pak David selalu menepati janji, namun harus mengingkari pada saat itu.
Pak David bertanya, "Ke mana teman kamu satu lagi? Siapa namanya? Yang biasa kalian panggil, Atek atau Atuk."
"Atok, Dad!" jawab Hanna.
"Ohh Fadel? Dia berada di sana," kataku dengan menunjuk ke arah sana. "Dia lebih suka bagian bakar-bakar atau bagian belakang kalau ada acara beginian," jawabku. Beliau hanya mengangguk, yang sepertinya ingin menyapa orang berjasa baginya. Aku bertanya, "Amad tidak pulang, Pak? Biasanya kalau akhir tahun ada libur di akhir tahun sekalian memperpanjang work permit."
"Dia tidak bisa pulang untuk sementara, karena baru saja beberapa minggu lalu—saya memberi tanggung jawab lebih."
"Sepertinya bukan hanya seorang barista lagi nih," kata Tante Kiki.
Pak David berkata, "Dia memang seperti itu. Dia tidak bisa serius untuk menjalin pertemanan dengan seseorang. Karena itu banyak yang tertarik dengan cara dia yang humoris. Terlebih warna kulitnya banyak membuat orang tertarik. Meskipun begitu, ia serius dan detail dalam bekerja."
Lalu aku menuju ke dapur untuk mengambil beberapa bahan hidangan untuk dimasak oleh Fadel. Setiba di hadapannya, ia terlihat cerewet seperti wanita akan bersalin. Dia kesal karena aku terlalu lama membawa bahan yang ia butuh. Sedangkan Adan tertawa melihat orang berwajah dingin seketika berceloteh seperti wanita PMS.
"Hay guys..!"
"Hay..." balasku diikuti Adan dan Fadel. Namun Adan sedikit kaget saat berpaling ke belakang. Perlahan senyumnya melebar.
"What you doing?" tanya Hanna.
"Bakar-bakar fish," sambar Adan.
Hanna masih saja tertawa seperti dulu, ketika mendengar Adan berusaha keras ingin berbicara dengannya. "Sorry Dan.." ucap Hanna mencoba menangkan diri. "I understand a little of your language." (Aku paham sedikit bahasa kamu).
Tiba-tiba ada sosok tidak asing yang datang dari belakang Hanna. Rambut blonde yang di pinggirannya dikepang. Hidung runcing bak lengkung tuas rem motor. Pakaian long dress berwarna orange menampakkan kesan feminim. Pun pria mana saja akan terpana melihatnya, termasuk Adan (kecuali Fadel. Terlalu sibuk dengan bara apinya). Perlahan ia berjalan seperti bidadari dari kayangan.
"Hay Agam?" ia menyapa dengan jemari lentik.
"Hay... sudah lama gak bertemu." Aku menjabat tangannya. Wajahnya yang anggun seketika berubah terlihat bodoh, yang tidak mengerti bahasa Indonesia. "Sorry... Long time no see. How are you?" tanyaku (Maaf... Lama tidak bertemu. Apa kabar?).
"I am okay. So, when did you come back to Barcelona?" (Jadi, kapan kamu kembali ke Barcelona?)
Aku menjawab, "I dont know. Mybe, someday" (Aku tidak tau. Mungkin, suatu saat). "What made you come here?" tanyaku (Apa yang membuat kamu datang ke sini?).
"Holiday! Hanna took me. She says there is something interestingif— if i follow her." (Liburan! Hanna membawaku. Katanya ada sesuatu yang menarik—jika aku mengikutinya)
"Oh... this Adan, and those serious face—Fadel." (ini Adan, dan berwajah serius itu—Fadel)
Mereka saling menjabat dan berkenalan satu sama lain. Ketika menjabat tangan Fadel. Dia berkata, "Hey... You sure? we already know each other, men!" Kami tertawa dengan tingkahnya yang kaku.
Wanita itu kaget ketika Fadel berbalik arah. "Atok? Sorry, i really dont know if that's you."
"Yea... What you think got here?" (Apa pendapatmu sesampai di sini?)
"This my first time to Aceh. And my first time seeing a cow," jawabnya (Ini pertama kali saya ke Aceh. Dan pertama kali melihat sapi).
