(Season dua dari novel Broken Marriage)
Menikah lagi bukan prioritas untuk Alana yang sudah menjanda dua kali, penderitaan yang dialami menyisakan trauma mendalam baginya yang merasa tak akan pernah bahagia dalam ikatan tersebut. Banyak pria yang datang mendekat, namun Alana mengacuhkannya.
Lalu bagaimana jika kedua mantan suaminya kembali datang menawarkan cinta dan sebuah ikatan pernikahan.
"Kali ini biarkan aku berjuang demi cintaku, dan jangan pernah tinggalkan aku." (Gabriel Askara)
"Maafkan aku, aku menyesal telah menyiakanmu di masa lalu, betapa bodohnya aku." (Bayu Adiyaksa)
"ALANA, MENIKAHLAH LAGI DENGANKU!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bayu berdehem saat memasuki ruang rawat Gabriel, melihat Alana dan Gabriel yang bercengkrama membuatnya cemburu, tentu saja, sudah jelas jika Bayu menginginkan Alana, dan pastinya saat melihat Alana sedang asik dengan saingan cintanya membuat Bayu cemburu. Tapi saat ini Bayu menyadari satu hal, jika dia tidak pernah ada di hati Alana, "Bagaimana keadaanmu?" tanya Bayu pada Gabriel.
Gabriel tersenyum "Aku baik, dan terimakasih sudah menolongku," ucap Gabriel dengan tulus.
Bayu mengangguk "Rian sudah di tahan, dan berkat informasi dari Lana, polisi menemukan jasad beberapa wanita di belakang rumahnya." Alana bergidik ngeri, ternyata Rian benar- benar gila, beruntung jika dirinya tidak jadi korban Rian selanjutnya.
Gabriel menggenggam tangan Alana, "Semuanya sudah berakhir, dan kamu baik- baik saja." ucapan Gabriel berhasil menenangkan Alana.
"Aku datang, untuk berpamitan," ucap Bayu dengan tersenyum kepada Alana. "Mulai sekarang aku tidak akan mengganggu kalian lagi."
"Aku tahu, meskipun kamu belum memilih tapi sejak awal dalam persaingan ini tidak ada aku, ini hanya persaingan antara Gabriel dan ego kamu saja." Alana tertegun.
"Jadi sejak awal aku tahu jawaban kamu, jadi Lana semoga setelah ini kamu bahagia." Alana menatap haru pada Bayu.
"Dan kau," katanya pada Gabriel. "Jangan sampai kau menyakiti Alana, karena jika tidak, aku tidak akan mengampunimu, atau bahkan menyerah lagi lain kali."
Gabriel terkekeh "Tidak, aku tidak akan memberikan kesempatan pada orang lain, lagi."
Alana mencebik "Aku belum memilih kamu."
Gabriel mengecup tangan Alana yang sejak tadi di genggamnya "Ini adalah tanda kalau kamu memilihku." lagi, Gabriel mengeratkan genggamannya.
Bayu menunduk, lalu berbalik dan pergi.
Melihat punggung Bayu menjauh Alana menatap Gabriel "Bolehkah aku mengantarnya dulu?" tanya Alana pada Gabriel.
Gabriel tersenyum lalu bergumam "Hmm." Alana segera keluar dan mengejar Bayu.
"Mas Bayu."
Bayu menoleh dan mendapati Alana di belakangnya "Aku belum berterimakasih." Bayu melihat senyuman tulus dari Alana.
"Terimakasih sudah menolong kami, dan terimakasih juga karena sudah mau mengerti." Bayu tersenyum masam, benar bukan sejak awal Alana tidak mengharapkannya.
"Aku yakin suatu hari nanti kamu akan mendapatkan wanita yang baik." doa Alana dengan tulus.
Bayu mengangguk "Terimakasih atas doamu, pergilah tak perlu mengantar ... Jangan biarkan Gabriel cemburu padaku, atau aku tidak akan hidup tenang."
Alana terkekeh lalu melambaikan tangannya dan di balas dengan Bayu yang melakukan hal yang sama.
Alana masih melihat punggung Bayu namun kali ini perasaannya jauh lebih ringan, dan Alana menyadari satu hal sekarang mengikhlaskan adalah jalan yang terbaik.
***
Gabriel sudah di perbolehkan pulang setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, pria itu sudah terus merengek seperti anak kecil dan berkata jika dia merindukan Joana, yang tidak diizinkan datang oleh Daniel, selain karena alasan kesehatan, Daniel tak ingin Joana justru mengganggu Gabriel yang sedang dalam masa penyembuhan, hanya satu kali Joana datang itu pun saat hari pertama Gabriel dirawat.
Saat tiba di rumah Gabriel disambut oleh pekikan Joana, dan bocah itu langsung berlari memeluknya.
"Pelan- pelan, sayang ... Papa masih sakit!" peringat Alana saat melihat Gabriel meringis merasakan punggungnya.
"Maaf, papa, soalnya Ana kangen papa."
