“Terserah Opa sama Oma aja deh gimananya manut. Mungkin ini yang terbaik buat Shen. Yang penting jangan dijodohin sama Om-Om aja Shen mah, terus kudu yang Hitam Manis Kumis Tipis Humoris yes Oma Opa” -Shena
“Soal jodoh mah terserah se-dikasihnya aja sama Tuhan, yang penting memenuhi standar istri idaman lah kalo bisa satu frekuensi sama Juan.” -Juan
Shena, gadis remaja yang penampakkanya terkenal absurd dan kocak. Gadis cantik berlesung pipi yang nyasar di STM dengan alasan mencari suasana baru tanpa kehadiran bangsa ondel-ondel dan valaq. Parahnya lagi dia melibatkan sahabat satu spesiesnya untuk bersekolah di STM dengan cara yang teramat absurd. Satu lagi, jangan lupakan bahwa Shena adalah manusia paling nyeleneh seantero dunia !!
Juan, Polisi Lalu Lintas dengan sejuta pesona. Siapa yang tak mengetahui siapa itu Iptu Juan, polisi yang terkenal disetiap persimpangan jalan kota hanya karena ketegasan dan ketampanannya yang membuatnya semakin diidolakan par
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SupiakBanun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
iiiihhh so sweet
Ditaman gedung serbaguna Juan dan Shena sedang menikmati waktu berdua mereka. Mumpung ada kesempatan ya dimanfaatkan begitulah pikir dua makhluk itu.
"Adek gakpapa kan tadi?" Tanya Juan yang jongkok di hadapan Shena mensejajarkan tingginya supaya lebih nyaman. Dan pertanyaan Juan itu hanya diangguki Shena.
"Kamu kenapa dek?" Tanya Juan bingung melihat Shena yang hanya diam saja.
"Adek jawab abang jangan diam aja." Tanya Juan kembali sambil menggenggam tangan Shena.
"Abang" Ucap Shena pelan dan masih
Memandang lurus kedepan.
"Ya sayang abang disini, belom migrasi ke mars. Kenapa?" Jawab Juan sambil menatap Shena hangat.
"Jangan salah alamat ya bang." Jawab Shena yang malah ikutan ngawur.
"Sesuai aplikasi ya dek." Ucap Juan.
"Bang serius. Tinggalin Shena ya bang." Ucap Shena pelan.
"Maksud kamu apa? Kamu ga mau sama abang? Atau abang ada salah sama kamu? Apa kurang nya abang shen jawab??." Tanya Juan bertubi-tubi. Kaget, bingung, kecewa semua berkecamuk dalam diri Juan setelah mendengarkan ucapan Shena. Namun Shena yang mendapat kan pertanyaan beruntun itu pun hanya diam dengan pandangan lurus.
"Shena jawab abang!!" Ucap Juan dengan sedikit menaikan nada bicaranya. Matanya pun sudah berkaca-kaca sekarang. Cengeng? wajar, karena Juan tulus menyayangi Shena dan takut kehilangannya. Karena Shenalah perempuan satu-satunya yang membuatnya seperti ini.
"Maaf." Gumam Shena yang diiringi dengan mengalirnya tetesan bening dari bola mata yang indah membasahi pipinya .
"Katakan Sayang, apa alasannya kamu bilang kayak gitu ke abang?" Ucap Juan yang sekarang sudah benar-benar meneteskan air matanya.
"Aku mengalah aja ya bang, aku liat perasaan Kak Ara besar banget ke abang." Jelas Shena yang sudah mulai terisak, namun sebisa mungkin dia menahannya.
"Tapi perasaan abang ke kamu lebih besar dari itu semua dek. Bahkan kamu dengar sendiri apa yang abang bilang tadi kan kalo kamu perempuan pertama yang bisa buat abang tenang dan nyaman selain mama." Jelas Juan yang juga mulai terisak dipangkuan Shena.
"Tapi bang aku gak tega." Jawab Shena sambil mengelus kepala Juan lembut. Sedangkan Juan masih menenggelamkan wajahnya dipangkuan Shena.
"Aku juga perempuan bang. Aku paham betul gimana rasanya. Bukankah cinta tak harus memiliki bang? Tapi kata orang sih" Tambah Shena lagi.
