Anindya Basundari terbiasa menjadi tumbal keluarga semenjak perceraian orang tuanya. Kali ini, dia harus menikahi pria lumpuh menahun agar keluarga baru sang ayah tetap bisa makan. Padahal dia telah memiliki tambatan hati, seseorang yang istimewa di masa lalu.
Ketika dipertemukan pertama kali dengan Adyapi Bumandhala, Anin merasa minder karena lelaki itu terlihat tampan dari segala sisi meskipun cacat, sedangkan dia memiliki gangguan mental. Namun, sisi dirinya yang lembut, bergejolak iba. Ingin membantu pria tersebut untuk pulih.
Mereka menerima perjodohan setelah nadzor walaupun tak saling bicara. Disatukan oleh persamaan nasib, mungkinkah keduanya memiliki kisah masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. JUMPA AMANDA
"Neng!" balas Asnawi, menghapus genangan yang mengaburkan pandangan. Dia berlari kecil menyongsong wanita di hadapan.
"Kangen Bapak," sambung Amanda, memeluk sejenak satu-satunya pria renta yang dia segani di rumah ini. "Maafin Manda, ya," ucapnya lagi.
Asnawi melerai pelukan mereka, lalu mengelus punggung keponakan jauhnya itu. "Nggak apa, sudah. Jangan diingat, yang penting Neng sehat. Masuk dulu, yuk," ajaknya sambil menarik koper Amanda.
"Dimana putraku?" tanya Amanda saat dia baru duduk di ruang tamu.
"Rumah sakit, nanti diantar Arno ke sana. Mau makan dulu?" sambung Asnawi. Dia tidak berani menyilakan masuk ke ruang keluarga sebab Amanda bukan lagi mahram Argan.
Amanda menggeleng, dia hanya mampir dan ingin segelas air bening dingin untuk membasahi kerongkongan yang mendadak gersang ketika menginjak bumi Jakarta.
Asnawi pun undur diri guna menyiapkan permintaan Amanda. Sementara wanita itu bangun dari duduknya, memerhatikan interior sekeliling telah banyak berubah. Kemudian, pandangannya terpusat pada foto Ad dan Arno remaja yang terpajang di atas credenza. (meja pajangan yang bisa dipakai sebagai lemari penyimpanan)
Jemari Amanda terulur menyentuh pigura kaca. Dia tersenyum getir mengingat kenangan lampau.
Dulu, dia sering membelikan dan mengantar buku-buku resep masakan atau hasil panen buah dari kebun orang tuanya untuk Asnawi ke rumah ini. Tanpa dia tahu, ternyata Argan muda selalu memperhatikan dirinya dari kejauhan.
Amanda adalah keponakan Asnawi dari pihak kakak dan seorang putri tunggal. Ambisi gadis itu menjadi seorang dokter meski keluarga mereka kurang berada.
Dia getol belajar, mengajar les privat di beberapa lembaga kursus ataupun pribadi, hingga malam. Otaknya memang cerdas sehingga lolos selesai masuk perguruan tinggi kedokteran bergengsi. Namun, orang tua Amanda tidak memenuhi syarat-syarat penting, termasuk ketika diminta membuat Surat Kesanggupan biaya kala itu. Manda muda pun putus asa.
Argan yang sudah jatuh hati terus mendesak orang tuanya untuk melamar Amanda. Gayung kemudian bersambut, gadis itu belum mencintai Argan tapi dia ingin memanfaatkan kekayaan sang suami untuk menunjang pendidikan kedokterannya.
Keduanya lantas menikah, tapi Argan tak mengizinkan Amanda menempuh pendidikan dokter karena terlalu lama. Namun, Amanda bersikukuh dan mencoba segala cara hingga mendulang kegagalan kedua. Bahkan tidak lulus seleksi awal hingga akhirnya frustasi, mogok bicara. Untuk menghibur sang istri, Argan menawarinya untuk menjadi seorang suster.
