NovelToon NovelToon
Once Again

Once Again

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mesta Suntana

Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.

Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.

Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.

Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?

Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 - Resilion dan Toleransi Batin

Segar dan belum tersentuh. Semilir angin berhembus begitu sejuk membawa kedamaian ditengah keramaian jalan yang masih lenggang terpantau. Belang berwarna kuning keemasan yang pudar menghiasi jalan trotoar. Cahaya matahari pagi yang teduh menembus rindangnya dedaunan pepohonan yang berderet di setiap pinggir jalan. Gemerisik halus dedaunan samar terdengar. Bagaikan musik yang menambah ketenangan jalanan.

Ramai kehidupan, tapi tenang masih terasa. Cahayanya sudah menyelubungi dunia, tapi belum seterik dan sepanas nanti saat waktu bergulir maju. Hangat dan teduh.

"Rasanya begitu lama, kaki ini tidak pernah merasakan santai saat berjalan ke kampus," gumamnya seraya menikmati suasana pagi yang begitu asri dan membawa sejuk ketenangan.

"Akhirnya aku kembali menikmati suasana pagi yang tenang ini." ujar Lana seraya menarik nafas panjang. Dia ingat hari-harinya, setiap langkah kakinya selalu tergesa mengejar waktu.

Menyusuri tenang, langkahnya pelan menapaki trotoar. Lana biarkan pikirannya hanyut bersama pagi.

...•...

...Sudah hampir empat hari. Wajahmu yang aku takuti. Wajahmu yang segan aku lihat. Tak pernah aku melihatnya....

...Sesuai harapanku, perasaan lega hanya setengah merenggut hatiku....

...Secara nyata aku tak pernah bertemu sosokmu untuk sementara. Tapi, bayangmu, ingatan itu, semua yang terjadi waktu itu — membekas dalam keseharianku. ...

...Begitu hebat, dalam satu waktu, satu kejadian, kau mengubah hariku menjadi mengerikan....

...Seperti orang bodoh dan naif. Aku mencoba bersikap layaknya tak terjadi apa-apa....

...Sulit rasanya, mewajarkan hal yang salah dan aku benci. Sesak rasanya terus berdampingan denganmu, tanpa kau ketahui hatiku terluka. Tanpa kau ketahui aku terus menekan luka yang perih....

.... ...

.... ...

.... ...

...Bagaikan ombak yang menerpa diriku tanpa henti, hingga diriku terseret arusnya. Setelah kau mendominasi setiap inci leherku, menciumi nya tanpa henti. Kau melontarkan kalimat singkat yang menyesakkan hatiku. Terseret arus ombak, hingga tubuhku terjatuh — tenggelam di tengah lautan. Sesaknya dan sakitnya persis seperti itu. ...

...Mengganggu. Kalimat sialan itu, kenapa terasa menghina. ...

...Aku tidak mengerti, kenapa kau lakukan itu padaku?...

...Perubahan emosi yang selalu berubah dalam hitungan detik, membuatku sulit memahami dirimu....

...Di daun pintu itu....

...Tangisku pecah dalam diam. Suara isakan yang mencekat tenggorokan, aku tahan sebisa mungkin tak bersuara. Aku merangkul kedua lututku seraya menahan isak tangis yang menurutku tidak pantas untuk keluar. Sesak di dadaku waktu itu terasa begitu pilu....

...Walaupun, tidak sepilu dulu yang pernah aku rasakan. ...

...Aku begitu menyedihkan. Aku membiarkan diriku direndahkan oleh orang lain. Rangkaian kata untuk membela diri saja tidak ada, hanya karena aku memang memiliki status yang berbeda dengan dirinya....

...Status yang berbeda, haruskah harga diri juga mengikutinya?...

...Untuk apa rangkaian kata yang terbuku tentang hak asasi manusia....

.... ...

.... ...

.... ...

...Saat ke esokkan harinya....

...Saat memandangi diriku lewat cermin, sensasi panas yang kau tuangkan di malam setelah matahari itu terbenam, masih menyisakan bekas di leherku....

...Tanpa sadar aku terus mengelus kasar leherku begitu kencang. Hatiku menangis tidak terima dengan noda yang berbayang pada leherku....

...Aku merasa kotor....

...Aku frustasi....

...Siluet rambut yang kulihat masih terbayang dengan sosokmu yang sedang terbenam pada leherku....

...Aku kembali terpuruk....

...Aku mendapati diriku yang begitu mudah dan gampangan....

...Aku mulai mempresentasikan diriku di mata orang seperti itu....

...Aku pikir, rasa takut akan tatapan orang lain tidak pernah aku rasakan kembali....

...Ternyata aku salah....

...Aku merasakannya kembali....

...Aku menguatkan diriku....

...Aku yang selalu mendapatkan kemalangan dalam ketidak berdayaan diriku. Membuatku mengalami trauma dalam hidupku....

...Empat orang dalam hidupku meninggalkanku, di saat aku tidak berdaya dan berharap tidak akan ada yang meninggalkanku lagi. Itu semua hancur berkeping-keping tidak bisa kembali. Mungkinkah jika itu bisa kuperkirakan aku akan menerimanya dengan lapang dada....

...Tidak....

...Meski itu tidak diperkirakan dan mendadak,...

...semua tetap akan berjalan dengan hati yang berlapang dada — terpaksa. ...

...Aku menguatkan diriku....

...Kecupan kejam itu tidak ada artinya, kupikir. Apa artinya bagiku, tidak juga dengan dia. Apa yang aku harapkan dari manusia yang tidak sempurna. Selama masih memijak tanah, meski sama. Dunia tetap tidak akan ada adil yang sempurna....

...Karena sebelum itu aku merasakan keadilan tidak ada dalam duniaku. Kerusakan mental yang lebih buruk sudah pernah aku rasakan. Selama aku bisa menyusun kembali mentalku dan tetap menjaga utuh hidupku yang biasa saja, itu tidak masalah. Penawar obat untuk diriku, diracik oleh diriku sendiri....

...Aku menguatkan diriku....

...Ciuman itu, masih bisa aku abaikan. Anggap saja aku membuang sial dalam diriku....

...Aku harap ini tidak akan menjadi mimpi buruk yang berlanjut panjang....

...Aku mengasihani diriku yang mencoba menyusun mentalku....

...•...

"Ayo kita nikmati waktu yang tersisa." Pipinya mulai mengembang akan kedua sudut bibirnya yang merekah naik.

Lana meyakinkan dirinya agar tidak patah semangat. Ada ruang yang cukup untuk dirinya mempersiapkan diri. Kesempatan yang tidak terlalu menguntungkan, tapi cukup bagi Lana untuk meredam semua masalah — terutama pada orang yang tengah pergi jauh dari pandangannya.

Tangan Lana terus terentang keatas seperti orang yang bersorak. "Semangat, se.... mangaat, semangat." Kalimat itu terus terulang saat dia berjalan.

Bahkan kakinya mulai berjingkrak dan melompat tidak jelas hanya untuk memberikan semangat untuk dirinya. Tidak Lupa senyum sumringah itu mulai tersungging begitu luas. Lana terus bersenandung ceria denga kata semangatnya itu. Orang-orang disekitar mulai berbisik dan tertawa sembunyi melihat Lana berjingkrak seperti orang gila.

Nuca yang melihat Lana dari kejauhan hanya bisa menepuk jidat. Semua orang yang melewati Lana pasti akan menertawainya seraya melihat perangai wajahnya. Rasa malu Nuca rasakan.

"Harusnya aku tidak menunggu dia." Nuca menatap Lana yang berjalan berangsur mendekatinya.

"Ada apa Nuca?" tanya Gabriel pada Nuca yang menampakkan raut wajah datar dan masam serta ada rasa malu yang dia tahan.

Nuca yang tidak menjawab, membuat Gabriel mencari tahu apa yang Nuca lihat. Saat dia menelusuri ke depan dia melihat Lana sedang berjingkrak tak jelas terkadang tangan itu mengepak seperti burung. Mulut Gabriel termangap, matanya mulai berkedip. Setelah itu —

"LAAAANAAAAA!" teriak Gabriel begitu keras membuat Nuca yang di sampingnya tercengang.

Senyum sumringah dan penuh bunga mulai mengitari Gabriel. Dia menghampiri Lana dengan tingkahnya yang serupa dengan Lana.

"Bunga apa ini," jengah Nuca yang melihat khayalan Gabriel keluar.

"Perfectly stupid," ucap Nuca datar.

"Oh, HAI Gabriel!" Lana mempercepat langkahnya sambil melompat-lompat dengan tangan yang terus mengepak.

Begitu juga Gabriel tidak kalah konyol dari itu. Dia mulai berputar-putar seperti ballerina.

Nuca yang melihat tingkah mereka hanya bisa ternganga hebat. Dia lupa ada dua orang gila tantrum dalam hidupnya.

"She was fairy." Gabriel mulai berputar anggun, yang kemudian dibalas Lana sama "He was fairy." Lana berputar.

Jarak mereka mulai mendekat, mereka mulai melompat bersamaan dan berputar-putar seperti komedi putar. Nuca merasa muak melihat bunga-bunga konyol yang mengelilingi mereka.

"Kenapa aku yang harus merasakan malu bukan kalian," gerutu Nuca pelan seraya berbalik meninggalkan mereka.

"Ouy Nuca!" teriak Gabriel kala dia menengok Nuca sudah tak ada di titik pertamanya berdiri.

"Go way! Guys you're crazy! Fuck...." ucap Nuca yang menahan malu dengan langkahnya yang sedikit dipercepat.

