Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Setelah melawan reaksi tubuhnya sendiri yang langsung kaku mendadak karena Keandra di depannya. Pada akhirnya Jeviza berhasil menggerakan bibirnya, ia berusaha sebisa mungkin agar nada suara terdengar tenang, tidak segugup hatinya yang masih bertalu-talu di dalam sana. "Di-suruh sarapan ke bawah."
Jeviza langsung berbalik badan, langkahnya begitu cepat meninggalkan Keandra yang masih terdiam di tempatnya, menatap kepergian Jeviza dengan sudut bibir tertarik ke atas.
"Lucu," satu kata singkat yang bisa mewakili seorang Jeviza di mata Keandra saat ini.
Tiba di kampusnya. Jevi sengaja tidak langsung menemui teman-temannya, setelah mobil Arlo pergi, Jeviza justru sengaja berjalan menuju ruangan yang tidak mungkin akan dituju ketiga temannya, ruangan musik.
Di sana masih sepi, tidak ada orang sama sekali, Jeviza pun merasa seperti orang yang tersesat dengan ruangan asing yang sebenarnya bukan tujuannya. Ia melihat-lihat di sekitar ruangan, terdapat alat musik lengkap di ruangan tersrbut, lalu duduk diam menatap gitar berwarna coklat muda di sana. Mata Jevi menyipit saat melihat nama yang tertera pada gitar tersebut. Nama yang tidak asing bagi Jeviza, dan bahkan memenuhi otaknya beberapa saat lalu.
Jeviza mendekat, ia terdiam di tempatnya saat tulisan kecil yang tertera pada gitar tersebut semakin jelas ia baca.
K Nabastala
Tidak salah lagi, itu gitar milik Keandra, tetapi setahu Jeviza, Keandra tidak ikut kegiatan musik atau band di kampus, cowok itu menjabat sebagai ketua BEM yang jadwalnya terlampau sibuk.
"Suka musik?"
Jeviza terperanjat mendengar suara dari belakangnya. Ia menoleh dan tersenyum kikuk melihat seorang mahasiswa yang tidak pernah Jeviza lihat berdiri di sana.
"Maaf, kak. Gue nyasar tadi," alibinya.
Cowok itu mengangguk pelan, lalu melangkah semakin dekat pada tempat Jeviza berdiri sekarang. "Lo mau kemana?"
Jeviza bingung sendiri mencari alasan, ia tidak benar-benar kesasar karena tujuannya memang ruangan itu, ruangan yang tidak mungkin akan ditemukan teman-temannya.
"Nyari temen, kalau gitu, duluan ya kak," pamitnya langsung pergi begitu saja.
Sementara cowok yang masih di ruangan itu diam, menatap kepergian Jeviza dengan tenang, lalu beralih pada salah satu gitar yang sedari tadi ditatap oleh Jeviza. Sebuah senyuman tipis terpatri di wajahnya. Lalu membenarkan letak kaca mata bening yang membingkai wajahnya.
Sementara di lain tempat. Kean baru saja datang di warung koh amat, seorang laki-laki setengah abad yang tidak mau disebut pak, alasannya cukup masuk akal, beliau belum menikah apa lagi mempunyai anak, laki-laki asli jawa tapi memiliki mata sipit seperti orang cina itu meminta untuk dipanggil dengan sebutan "koh".
"Nah, ini dia, target sudah datang," seru Gio melihat kedatangan Kean.
Kean duduk di sebelah Bian. Lalu memesan air mineral pada koh Amat. "Koh, satu ya?"
"Siap mas Kean."
Janu yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya kemudian ditutup, pandangannya menelisik wajah Kean seakan sedang mencari jawaban.
Kean paham, sudah pasti karena berita akun gosip kampus. Cowok itu sudah siap dengan segala rentetan pertanyaan teman-temannya.
"Yang di base, lo sama gebetan gue?" tembak langsung Janu pada intinya.
Gio yang sedang minum langsung tersedak, sementara Bian yang sedari tadi cuek langsung menoleh pada Kean, seakan ikut penasaran dengan jawaban Kean sendiri.
"Basa-basi dulu anjing, minuman gue tumpah elah," kesal Gio tidak mendapat tanggapan dari yang lain.
