Diam diam seorang Bara Aditama jatuh cinta pada wanita yang bersetatus istri orang. Safira nama wanita itu, wanita yang hampir menginjak usia kepala empat itu mampu membuat hatinya bersebar tak karuan. Hanya dengan berdiri di sampingnya. Sayangnya dia sudah menikah, juga sudah memiliki seorang putra. Lalu tiba tiba dia mengetahui perselingkuhan suami Safira. Lalu apa yang akan di lakukan Bara setelah mengetahui, wanita yang sangat dia cintai di hianati pasangannya.
Baca kisahnya selanjutnya di Gelora Cinta Tuan Bara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Tak.....
Tak....
Tak...
Bunyi ketukan pena berwarna emas pada permukaan meja kerja menggema di ruangan itu.
Sementara mata kelam Bara terlihat menatap selembar foto di atas meja. Wajah kakunya terlihat keruh, sesekali desah nafas beratnya terdengar bersahutan dengan bunyi ketukan pena.
Entah apa yang sedang dia pikirkan, sampai membuatnya menghela nafas berat berulang kali. Lalu meraih ponsel dalam saku jasnya, kemudian menghubungi Bimo.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanyanya Begitu panggilannya tersambung.
"Sudah, aku sudah membawanya ke Vila pinggir kota." sahut Bimo.
Bara tersenyum miring. "Bagus, aku sempat khawatir tadi. Tak ku sangka semudah ini."
"Itu karena aku yang profesional dalam bekerja." sahut Bimo, memuji diri sendiri.
Bara kembali tersenyum, "Kau akan terima bonus dari jerih payah mu. Setelah semua terkendali, kau bisa libur sepuas mu, di temani oleh wanita wanita pilihan mu. Apa itu sepadan?" ucap Bara dengan mata menyipit. Di sebrang sana terdengar Bimo terbahak. Sejak kapan dia bisa libur, urusan pekerjaan yang menggunung mengharuskannya tidur sambil kerja. Hampir semua perusahaan Bara ada andil Bimo di dalamnya.
Terdengar Bara menarik nafas panjang. "Begitu Safira membuka hatinya, kau benar benar mendapat cuti." ucapnya lagi.
Kini Bimo yang menghela nafas berat. "Hmmm, ternyata tiket liburku hati wanita itu ya?"
"Wanita itu?" tanya Bara sembari mengernyitka alisnya tak suka.
"Baiklah, baiklah. Nyonya Bara, apa kau puas." sahut Bimo seakan bisa melihat ekspresi wajah Bara.
"Biasakan dirimu dari sekarang. Aku tidak mau ada yang merendahkan istriku nantinya."
"Baiklah, kau yang di mabuk cinta aku yang pusing. Sudah dulu, aku sedang mengurusi perusahaan rival mu."
"Sejauh mana sudah berkembang?"
"Lima puluh persen lagi kau bisa mengakuisisi prusahaan itu. Bukankah kau bilang pelan pelan saja. Jadi aku melakukannya dengan santai."
"Iya, lakukan perlahan tidak usah terburu buru. Aku tidak mau Safira curiga padaku."
"Hmmm baiklah, aku pamit dulu."
"Hhmmm."
Panggilan terputus, kini perhatian Bara tertuju pada lembar foto di atas meja. Foto gadis belia mengenakan seragam sekolah elit di luar negri.
Terdengar dia kembali menghela nafas lalu menyimpan foto itu dalam laci meja nya.
* * * * * * *
"Vi, ada waktu gak hari ini?"
Begitu bunyi pesan singkat yang dikirim Safira untuk Vivi. Dia butuh teman bicara saat ini, ada banyak tanda tanya dalam kepalanya yang ingin dia utarakan.
"Bisa, ketemu di tempat semalam ya jam makan siang." balas Vivi, lima menit kemudian.
"Oke."
Safira menarik nafas panjang, sembari menatap layar ponselnya. Ada beberapa profil Bara di majalah one line yang sedang dia lihat, dan akan dia simpan beberapa yang dia rasa paling tampan.
Matanya penuh binar, senyum tipis juga tampak mengembang di bibirnya. Foto diri Bara yang sedang menatap kamera terlihat begitu tampan, hatinya bahkan terasa bergetar seakan dia sedang berhadapan langsung dengan orangnya.
"Hhhhh, sadarlah Safira...." gumamnya sembari menepuk jidatnya berulang kali dengan gerakan pelan.
Tiba tiba ponsel ditangannya berdering, Bara melakukan panggilan suara.
"Siang ini kau ada janji?" Terdengar suara berat Bara di ujung telpon. Safira tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Bara. Entah mengapa hatinya bergetar halus mendengar suara merdu Bara.
"Ada," sahutnya kemudian.
"Dengan siapa?"
"Vivi teman ku."
"Ada yang lain selain Vivi?"