"Cinta gak boleh dipaksakan dek. Abang tetep maunya kamu. Apapun yang terjadi abang maunya kamu". Gumam Juan yang masih enggan mengangkat kepalanya, karena air mata nya masih mengalir bebas takut kehilangan Shena. Cinta gak boleh dipakasakan tapi kata-kata dia aja maksa. Maksud lu paan sih Wan pen nampol elu dehh.
🥬🥬
Hening hingga berberapa saat, Shena masih setia mengelus kepala Juan lembut. Sedangkan Juan masih terisak pelan dengan wajah yang ditenggelamkan dipangkuan Shena. Terlihat jelas jika Juan takut kehilangan gadis manis bernama Shena ini, perasaannya sangat tulus untuk Shena, dan hanya Shena yang dihatinya sampai kapanpun.
"Abang gak capek nangis, dress Shena kuyup nih." Ucap Shena memecah keheningan yang tercipta dan hanya direspon gelengan kepala oleh Juan.
"Baper Ya Allah. Tulus banget ternyata sampek nangis beneran, diluar ekspetasi ini mah. Awalnya mau akting malah ikutan mewek gini." Gumam Shena dalam hati.
"Sayang jangan gini dong meleleh hati dedek tauk." Ucap Shena sambil memainkan rambut Juan.
"Sayang jangan tinggalin abang yaa please abang mohon." Ucap Juan sambil meraih tangan Shena untuk digenggam namun kepalanya masih setia dipangkuan Shena.
"Hmm rugi ninggalin abang tauk. Gak rela dedek." Jawab Shena dengan manja dan seketika itu pula Juan mendongakkan kepalanya menatap Manik mata Shena dalam.
"Kamu serius sayang?" Tanya Juan memastikan dan diangguki Shena. Terlihat sangat jelas bahwa tidak ada kebohongan dimata indah Shena, semua nya terlihat tulus.
"Abang sayang kamu makasih." Ucap Juan seraya beranjak memeluk Shena erat seakan tak ingin Shena pergi menjauh darinya.
"Maaf ya bang, buat yang tadi itu. Shena ga maksud bikin abang kayak gini. Shena cuma menguji ketulusan Shena ke abang dan begitupun sebaliknya." Jelas Shena yang menenggelamkan wajahnya didada bidang Juan.
"Kamu jahat sayang, abang dah sampek kayak gini tauk. Selama ini apa abang terlihat tidak tulus hmm." Tanya Juan sambil sesekali mengecup pucuk kepala Shena.
"Makasih abang, abang itu pangeran ter the best buat Shena. Shena sayang Mas Pol ganteng." Jawab Shena sambil mendongak kan kepala menatap Juan.
"Ihhh gemes pengen nampol." Ucap Juan seraya tertawa.
"Ihhh sebel pengen gigit." Jawab Shena sambil ingin menggigit Juan. Wah Wah kanibal nih Shena.
"Ehh beneran mau gigit nih. Adek tega kalo abang kesakitan." Tanya Juan menggoda Shena.
"Mmm yaa nggak sih kan sayang." Jawab Shena dengan manja membuat Juan semakin gemas dengan tingkah Shena. Ternyata kalo cuma berduaan Shena lebih manja daripada biasanya yang blak-blakan, ya walaupun unsur kocak nya masih ada.
"Duduk dikursi taman yok." Ajak Juan.
"Boleh." Jawab Shena yang hendak berdiri. Namun belum sempat bergerak badannya sudah diangkat oleh Juan dan sekarang sudah mendarat dengan amat hati-hati dikursi taman itu.
"Heyeh maen gendong aja. Permisi dulu kek." Gerutu Shena sok kesel padahal seneng.
"Sama calon istri tu bebas tauk." Jawab Juan sambil nyengir kuda.
"Yee kan belom halal gak boleh sembarang, nguawur aja" Ketus Shena sambil memanyunkan bibirnya.
"ke MUI deh biar dapet logo halal." Jawab Juan cengegesan.
"Dikira produk kerupuk kulit kalik. KUA dong." Ucap Shena sedikit ngegas dan tak begitu sadar dengan kalimat terakhirnya.