"Cause your place is in the middle of the city," kata Fadel (Karena tempat kamu berada di tengah kota). Kami tertawa mendengar jawaban Fadel.
"Tunggu.. tunggu," Adan menyelinap di tengah tawa. Dia bertanya, "Kenapa kalian saling kenal? Kenapa gak bilang sama aku?"
"Iya. Kami mengenalnya di sana. Namanya Rebecca," jawabku.
Adan menarikku. Dan berbisik, "Kenapa kau gak kenalkan aku pada cewek secantik ini? Jangan curang gitu jadi kawan!"
"Hehehe" Aku tertawa melihat Adan. Aku pun bisik padanya, "Kamu tenang aja. Dia itu singel." Seketika mata Adan berbinar mendengar hal tersebut.
Dengan penuh percaya diri, Adan menjabat tangan Rebecca. "Kenalkan my name is Adan."
"Rebecca," balasnya tersenyum melihat tingkah temanku. "So handsome."
"Sorry... saya tidak menyembunyikan tangan," jawab Adan, yang ia pikir seorang penipu.
Fadel menempeleng kepala Adan karena kesal. Lalu menariknya dan mendekati telinganya. "So Handsome, bukan *soe som jaroe. Kamu kira itu bahasa Aceh?" (soe som jaroe = siapa sembunyi tangan). Adan mengangguk mahfum. "Dia sedang memuji. Katanya; kamu tampan," kata Fadel.
"Aku baru tau, Tok. Hehe..." Adan tersenyum-senyum tidak jelas.
Fadel berkata, "Untung aku. Coba kalau Beko yang tau. Pasti dia bilang gini; udah goblok, jangan malu-maluin."
"Atok! Suuttthhsss..." Aku menutup mulut dengan telunjuk. "Jangan bisik-bisik gitu. Gak enak ada tamu." Fadel dan Adan mengangguk paham.
Suasana sedikit redup menambah nuansa santai dengan musik bernada rendah. Semua yang hadir sedang menikmati suasana. Ada yang bertukar pikiran, dan ada juga yang sedang menikmati hidangan. Semua tampak tersenyum. Ketika melihat sekitar halaman rumah belakang, sangat jauh berbeda. Dalam bayangan, mungkin orang akan mencium aroma tidak sedap di sekitaran. Dulunya ini adalah kandang ayam dan bebek, namun telah direhap sebagai tempat santai, ada satu yang tidak—ayunan di pohon mangga. Tempat tersebut sangat spesial, di mana susah senang—ayunan tersebut adalah pelipur lara.
Pukul 21:00 wib. Semua ayam bakar telah matang dengan sempurna. Lalu, aku mengangkat ayam tersebut di meja hidang yang dibantu oleh Hanna. Rebecca tidak ingin hanya melihat-lihat kami sedang bekerja, dia juga ingin membantuku. Lalu aku memintanya untuk membawa minuman segar ke meja. Alih-alih Adan yang berada di sebelahku—seketika hilang begitu saja dan membiarkan ayam di wadah tergeletak di tempat semula.
Mata melihat kiri kanan mencari Adan. "Apa yang kamu cari, ia pergi bersamanya?" kata Fadel.
"Maksudnya?"
Fadel menjawab, "Benar... Dia layaknya jantan pada musim kawin. Pantang baginya melihat betina menawan singgah." Fadel duduk merentangkan kaki—sejenak melepas lelah. Dia pun membakar rokoknya. "Meskipun begitu—dia adalah teman kita; tempat kita ngutang kalau lagi akhir bulan," katanya tersenyum sinis.
Kata orang, hidup itu seperti roda berputar. Bundar, yang di atas bisa ke bawah, yang bawah bisa ke atas. Rotasi tak terlihat dan terasa nyata, kejam dan penuh kejutan. Yang menangis, bisa seketika tertawa. Yang tertawa, bisa seketika menangis. Di sisi lain perputaran; kaki bisa kapan saja berpijak di tempat yang sama. Dan tak jarang pula kaki berpijak di tempat yang sangat asing. Bertemu dengan orang asing, untuk menambah wawasan. Bertemu dengan orang lama, bahwa sejarah adalah alasan tujuan berdiri di garis terdepan. Tidak ada yang tau ke mana air akan mengalir, tangan hanya berusaha mengayuh agar tidak tenggelam.
