Aiza Bahira adalah gadis cerdas, cantik dan selalu ceria. Sebuah peristiwa di masa lalu yang melibatkan keluarga darah biru menyeretnya ke dalam sebuah konflik kehidupan dan terpisah dengan keluarganya serta kehilangan ingatan akan masa lalunya.
Sedangkan Deanka Kavindra Byantara adalah anak cerdas yang dijadikan korban perjanjian politik. Masa lalu Deanka dipenuhi dengan tekanan dan kekerasan hingga ia trauma dan takut jatuh cinta.
Aiza dan Deanka terjebak dalam kisah cinta yang sangat rumit. Aiza dan Deanka sama-sama menjadi korban keserakahan keluarganya yang gila harta, popularitas dan jabatan.
Apakah Aiza dan Deanka bisa menemukan cinta dan kebahagiaan?
Apakah Aiza bisa mengingat lagi masa lalunya dan berkumpul lagi dengan keluarganya?
Apakah Deanka bisa sembuh dari traumanya?
Mari kita ikuti kisahnya!!
NB: Siapkan tissue!
***
Terima kasih sudah berkenan mampir dinovel pertamaku ❤
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan.
Aamiin...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Bersama
Lantai 10 Always Us Mall,
Pukul 23.47 waktu setempat
.
.
"Tok tok tok." Deanka mengetuk pintu kamar mandi.
"Susi apa kamu pingsan di kamar mandi?! Kenapa lama sekali?!" Deanka berteriak dari luar.
"Sebentar Kak, bajuku basah, aku tadi tidak tahu kalau tombol di samping WC duduk ini bisa mengeluarkan air." Susi juga berteriak agar Deanka mendengarnya.
Apa dia sengaja main-main air? Uhh ... dasar bocah.
"Aku tidak main air Kak, tadi cuma penasaran saja sama tombol itu fungsinya apa, jadi aku tekaaaan." Susi berteriak lagi.
Tunggu apa dia punya indra ke-6? OMG bentar lagi tengah malam dan aku masih belum tidur gara-gara gadis itu.
"Aku tidak peduli bajumu basah apa tidak, sekarang cepat keluar! Karena aku mau tidur!" Deanka beteriak lagi.
"Oke temaaan," jawab Susi.
"Kreekk," Susi membuka pintu kamar mandi. Ia keluar dari kamar mandi, kedua tangannya menyilang memegang kedua bahunya dan memeluk cairan infus yang sudah kosong, ia terlihat kedinginan.
Baju bagian depan dan roknya basah
"Apa kamu akan tidur dengan baju itu?" tanya Dean.
"Gak masalah kok, aku masih nyaman dengan baju ini," jawab Susi.
Kamu nyaman, tapi hatiku tidak. Batin Deanka.
"Tutupi tubuhmu!" Deanka melemparkan handuk, Susi segera menangkapnya.
"Duduklah!" Dean mengiring Susi ke meja makan.
"Aku akan melepas infusanmu, jangan takut! Aku sudah terlatih, terampil dan punya sertifikat."
"Nah sudah selesai."
"Terima kasih," kata Susi.
"Wah, kamarnya bagus sekali, ada meja makan, kulkas, tunggu! Di mana kompor gasnya?" tanya Susi, dan membuat Deanka tertawa.
"Di ruangan ini gak ada kompor gas, tapi ada kompor listrik portable, tapi gak pernah ku pakai," kata Deanka. Matanya melirik ke salah satu sudut meja makan. Hal itu tentu saja membuat Susi penasaran, ia menuju ke tempat di mana Dean melirik.
"Wah, jadi ini kompor listrik portable?" tangan Susi mengelus-elus benda tersebut.
"Ini ukuran yang paling kecil, tapi aku juga punya ukuran yang palig besarnya." Deanka mendekat ke arah Susi.
"Aku suka memasak, tapi aku tidak pernah memakai kompor seperti ini," kata Susi.
"Apak kamu bisa memakai kompor seperti ini? tanya Deanka.
Susi menggeleng.
"Mau aku ajarin?" tanya Deanka.
Susi mengangguk.
Pria itu lupa kalau waktu sudah menunjukkan tengah malam, dan pria itupun lupa pada kantuknya. Deaka mendekati gdis itu, dengan sabar pria itu menjelaskan cara menggunakan kompor listrik.
"Ini untuk pertama kalinya aku menginap di sini, jadi aku tidak pernah menggunakan kompor ini, oiya apa kamu mau minum? Aku punya banyak minuman dingin dan buah-buahan di kulkas itu." Deanka membuka kulkas 2 pintunya.
"Waah, Kak ... banyak sekali, apa semua ini punyamu?" tanya Susi.
"Bisa di bilang begitu," jawab Deanka.
Susi bertanya dengan mata yang terbelalak melihat isi kulkas tersebut, ada berbagai minuan dari beberapa merk, buah-buahan, snack, dan yang membuat Susi makin terkejut adalah ketika ia melihat ada banyak bahan makanan dan juga bumbu-bumbu yang bisa digunakan untuk memasak.
"Kak ... ini ada banyak sekali bahan makanan, coba aja kita berteman lebih cepat dan Kakak tidak mencekikku, aku kan bisa masak untukmu, aku sangat suka memasak dan masakanku enak," kata Susi sambil menepuk dadanya.
Deanka tersenyum melihat tingkah Susi, tanpa ia sadari tangannya mengelus rambut panjang Susi yang menjuntai.
"Tidak usah menepuk dadamu! Aku percaya masakanmu pasti enak, oiya ayo ambil minuman yang kau suka!" kata Dean.
"Aku pusing Kak, aku tidak bisa memilih, ini banyak sekali, dan semuanya pasti enak" Susi mengernyitkan keningnya.