"Kode nih. Kapan siapnya adek, abang selalu siap." Jawab dengan penuh keyakinan. Sekian detik kemudian barulah Shena tersadar dan seketika itu wajahnya merona.
"Apaan sih bang kan Shena masih sekolah." Jawab Shena salah tingkah.
"Haha abang tau kok. Sayang fokus sekolah dulu aja, masalah itu habis adek lulus langsung ya." Ucap Juan sambil menarik kepala Shena untuk bersandar didadanya. Dan dengan senang hati Shena menuruti keinginan Juan. Acara melow nya sudah terlupakan begitu saja oleh mereka bagaikan terkena amnesia.
"Haha gak sabaran banget nih polisi satu. Eh tapi bang, Shen males kuliah nih emang gapapa istri abang cuma tamatan STM nantinya ?." Tanya Shena sambil memainkan tangan Juan yang menggenggam tangannya.
"Gak papa lah, emang kenapa sih? Keluarga abang gak cari yang harus S1 S2 S3, yang penting itu hati dan aklhlaknya. Yang pandai hormatin suaminya, sayang keluarga, menyayangi orangtua dan mertua. Ahli urusan dapur, kasur dan sumur terus jadi ibu yang baik buat malaikat kecil nya nanti." Jelas Juan kepada Shena.
"Uhh so sweet hehehe" Jawab Shena yang malah cengegesan ga jelas.
"Ketawa malah, dasar masha and the bear."
"Paan sih shaun the sheep."
"Gemesin gini sih calon istrinya mas pol." Ucap Juan mengacak rambut Shena.
"Rese deh calon suaminya montir cantik." Jawab Shena sambil menahan tangan Juan.
"Cium boleh?" Tanya Juan sambil tersenyum menatap Shena yang mukanya bersemu merah.
"Huhh. Paan sih perasaan dari tadi main kecup aja dan baru sekarang izinnya." Jawab Shena sambil mendengus kesal.
"Haha maap dong sayang. Boleh gak nih?" Tanya Juan lagi.
"Hmm pipi deh." Jawab Shena malu-malu tapi mau. Duh Shena gak bisa nolak nih ye. Si Juan lagi pengen nyosor aja bawaannya.
"Makasih sayang." Ucap Juan yang langsung menciumi pipi tembem Shena gemas.
"Haha abang udah geli, abang geli." Ucap Shena yang merasakan geli dipipinya karena tersentuh kumis tipis milik Juan yang malah ndusel-ndusel dipipi Shena nggak jelas. Wah si Juan parah nih manfaatin kesempatannya pandai sekali.
"Tapi adek suka kan sama kumis tipis abang." Goda Juan kepada Shena.
"Tapi kumis lele abang geli tauk di bakpao Shena." Jawab Shena yang masih tersenyum salah tingkah dengan wajahnya yang merah merona.
Shena sampai memohon agar Juan berhenti tapi Juan malah semakin gemas dibuatnya. Disaat dua makhluk itu sedang asik bercanda dengan romantis tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Shen..Shena." Suara itu menyebut nama Shena.
"Ah iya apa?" Jawan Shena menoleh dan Juan langsung menghentikan kejahilannya kepada Shena.
"Aa..aku mau minta maaf sama kamu." Ucap orang itu gugup karena merasakan ketakutan.
"Semudah itukah Bripda Diara Syanita?" Ucap Juan dingin.
"Abang gak boleh gitu. Shena dah maafin kakak kok, tapi tolong jangan kakak ulangin lagi yang kayak gini ataupun kejahatan yang lainnya." Ucap Shena lembut diringin dengan senyum.
"Terimakasih dek. Kakak janji gak ulangin lagi." Jawab Ara dengan bergetar menahan tangis.
"Dan Juan maafin aku. Aku gak akan gangguin kamu dan Shena lagi." Tambah Ara.
"Hmm" Jawab Juan yang hanya sebuah deheman.
"Kalo gitu makasih Shena dah maafin kakak. Kakak permisi kalo gitu." Ucap Ara.
"Iya kak sama-sama.." Jawab Shena dengan senyum manis yang memperlihatkan ketulusan. Tak ada dendam yang Terpancarkan oleh Shena.
