Budi, seorang CEO yang dikenal ramah dan sopan, harus menghadapi kenyataan pahit ketika putri kecilnya menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh seorang predator anak. Tragedi ini mengubah Budi sepenuhnya. Di tengah keputusasaannya, muncul seseorang yang menyebut dirinya Jack the Finisher menawarkan bantuan untuk menculik pelaku kejahatan yang telah merenggut nyawa putrinya. Meskipun diliputi keraguan, Budi akhirnya menyetujui tawaran tersebut. Sejak saat itu, Budi memulai perjalanan kelamnya, berubah dari seorang ayah yang berduka menjadi predator bagi para psikopat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vardan alzumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Perlawanan Risma justru membuat Juda kalap. Amarah membuncah di dada pria itu. Dengan kasar, ia mengikat Risma dalam posisi menggantung, tangan terentang ke atas dan terikat pada sebuah kait di langit-langit. Ikatan itu mencekik pergelangan tangannya, membuat tubuh Risma melayang tak berdaya.
"Lepaskan aku...!!!" teriak Risma, meronta sekuat tenaga. Namun, ikatan itu terlalu kuat, dan tubuhnya hanya bergoyang tak tentu arah.
"Toloooong... tolooong akuu...!!" Kembali Risma menjerit, isak tangisnya pecah memenuhi ruang bawah tanah yang pengap.
Juda menatap Risma dengan mata berkilat, seolah dikhianati. "Kau membuatku kecewa, Risma. Baru saja tadi kita menjalin asmara hingga puncak kenikmatan. Dan kau juga mengatakan sangat mencintaiku. Lalu kenapa sekarang berubah...?"
"Siapa yang sudi mencintai manusia biadab sepertimu...!!" bentak Risma, meskipun suaranya mulai serak.
Plakk! Plakk! Plakk!
Bukan satu, tapi tiga tamparan sekaligus mendarat di wajah Risma. Tamparan itu bukan dari telapak tangan yang lembut, melainkan dari tinju seorang pria yang terbiasa melatih fisiknya. Bukan hanya memar dan darah yang muncul, tetapi gigi Risma pun rontok dibuatnya.
Seketika, pandangan Risma langsung kabur dan hampir menjadi gelap. Kepalanya terhuyung tak tentu arah, tubuhnya berayun tak berdaya di ujung ikatan.
"Munafik kau, Risma! Aku benci orang munafik...!!" bentak Juda, lalu langsung menjambak rambut Risma hingga kepalanya terdongak ke belakang. "Seharusnya kau menerimaku apa adanya, Ris. Andai saja kau setia, kau tak perlu seperti ini. Aku akan membawamu langsung dalam keabadianku."
Meski dunia serasa berputar dan rasa sakit mengoyak tubuhnya, Risma mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk membalas. Dengan sisa kesadaran yang menipis, ia meludahi wajah Juda.
Cuhhhh....
Muncratan ludah bercampur darah mendarat telak di wajah Juda. Juda mengusapnya perlahan, ekspresinya berubah dari marah menjadi sedih, namun dengan kilatan mengerikan di matanya.
"Sebenci itukah dirimu padaku, Risma? Ohh. Baru kali ini aku dihina oleh wanita," Juda meratap, seolah terluka. Kemudian, ia melangkah menjauh dan mengambil pisau pemotong buah dari meja di sudut ruangan.
Crass...
Sebuah irisan dalam mengoyak lengan Risma. Darah segera merembes, membasahi pakaiannya.
"Aaaachhh.... tolooooong!" Risma mencoba berteriak, namun suaranya sangat lemah, hanya berupa rintihan yang nyaris tak terdengar. Rasa sakit yang tajam menjalar, bercampur dengan ketakutan yang mencekam. Ia tahu, ini baru permulaan.
Crass...
Kini irisan itu menggores dada Risma, lebih dalam dari sebelumnya. Bajunya terkoyak, menampilkan kulitnya yang memerah dan segera dibanjiri darah segar.
"Aachh... ampun, Bang, ampun. Sakit... jangan lukai aku lagi, Bang... kumohon," ratap Risma, suaranya tercekat oleh isak tangis. Darah mulai merembes deras dari pakaiannya yang robek.
Juda mendekatkan wajahnya, tatapannya kosong namun penuh tuntutan. "Katakan kau mencintaiku. Maka aku akan sudahi ini semua..."
Risma terdiam, bimbang. Jika ia menjawab cinta, jelas maut menanti, mungkin dalam bentuk keabadian mengerikan yang Juda maksud. Namun, jika tidak, siksaan ini pasti akan berlanjut, bahkan mungkin lebih buruk. Tubuhnya bergetar hebat, otaknya terasa kosong, tak mampu merangkai kata. Ia tak bisa mengatakan apa-apa.
Crasss...
Satu irisan lagi menggores dadanya, kali ini di tempat yang berbeda. Rasa perih yang amat sangat membuat Risma berteriak tertahan. "Ahhhh... ampuun, Bang... ampuunn... toloooongg..."
Darah pun makin deras mengucur, membasahi tubuhnya yang tergantung tak berdaya. Risma hanya bisa meronta, merintih, dan mencoba berteriak. Namun semua itu percuma. Suaranya lemah, dan gudang itu kedap suara, terkubur di bawah tanah. Dalam benaknya, ia tak menyangka hidupnya bisa berakhir dalam situasi semengerikan ini. Pria yang ia cintai, impian masa depannya, kini menjadi algojo yang haus darah.
Juda menatap Risma, matanya memancarkan kepuasan yang menyeramkan. "Risma. Masa depan kita ada dalam lemari itu. Kau adalah calon istri terakhirku. Koleksiku sudah lengkap. Kalau kau menerima cintaku. Aku pun akan berada dalam lemari itu bersamamu. Abadi selamanya.."
Juda kemudian berbalik, melangkah menuju lemari tempat kepala-kepala wanita itu tergantung. Ia mengusap salah satu kepala dengan lembut, seolah itu adalah benda seni yang paling berharga. Risma yang hampir kehilangan kesadaran hanya bisa menatap nanar. Ia tahu, kata-kata Juda bukan sekadar ancaman, melainkan janji yang mengerikan. Keabadian yang Juda tawarkan adalah kematian, dan Risma akan menjadi pajangan terakhir dalam koleksinya. Kesadaran itu membuat sisa tenaganya terkuras habis.
maaf koreksi dikit