Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Bening tersenyum riang mendengar ucapan suaminya, ia beranjak dari tempat duduknya menghampiri Surya, dan menggenggam tangannya. "Boleh kau ceritakan secara detail apa bayang-bayang dalam pikiranmu?"
Permintaan itu begitu mengejutkan Surya, ia sudah berusaha berterus terang kepada Bening, namun masih ada beberapa bagian yang tidak bisa ia ungkapkan. Surya tidak bisa menatap Bening, apa lagi mengungkapkannya.
Mendadak Bening menangkup wajah Surya. "Aku tidak takut dengan bayang-bayang itu, Surya. Tidak ada bagian dari dirimu yang aku takuti."
Surya memejamkan mata, dan menelan ludah dengan susah payah. "Surya," bisik Bening dengan suara yang begitu lembut. "Ceritakan padaku, sayang,"
"Bening, kumohon. Jangan mendesakku, aku sudah berusaha sejujur mungkin padamu."
Bening menggeleng. "Tapi aku berhak tahu kau membayangkan apa tentang diriku..."
"Kau terlalu polos untuk mengetahuinya, Bening."
Bening menjauhkan diri dari Surya, namun tatapannya masih tertuju pada Surya. "Aku memang polos, tapi aku pernah mendengar cerita-cerita tentang bd5m."
"Dari mana kau mendengarnya?" tanya Surya sembari berjalan masuk meninggalkan balkon di ikuti Bening dari belakang.
"Internet."
"Dengarkan aku, Bening!" Surya berbalik menghadap istrinya. "Aku menginginkanmu dengan cara yang mungkin saja bisa menyakitimu."
"Kamu tidak pernah menyakitiku, Surya. Ketakutan dalam pikiranmu itu tidak nyata."
"Tapi dalam bayanganku, aku menyakitimu."
Dahi Bening berkerut samar, seolah memahami perkataan Surya. Bening melangkah ragu mendekati Surya. "Katakan saja semuanya dengan detail."
Darah Surya begolak karena hasrat, ia menghela napas beratnya sembari mengepalkan tangan erat-erat. "Aku membayangkan kau terikat dengan mulut tersumpal," ucap Surya datar. "Kau tidak bisa bergerak ataupun bicara."
Bening terdiam sesaat. "Apa aku berpakaian?"
"Awalnya, tapi kemudian aku melepaskan pakaianmu dan membaringkanmu di atas tempat tidur." Surya menelan ludahnya dengan susah payah, pikirannya di penuhi bayang-bayang tersebut.
Dada Bening terangkat. "Teruskan," ujarnya.
"Tangan... Tanganmu terikat di atas kepala," ujar Surya seraya menujuk tangan Bening.
Bening menggigit bibir bawahnya. "Lalu?"
"Lalu aku melepas ikat pinggangku," Surya mendengar Bening terkesiap pelan.
Bening mendekatkan wajah ke wajah Surya. "Untuk menyakitiku?"
Bibir Surya menyentuh pelipis Bening. "Tidak. Untuk memberikamu kenikmatan yang sempurna, namun aku takut dalam kobaran gairahku aku akN menyakitimu."
Bening terdiam hingga membuat Surya berpikir wanita itu marahnya, tapi kemudian Bening meraih ikat pinggang Surya dan melepaskannya. "Tunjukan padaku," ucap Bening sembari memberikan ikat pinggang itu pada Surya.
"Bening, jangan...!"
"Surya Magenta, aku lebih suka suamiku begitu menginginkanku sampai dia takut menyakitiku, dari pada dia tidak menginginkanku sama sekali." Bening meraih tangan Surya dan memaksa pria itu menerima ikat pinggangnya.
Bening mengulurkan tangan ke belakang, dan mulai membuka resleting gaun yang di kenakannya. Ia menurunkan gaun dari bahu, lalu melangkah keluar dari gaunnya. "Sekarang tunjukan padaku!" ucapnya lagi.
Surya mencengkram sabuknya erat-erat, lalu mengibaskannya ringan ke p*yudara Bening.
Bening menunduk, melepas pengait b*anya. B*a itu jatuh ke lantai, dan sekarang Bening berdiri di hadapan Surya tanpa busana. Hal itu membuat Surya hilang akal, ia jatuh ke dalam lubang gairah. Surya menyusurkan sabuk melintasi tubuh Bening, dan mengibaskan ringan.
Bening tersenyum menggoda Surya, membuat Surya semakin tertantang dan mencob-coba mencambuk bo*ong Bening. Bening sedkit tersentak ketika Surya melakukannya, ia melemparkan tatapan panas penuh gairah.
"Bagaimana rasanya, Nyonya Magenta?" tanya Surya, kembali menyentuhkan sabuknya ke tubuh Bening.
"Menarik," sahut Bening.
