HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Cincin?"
Suaraku terdengar sedikit tercekik, penuh rasa terkejut yang tidak bisa disembunyikan saat mataku benar-benar fokus menatap benda yang tergeletak indah di dalam kotak itu. Ternyata bukan sekadar perhiasan biasa yang bisa dipakai sesuka hati, melainkan sebuah cincin berlian yang dirancang dengan sangat elegan dan rapi. Lingkarannya terbuat dari logam putih yang mengkilap lembut, dihiasi satu batu berlian utama yang memancarkan cahaya terang namun hangat, dikelilingi oleh butiran-butiran kecil yang tersusun simetris sehingga membuatnya terasa begitu mewah, halus, dan sangat istimewa.
Sherkan hanya menatapnya sekilas dari balik kelopak matanya, lalu menjawab dengan nada yang tetap datar dan singkat seperti biasanya, seolah hal yang ia tunjukkan itu bukanlah barang bernilai tinggi, melainkan sesuatu yang sangat wajar untuk dimiliki, "Hm."
Sementara aku, justru semakin dibuat bingung dengan situasi yang tiba-tiba berubah ini. Jantungku berdebar kencang tanpa aku sadari, terasa berdenyut lebih cepat dari biasanya, dan banyak pertanyaan yang tiba-tiba berdesakan di dalam kepalaku. Dengan suara yang masih terdengar sedikit bergetar karena terkejut, aku kembali bertanya sambil menatap matanya, "Ini cincin untuk ku?" Aku masih bertanya, untuk memastikan ini untuk siapa.
"Hmm untuk mu."
Aku menatap Sherkan."Kenapa kamu memesan benda ini sebelumnya tanpa memberi tahu aku sedikit pun?"
Tanpa ragu sedikit pun, tanpa ada nada bercanda atau meremehkan, Sherkan menjawab dengan sangat tenang dan lugas, seolah menjelaskan hal yang paling jelas di dunia ini, "Ini cincin pernikahan."
Aku tertegun seketika, napasku terhenti sejenak, lalu mengerjap-kerjapkan mataku beberapa kali seolah ingin memastikan apakah pendengaranku tidak salah dan tidak sedang berhalusinasi. "Hah? Cincin pernikahan?" ulangku pelan, masih belum percaya dengan apa yang baru saja kudengar keluar dari mulutnya.
Sherkan mengangguk perlahan, matanya tetap menatap kotak kecil berisi cincin itu yang tergeletak rapi di atas meja kaca yang bersih mengkilap. Setelah beberapa detik keheningan yang terasa hangat, ia mulai berbicara lagi dengan nada yang tetap tenang namun terasa jauh lebih tulus dari biasanya, "Kita menikah secara mendadak, bukan? Semua berjalan begitu cepat dalam waktu singkat, keputusan diambil dalam hitungan hari, sampai tidak ada waktu untuk mempersiapkan hal-hal yang seharusnya ada dalam sebuah pernikahan yang layak dan sempurna. Termasuk hal paling mendasar ini."
Aku hanya diam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya tanpa berani menyela atau memotong pembicaraannya.
"Kau tidak mendapatkan cincin pernikahan yang seharusnya menjadi milikmu sebagai istriku," lanjutnya lagi dengan suara yang sedikit lebih lembut namun tetap tegas dan penuh keyakinan.
Mendengar kalimat itu, seluruh tubuhku seketika membeku di tempat. Selama beberapa detik yang terasa sangat lama, aku benar-benar tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Alasan yang ia sampaikan terasa begitu sederhana, masuk akal, dan wajar—namun entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang hangat dan terasa aneh tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam dadaku, membuatnya terasa sesak sekaligus terasa penuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata biasa.
Setelah mengumpulkan keberanian dan berusaha mengatur napas yang mulai terasa tidak beraturan, aku akhirnya menjawab dengan suara yang sangat pelan dan lembut, "Aku tidak mempermasalahkannya, Sherkan. Bagiku, pernikahan ini sudah cukup jelas apa tujuannya dan apa kesepakatannya. Tidak perlu hal-hal simbolis seperti ini untuk membuktikan sesuatu."
Sherkan justru mengangkat satu alisnya, menatapku dengan tatapan yang seolah tidak setuju dan bahkan sedikit menertawakan pandanganku itu. "Tapi aku mempermasalahkannya," jawabnya tegas tanpa ragu sedikit pun, tidak memberi ruang untuk aku membantah pendapatnya.
Aku kembali terdiam, menatapnya dengan pandangan yang bingung sekaligus semakin penasaran akan apa yang sebenarnya ada di pikirannya.
