Frans Brian Eddison
berawal dari pengkhianatan kakak kandung nya yang menikahi kekasih nya,
Menjadi seorang yang sangat suskes,
mengawali karir nya dari nol, meninggalkan kekayaan orang tua nya, menjadi tangan kanan dan seorang kepercayaan millioner muda sekaligus pengusaha terbesar di negri ini.
Tapi tidak untuk masalah percintaan, tidak satupun mampu meluluhkan hati nya, hanya sebatas angin dan berlalu.
Hingga akhirnya dia pertemukan dengan seorang wanita yang selalu membuat nya berjuang dan jatuh bangun.
[Sekuel dari novel 'Pernikahan luar biasa']
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terserah
Nancy baru saja keluar dari hotel bersama mbak Ning, bodyguard nya, baru saja selesai membersihkan diri lalu menyantap sarapan, bergantian dengan Mama Martha, dan Papa Eddison yang sekarang bergantian menjaga Frans di rumah sakit.
Melangkah gontai dengan dua papper bag bawaan nya, melintasi jalur pejalan kaki yang bersih dan rapi Negara Singapura itu.
Tidak terlalu jauh jarak hotel ke rumah sakit, sehingga tidak perlu menggunakan MRT atau taxi, cukup berjalan kaki memutar beberapa gedung pencakar langit saja.
Nancy tidak mengajak Nadilla, membiarkan nya tetap di hotel, Nadilla terlilihat sedang kerepotan dengan Baby Noora, lagi pula sebentar lagi Dimas akan datang lagi menjenguk Frans sekaligus menjemput anak istri nya.
[Frans pov]
"Ku dengar suara seseorang sedang bercerita panjang lebar, ku rasakan tangan ku di genggam, ku rasakan wajah ku di ciumi..."
"Sangat jelas di pendengaran ku, sangat jelas ditelinga ku, pembunuhan, penculikan, penembakan, kecelakaan, terus berulang-ulang dan di ulang-ulang, itu cerita apa? cerita Fiksi, dongeng, atau apa?"
"Aku terus mencerna, terus ku cerna tetapi rasa nya kepala ku tak sinkron, aku kesulitan menangkap nya, atau orang ini hanya mengarang saja, pun mata ku seakan tak terhubung dengan otak ku, sangat susah dan payah sekali untuk aku membuka nya..."
"Ku rasakan dingin sentuhan stetoskop di dada ku, Mama...!! panggil ku, aku mengerjab kali ini tidak perlu susah payah aku berfikir, kulihat langit-langit putih dengan beberapa aksen peralatan medis, ini pasti rumah sakit pun seorang lelaki di depan ku pasti adalah seorang Dokter.
"FRANS!!!..."pekik Mama terhelak karena aku memanggil mya
"Papa!!, Papa... Frans bangun, Pa!!!" histeris Mama di hadapan ku.
Kedua orang tua ku berhambur memeluk ku, menangisiku, memegangi tangan ku.
"Sayang kau bangun nak, kau bangun..."histeris Mama tidak henti nya.
"Hanya melihat aku bangun saja mereka sesenang itu.."
"Aku berkerut dahi, lantas kenapa aku harus tidak bangun? Aku mati? aku sakit?, aku kenapa? apa yang terjadi?"
"Apakah beberapa waktu lalu yang ku dengar itu suara tangis Mama dan cerita konyol Mama?"
"Bukan, sama sekali tidak, suara Mama nyaring suara Mama melengking, suara tadi tidak!"...
"Kepala ku sangat tidak nyaman, pusing, aku menyentuh dahi ku, lagi-lagi aku berfikir, ada apa, Mama dan Papa masih saja terus menangisi ku... "
***
[Author pov]
Tangisan memecah di ruangan recovery itu, luapan perasaan bahagia kedua orang tua itu tak lagi terbendung, usapan, pelukan, pun kecupan kerinduan tak henti-henti di berikan kepada anak nya.
"Tuhan terimakasih, tuhan!" teriak Mama tak hent-henti.
Frans berkerut,dahi menatap aneh, memandang heran pada kedua orang di depan nya, pun Dokter yang memeriksa sedikit menyingkir dari pembaringan membiarkan suasana kebahagiaan.