"Gak ada lagi."
"Hanya Vivi?"
"Iya,"
"Hmmm, baiklah. Tapi pulang kerja nanti kamu aku jemput."
"Iya."
Panggilan berakhir, dan Safira masih menatap layar ponselnya yang sudah berubah gelap.
Siangnya, Safira bertemu dengan Vivi seperti janji mereka di telepon tadi pagi.
Seperti biasa, dia selalu tiba lebih dulu ketimbang Safira. Menyambut kedatangan Safira dengan tatapan penasaran.
"Jadi gimana, siapa dia?" cecarnya begitu Safira duduk di depan nya.
Safira menghela nafas panjang, lalu memperlihatkan foto Bara pada Vivi.
Vivi tercengang, demi melihat siapa lelaki yang akan mereka bahas saat ini.
"Tuan Bara Aditama? Kamu gak Salah?" tanya Vivi meyakinkan Safira, bahwa memang pria itu yang sedang dekat dengan dia. Safira mengangguk pelan. Melihatnya Vivi menghela nafas panjang.
"Kenapa bisa dia?" tanya Vivi dengan suara pelan.
Safira menarik nafas berat, lalu berujar lirih. "Dari hubungan kerja, gak tau sejak kapan bisa berkembang sejauh ini, setiap apa yang dia intruksikan ke aku. Aku gak bisa nolak, parahnya lagi sekarang ada persaan perasaan aneh seperti perasaan ku terhadap Riki dulu. Aku udah berusaha menepis sebisaku tapi sepertinya tidak berhasil."
Vivi menatap sahabatnya dengan perasaan rumit, Bara bukan pria sederhana. Berdampingan dengan pria berpengaruh yang sering terlibat skandal, itu bukan hal mudah bagi seorang Safira.
"Menjauh aja dulu untuk sementara, dengan begitu kita bisa tau. Dia tulus ke kamu apa gak." ujar Vivi, mengusulkan.
Safira menarik nafas berat. "Gimana caranya? Dia selalu mengawasiku dua puluh empat jam." lirihnya. Membuat mata Vivi membola.
"Sudah segitunya?" ucapnya tak percaya. Safira mengangguk.
"Dia bahkan menempatkan orang nya di sekeliling rumah ku, memasang Cctv yang bisa dia pantau dua puluh empat jam dari hpnya."
"What....?!" seru Vivi dengan mata membulat.
"Dia berdalih demi keaman ku dan Rifai, kakeknya terus memburuku sejak Bara mengumumkan aku sebagai tunangan nya di depan keluarga dan bebetapa komunitas elite." jelas Safira sembari menatap Vivi yang terlihat terpaku di depannya.
"Sudah sejauh ini? Apa yang dia lakukan bukan kah sebagai penegasan. Kau adalah miliknya?"
"Awalnya hanya seperti bentuk kerja sama tanpa melibatkan perasaan. Tapi sepertinya aku mulai melibatkan perasaan, gimana dong..." ucap Safira dengan wajah memelas.
Vivi tampak berpikir sejenak, "Bagaimana sikapnya ke kamu?"
"Dia terlihat seperti pasangan yang sangat posesif."
Vivi mengerutkan alisnya. "Misalnya?"
"Ada banyak hal, misalnya melarang interaksi pada lawan jenis selain urusan pekerjaan."
"Hahh!.. Ini bahkan terlalu jauh. Kamu yakin hanya kerja sama. Tindakan Bara itu gak main main loh, dia orang berpengaruh. Gak bisa seenaknya ambil keputusan, kalau dia udah ambil itu bukan hal yang bisa dia batalkan sesuka hati tanpa ada konsekuensi nya. Dan satu hal lagi, kalau memang hanya untuk meredam isu, dia akan pilih wanita berpengaruh. Ada banyak wanita kalangan atas yang dengan suka rela melakukannya dan saling menguntungkan karena status mereka.Tapi nyatanya dia pilih kamu, jangan jangan dia memang suka kamu?" jelas Vivi panjang lebar.
Safira menarik nafas panjang. Bukan tak pernah dia berpikir bahwa Bara menyukainya. Dari apa yang Bara lakukan juga apa yang di rasakan Safira. Tapi melihat siapa Bara, Safira merasa tak pantas.
"Bukankah justru orang seperti aku pilihan tepat untuk meredam isu? Gak punya nama besar, gak punya pengaruh apapun. Dia bisa mengakhiri sandiwara tanpa takun mendapat tekanan dari keluarga ku."
"Berat sih ini, aku juga gak berani asal menyimpulkan. Jalani aja dulu deh, usahakan kamu gak usah main hati."
"Tapi susah juga sih, seorang Bara. Pesonanya gak main main." imbuhnya.
Safira mengangguk setuju, segala yang di lakukan Bara memikat hatinya. Dan Safira tak memungkiri itu.
Bersambung