Bersamaan dengan itu, Amanda hamil Adyapi. Argan baru menyadari bila Istrinya seorang workaholic bahkan Ad nyaris lahir prematur sebab kesibukan kuliah kala itu. Amanda yang terobsesi pada karir berubah menjadi pembangkang. Mereka bertengkar hampir setiap hari, tiada yang dapat mendamaikan keduanya bahkan penasihat perkawinan.
Argan menuntut istrinya diam di rumah sementara Amanda menagih janji Argan yang bersedia mendukungnya pasca melahirkan dan diterima kerja. Dilalahnya dia terpilih mendapat beasiswa ke Australia. Demi mewujudkan cita-cita serta pembuktian pada Argan bahwa dia bisa, Amanda lantas meninggalkan Adyapi kecil dengan sang suami.
Paling fatal dari hubungan mereka adalah ketika Argan teledor dan tidak tahu jika Adyapi mengidap alergi yang hampir mengancam nyawa. Amanda meluapkan amarah lalu membawa Ad serta pindah ke Australia.
Keduanya saling berebut hak asuh hingga berujung perceraian. Kehidupan perkawinan mereka menciptakan kenangan buruk tentang sebuah pernikahan, komunikasi antar pasangan yang tidak berjalan baik juga minimnya keharmonisan, terekam dalam benak Adyapi hingga dia beranjak dewasa.
"Neng." Suara Asnawi membuyarkan lamunan Amanda. Dia datang membawa baki berisi minuman dingin juga cemilan.
"Pak, Manda dulu bodoh, ya. Punya Mas Bumi dan Ad tapi di sia-siakan."
"Pantas bila Manda menerima ganjaran harus pisah dari Ad selama puluhan tahun. Tapi, Tuhan masih baik, Ad nggak benci Manda padahal tabiat ibunya buruk," cicit Amanda, menunduk sembari mengusap foto Adyapi.
"Kan Den Ad itu sempet ikut kamu lama di Aussie, sekolah juga. Dia bisa menilai kepribadian ibunya kayak apa. Jangan lagi nyalahin diri sendiri," tutur Asnawi sembari mengusap bahu keponakannya itu.
Asnawi ingat betul, dampak perceraian mereka terhadap mental Amanda. Kuat tapi rapuh, itulah Amanda, dia pun hancur. Manda menderita insomnia, bahkan sempat mengkonsumsi obat penenang hingga membuat Argan menjauhkan Adyapi padahal belum lama mereka tinggal bersama.
Dia marah, tapi Argan bersikukuh merawat Ad. Argan Bumi juga melarang Amanda bertemu Ad sebagai hukuman karena perangainya yang buruk. Dia berontak tapi seketika luluh kala melihat Ad menangis dan memintanya menemui sang anak dengan sosok yang baru.
Amanda mulai menerima kesalahan, konseling bahkan meredam hasrat berjumpa dengan putranya dengan mengaji. Akhirnya sebuah tawaran pekerjaan di rumah sakit Singapura mengalihkan rasa penyesalan Amanda. Dia bangkit menata hidup di sana sebagai seorang suster kepala. Termasuk diam-diam mencari tahu kabar Adyapi.
"Ternyata sukses tanpa didampingi keluarga dan orang-orang tersayang itu nggak ada maknanya, ya," sesal Amanda. Dia duduk kembali dan menyesap sajian yang disiapkan Asnawi.
"Tetep ada, Neng meski kurang," jawab Asnawi iba. "Mau nginep dimana? pulang?" tanya sang paman, duduk disampingnya.
"Enggaklah, rumah itu 'kan sudah dibagi waris. Aku nggak punya tempat di Jakarta, palingan nginep di hotel," balas ibu kandung Ad, meletakkan cangkir ke tempat semula lalu mulai memesan ojol.
Asnawi seketika menatap prihatin, Argan memiliki rumah warisan yang luas sementara Amanda terkatung-katung di Jakarta. Tapi apalah daya, ini adalah jalan hidup yang mereka pilih.