"Ambil sebanyak apapun yang kau mau! Kita kan ...teman, ya kita teman" kata Deanka ragu-ragu.
"Ayo Kakak juga ambil minuman, nanti aku juga akan mengambil minuman yang sama dengan Kak Dean."
"Kenapa harus sama?" kata Dean
"Karena kita teman," jawab Susi
"Susi ...."
"Apa ...."
"Apa sekarang kau mau masak sesuatu untukku?" tanya Deanka sambil menatap Susi yang masih mematung di depan kulkas.
"Emm ...."
Susi mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuknya bola matanya berputar sepertinya gadis cantik itu sedang berpikir.
(Katakan lain kali aja Susi! Ini sudah lewat tengah, apa kalian gak akan pada tidur?!)
"Baiklah, aku akan memasak. Anggap aja ini adalah ungkapan terima kasih karena Kak Dean sudah menolongku dan memberiku makanan," jawab Susi.
Mendengar jawaban Susi, Deanka tersenyum.
"Tapi Kakak temani aku ya .... Aku takut ada barang Kakak yang seharusnya tak boleh aku sentuh, malah tak sengaja aku sentuh."
.
.
Deanka duduk di meja makan, matanya mulai memperhatikan gerak-gerik Susi yang sedang mempersiapkan diri untuk memasak.
Susi melepaskan handuknya dan mulai memilih bahan makanan yang ada di kulkas.
Aku suka melihatmu memakai baju yang terlihat basah. Hei Deanka, jernihkan pikiranmu!
"Apa aku boleh mengambil ini?" Susi menatap Deanka.
Deanka mengangguk.
"Apa aku juga boleh mengambil ini?" menatap Deanka.
Deanka mengangguk.
"Apa aku boleh mengambil ini juga?" Melirik Deanka.
Deanka mengangguk.
"Kalau yang ini, apa aku boleh mengambilnya juga?" Susi menatap Deanka.
Deanka mengangguk.
"Apa aku ---."
"Diaaaammm!" Deanka berteriak.
"Kamu boleh mengambil dan menyentuh apapun yang kau mau." Matanya tetap tidak lepas dari memandang Susi.
"Kakak tidak akan menuntutku, kan?"
Dean mengangguk.
Susi memasak tumis jamur enoki, tumis tahu saus tiram, telur mata sapi dengan hiasan kecap bentuk hati, kentang goreng sebagai pengganti nasi, dan membuat salad buah.
Susi membuatnya dengan terampil dan cekatan.
Apa dia juga kursus memasak?
Saat Susi melakukan gerakan yang menurutnya berbahaya seperti memotong dan mencingcang, pria yang duduk di meja makan itu terlihat khawatir, terkadang ia mengintip pergerakan Susi di balik jari-jari tangannya.
"Tadaaa ...."
Susi selesai memasak. Semua masakan telah disajikan di meja makan.
Tiba-tiba salah satu ponsel Deanka berdering, kali ini pria itu langsung mengangkatnya dengan cepat.
"Ada apa cepat katakan!" teriak Dean.
Suaranya tinggi, mimik wajahnya berubah menjadi sangat dingin.
"...."
"Apa kau bilang? Matanya membulat.
"...."
"Pecat dia! Pecat malam ini juga! Cari segera penggantinya malam ini juga!"
Deanka mengakhiri panggilan, ia nampak marah, kedua tangannya mencengkram meja makan dengan sangat kuat hingga otot biceps nya terlihat lebih jelas.
Melihat kejadian itu, Susi mencoba mendekati Dean, dengan sedikit ragu dan tangan yang bergetar, Susi mengelus tangan yang mencengkram meja itu.
"Ada apa Kak? Katakan padaku, sekarang kita sudah berteman, dan seorang teman tidak akan menghilang saat sahabatnya ada dalam masalah."
Deanka menarik napas panjang, tangannya mulai melemas, sentuhan dan perkataan gadis itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.
"Karena mereka merekrut pekerja yang amatiran, ayahku jatuh dari kursi roda," jawab Deanka.
"Ayahmu?" Susi heran.
"Bukankah ayah Kakak sudah meninggal?"
"Yang meninggal itu papaku, bukan ayahku"
Dean menjelaskan dan penjelasannya tentu saja membuat Susi kebingungan. Namun Susi memilih untuk tidak membahasnya lagi.
"Ayo cicipi masakanku Kak."
"Emmm ... ini enak sekali, ini juga enak, salad buahnya juga enak, manisnya pas. Dimana kamu kursus memasak?"
"Sepertinya aku bisa secara otodidak."
"Kamu juga ikut makan dong."
"Iya Kak, ini aku kan sudah makan"
.
.
"Hoaaam, ahh aku ngantuk."
"Aku juga ngantuk, Kak!"
"Ayo kita tidur."
Krik...krik...krik...
Tidak ada lagi suara dan aktivitas di kamar mewah itu.
Sunyi...
Senyap...
Sepi...
Seiring mimpi menyambut pagi.
♡♡ Bersambung ....
kl visual deanka aku rasa sdh pas...sesuai banget...
tp aizanya jelek banget thor...
biar kau visual sendiri aja kayak nya ya...hehehee...
sambil nunggu TBR
persatuan indonesia.. dan lain lain sbgy nya..
yg jdi bawang putih bukan s susi
tp si niana sm s liana
tanya aja tuh sama s thor
aku juga bingung
tapi sma pabrik juga karyawan bahkan sma yg punya pabrik nya pun dia beli..
ngapa kerja nya nyangsrang d rumah warga thor.. heum bahaya ini mh
yang kaya yg banyak harta banda nya pda dapat BANSOS..
yg miskin melarat mh cuma pda mangap doang makan angin
d jilat ge ngapa aaah