Sayangnya mereka sepupu, jadi perasaan yang muncul harus dipendam dan berusaha untuk menghilangkan. Walaupun sangatlah sulit bagi Liam untuk melupakan sepupunya yang memang telah di hatinya sejak dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Liburan
Hari libur sekolah telah tiba, Violet mengikuti keluarga nya untuk berlibur ke Bali. Mereka menginap di salah satu Villa pribadi keluarga Handoko. Hari biasanya mereka sewakan untuk para wisatawan sebagai salah satu bisnis mereka juga.
Semuanya ikut kecuali Halim yang tidak bisa karena tidak bisa libur. Kemungkinan dia akan menyusul kalau sempat. Sebagai dokter muda memang tidak gampang mengambil cuti seenaknya. Lagi pula dia juga bersiap untuk mengambil spesialis makanya sangat sibuk sekali.
"Kasihan abang Halim, padahal dia yang pingin banget ke Bali. " kata Violet saat mobil untuk perjalanan menuju penginapan setelah turun dari pesawat.
"Makanya gue nggak mau jadi dokter. " Sahut Hakam dengan posisi menyender di bahu pacarnya yang baru, namanya Laura.
Memang semuanya berpasang-pasangan, kecuali Liam dan Violet. Yang hubungannya tidak diberikan nama sepasang. Karena mereka tidak mau pacaran.
"Ya otak lo nggak nyampe soalnya!" sarkas Liam, membuat Hakam langsung melotot.
"Hakam Liam! pokoknya kalau liburan jangan ribut! Bunda capek, mau healing bukan menghadapi kalian berantem! " Bentak Lina yang merupakan peringatan bagi mereka yang sering ribut.
Keduanya langsung mengangguk setuju tanpa protes.
*
Tiba di Villa mereka menempati kamar masing-masing dengan yang tidak terpisah hanya Handoko dan Lina saja. Liam dengan Hakam, Violet dengan Laura. Sedangkan Vino dan Naya menempati kamar sendiri-sendiri. Menyediakan kalau Halim dan pacarnya datang nantinya.
Tapi sebelum tidur Hakam datang ke kamar yang ditempati Violet dan Laura, dia ada niatan ingin tidur disitu.
"Vio, boleh ya abang tidur disini. Lo sama Liam aja ya? " Begitulah niat Hakam, yang ingin satu kamar dengan pacarnya.
Violet terkejut mendengar permintaan kakak sepupunya itu. "Jangan gila deh bang, kalau ketahuan ayah sama bunda bisa habis nanti kamu. "
"Ya jangan sampai tahu lah adek ku yang paling cantik dan paling abang sayang. " Bujuk Hakam dengan memuji Violet.
"Huh, nggak mau! " Violet tidak mau begitu saja menerima permintaan Hakam.
"Lagian, lo sama Liam juga sering tidur bareng. Udah deh nggak masalah ya? " Hakam malah ke situ.
"Bukan gitu bang, kan kalian belum boleh tidur bersama. Belum halal tau! " teriak Violet mengingatkan.
"Aelah, itu ceramah bunda ngapain lo pakai." balas Hakam tidak mau dengar.
"Ya emang bener kan? "
"Ayolah Vio, abang mau dipijit dulu sama Laura. Cuma semalam aja ya adekku... " Bujuk Hakam tanpa menyerah.
Violet menghela nafas, dia mengangguk terpaksa.
"Tapi jangan sampai ketahuan, kalau ketahuan bisa-bisa habis sama bunda nanti. "peringatan Violet sambil menunjuk dengan jarinya.
"Tentu saja dong dek, kan abang nanti yang rugi. " Hakam melompat senang, adiknya setuju ide nya.
Violet pun menyeret koper ya ke kamar sebelah.
Begitu tiba di kamar itu Liam terkejut ada Violet yang masuk kamarnya karena posisinya sekarang cuma pakai handuk di bagian bawahnya saja habis mandi.
Violet sampai melotot ketika memandangi pemandangan indah itu.
"Ngapain kamu masuk kamar ini? Kamar kamu yang disebelah Vio! " Teriak Liam, yang malu. Habis mandi sudah dilihat sama cewek yang ia suka i.
Violet meletakkan kopernya lalu duduk di tempat tidur. "Aku tidur disini. "
"Apa? " Bukannya senang bisa satu kamar dengan cewek yang disayang malah terkejut.
"Abang Hakam mau tukeran, dia mau tidur sama pacarnya. Maksa gitu, gimana menurut abang? Nggak apa-apa kan aku tidur sama abang? " Violet menjelaskan.
Liam jadi salah tingkah sendiri diajak tidur bareng. "Nggak masalah sih, tapi kan nanti kalau ketahuan ayah sama bunda gimana? "
"Ya jangan sampai tahu. " imbuh violet.
"Oke deh, abang sebenarnya seneng bisa sama kamu terus. " Liam tersenyum, mendekati Violet.
"Yeee, tapi jangan modus! " Violet mengacungkan jari telunjuknya.