Ketika memperkenalkan Rebecca dan Hanna pada teman kampus, ada rombongan keluarga yang baru saja tiba. Ibu menyambut mereka dengan hangat dan mereka terlihat akrab. Beberapa di antaranya sepasang lansia dan seorang wanita muda membawa anak kecil. Mata fokus ke seberang sana. Wanita muda itu perlahan mendekati meja hidang yang tidak jauh dari kami. Akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas dari remang-remang sendu. Logika berkata, "Dunia terlalu sempit bagi hati yang patah." Ada senyum kecil di sudut bibir ketika terbayang kembali akan kenangan itu.
Di sela-sela keramaian, wajahnya masih secerah bulan purnama. Di antara cahaya lainnya, dia yang paling terang. Di tengah remang-remang, ia yang paling bersinar. Meski jauh di dalam gelap, ia seperti menjelma setitik cahaya bintang. Dengan eloknya seperti bunga mekar di malam hari. Tepat pada malam ini, pandangannya membuat pria mana pun tersipu.
Bola mata mengikuti gerak langkahnya. Sesekali sang anak bertanya dengan polosnya, dan sang ibu selalu mengindahkan dengan senyum. Terpancar sebuah kebahagiaan sederhana dari wajah keduanya. Sebuah senyum indah, yang bahkan kunang-kunang iri melihat mereka. Wajahnya tersentak, seakan teringat sesuatu. Dia menanyakan pada wanita tua yang menyambutnya tadi di halaman rumah. Setelah beberapa dialog, matanya menoleh-noleh sekitar seperti seseorang mencari sesuatu.
"Hampir 3 menit lebih, kamu melamun. Ada yang salah?" tanya Fadel. Aku menggelengkan kepala.
Tidak sadar, mereka semua menatapku. Di saat itu pula, aku kembali fokus pada pembicaraan mereka yang sempat terabaikan. Di bawah alam sadar, sesekali aku menyembunyikan diri dari keramaian, seolah-olah ingin menjadi kecil seperti semut. Hanya saja aku tidak ingin ditemukan. Hanya saja aku belum siap ditatap olehnya.
Tiba-tiba ibu datang memberitahu kalau Pak David ingin bertemu denganku. Ketika aku menemuinya, ternyata beliau ingin pamit berhubung ada acara di tempat lain. Kami sejenak berbicara mengenai pekerjaan, mulai dari administrasi hingga persiapan lainnya. Aku sedikit kaget ketika ia memberi secarik kertas dengan barcode di sudut kanan. Lalu ia mengeluarkan dua kunci dari jas hitam kilatnya.
"Ini kartunya." Dia memberi dua kartu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dia berkata, "Agam.. Kamu tidak perlu pusing setiba di sana. Okey?" Di saat itu pula, aku ingin membalas jasanya yang banyak membantu.
Aku baru saja keluar dari toilet, sekalian menyimpan pemberian dari Pak David. Ketika merapikan kembali pakaian, tampak seseorang keluar dari keramaian yang sebelumnya pernah berada di sana. Dengan perlahan, sosok itu melangkah seorang diri seperti peri malam yang turun dari langit. Sekilas terlihat senyum meski tak tersenyum. Tatapan penuh makna, seperti malaikat menyampaikan wahyu. Semakin dekat, dengan pasti ia semakin dekat. Dada berdegup cepat dari biasanya. Tubuh kaku tak berkutik, seakan nurani tak siap untuk semua ini. Hingga, ia telah berada di depan mata.
Setelah itu otak mulai bekerja bagaimana cara menyapanya. Apakah terharu sekian tak berjumpa? Apakah diam tanpa berbicara sepatah kata pun? Atau berkata, bicaralah padaku apapun itu, kecuali perasaan. Di saat itu pula, perasaan negatif bermuculan, rasanya tidak normal seperti manusia pada umumnya.
"Hey?" Aku menyapanya dengan cengiran.
"Hay," balasnya datar.