Gabriel terkekeh "Papa juga, kangen Ana, makanya ingin cepat pulang." Gabriel mengecup dahi Joana.
"Ayo, biarkan papa istirahat dulu," kata Alana yang baru saja menyimpan barang Gabriel yang di bawa dari rumah sakit ke kamar Joana.
***
Alana disibukan dengan pekerjaannya yang menumpuk, sejak dia menunggui Gabriel di rumah sakit Alana hanya sesekali ke butik, Alana bahkan harus membatalkan beberapa pesanan gaun, sebab dia sendiri tak bisa menghandlenya, sedangkan karyawannya masih sibuk dengan pesanan yang lain.
Jadi malam ini Alana berkutat dengan pekerjaannya, dan membiarkan Gabriel mengurus Joana, sementara Daniel bertugas memasak makan malam, tentu saja setelah insiden nasi goreng asin itu Daniel dan juga Alana tak membiarkan Gabriel memasuki dapur, jadi Daniel mengusulkan diri untuk memasak saja.
Alana merenggangkan tubuhnya, lalu mengeryit saat merasakan suasananya sunyi, Alana melihat jam di dinding, harusnya ini jam makan malam, tidak mungkin Gabriel dan Daniel tidur sebelum makan, kan?
Alana melangkahkan kakinya keluar kamar namun mengeryit saat melihat rumahnya gelap gulita.
"Daniel?"
"Ana?"
"Mas?" Alana memanggil ketiga nama yang ada di rumahnya, tapi tidak ada satu orang pun yang menjawab.
Alana mengeryit lalu melihat setitik cahaya di dapurnya.
"Mas?" kembali Alana memanggil Gabriel, titik cahaya itu ternyata dari lilin yang sengaja di simpan di lantai.
Alana mengeryit saat melihat lilin itu berjejer ke arah halaman belakang, hingga saat tiba di sana Alana di kejutkan oleh Joana yang memberinya sebuket bunga besar "Hei?" Alana menatap bingung, namun dia menunduk saat Joana melambaikan tangannya lalu mengecup pipinya.
Alana tersenyum saat melihat Joana berlari ke arah Daniel yang menunggu di sebelah kiri. Fokus Alana kini jatuh pada seorang pria yang berdiri dengan gagah dengan stelan tuxedo membalut tubuh tegapnya.
Alana terkekeh lalu berjalan mendekat.
"Apa ini?"
Gabriel tersenyum dan membawa Alana ke tengah lilin yang dibuat melingkar dan berbentuk hati. "Hay, Alana ... Dulu aku menikahi kamu dengan cara yang salah, tapi kali ini aku tak ingin mengulang kesalahanku lagi." Gabriel menekuk sebelah kakinya dan membuka kotak cincin yang sudah dia siapkan. "Alana Nathania, Please Marry Again With Me!"
Alana berkaca- kaca, tak menyangka jika di usianya yang bahkan tak muda lagi mendapat kejutan lamaran yang romantis.
"Terima ..."
"Terima ..."
"Terima ..."
Daniel dan Joana yang kini berperan menjadi pemandu sorak bertepuk tangan.
"Ayo mama, Ana juga mau!" teriak Joana.
"Kakak tidak akan tahu kalau kakak tidak mencoba, ya, meskipun aku sedikit tak rela." Alana terkekeh, sementara Gabriel mendengus.
"Dia tidak ikhlas dalam mendukung," cibirnya.
"Terima ..."
"Terima ..."
Kembali pemandu sorak itu berteriak, hingga Alana menggerakkan telunjuknya di mulut "Apa kalian tidak malu di dengar tetangga." lagi pula halaman belakang mereka tidak luas hingga Alana bisa mendengar mereka meski tidak berteriak.
Alana kembali menatap Gabriel yang masih berlutut di depannya "Jadi?" Tanya Gabriel dengan dada yang bergemuruh, menunggu jawaban Alana.
"Apa aku bisa menolak?"
Gabriel terkekeh "Tentu saja tidak." Gabriel menarik tangan Alana lalu menyematkan cincin di jari manis Alana.
Gabriel sengaja menyiapkan kejutan ini untuk Alana mengingat perbuatannya dulu, tentu saja Gabriel akan memperbaiki semuanya dari awal, dan ini adalah awal dari kehidupan baru mereka, beruntung Daniel bisa di ajak kerja sama dan menata semua hingga menjadi seromantis mungkin.
Sematan cincin di akhiri dengan Gabriel yang mengecup tangan Alana, dan membuat suasana semakin romantis.
Pemandu sorak kembali bertepuk tangan kali ini di sertai terompet dan letusan petasan yang membuat Alana dan Gabriel terkejut.
"DANIEL!!!" teriak Alana. Daniel tertawa setelah berhasil membuat Gabriel dan Alana terkejut, untuk yang satu itu Gabriel benar- benar tak tahu.
****
Yang nungguin Anggun, mohon bersabar ya, aku mau fokus ke sini dulu sekarang.
semangat berkarya😍😍
setangkai bunga mawar untuk author 🌹