Sang paman lantas memberikan alamat rumah sakit Adyapi sebab Arno belum pulang. Putranya itu ikut sibuk mengurus Bumiland Jaya semenjak Ad kritis.
"Pamit ya, Pak. Nanti Manda mampir kalau mau pulang," lanjutnya lagi, sembari menarik kopernya keluar setelah taksi online pesanan hampir tiba.
Dia mengantar keponakan rasa majikannya hingga gerbang dan melihat kepergian Amanda setelah melambaikan tangan. "Hati-hati, Neng."
Selang beberapa menit kemudian, mobil Argan masuk ke pelataran ketika Asnawi berjalan hampir menyentuh teras. Pria kharismatik itu turun dan menghampiri sang kepala asisten.
"Siapa tadi, Pak? ... Lingga bukan?" tanyanya saat menapaki undakan teras.
"Neng Manda, Tuan," jawab Asnawi, sambil berjalan bersisian dengan Argan.
Argan berhenti. "Kenapa nggak ditahan? kamar di sini banyak," decak Argan, melirik kecewa padanya.
"Ya 'kan bukan mahram." Asnawi lantas mengatakan bahwa ada berkas yang Arno tinggalkan di atas meja. Dia juga berpesan bahwa hanya Argan yang dapat mengajukan laporan sebab Adyapi belum sanggup mengurus semua itu.
"Apalagi?"
"Di cek saja." Asnawi lalu membungkuk pergi ke kamarnya.
Argan mengangguk, urusannya dengan Agung selesai sudah. Lelaki itu telah memaafkannya. Dia lalu masuk ke ruang kerja guna melihat map yang Asnawi maksud.
Baru juga duduk, Argan dikejutkan oleh bukti foto-foto yang membuat darahnya mendidih. Pria itu menggeram dan menggebrak meja. Penyesalannya kian bulat.
"Kurang ajar!" gumamnya, meremas kertas kosong dari atas meja.
Argan lalu menghubungi pengacaranya lagi, mengatakan bahwa ada urusan penting yang harus segera dikerjakan esok pagi.
...***...
Amanda mengurungkan niat untuk beristirahat. Setelah meletakkan koper di kamar hotel dan berganti baju, dia langsung turun ke lobby lalu menyewa ojol ke rumah sakit.
Langkahnya panjang dan tergesa menuju ICU tapi ketika sampai di sana, suster bilang pasien atas nama Adyapi baru saja dipindahkan ke ruang perawatan khusus di lantai lima. Amanda pun bergegas ke sana.
Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata kala dia berdiri di depan pintu kamar. Perlahan jemarinya terangkat mengetuk panel dan tak lama, muncul sosok ayu dari dalam.
Amanda tersenyum. Air matanya lebih dulu menetes di pertemuan pertama dengan sang menantu. "H-haiii Anin sayang. Ini mama Manda," ucapnya terbata meski bibir tak surut mengembang. Dia merentang lengan, berharap Anin memeluknya.
Iris mata Anindya melebar, ingin menghambur memeluk tapi suara lemah Adyapi menahannya. "Siapa, Dek?"
"Ma-mama. Mamanya Abang," gumam Anin, ragu-ragu mendekat. Namun, Amanda menariknya hingga tubuh mereka melekat.
Bukan hanya netra kedua wanita yang berembun. Dada Adyapi pun bergemuruh hingga dia merasakan panas mulai memupuk di pelupuk mata.
.
.
...________________________...
Selamat Anin bakal jadi ibu, sehat sehat bumil sayang
Ayo para Duda semangaaatttt lupakan masa lalu..Move On 🤣🤣🤣🤣
alhamdulillah bangg ad udah bisa berdiri wlaupun pake tongkat mak lampir😅😅
kebahagiaan menghampiri kalian yang sabar akan semua cobaan...
selamat berbahagia untuk kalian bangg ad dan anin😍😍😘😘😘
ehh mom itu kisah mma manda gimana 🤔🤔
ada mas Arno 🤦