"Mama... sakit!" keluh Frans karena mama mencium dahi nya bertubi-tubi membuat kepala nya bergerak-gerak tak henti.
"Ma-maaf, maaf sayang... "jawab Mama kemudian mengelus lembut kepala anak nya.
"Pa, cepat kabari Nancy!,cepat Pa!" teriak Mama memerintah.
Cklak.
Jullian baru saja tiba, dan masuk membulatkan Mata nya nya melihat kedua orang itu pun Frans yang sudah membuka mata nya.
"Frans bangun!" sapa Jullian tersenyum.
Semua nya menoleh ke arah Jullian.
"Iya, baru saja Jull..."sahut Mama.
Jullian mendekat, memberikan tangan nya kepada Frans kedua nya saling memukul.
"Syukur, kau sudah bangun,.."
"Aku kenapa?"tanya Frans menatap bergantian ke arah semua nya.
Mama, Papa pun Jullian saling berpandangan,Bingung,
Seperti nya Frans tidak tidak ingat apa yang sudah terjadi...
"Dokter!!" panggil mama melihat ke arah Dokter.
Kemudian Dokter itu pun menjelaskan kembali, ini biasa terjadi pada seseorang yang mengalami benturan hebat pembedahan tulang tengkorak untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi.
Sebelum nya bukan kah sudah di jelaskan
Akan ada banyak beberapa kemungkinan buruk, yang mungkin saja terjadi.
Mama kembali menangis, memeluk anak nya.
"Kau benar enggak ingat apa yang terjadi bro?"Jullian memastikan.
Mama bangkit pun menatap penuh tanya.
"Kau benar tidak tahu Nak?"
Fran mencoba mengingat, menatap diam menatap semua nya.
"Tidak!" jawab nya menggeleng.
"Tapi kenapa kau mengingat aku, Mama,
Papa!" timpal Jullian.
"Lalu kenapa aku harus tidak ingat!!!, Kau aneh sekali!" balas Frans kesal menatap Jullian.
Jullian pun menggeleng,
"Dokter, tapi kenapa dia ingat kami semua?"tanya Jullian pada Dokter yang masih di sana.
Lagi-lagi Dokter tersenyum, kembali menjelaskan panjang lebar, lagi-lagi itu hal biasa, dia bisa saja lupa, atau mengingat nya kembali lagi nanti, atau bisa saja sama sekali dia tidak akan pernah mengingat.
Ini di namakan Amnesia Retrograde, dia lebih cendrung mengingat ke memori lama, dan kurang mengingat yang baru, seiring berjalan waktu bisa saja dia kembali mengingat.
"Kita tidak tahu apa saja yang dia ingat, atau tidak ingat saat ini, yang terpenting tolong jangan memaksa nya untuk berfikir sangat keras dulu, biarkan dia yang mengingat nya sendiri!" timpal dokter lagi.
Semua nya akhirnya mulai mengerti dan mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya Dokter pun meminta izin untuk keluar.
Jullian, Mama, dan papa saling berpandangan mencoba menerima semua nya.
"Ya tuhan sayang..."lirih mama mengusap anak nya, "Tidak masalah yang penting saat ini kau sudah sadar, sayang...," hikss hikss..
Frans semakin kebingunan.
"Aku tidak lupa apa pun Ma, Mama cukup ceritakan saja apa yang telah terjadi, mungkin saja kepala ku sedikit terbentur membuatku sedikit lupa.... "
"Ma!!,Katakan apa yang sebenar nya sudah terjadi!!"
Mama terus saja menangis, Mama bingung harus mulai dari mana, tapi bagaimana pun juga dia harus menceritakan, yang terjadi sebenarnya bahwa sudah terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa Armand anak sulung nya.
Mama menyentuh dada nya, menyandar di pembaringan Frans, "Sakit kehilangan anak itu sangat amat sakit, seperti tuhan mengambil sebagian dari tubuh kita"
"Mama,aku hanya bertanya! kenapa Mama menangis?" heran Frans menatap Mama nya.