Janu mencondongkan tubuhnya, menatap Kean dengan serius. "Ke, lo nggak naksir dia juga kan?"
Pertanyaan Januar malah membuat Kean terkekeh, lalu meneguk air mineralnya sebelum menjawab. "Nu, sebelum makin jauh, mending lo cari tau dulu."
Kean berdiri, pergi dari warung koh Amat dengan jawaban yang semakin membingungkan. Maksud dari Kean mencari tahu apa? Tentang rumor yang sedang beredar atau tentang Jeviza? Gadis yang sedang ditaksirnya.
"Kean! Malah cabut si anyir!" teriak Gio menggeleng.
"Kalau dari bajunya, sih emang kaya tuh cewek Nu, tapi kalau diliat dari kaca mata gue, Kean sama tuh maba jakarta nggak pernah ada kontak mata apa lagi obrolan, mereka kaya nggak saling kenal kok, kebetulan aja mungkin bajunya sama." Gio tampak serius dengan pandangan seperti sedang menerawang jauh ke sana.
Tuh maba juga kaya nggak asing mukanya, tapi gue liat dimana ya? Influencer bukan? Artis kagak
Gio ikut pusing memikirkan salah satu temannya yang sedang jatuh cinta itu, ia menatap Janu lalu menepuk pundak cowok itu.
"Mending kalau lo emang suka, gas aja Nu, tunjukinnya jangan setengah-setengah." Gio memberi nasihat yang langsung membuat Janu mengangguk setuju.
"Tapi gue takut Jevi risih, Gi."
"Ya kalau pas lo deketin dia risih, tuh cewek berati kagak demen ama lu mas Janu," suara tawa terdengar saat menyebutkan kalimat itu.
Januar menoyor pelipis Gio yang malah semakin membuatnya ragu mengambil keputusan Tetapi ucapan Bian setelahnya membuat Janu terdiam dan benar-benar mencerna apa yang dikatakan oleh Bian, dan apa yang harus dilakukannya.
"Bener kata Kean, Nu. Lo kalau emang suka dia, mending cari tahu dulu, siapa tahu tuh cewek udah punya cowok atau crush di kampus ini, lo bisa lebih hatu-hati lagi ngambil sikap, entah itu bua lo sendiri biar nggak patah hati, atau buat tuh cewek biar nggak risih."
"Nah, itu maksud gue, keren lo bro," puji Gio pada Bian yang sibuk dengan layar laptop di depannya.
Januar terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Bian. Lalu ia tersenyum tipis, senyuman tanpa keraguan lagi untuk mencari tahu tentang Jeviza sebelum melangkah semakin jauh.
"Si Kean nggak tho the point banget," gumamnya.
"Eh, Bi, gimana bengkel? Udah aman?" tanya Gio mencomot gorengan di depannya.
Bian mendongak ke arah Gio, dan beralih pada Janu yang memasang wajah serius, ikut penasaran dengan masalah bengkel Kean akhir-akhir ini.
"Beres, anaknya juga udah keluar."
"Anjing emang bokapnya Kean, nggak ngerti gue sama jalan pikir orang kaya," umpat Gio mengunyah gorengan itu dengan perasaan kesal.
"Gue jadi nggak enak udah nuduh Kean gitu tadi, mana di chat kemarin udah gue maki-maki." Janu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sementara Gio dan Bian saling pandang dengan sedikit tegang, sebelum keduanya menatap Janu dengan tatapan yang tidak biasa.
"Ya gimana? Gue kesel lihat dia boncengi Jevi, tau sendiri gue naksir."
"Kesel-kesel, lagak lu udah kaya yang pacaran aja sama Jeviza, gue ingetin lagi deh, Nu. Biar lo nggak gampang tersulut emosi gini, lo masih dalam tahap naksir doang, bahkan lu kagak tau tuh cewek udah punya cowok belum, tenangkan diri lo man."
Melihat kedua temannya membuat Bian menggeleng kepalanya. Ia kembali fokus dengan layar laptopnya, lalu ekor matanya beralih pada pesan singkat yang baru masuk. Mata Bian menyipit melihat pesan yang tertera pada layar ponselnya. Sebuah pesan yang amat langka menurutnya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!