Kami hening seperti orang asing. Rasanya begitu canggung terlebih belum pernah melihatnya manatapku begitu lama.
"Kenapa cowok itu sama semua sih?" tanya Cut.
"Kalau udah benci, semua memang terlihat sama."
"Sudah coba memahami dia, tapi dia gak sebaliknya." Mata Cut tampak berat.
"Hemp... Sekarang aku mau tanya."
"Apa itu?" Rasa penasaran Cut pun tumbuh dari wajahnya.
"Kenapa perempuan itu tidak cocok jadi pemimpin?"
"Kalau itu sih aku tau. Cowok itu rasional. Cewek itu emosional," jawabnya. Aku hening sejenak memikirkan sesuatu dari jawabannya. Dia berkata, "Kamu pernah bilang saat itu ke anak-anak saat jadi tamu atau motivator gitu di SMA 1."
"Oh ya? perasaan gak ada." Aku sejenak berpikir. "—Jadi, cowok itu punya cara tersendiri untuk membina rumah tangga. Mungkin kamu aja yang kalau dibilang keras kepala."
"Udahlah..." Dia mengembus napas berat. Dia kembali menarik napas seperti menahan sesuatu yang berat di dalam dada. "Mungkin ini memang bukan jalannya. Perpisahan tidak selamanya buruk," katanya dengan tersenyum.
Ada rasa lega ketika mendengar jawabannya. Ada rasa tenang ketika bibirnya berkata demikian. Yang pasti, sesuatu yang telah ia relakan hingga tidak perlu lagi menarik aku ke dalam hidupnya yang masih terjebak di masa lalu.
BEBERAPA MINGGU SEBELUMNYA
Aku masih ingat saat itu. Di sudut kota, jauh dari kebisingan. Apple Pencil menari-nari di jemari sambil memikirkan suatu garis untuk digores, terasa begitu dekat dengan ketenangan. Di mana semua manusia sibuk dengan perasaannya masing-masing, tidak terkecuali denganku. Aku yang sibuk mencari ketenangan dalam hening-hening sepi. Seperti air mengalir yang larut ke mana pun ia berkelana. Meredam semua panas dengan sejuknya. Di atas meja, ada tangan tak lagi saling menggenggam, ada sepasang jiwa tak lagi saling melengkapi, ada sepasang hati yang terluka.
Angin kota di sore hari kembali menyibak rambut hingga telingaku terbuka. Saat itu aku sedang melukis beberapa sketsa dari autocat. "Hempp... Lalu apa yang membuatmu jauh-jauh hingga ke sini?" tanyaku kembali.
Ada rasa lega ketika mendengar jawabannya. Ada rasa tenang ketika bibirnya berkata demikian. Yang pasti, sesuatu yang telah ia relakan hingga tidak perlu lagi menarik aku ke dalam hidupnya yang masih terjebak di masa lalu.
Cut pun menyentuh tanganku dengan mencoba untuk menggenggam. "Kamu pasti ... selama aku menikah, aku tidak pernah bahagia. Dalam pernikahan, tidak pernah ada namanya dalam hati. Setiap kali dia keluar kota atau duduk sendiri, dan paling sering saat bertengkar yang terbayang orang itu," kata Cut mencoba melihatku.
Setelah mendengar itu, aku menarik tangan memperbaiki posisi kacamata. "Lalu... apa yang kamu mau?" tanyaku.
"Mungkinkah seorang wanita untuk meminta kembali hubungan yang pernah dilalui?" Ternyata masih merasa gengsi mengaku jujur.
Aku pun membuka kacamata, berpaling pandang ke arahnya. Tangan menopang kepala, mencoba memikirkan sesuatu untuk dikeluarkan. "Wanita itu selalu benar, tidak pernah salah. Mau tau kenapa? karena wanita berpikir secara emosional, dan di sana termasuk egonya. Tidak heran kalau tidak berstruktur ketika diberi kesempatan saat mengambil keputusan. Makanya kebanyakan wanita menjawab dengan spontan—dalam arti kata sesuai naluri," kataku.
Aku sejenak menghela napas. Membakar 1 rokok kretek, membuat aku merasa sedikit rileks. Huufffhhsss....
