Ketika Cindy berusia 10 tahun, ia diperkenalkan oleh kedua orang tuanya dengan remaja muda berusia 16 tahun. Ayah dan Ibu memperkenalkannya sebagai Paman Angkat.
Singkat cerita, Paman Angkat bernama David hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah dipacari nya lebih dari 3 tahun. Namun pernikahan itu batal, karena pihak dari pengantin wanita tidak hadir dan menikah dengan pria lain.
karena sudah menyebar undangan dan tidak ingin keluarga menjadi malu, orang tua Cindy tiba-tiba saja menikahkan dirinya dengan David, Sang Paman Angkat.
Bagaimana Kisah Mereka? Mari Disimak Sekarang Juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 34
Keduanya terpaku satu sama lain. Saling pandang tanpa ada pergerakan sedikitpun dari mereka berdua.
Pemandangan indah itu disaksikan oleh beberapa pelayan dan Mama Ratih yang terpukau bukan mau melihat kedekatan mereka yang sangat intim.
“Kalian pergilah,” ucap Mama Ratih lirih seraya menggerakan tangannya memberikan isyarat kepada para pelayan untuk pergi menjauh.
Mama Ratih yang kebetulan memegang ponsel, tanpa pikir panjang mengambil gambar keduanya yang ternyata suara jepretan tersebut membuat keduanya tersadar.
“Ketahuan deh,” ucap Mama Ratih tersenyum lebar.
Cindy dan David terlihat canggung atas apa yang terjadi. Untungnya, Mama Ratih dengan sigap mencairkan suasana dengan mengajak keduanya untuk makan bersama.
Mama Ratih begitu antusias menggandeng tangan mereka berdua seraya menuntun keduanya pergi ke ruang makan.
“Mama lapar dan ingin makan. Kalian juga harus banyak makan, untuk mempersiapkan calon cucu untuk Mama,” ujar Mama Ratih.
Cindy yang kebetulan sedang meneguk air minum, terbatuk-terbatuk mendengar ucapan Mama Ratih. Cindy memang telah menyadari perasaannya kepada David. Namun, untuk memiliki bayi rasanya ia belum siap.
Cindy masih ingin menikmati masa mudanya, masih ingin menikmati tempat-tempat indah dan masih ingin menikmati masa pacarannya dengan David.
Meskipun begitu, Cindy hanya bisa menutup perasaannya dalam-dalam. Karena yang Cindy tahu, David masih memiliki perasaan untuk Renata yang jelas-jelas sengaja pergi meninggalkan David.
“Mama ini apa-apaan sih? Kenapa malah membahas calon cucu segala?” tanya David yang merasa tak enak hati dengan Cindy.
“Mama tidak pernah memaksa kalian untuk buru-buru memiliki bayi. Lagipula, Mama tahu kok Cindy masih sangat muda dan mungkin dia masih ingin menikmati masa mudanya,” jawab Mama Ratih sambil mencolek lengan Cindy.
Cindy tersenyum canggung seraya mengangguk-angguk kepalanya.
Suasana semakin canggung. David berusaha mencairkan suasana dengan mengisi piring lebih dulu.
“Apa ini?” tanya David ketika melihat ada hidangan yang berbeda dari biasanya.
“Cumi tinta hitam, Mas David. Silakan dicoba,” ucap Cindy.
Cindy berharap masakannya cocok dengan lidah David dan berjanji dalam hati akan mencoba memasak menu yang lain jika David memuji rasa masakannya.
“Iya, Nak. Coba kamu cicip dan jangan lupa beri komentar,” sahut Mama Ratih yang juga antusias ingin mengetahui pendapat David mengenai rasa dari Cumi tinta hitam buatan Cindy.
David menatap Mama Ratih dan Cindy secara bergantian. Ia sedikit curiga dengan Mama kandungnya dan juga istrinya yang begitu antusias untuknya mencicipi masakan tersebut.
David dengan perlahan mengambilnya dan mulai mengunyahnya.
“Siapa yang masak ini? Kenapa asin sekali?” tanya David dan mengeluarkan lagi cumi tersebut.
Mama Ratih yang terkejut dengan ucapan David, reflek menempeleng kepala Putranya dengan cukup keras.
“Kamu ini bukannya bersyukur sudah dimasakin. Diluar sana banyak orang yang tidak bisa makan enak.” Mama Ratih dengan penuh semangat mengomeli putranya.
“Mama kira aku berbohong? Coba Mama cicipi sendiri!” David yang tak terima dengan omelan Mama Ratih, saat itu juga menyuapi Mama Ratih agar berhenti mengomelinya.