"Hmm pantas kamu lebih memilih nya Wan. Hatinya sangat lembut, tak hanya cantik tapi juga baik. Kamu beruntung mendapat Shena." Gumam Ara dalam hati seraya melangkahkan kaki meninggalkan taman itu.
Setelah Ara tak lagi terlihat dan kini hanya kembali tersisa mereka berdua yyang berada ditaman itu.
"Sayang kok kamu dengan mudahnya maafin dia. Kamu liat dong kondisi kamu kayak lemper begini kan gara-gara dia." Gerutu Juan yang kesal.
"Udah dong ah gak boleh gitu. Allah aja mau mengampuni hamba-Nya yang berdosa masak manusia gak mau maafin sesama." Jawab Shena dengan lembut dan dewasa. Sebab itulah membuat Juan semakin cinta kepada Shena.
"Mmm ini nih yang bikin aku makin ciiiiiinnnttaaaaa." Ucap Juan semangat.
"Heyeh mulai deh drama." Jawab Shena.
"Kalik aja ntar pilem kita rilis dek wkwkw."
"Ditayangkan dibioskop terdekat hahah."
"Ngehalu teros."
"Penting jodoh real dong. Bukan kaleng-kaleng" Jawab Shena dengan tawa kecil.
"Uhhh calon bundanya Juanda Junior." Ucap Juan seraya mengusap lembut pucuk kepala Shena.
"Duhh sudah resmi hatiku dirazia mas polisi." Ucap Shena tertawa.
"Montir cantik servise hati abang dong." Jawab Juan sambil merebahkan kepala dipangkuan Shena.
"Enak bener ya maen rebahan aja." Sindir Shena kepada Juan.
"Romantisan gitu loh biar gak kaku amat." Jawab Juan.
"Kita itu fleksibel men, kayak plastisin."
"Manusia karet yang janjian jam 7 datang jam 9."
"Beda lagi itu Sunarwan!!."
"Lah malah manggilnya Sunarwan. Apaan sih markonah, pembersih wajan dah habis?" Tanya Juan yang mulai ngelantur.
"Udah buat bersihin karang gigi bang." Jawab Shena yang ikutan ngasal. Udah gak jelas nih obrolan dua makhluk penghuni pluto. Bagusnya diskip aja udah.
"Oh romantisan disini heyeh gue doang yang single nih." Teriak Dion dari teras gedung.
"Mamp*s lo makanya jangan nungguin istri orang jadi janda." Balas Rudi yang juga ikutan teriak padahal posisinya disamping Dion.
"Ehh manusia es dapet snowgrey." Celetuk Rania ikut nimbrung.
"Lah kok?" Tanya Rudi dan Dion kompakan. Mereka penasaran kayaknya dengan kata-kata indah dari Rania.
"Kan bajunya adek cantik warna nya grey makanya snowgrey bukan snowhite." Jelas Rania sambil nyengir pepsodent.
"Kurang ajar nih setan satu." Gerutu Dion kesel sebel pokonya mah .
"Untung calon kalo gak gue buang." Gumam Rusi pelan menahan kesal.
"Ganggu woy!!!" Teriak Juan dengan lantang. Walaupun demikian posisi masih wenak gak usah pindahan.
"Budeg ege!!." Pekik Shena reflek memukul perut Juan.
"Aw sakit sayang." Keluh Juan sambil memegangi perutnya.
"Huauahahah emang enak kenak tampol tu tabungan nutrisi." Ucap Dion sambil berlalu kembali masuk kedalam gedung.
"Yang ada tangan Shena nih yang sakit itu perut apa tumpukan batu bata sih lah." Gerutu Shena.
"Papan matras dek." Jawab Juan nyengir kuda.
"Bagusnya disikut aja tadi tu Jin biar sedep." Ucap Rudi sambil tertawa. Bahagia sekali dikau Rudi melihat Juan teraniaya. Sedangkan Shena hanya menanggapi celotehan teman-teman Juan dengan tersenyum manis. Lalu bagaimana denan Juan? Dia mah lagi pada posisi nyaman dan gak akan peduli ada celotehan burung gagak disekitar nya.
sama sama kaget....🤭
tapi seru....