Beberapa saat aku berkata, "Berbeda dengan cowok sedikit lebih lama dalam mengambil keputusan, karena banyak hal yang harus dipertimbangkan." Aku membuka pikirannya. Lagi-lagi kami kembali hening. Sejenak kembali menyeruput kopi. Dan berkata padanya, "Aku ada pertanyaan dalam bentuk pilihan." Cut pun mengangguk. "Satu; Cowoknya cuma tamatan SMA alias nganggur. Dan dia punya pacar yang pendidikan atau pekerjaannya yang lebih setingkat di atas cowoknya. Yang kedua; Cowok itu berpendidikan dan telah bekerja mapan, dan punya pacar yang memiliki di bawah setingkat di bawah sang cowok. Kamu harus jawab dengan spontan..!! kamu pilih satu atau dua?"
"Dua..."
"Kenapa?"
"Kalau gak kerja, mau makan apa? Batu?" jawabnya dengan mudah.
"Wajar kamu menjawab seperti itu. Kalimat itu juga pernah menghantam dada oleh ayahmu," kataku mengusap-usap kepala. Aku kembali bertanya, "Tapi mari dikaji ulang. Apakah gak bisa bareng-bareng cari uangnya untuk memenuhi ekonomi?" Cut terdiam tanpa sepatah kata. "Seharusnya perempuan itu hanya perlu mendukung lelaki. Bukan hanya menunggu buah hasil aja. Sesekali coba tunggu dan sabar sambil menyiram bibit," kataku. Aku kembali membakar rokok yang sempat mati. "Cowok pengangguran, cewek mana mau. Cewek pengangguran, cowok masih mau. Benar, gitu?" aku kembali bertanya.
Cut menjawab, "Aku sadar; memang kebutuhan ekonomi cukup. Tapi kalau untuk keluarga kurang, apa artinya uang? Aku menerima karena orang tuaku semata." Dia memejamkan matanya. Sudut matanya tampak basah.
Aku berkata, "Sekarang kamu telah singel perents. Kamu harus siap menjalani takdir. Aku tau perihal perasaan kita berdua. Tapi lihatlah aku sekarang...! sudah berani berbicara denganmu tanpa bernada emosi. Lebih rileks dari beberapa tahun sebelumnya." Aku mencoba memahaminya.
"Jadi, kamu..."
"Aku lebih berusaha mencintai diriku sendiri. Mungkin aku seperti ini berkat kamu juga, menjadi motivasi saat di fase pengangguran. Hidup ini terlalu waras untuk dijalani bersamamu, aku cukup menderita sehingga harus berpergian jauh. Detak jantung kita tidak lagi seirama. Rasa ingin kembali itu ada, tapi sudah aku kurung di sudut ruang hati dan tidak sebesar dulu. Cut... setelah kehilanganmu saat kau menikah dengannya, aku sempat hampir kehilangan orangtuaku. Saat itu dunia benar-benar hancur. Aku hampir gila... kau tau gimana rasanya mulut tertawa, mata menangis? sangat tidak enak, perih di bagian ini" aku menepuk dada. Aku mulai mengemas barang, karena ada sebuah pertemuan yang menyenangkan.
Dia menyapu air matanya, "Kuakui memang salah. Aku terlalu bodoh saat itu tidak berjuang meyakinkan Ayah." Kami pun hening sejenak. "Apa kamu masih marah denganku?" tanya Cut.
"Aku sudah memaafkan, tapi bukan untuk kembali..."
- - -
'Manusia adalah penulis yang ulung, terus menulis tanpa mampu untuk menghapus. Kita sama-sama memiliki masa lalu yang tidak bisa dihapus. Tapi kita bisa menulis cerita baru. Namun beberapa hati memilih berhenti menulis cerita baru dan melanjutkan cerita lama.'
Sambil Menertawakan Diri Sendiri Karna Manusia Terlalu Waras Menjalankan Hidup..
Wahahahahaha
next up thor
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
dah lah,gw paporit in dlu ye,mksih dah bikin cerita ini,kek sedikit melambangkan tentang jiwaku,huaaaa😭😭😭,sayangnya gw cewek 😭