“Enak kok, hanya sedikit asin saja. Kalau ditambah nasi pasti pas rasanya,” terang Mama Ratih berbohong.
Kenapa rasanya malah asin tidak karuan begini? Semoga saja Cindy tidak kecewa. (Batin Mama Ratih)
Cindy yang penasaran dengan rasa masakannya, dengan cepat mengunyahnya dan ternyata rasanya sangat asin seperti yang dikatakan David.
“Iya, rasanya asin.” Dengan polosnya Cindy menyebut makanan asin dan tidak enak untuk dimakan.
“Ini siapa yang memasak?” tanya David dengan nada marah.
Dengan perasaan sedih, Cindy perlahan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
“Kamu yang memasaknya?” tanya David memastikan.
“Cindy payah ya? Masak saja tidak bisa.” Cindy yang sudah terlanjur kecewa menangis dimeja.
Melihat Cindy tiba-tiba menangis, membuat David merasa bersalah. David pun berusaha menghibur Cindy dan kembali memakan cumi buatan Cindy, walaupun rasanya sangat asin.
Cindy mencoba untuk menghentikan David yang terus mengunyah masakan yang ia buat, namun David bersikukuh menghabiskannya hingga tak tersisa.
“Ternyata tidak buruk. Lain kali tolong buatkan aku menu makanan yang lain,” pinta David.
Mama Ratih melongo melihat bagaimana David sanggup menghabiskan masakan Cindy yang bisa dikatakan sangat asin itu. Dari sikap David yang menghabiskan semuanya tanpa sisa, Mama Ratih langsung paham kalau Putranya begitu mencintai Cindy.
*****
Didalam kamar.
“Soal perkataan Mama tolong jangan diambil hati ya. Sebagai putranya, aku mewakili Mama dan meminta maaf,” ucap David meminta maaf soal ucapan Mama Ratih dimeja makan.
“Paman santai saja. Cindy sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Mama. Orang tua mana yang tidak senang bilang memiliki cucu? Begitu juga dengan Mama Ratih,” balas Cindy santai.
David tertegun dengan ucapan Cindy. Perkataan Cindy terdengar sangat bijak dan hal itu cukup membuat David kagum.
“Cindy yang seharusnya minta maaf karena Paman malah makan....”
“Ssuutt... jangan diteruskan. Bagiku masakan kamu adalah yang terbaik.” David menyentuh bibir Cindy dengan telunjuknya seraya menatap lekat mata indah Cindy.
Sekali lagi Cindy diam mematung. Tatapan David padanya seperti sihir yang memabukkan.
Perlahan Cindy menutup matanya dan merasakan ada sesuatu yang basah sekaligus hangat menyentuh bibirnya.
Cindy belum pernah merasakan hal aneh itu. Rasanya sangat candu dan membuatnya ingin terus merasakan rasa aneh itu.
“Aahh...” Cindy berteriak, tersadar bahwa ternyata ia dan David telah melakukan hal diluar kendali mereka.
“Ada apa, Cindy? Apa aku tak boleh menciummu?” tanya David karena baru saja mereka berdua berciuman dan Cindy terlihat sangat menikmatinya.
Cindy mundur secara perlahan seraya menyentuh bibirnya.
“Asal Paman tahu, itu adalah ciuman pertama Cindy,” ungkap Cindy.
Cindy yang masih terkejut hanya bisa berbalik badan membelakangi David. Ia tak menyangka bahwa ia dan David melakukannya.
Ada rasa bangga yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata selama ini Cindy belum pernah berciuman dengan siapapun dan ternyata David menjadi yang pertama.
“Apa kamu menyesalinya, Cindy?” tanya David yang tak berani mendekat.
David tidak ingin suasana semakin canggung dan berharap Cindy tidak mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi.
Cindy yang masih berdiri membelakangi David hanya bisa diam. Gadis itu masih terkejut dengan yang baru saja terjadi.
Rasa ketertarikannya kepada David membuatnya hampir hilang akal. Namun, Cindy juga harus sadar diri kalau dihati David masih ada Renata.
“Cindy, maaf.” David hanya bisa meminta maaf atas kelakuannya yang diluar batas.
“Maaf untuk apa?” tanya Cindy.
“Karena telah menciummu. Tidak seharusnya aku melakukan hal itu kepadamu,” jawab David.
“Bisakah Paman tinggalkan Cindy sendirian dikamar?” tanya Cindy meminta David pergi.
“Baiklah. Sekali lagi aku minta maaf.”
David berbalik dan pergi meninggalkan Cindy sendiri dikamar.