"Pa, Jull, ada apa sebenar nya?"timpal Frans kemudian melihat Jullian dan Papa.
Jullian menggaruk kening nya Frustasi, bagaiamana cara menjelaskan nya.
Papa menarik nafas nya panjang.
"Kau, dan Armand...kecelakaan... "ucap nya berat.
"Aku dan Armand kecelakaan!!!,bagaimana bisa aku bersama si brengs*k itu!"
"FRANS!!" pekik Jullian tidak terima.
"Apa!,kenapa kau jadi membela nya!"
"Sudah Nak, sudah ,maafkan Armand Nak, maafkan dia, kakak mu sudah tidak ada lagi!"timpal mama menatap sedih ke anak nya.
"APA!" Frans terbelalak. "Ma... Mama jangan becanda Ma, Mama pasti bercanda!" Frans shock.
"Jull, katakan Jull, Kalian bercanda, Jull!"
Jullian dengan manik sedih nya pun mengangguk pelan.
"Armand sudah meninggal Frans"ucap nya membernarkan.
"BOHONG!,Kalian Bohong!, Pa katakan mereka bohong!"
Tuan Eddison yang sedari tadi menahan air mata nya pun mulai ikut buyar.
"Mereka benar, Mama Benar Frans... "
Frans mengusap wajah nya tak percaya, Mama pun akhirnya menceritakan kejadian kecelakaan itu , Frans frustasi, sedikit menitikkan air mata di ujung ekor nya.
Sejujur nya kebencian nya hanya kebencian kakak adik yang bersaing biasa, sejujur nya dia bahkan masih sangat memperdulikan kakak nya, perasaan yang takkan pernah terkalahkan oleh rasa cinta dan kasih sayang sejak kecil kakak tertua dan satu-satu nya yang di miliki nya itu.
"Ma... Armand Ma...kenapa dia meninggal ma?"
"Ar...,kenapa lo tinggalin kita,
kenapa secepat ini? lo boleh ambil semua Ar, semua yang gue punya Ar, Ambil saja Ar...tapi lo jangan pergi Ar..!" lirih Frans menitikan air mata.
Jullian mendekat ke arah nya, menepuk-nepuk pundak sahabat nya.
"Ikhlasin Frans, Armand sudah bahagia di surga, dia juga minta maaf sama lo dan bini lo..."
"Iya Nak, maafkan Kakak mu Nak!"lirih Mama
Frans yang masih menitikkan air mata di ujung netra nya seketika diam terganjal oleh kata-kata Jullian.
"Apa kata mu Jul, Bini?"
Mama Dan Papa beradu pandangan, memikirkan sesuatu kekhawatiran yang sama.
"Frans, tidak!,jangan katakan kepada kami jika kau lupa istri mu!"potong Mama cepat.
"Mampuus dah!!" gerutu Jullian mengusap kepala nya.
"Woy ,Jull jawab apa maksud mu!" tanya Frans lagi.
"Matilah Ma, Ya tuhan, Ma... Dia seperti nya tidak ingat istri nya... "gerutu Jullian kepada Mama.
Mama menatap lekat-lekat ke anak nya.
"Lihat mama, lihat mama nak!, katakan kau pasti bercanda kan?"
Frans melengkungkan senyuman.
"Kalian yang bercanda, kapan aku menikah!!"
"FRANS!!!!" pekik mama menggeleng tidak percaya, "Frans kau sudah menikah nak,!"
Frans mendengus geli,
"Jangan bercanda Ma, Woy Jullian apa kau sudah tidak waras!"
"Lo, yang gak waras begoo, jangan-jangan Dokter agak miring nih letakin otak di kepala lo... "
"Shitt...."gerutu Frans menyengir kuda
"Kenapa jadi bercanda!! Frans katakan pada mama--
"Apa sih Ma?, katakan yang mana?"potong Frans lagi.
Lama perdebatan tentang istri,tiba-tiba terdengar oleh Jullian suara derap langkah kaki yang beradu ke lantai rumah sakit itu yang Jullian yakini adalah Nancy.
Matilah, nasibmu Nan, Nasib mu Nan, Nasib mu.
Cklak.
