Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang sulit
Aku berpikir keras untuk menentukan langkah yang harus aku ambil kedepannya. Memang aku biasa merantau ke beberapa kota di Indonesia. Tetapi untuk pengalaman kerja ke luar negeri belum pernah. Dulu waktu aku merantau disatu kota, banyak juga melihat orang-orang asing.
Sedikit banyak aku tahu tipe-tipe orang luar itu seperti apa. Yang pasti pekerjaannya pasti lebih berat. Dan cara bicaranya juga berbeda. Terkadang gaya bicara keras seperti marah-marah. Tetapi sebenarnya itu adalah hal yang biasa mereka lakukan. Sebelum memutuskan sesuatu harus aku pikirkan dengan baik. Karena aku tidak mau sampai salah pilih.
Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba peruntungan menjadi TKW. Tujuanku adalah Taiwan, alasannya adalah karena disana kan dataran cina. Dan aku biasa bertemu dengan orang cina, jadi aku rasa tidak akan sulit untuk beradaptasi nantinya. Gajinya juga lumayan sekitar lima sampai enam juta perbulan.
Aku dibantu seseorang untuk mendaftar ke PJTKI resmi di kota S. Dan aku diterima setelah menjalani beberapa tes kesehatan dan semua persyaratan terpenuhi. Aku belajar banyak di penampungan. Yang penting harus bisa bekerja dengan baik, cekatan, dan menguasai bahasa.
Menurutku belajar bahasa itu mudah, tapi pendapat orang kan berbeda-beda. Mungkin aku lebih cepat belajarnya karena terbiasa mendengar bahasanya. Di penampungan itu ada dua bahasa yang dipelajari. Pertama bahasa Mandarin, kedua bahasa Thai. Yang lebih sulit adalah bahasa Thai, karena itu bahasa yang digunakan oleh orang tua, seperti nenek-nenek dan kakek-kakek.
Bahasa Thai cukup penting, karena itu akan membantu kita saat mengurus lansia. Cukup tahu beberapa yang penting-penting saja sudah cukup. Contohnya makan: cia (bacanya ciak) tidur: kun, mau tidur: ai Kun dan lain-lain. Di penampungan tidak diajari cara menulis. Jadi kita cukup bisa ngomongnya saja. Kalau mau belajar banyak, bisa kita lakukan nanti ketika sudah di Taiwan.
Banyak ilmu yang kita dapatkan selama di penampungan. Mulai dari bahasa, cara merawat lansia, memasak, dan lain-lain. Aku menjalani semua proses dengan santai. Aku yakin semua perjuangan yang aku lakukan tidak akan sia-sia. Meskipun harus jauh-jauh sampai ke luar negeri sekalipun.
Aku akan berjuang demi anakku, yang sangat aku sayangi dan kasihi. Menjadi seorang ibu dan berjuang sendiri membesarkan anak rasanya sangat luar biasa. Aku menikmati semua rasa itu dengan hati ikhlas. Tidak perduli omongan orang terhadapku. Tidak perduli banyak orang manatap sinis padaku. Toh aku tidak minta makan sama mereka jadi biarkan saja.
Setelah tiga bulan akhirnya aku akan segera berangkat juga ke Taiwan. Job kerjaku adalah menjaga lansia dan ditambah bersih-bersih rumah. Aku mengetahui secara detail pekerjaanku. Sebenarnya berat aku melangkah pergi meninggalkan anakku dikampung. Tapi ini semua harus aku lakukan demi masa depan yang lebih baik.
Aku berharap jika majikanku nanti orang yang baik. Dan aku berdoa semoga terhindar dari hal-hal yang tidak aku inginkan. Entah bagaimana nanti disana aku pasrahkan padamu Ya Rabb.
Setelah apa yang aku alami selama ini dan perjalanan yang jauh akhirnya sampai juga aku di Taiwan. Menurutku Taiwan itu indah, kotanya bersih dan rapi. Bangunannya tidak seperti di Indonesia. Rumah-rumah terlihat seperti gedung-gedung bertingkat. Ada yang berlantai lima, ada juga yang berlantai tujuh, bahkan ada juga yang sampai dua belas lantai. Kalau yang lebih mungkin ada juga.
Aku lihat rumah itu bukan hanya sekedar rumah tempat tinggal. Tapi juga tempat usaha. Jadi di lantai bawah digunakan untuk usaha dan lantai atas untuk tempat tinggal. Diperjalanan aku melihat jalan-jalan seperti tol yang menakjubkan. Pantai atau lautnya juga sangat indah sekali. Jalanan juga tidak macet. Perjalanan yang aku tempuh sangat jauh, tapi pemandangannya sungguh luar biasa.
Meskipun begitu kita tetap harus berhati-hati dinegara orang. Aku masih harus banyak belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Rasa makanan yang lain, cuaca yang berbeda, dan bahasa yang beda. Ternyata ada yang lucu setelah aku berbicara langsung dengan orang Taiwan. Ternyata bahasanya tidak terlalu panjang seperti yang aku pelajari di penampungan.
Bahasanya hanya diambil yang simpel-simpel saja. Contoh ketika ditanya umur ngomongnya cuma ni ci sue? kalau di penampungan panjang banget kata-katanya. Atau ditanya nama ngomongnya cuma ni mingce ne? dan aku cukup jawab wo she, sebutkan namanya. Kalau di penampungan: wo te mingce ciau..... sebutkan namanya. Dan banyak lagi yang lainnya. Intinya harus mau belajar lagi supaya tidak kesulitan.
Menurutku bahasa sangat penting dan bisa kita pakai jika misalkan ada yang membuat kita keberatan. Kalau kita tidak bisa bahasa maka akan dianggap bodoh. Dan mereka akan semena-mena itulah sebabnya belajar bahasa sangat penting sekali.
* Tidak ada sesuatu yang sulit jika kita mau belajar dengan sungguh-sungguh. Selalu konsisten dan semangat. Yakinkan bahwa kita pasti bisa. Jalani semua dengan tenang dan ikhlas. Maka pasti akan terasa nikmat.