"Emang nggak boleh? Ya udah abang modusin cewek lain aja kalau gitu. " goda Liam, nyengir.
"Ishhhh jangan dong... "
"Udah abang bilang jangan bilang ishhhh,bawaannya tuh gemes. " Liam makin mendekat, hendak mencium Violet.
"Abang pakai celana dulu sana! entar melorot gimana? " Violet menarik badannya ke belakang agar lebih jauh.
"Ya kalau kamu mau lihat nggak apa-apa. " Liam semakin mendekat, untuk menggoda Violet.
"Ishhhh udah pernah lihat, kecil kan? " Violet mendorong Liam agar menjauh darinya. Karena sebenarnya jantungnya tidak baik-baik saja dalam keadaan seperti ini.
"Kapan? " Liam melotot mendengar ucapan Violet yang mengejutkan.
"Iya kan, pas waktu abang sunat dulu itu. Vio lihat kok. " Violet sekarang bisa berdiri dan menjauh dari Liam
"Itukan pas abang masih kecil, sekarang ya beda lah Vio... " Liam menjelaskan, sedikit frustasi dibilang kecil.
"Masa? " goda Violet, mendekati kopernya ingin mencari pakaiannya.
"Aduh, malah tegang ini. Udah! " Teriak Liam, lalu menyahut pakaiannya yang telah ia siapkan tadi, lalu berlari ke kamar mandi.
*
Mereka kemudian tidur bersama malam ini,dengan pasangan masing-masing. Tanpa diketahui oleh Ayah dan Bunda nya. Vino pun juga menyelinap masuk ke dalam kamar Kanaya.
Di kamar Liam, Violet sudah tidur duluan karena kecapean di jalan tadi. Padahal mau diajak bermesraan dulu malah tidur duluan. Jadinya Liam hanya bisa memeluk dari belakang saja.
Ini sungguh sangat menyenangkan bisa sedekat ini dengan cewek yang ia cintai. Tentu saja namanya juga cowok normal, dia tidak akan diam saja tangannya.
Hingga membuat Violet terganggu tidurnya.
Violet merasakan ada yang membuat dia kegelian, dan ada sensasi aneh jadi dia terbangun. Sebenarnya tidaklah terkejut pasti itu perbuatan Liam, hanya saja dia belum pernah mendapatkan sentuhan seperti itu selama ini.
"Abang... " Violet membenarkan posisi tidurnya dengan berbaring.
"Kenapa bangun? tidur aja. " ucap Liam lembut.
"La kamu gangguin aja, kan geli. " Rengek Violet.
Liam tersenyum, "Tapi enak kan? "
Violet merasa malu mau menjawabnya, jadinya dia hanya diam.
"Dan hanya abang yang boleh nyentuh kamu, tidak ada yang boleh melakukannya selain abang, oke? " pesan Liam sungguh-sungguh. Dia tidak akan pernah rela kalau ada yang menyentuh gadisnya ini.
Violet hanya mengangguk setuju.
Kemudian mereka berciuman dengan menyalurkan cinta mereka.
"Tidur lagi aja, abang nggak akan lebih dari ini kok. Kita harus tahu batasnya, jadi kita harus mengendalikannya. Abang sangat sayang Vio, tidak mungkin abang rusak sendiri. Abang akan berusaha menjaganya sampai kita halal." Liam menghentikan perbuatan Violet yang terbawa suasana, hingga kalau mereka lanjutkan akan memanas.
"Kita masih muda bang, kok malah ngomongin nikah sih. " Violet sedikit kecewa.
"Siapa juga yang ngomongin nikah. " Liam jadi bingung sendiri, dia kan cuma menghentikan agar tidak kebablasan.
"Lah tadi bilangnya sampai halal, kan itu lama banget kalau nunggu waktu itu. " Rengek Violet.
"Ya iyalah sayang, kamu nggak boleh melakukan itu dengan orang yang bukan pasangan halal kamu. "
Violet tersenyum sekarang,dan mengerti maksud laki-laki ini. "Iya abang, aku ngerti kok."
"Ya udah sekarang tidur! " Liam mengelus kepala Violet.
"Oke abang ku sayang" Violet setuju.
Sekarang Violet yang memeluk Liam, dengan bantalan lengan laki-laki itu. Ini sungguh sangat nyaman buat Violet.
kalo wanita yg lagi emosi bilang pergi itu artinya jangan pergi
kalo bilang baik artinya tidak baik
sama2 harus menahan rasa. nyesek jadinya..
ini tu rasanya mirip kaya marahan ama suami,, sebenarnya kangen rindu tp gengsi kalo mau minta baikan duluan ya kan..
atau q yg salah baca di awal
( saya pernah mendengar seperti ini: td nya sodara (sepupu) abis nikah bermasalah, bercerai malah jd musuhan. sedangkan kl nikah nya sama orang lain kan apabila bercerai ya balik jadi orang lain lagi.. gak rugi.
tp apakah pernikahan melulu harus memikirkan perceraian. harusnya kan mikir gimana biar bahagia, langgeng, barokah rumah tangga nya)