Surya melangkah ke belakang Bening, meletakan tangan di pinggang Bening, dan menunduk, ia menggigit bahu istrinya dengan lembut. "Sentuh dirimu sendiri!" perintah Surya.
"Apa?"
Surya kembali mengibaskan sabuk agak lebih kencang di payuda*a Bening. "Bukankah tadi kau mau tau bayangan yang ada di pikiranku? Sekarang, sentuh tubuhmu sendiri!"
Dengan ragu Bening melakukannya, meski hanya gerakan sederhana namun Surya bisa merasakan jemari Bening seolah jemarinya.
Surya meraih tubuh Bening, ia menyusurkan tangan di tubuh bagian samping Bening. Kemudian ia meraih kedua tangan istrinya dan mengikatnya dengan dasinya. Mata Bening berkilat-kilat, dengan senyum menawan yang menggoda.
Surya menyapu rambut Bening yang berada di wajahnya ke belakang. "Kau membuatku takjub, sayang," bisiknya. Ia membalik tubuh Bening, lalu mengayunkan sabuk ke tubuh istrinya.
Bening mengerang, entah karena kesakitan? atau kenikmatan? Sesaat Surya panik, tapi kemudian Bening berbalik dan menatapnya. "Kau lihat, Sayang?" ucap wanita itu selembut sutra. "Kau sama sekali tidak menyakitiku."
Surya mengangkat pandangan menatap mata Bening, ada begitu banyak bayangan, dan semuanya sangat menggairahkan melintasi otak Surya. Pria itu kembali mengayunkan sabuk di tubuh Bening, kemudian melemparnya ke samping. Surya nyaris tidak bisa menarik napas, seolah ada api yang menyala di dadanya.
Surya merasa sangat bersemangat, ia mendorong tangan Bening yang terikat ke atas kepalanya. "Sekarang kau pejamkan matamu!" perintah Surya kembali.
Bening melakukan yang Surya minta. "Kau dilarang membuka mata," ucap Surya. Ia meraih dagu Bening dan mendekatkan bibirnya ke bibir Bening "Apa kau takut?"
"Tidak."
Surya berjalan ke arah meja untuk mengambil madu, lalu kembali ke Bening dan mencelupkan jemarinya ke wadah madu. Surya mengoleskan madu ke bibir Bening, lalu membuat garis menuruni punggung wanita itu menuju pinggul, ia juga mengoleskan madu pada kulit Bening yang memerah tempat ia mencambuk istrinya.
Untuk sesaat Surya mengamati Bening, kemudian ia menjulurkan lidahnya, merasakan manisnya madu yang berada di tubuh istrinya. Rasanya begitu mendebarkan bagi Surya, ia juga bisa merasakan tubuh Bening yang bergetar.
Surya terus menelusuri tubuh Bening hingga ke pinggul, hingga Bening berkata. "Lepaskan aku!"
Surya tersentak, ia merasa bertindak sudah terlalu jauh, dan sekarang ia menyesal atas apa yang telah ia perbuat. Dengan cepat Surya melepaskan ikatan tangan Bening. "Maafkan aku, aku sudah bertindak..."
Bening berdecak, ia mengambil wadah madu kemudian mencelupkan jemarinya, dan mengoleskan ke tubuh Surya, seperti yang pria itu lakukan kepada dirinya. Surya tersenyum dan menghembuskan napas leganya, ia kemudin melepas seluruh pakaiannya.
"Kau sungguh luar biasa, sayang," Surya menarik tubuh Bening dan melakukan penyatuan, ia menciumi bibir istrinya tanpa henti, hingga Bening mencapai puncaknya dengan memekik keras, dan Surya merasa terjatuh terjungkal dalam kenikmatan.
Beberapa saat kemudian setelah pikiran Surya sudah berangsur pulih, ia menarik bening dalam pelukannya. Bening menciumi pipi Surya, menjilat sisa madu yang menempel, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Surya.
Surya mengelus rambut Bening, perasaannya tumpah ruah dan takjub atas apa yang baru saja terjadi di antara mereka. "Tidak ada yang perlu di takutkan kan? semuanya hanya butuh komunikasi dan kesepakatan."
Surya mengangguk setuju. "Kesepakatan. Aku tidak ingin bertindak terlalu jauh yang bisa membahayakan dan menyakitimu," ucap Surya. "Aku akan tetap melanjutkan terapiku, walau tidak menyembuhkan secara total tapi setidaknya mengurangi. Terima kasih sudah memahamiku," ia mengecup puncak kepala istrinya.
...****************...
Hi guys,
Terima kasih sudah membaca novel ini, semoga kalian suka dengan ceritanya. Aku ingin menginformasikan jika hari Rabu Salah Sasaran tidak up, dan akan up kembali di hari jum'at siang. Tapi untuk novel Secret Love, akan di usahakan up setiap hari.
Sekali lagi terma kasih sudah membaca 😚
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka