Mencintainya adalah sebuah keputusan..
Sifat perhatian padaku menutupi pengalihannya...
Yang dia kira...dia yang paling disayang, menjadi prioritas utama, dan menjadi wanita paling beruntung didunia.
Ternyata semua hanya kebohongan. Bukan, bukan kebohongan tapi hanya sebuah tanggung jawab
.
.
.
Semua tak akan terjadi andai saja Arthur tetap pada pendiriannya, cukup hanya dengan satu wanita, istrinya.
langkah yang dia ambil membawanya dalam penyesalan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lupy_Art, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Hari yang dijalani Arthur terasa begitu berat, apa ini ada kaitannya dengan pertengkaran tadi? ia baru saja pamit pada istrinya pergi kekantor, meninggalkan istrinya dalam keadaan masih merajuk.
setelah menyelesaikan pekerjaannya dikantor, Arthur pulang dalam keadaan rambut acak-acakan, kencing kemeja atas terbuka, dan menentang jas ditangannya
Dia perlu mengisi energinya, yaitu tidur sambil memeluk istrinya. tiba dikamar ia melihat istrinya sedang melakukan rutinitas sebelum tidur.
Livia dapat melihat suaminya dari pantulan cermin, matanya terlihat lelah. Livia tahu apa yang dibutuhkan suaminya, tapi kali ini ia memilih untuk diam saja.
Arthur memperhatikan Livia sejenak, kemudian masuk ke kamar mandi. 15 menit Arthur keluar dalam keadaan sudah segar, air menetes dari rambutnya.
masuk ke Walk-in Closet, tak lama ia sudah keluar dengan pakaian santainya celana pendek dan singlet yang memperlihatkan otot lengannya yang kekar.
perlahan mendekati istrinya yang berbaring menyamping sedang membaca buku, memeluknya dari belakang, menghirup rakus aroma rambut istrinya... aah, pikirannya agak tenang sekarang.
tak lupa tangannya juga mengusap perut sang istri, lalu berpindah ke paha, menaikkan baju tidur istrinya sampai terlihat kain segitiga dibaliknya.
"Aku lelah, Arthur" ucap Livia pelan.
"kalau begitu ayo tidur" kata Arthur, jelasnya terulur untuk menyentuh buku yang sedang dibaca istrinya. Dalam satu gerakan lembut namun tegas, dia menutup buku itu dan meletakkannya dimeja samping.
Livia mengerjap, menatap Arthur dengan ekspresi setengah bingung, setengah kesal. "Arthur, Aku sedang membaca."
Arthur hanya tersenyum kecil, lalu perlahan merebahkan tubuhnya disamping Livia. Tangannya terulur menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah istrinya. "membaca untuk apa? kamu bilang lelah. kalau begitu kita tidur saja."
Livia memalingkan wajahnya, mencoba menjaga jarak. Tapi Arthur lebih cepat, jemarinya menahan dagu Livia, memaksanya kembali menatapnya.
"Aku tahu kamu sedang marah," katanya lembut, tapi matanya tajam seperti biasa. Sebelum Livia sempat menjawab, Arthur sudah bergerak, tangannya melingkar dipinggangnya, menariknya lebih dekat.
"Arthur, Aku—"
"Ssst," Arthur memotongnya, suaranya nyaris seperti bisikan. "tidurlah.." ucapnya memerintah.
Mengangkat kepala Livia tidur didadanya, tangannya mengusap perut istrinya, tak lama mata itu terpejam.
Cup....
...
.
.
.
Pagi-pagi sekali Arthur berada didapat untuk membuatkan istrinya sarapan. ini adalah usahanya memperbaiki kesalahannya yang kemarin, dia sudah keterlaluan karna mengatakan kalimat kalimat yang menyakitkan untuk istrinya.
...
Pagi itu, sinar matahari yang lembut menyusup melalui tirai jendela, memancarkan cahaya ke dalam kamar yang hening. Livia masih terlelap di kasurnya, tubuhnya terbungkus selimut tebal, perutnya yang semakin besar terlihat nyaman dibawahnya. Arthur berdiri didepan pintu kamar, menatap istrinya dengan tatapan lembut.
Dengan langkah hati-hati, dia menuju dapur. Mendekat ke meja dapur yang sudah teratur dengan bahan-bahan sederhana untuk sarapan. Panci kecil diatas kompor perlahan mendesak, aroma telur dan roti panggang mulai memenuhi udara.
Arthur mengadukan perlahan, tangannya bergerak cekatan meski sedikit kelelahan terlihat diwajahnya. Meskipun setiap hari penuh dengan pertempuran dan keputusan sulit, pagi ini dia hanya ingin memberikan sesuatu yang sederhana untuk Livia.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Arthur membawa nampan itu dengan hati-hati menuju kamar. Matanya kembali fokus pada Livia, yang masih tertidur pulas, dan dia tersenyum tipis. Perlahan dia duduk di samping tempat tidur, menatap wajah Livia yang tenang.
Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap istrinya sejenak, merasakan kedamaian langka. Tak ingin membangunkannya secara tiba-tiba, Arthur menunggu hingga akhirnya Livia bergerak perlahan, matanya terbuka, dan melihat ke arah Arthur dengan mata masih terpejam.
"Sudah pagi," bisiknya dengan suara lembut, meski nada dominannya tak bisa disembunyikan. "Sarapanmu sudah siap."
Livia tersenyum tipis, matanya masih setengah terpejam. "kamu... yang masak?" Suaranya serak karena baru bangun tidur, namun senyumannya tetap terasa hangat.
Arthur hanya mengangguk, menatapnya dengan tatapan yang penuh perhatian. Dia menyentuh rambut Livia dengan lembut, meski tangan itu sedikit gemetar karena lelah, namun dia tidak peduli. "Aku ingin kamu merasa nyaman," katanya dengan suara yang tak biasa lembutnya.
Livia terdiam sejenak, terharu oleh perhatian suaminya yang jarang diperlihatkan. Tanpa banyak kata, dia mengangkat tubuhnya, siap untuk menikmati sarapan yang dibuat dengan penuh kasih sayang itu.
Livia duduk perlahan, perutnya yang membesar terasa sedikit memberatkan, namun senyumannya tetap merekah. Arthur menyiapkan makanan untuknya dengan tangan yang sangat hati-hati, seperti dia ingin memastikan semuanya sempurna.
Roti panggang yang renyah, telur dengan saus keju yang meleleh, dan secangkir teh hangat disajikan dengan begitu sederhana namun penuh perhatian.
"Ini... Enak," Livia mengatakan dengan nada yang lembut, mengangkat garpu untuk mencicipi makanan yang baru saja disiapkan oleh suaminya. Matanya terpejam sejenak menikmati rasa, namun hatinya terasa hangat.
Arthur hanya mengamati, diam, tapi matanya tak lepas dari Livia. Ada kebahagiaan yang tersembunyi dalam tatapannya. Meski dia selalu tampak kuat dan tak tergoyahkan, didepan Livia, dia terasa lebih manusiawi.
Livia menatapnya, memecah keheningan yang terbangun di antara mereka. "Arthur..." Suaranya hampir berbisik, namun ada kehangatan yang begitu dalam di setiap kata yang diucapkannya. "Kenapa tiba-tiba melakukan ini? Aku tahu kamu.... sangat sibuk dengan semuanya."
Arthur menyadari ada keraguan dalam suara istrinya, seolah dia merasa tidak pantas menerima perhatian seperti ini. Dia menarik napas, lalu meletakkan cangkir teh di samping Livia
"Karena kamu layak mendapatkannya," jawabnya dengan nada serius, namun tetap lembut. "Aku... tahu jarang ada untukmu. Aku tahu aku sering sibuk. Tapi bukan berarti aku tidak peduli."
Livia menatap suaminya, ragu ragu, seolah mencari kebohongan dalam kata-kata itu. Namun, tatapan Arthur yang dalam dan tidak pernah berpaling membuahkan rasa percaya.
"Aku ingin memperbaikinya, " sahut Arthur, suaranya rendah namun penuh tekad. "Aku ingin ada untukmu, untuk kita. Aku tahu aku sulit... tapi, kamu adalah hal yang paling penting bagiku."
Hati Livia terasa bergetar. Semua kebingungannya tentang hubungan mereka, tentang perasaan yang terabaikan, perlahan mulai pudar dengan kata-kata Arthur yang jarang keluar dari bibirnya. Dia tidak bisa mengungkapkan cinta dengan cara biasa, namun melalui tindakan ini, Livia tahu suaminya sedang berusaha.
Livia akhirnya mengangguk, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Terimakasih, Arthur."
Dan untuk pertama kalinya, Arthur yang biasanya tidak menunjukkan banyak emosi, meletakkan tangan diatas tangan Livia. "Kamu pantas mendapatkan lebih banyak lagi," bisiknya. "Aku janji, aku akan berusaha."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar desiran napas mereka yang tenang, seiring dengan udara pagi yang mengalir lembut di dalam kamar.
.....
.
.
.
.
.
Hai.. aku balik lagi..
maaf ya setelah kemarin ga ada update.. aku lagi kerja soalnya... lagi bosen aj, sekalian mencari inspirasi baru..
semoga kalian suka ya sama adegan yang ini..
maaf beribu maaf atas ketidakpastian aku untuk update secepatnya
teri.aksih yang sudah mendukung karya ini
jangan lupa mampir ya🙏