Melihat Nuca yang berjalan cepat disertai malu akan mereka, membuat Gabriel dan Lana saling bertatapan. Tatapan mereka memberikan sebuah telepati, bahwasanya isi pikiran mereka sama. Persekian detik kemudian, senyum mengembang begitu jahil pada wajah evil mereka. Sinyal telah diterima. Berjalan perlahan beriringan. Langkahnya pelan dan berangsur kencang, layaknya film horor yang menandai korbannya.

Hawa suram dan tak nyaman mulai Nuca rasakan dari arah belakangnya. Suram itu bergerak menuju ke arahnya dan terasa semakin mendekat. Nuca yang berjalan cepat mulai mengambil tindakan selanjutnya.

Set.

Tindakannya untuk lari gagal. Dua orang aneh yang membawa suran dan tak nyaman bagi Nuca lebih dulu mencegatnya di kedua sisinya. Lana yang berada di sisi kanan sedangkan Gabriel yang berada di sisi kiri. Satu tatapan pasti, penuh bahaya di mata Nuca.

"Run!" teriak Nuca.

Secara bersamaan mereka mulai mengaitkan tangannya pada tangan Nuca. Hal itu membuat langkahnya kembali memantul ke titik awal. Mata Nuca mulai menunjukkan ketidak terimaan.

"We are best friend, we do everything together (Kita kan sahabat, jadi kita lakukan semuanya bersama)," ujar Lana sumringah yang hanya mendapat lirikan tajam dari Nuca yang terseret dalam kekangan mereka.

Nuca mulai terseret kekonyolan mereka.

"No, I don't do it. Why should I join your circus? (Tidak, aku tidak mau melakukan ini. Kenapa aku harus ikut terseret dalam kekonyolan kalian?)" kesal Nuca.

"Come on, you follow me," ujar Gabriel begitu percaya diri dengan mata ambernya yang membesar dan berbinar-binar.

Sementara dimata Nuca tatapan berbinar-binar itu seperti orang bodoh yang tak memiliki otak.

Lana dan Gabriel mulai menyeret Nuca sambil melompat-lompat dan bersenandung begitu keras.

Nuca terlihat begitu tertekan, warna merah mulai terpoles pada wajahnya. Mata itu terus berputar-putar menahan malu, sementara hati dan otaknya mendidih kemarahan. Nuca terus bergeliat mencoba keluar dari lingkaran konyol mereka.

"Let it go!" amuk Nuca memberontak.

"Let it go ~ Let it go~" celetuk mereka berdua yang malah bernyanyi.

Nuca terdiam, sudut bibirnya mulai berkedut. Dia tidak tahan.

"HELP ME! " teriak Nuca meminta setiap orang yang lewat seraya menertawai mereka untuk membantu dirinya.

"Bukankah ini bagus, nyanyian kita membawa tawa bahagia pada mahasiswa kampus," ungkap Gabriel yang menikmati keributan konyol ulahnya dan Lana.

Nuca hanya bisa menangis, meski bukan menangis sungguhan. Tapi malu yang di alaminya ingin sekali membuatnya menangis.

"Toooolooooong, Huwaaaa....."

Lana dan Gabriel hanya tertawa melihat Nuca yang begitu malu.

Sepanjang perjalanan bunga-bunga konyol terus mengelilingi mereka disertai umpatan Nuca.

1
JEJE @●@
Punya sahabat gini asyikkk
MN.Aini
up lg dong thor🥺
Wang Lee
Mampir thor
Wang Lee
Ceritanya bagus
Aksara_Dee
cemas tanda suka gak sih 🫶
Aksara_Dee
aroma kayu putih biasanya bayi, lumi.
Aksara_Dee
Leta, hmm...
Aksara_Dee
thor aku masih ketuker² saat membayangkan tokoh lumi, lana, leta
Aksara_Dee
ibunya gak ada idekah?
Aksara_Dee
bener banget ini
Aksara_Dee
Terima kasih untuk karya bagusnya, kalimatnya sangat indah
Aksara_Dee
aahh aku jadi ngiler
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak aku mampir🤗 klo berkenan boleh mampir juga kecerita baruku "Falling Into You" makasih🥰
Tini Timmy
wahh dah lma bener gak up kak
Oma yeni*🦋
Oma sibuk kejar target misi baca novel lain jadi belum sempat mampir kesini 🤧🙏
Oma yeni*🦋: wkwkkw,, udah kecapean ya. Iya, harus byk istirahat apalagi kalo kesibukan real byk menyita waktu.
total 2 replies
Oma yeni*🦋
hai lumi, maaf baru mampir lagi 🤗
Tan
tau aja /Joyful/
Oma yeni*🦋
mungkin itu suara lana
Oma yeni*🦋
keren nih, cara menggambarkan hasratnya lumi sangat halus dan membuat nyaman pembaca
Oma yeni*🦋: iya syg, sama sama 🥰😘
total 2 replies
Oma yeni*🦋
semua berawal dari hal kecil ya lumi, lama lama benih itu akan tumbuh perlahan seiring waktu berjalan.
Tan: betul, apalagi hal-hal kecil itu sering datang dan bertumpuk banyak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!