Pria itu melanjutkan ucapannya, nadanya terdengar lebih berat dan penuh keyakinan yang sulit digoyahkan, "Dalam keluarga Satria, ada aturan yang tidak tertulis namun sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dan harus dipatuhi sepenuhnya. Seorang istri dari keluarga ini tidak akan pernah berjalan keluar rumah, menghadiri acara resmi, bertemu dengan kerabat, atau hidup berdampingan dengan suaminya tanpa mengenakan cincin pernikahan yang menjadi tanda pengikat dan identitasnya. Bagi orang lain, itu adalah tanda yang jelas bahwa dia sudah dimiliki, dilindungi, dihormati, dan diakui secara sah sebagai istri yang terhormat."
Jantungku berdetak semakin kencang, jauh lebih cepat dari sebelumnya hingga aku bisa merasakan detaknya bergema di telingaku. Aku tidak tahu persis apa penyebabnya—apakah karena nada bicaranya yang begitu meyakinkan dan menenangkan, atau karena cara ia mengucapkan kata "istriku" yang terdengar begitu alami, begitu tulus, dan tanpa paksaan sama sekali, seolah itu adalah hal yang paling wajar untuk diucapkan. Atau mungkin karena seumur hidupku, aku belum pernah mendapatkan perlakuan seistimewa dan seperhatian ini dari siapa pun sebelumnya.
Pikiranku secara tidak sadar melayang ke masa lalu yang ingin aku lupakan. Selama dua tahun aku bersama Arga, selama dua tahun kami menjalin hubungan yang sempat aku anggap serius dan akan berujung pada kebahagiaan, pria itu bahkan tidak pernah sekalipun memikirkan hal-hal sekecil ini. Ia tidak pernah mempedulikan apakah aku memiliki tanda pengikat sebagai pasangannya, tidak pernah menganggap hal-hal simbolis ini penting, dan bahkan sering kali melupakan hal-hal sederhana yang seharusnya menjadi perhatiannya sebagai pasangan. Namun sekarang, di hadapanku ada Sherkan—pria yang bahkan belum genap dua hari resmi menjadi suamiku, yang pernikahannya awalnya hanya dianggap sebagai kesepakatan bisnis dan kontrak tertulis semata, namun justru ia sudah meluangkan waktu dan membawaku ke tempat ini hanya karena merasa aku belum mendapatkan haknya sebagai istri yang sah.
"Pakailah," ucap Sherkan lagi dengan nada yang tenang namun penuh keinginan agar aku menurut dan menerima apa yang ia berikan.
Aku masih menatap cincin itu dengan pandangan yang campur aduk. Ada rasa gugup yang menyelinap masuk ke dalam hatiku, ada rasa bingung yang belum sepenuhnya hilang memahami niat baiknya, dan entah kenapa, rasa tersentuh yang perlahan-lahan tumbuh semakin besar dan meluap di dalam dadaku.
"Aku bisa memakainya sendiri," kataku pelan, berusaha mengusir rasa gugup itu agar terlihat lebih tenang dan tidak terlihat lemah di hadapannya.
Namun Sherkan tidak mengizinkannya. Ia justru mengulurkan tangannya, mengambil kotak beludru itu dari atas meja dengan gerakan yang sangat hati-hati dan lembut seolah sedang memegang benda yang paling berharga di dunia. Perlahan, ia mengeluarkan cincin itu dari tempatnya, sehingga cahayanya semakin terlihat jelas dan memukau saat terkena cahaya lampu ruangan yang lembut.
Aku langsung menahan napas, merasa detak jantungku seolah berhenti sejenak karena rasa haru yang mendadak menyelimuti diriku. Karena dengan gerakan yang sangat pelan, lembut, dan penuh perhatian, pria itu kemudian memutar badannya hingga berdiri tepat di hadapanku, jarak di antara kami menjadi sangat dekat namun terasa nyaman. Ia lalu meraih tangan kiriku dengan lembut, jari-jarinya yang besar, hangat, dan kokoh menyentuh kulitku dengan sangat hati-hati seolah takut melukai atau membuatku merasa tidak nyaman sedikit pun.
Dan pada saat itu juga, untuk pertama kalinya sejak perjanjian pernikahan ini disepakati dan ditandatangani, aku mulai menyadari satu hal yang mungkin selama ini aku abaikan dan terlalu cepat menyimpulkannya: bahwa pernikahan ini mungkin tidak akan berjalan sesederhana kontrak yang kami tandatangani bersama kemarin. Ada sesuatu yang mulai tumbuh perlahan, sesuatu yang lebih dari sekadar kewajiban atau kesepakatan bisnis, dan aku baru saja mulai merasakannya dengan sangat jelas dan nyata saat ini.
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