Semua nya menoleh ke arah pintu, pun Frans menatap nya asing.
"Kan benar Nancy.." bathin Julian menggaruk dahi nya
Nancy tertergun tak bergeming melihat ke arah semua nya, lalu kemudian menatap lurus ke depan nya,
"Sayang!!!!!" tatap Nancy tak percaya
"Kau bangun, Sayangggggg!!!!!" berlari cepat tanpa menimang ke arah suami nya.
Bugh....
Nancy mendaratkan pelukan nya ke tubuh suami nya, Frans menggeleng keheranan beringsut sedikit terdorong.
"Apa-apan ini !"bathin nya.
"Kau bangun, kau sudah bangun..."hikss hiks..
Sayang aku sangat takut, aku takut kau tidak menepati janjimu, aku takut kau meninggalkan ku..."ucap nya lirih menumpahkan semua air mata nya di dada suami nya.
Menghirup dalam-dalam aroma tubuh suami nya, meluapkan semua kerinduan nya.
"Sayang aku merindukan mu, aku merindukan mu,hikss hiss... "lirih nya beruraian air mata.
Jullian, Mama, dan Papa terbelalak, bingung.
"Matilah, Nancy...Frans tidak mengingat mu, habislah kau..." gumam Jullian menelan saliva nya.
Ya Benar, Frans terkesiap, melongo keheranan melayangkan tangan nya ke sebalik tubuh Nancy tanpa membalas pelukan nya.
Kemudian menatap ke Mama nya, mengisyratkan pertanyaan "Siapa dia?"
Mama seolah mengerti, mengelus cepat tubuh Nancy untuk membangkitkan nya.
"Sayang... "panggil Mama pada menantu nya.
Nancy bangkit, menyeka air mata di pipi nya, melihat ke mertua nya, Bibir Mama rasa nya kelu bagaimana bisa Mama tega mengatakan Frans tidak ingat dengan nya, apa yang akan Nancy rasakan.
"Ikut Mama Nak!"ajak Mama menggandeng Nancy berjalan untuk keluar.
"Aku hanya sebentar sayang... "ucap Nancy tersenyum menatap suami nya.
Frans berkerut dahi melongoh aneh
"Ha?sayang????"
"Dia bini lu kambing, lu kagak ingat?" sunguy Jullian kepada Frans, mengarahkan pandangan ke arah Mama dan Nancy yang sudah keluar.
Frans mengusap-usap dada nya nya basah karena air mata Nancy.
"Bini??" Hahah.. ia pun terkekeh geli.
"Ih, gila... Dokter salah diagnosa lagi kaya nya, lo bukan Amnesia Retrograde, tapi gangguan Jiwa akut... "
"Shit Brengs*k..."kekeh Frans lagi...
Kau di bayar berapa sama Mama? paling juga akal-akalan nya Mama doang!"
"What the Fuckk!!, di bayar apa nya? tidak waras lu ya, sok-sok lupa, gak ingat aja lo gimana nangis-nangis minta tolong gua nyelamati dia..."
"Hikss hikss... Jull tolong aku, Jull Tolongi.." bermenye-menye Jullian memperagakan nya.
Frans semakin terkekeh tak percaya.
"Hahah, banyak drama woy, sama aja kaya Mama... "
Jullian mengacak rambut Frustasi.
"Terserah lu aja deh, pusing lama-lama ikut error juga gua.. "kesal Jullian berlalu ke luar mengikuti Mama dan Nancy.
Frans pun mengusap kepala nya, tidak tau harus apa, "Sama sekali aku tidak mengingat nya, tidak ingat apapun, tapi aku sangat nyaman di peluk nya, seperti ah... Sudah lah nama nya di peluk pasti nyaman, tapi ah entah lah,.." usap nya kasar wajah nya, sedikit mencerna ulang siapa tadi yang mendekap nya.
.
.
.
To be Continue.
🌾VOTE, VOTE, VOTE
______________________________________________
Tim gak terima amnesia mohon maaf 🙏,
ini tidak seperti yang kalian fikirkan kok!
5 bunga
1 like
1vote
part paling melow
udah lama aku nungguin cerita kk,