Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33: Di Bawah Sorotan Kebenaran dan Kebohongan
Episode 33: Di Bawah Sorotan Kebenaran dan Kebohongan
Hari yang ditunggu sekaligus ditakuti akhirnya tiba. Pagi itu, langit di atas gedung Adhitama Group tampak mendung kelabu, seolah alam pun turut merasakan ketegangan yang menyelimuti seluruh ruangan kantor. Kabar mengenai rapat evaluasi khusus yang diadakan untuk menilai kinerja dan kelanjutan tugas Nara telah menyebar ke seluruh penjuru gedung, menjadikan suasana pagi itu terasa berbeda dari hari-hari biasa. Tidak ada obrolan santai di lorong atau ruang istirahat; semua mata seolah mengarah pada ruang rapat utama di lantai atas—tempat di mana nasib Nara akan ditentukan hari ini.
Bagi Nara, perjalanan menuju ruang rapat terasa lebih panjang dari biasanya. Ia berjalan tegak, mengenakan pakaian kerja yang rapi namun tetap nyaman bagi kondisinya yang kini memasuki pertengahan masa kehamilan. Tangan kanannya menggenggam erat map tebal berisi berkas-berkas yang telah disusunnya dengan teliti selama beberapa hari terakhir, sementara tangan kirinya sesekali mengusap lembut pinggang dan perutnya—sebagai pengingat bahwa ia tidak berjuang sendirian, ada nyawa yang bergantung pada kekuatan dan keteguhan hatinya saat ini. Di dalam hatinya, rasa gugup memang ada, namun telah tertutup rapat oleh tekad yang bulat: ia tidak akan membiarkan kebohongan menang hanya karena disuarakan dengan lebih keras.
Sesampainya di depan ruang rapat, Nara sempat berhenti sejenak untuk menarik napas panjang. Dari balik pintu kaca yang sedikit terbuka, ia bisa melihat siapa saja yang hadir di sana: kepala bagian administrasi, kepala bagian keuangan, perwakilan manajemen puncak, dan tentu saja—Dinda yang duduk di sisi kanan ruangan dengan wajah tenang namun sorot mata yang memancarkan keyakinan akan kemenangan yang sudah ada di genggamannya. Selain itu, Arkan juga hadir di meja kepemimpinan, duduk tegak dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca—netral namun penuh pengamatan mendalam.
Saat Nara melangkah masuk, percakapan ringan yang sempat terjadi di dalam ruangan seketika berhenti. Puluhan pasang mata tertuju padanya, campuran antara rasa penasaran, simpati yang samar, hingga keraguan yang nyata. Nara berjalan menuju kursi yang disiapkan untuknya di sisi depan, lalu duduk dengan tenang, meletakkan map di atas meja seolah meletakkan dasar kekuatannya.
Rapat pun dibuka oleh kepala bagian administrasi dengan nada suara yang serius dan formal. Ia menjelaskan tujuan pertemuan ini: untuk meninjau kembali kinerja Nara selama beberapa bulan terakhir, serta menanggapi berbagai masukan dan laporan yang masuk terkait ketelitian kerja dan kepatuhan prosedur. Tanpa disadari, pembukaan itu justru memberikan panggung luas bagi Dinda untuk segera melancarkan serangannya.
"Terima kasih, Bu," potong Dinda segera setelah pembukaan selesai. Ia berdiri perlahan, memandangi seluruh orang yang ada di ruangan itu seolah sedang berbagi fakta yang sangat penting. "Sebenarnya saya enggan membahas hal ini secara terbuka, karena saya pun rekan kerja Nara. Namun mengingat kepentingan perusahaan dan keamanan data kita semua, saya merasa harus menyampaikan apa yang saya ketahui agar tidak ada hal yang merugikan terjadi di kemudian hari."
Ia berhenti sejenak, menatap ke arah Nara sejenak dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu melanjutkan dengan nada yang terdengar penuh pertimbangan namun berisi tuduhan yang tersusun rapi.
"Selama ini banyak hal yang membuat saya dan rekan-rekan lain merasa khawatir. Pertama, terkait ketelitian pencatatan—beberapa kali kami menemukan selisih kecil yang jika tidak segera dikoreksi, bisa berkembang menjadi masalah besar di akhir periode pembukuan. Kedua, kami juga melihat adanya penurunan fokus yang cukup terlihat. Kondisi kehamilan yang dialami Nara tentu membutuhkan perhatian besar, dan kami memahami hal itu, namun apakah hal ini tidak membuat tugas pokoknya menjadi terabaikan? Terlebih lagi, ada hal yang membuat kami semakin ragu: latar belakang serta kondisi pribadi yang belum pernah dijelaskan secara terbuka. Kami tidak tahu apakah ada tekanan keuangan atau masalah lain yang membuat cara kerja menjadi kurang hati-hati, hingga memunculkan dugaan bahwa celah administrasi itu mungkin saja dimanfaatkan."
Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Dinda dirangkai dengan sangat licik—ia tidak pernah mengatakan kata "mencuri" atau "berbuat salah", namun setiap ucapannya menanamkan kesan bahwa Nara memiliki potensi dan alasan untuk berbuat kesalahan, bahkan ketidakjujuran. Ia mengaitkan kondisi fisik, asal-usul, hingga hal yang tidak diketahui orang lain sebagai dasar keraguan, seolah-olah ketidaktahuan adalah bukti kesalahan itu sendiri.
Suasana ruangan menjadi semakin tegang. Beberapa orang mulai berbisik pelan, sementara kepala bagian keuangan mencatat poin-poin yang disampaikan Dinda dengan serius. Bagi Dinda, saat ini posisi Nara sudah sangat terjepit—ia telah menyusun tembok kebohongan yang sulit ditembus hanya dengan kata-kata pembelaan biasa.
Kini giliran Nara untuk berbicara. Ia berdiri perlahan, tangannya sedikit bergetar namun suaranya terdengar jelas dan mantap memenuhi ruangan.
"Terima kasih atas semua masukan yang disampaikan, meski sebagian besar didasarkan pada dugaan dan kabar yang belum tentu kebenarannya," ujar Nara membuka pembelaannya dengan tenang. Ia membuka map di hadapannya, lalu mulai mengeluarkan lembar demi lembar dokumen yang tersusun rapi.
"Izinkan saya menjawab satu per satu hal yang dikemukakan. Pertama, mengenai selisih pencatatan: memang pernah ditemukan selisih kecil pada tahap awal penyusunan data, namun hal itu adalah hal biasa dalam proses kerja, dan selalu segera dikoreksi sebelum dokumen disahkan. Di sini saya lampirkan riwayat semua berkas yang pernah saya tangani, lengkap dengan tanggal, waktu perbaikan, serta tanda tangan verifikasi dari pihak yang memeriksa. Dari awal hingga hari ini, tidak ada satu pun dokumen final yang disahkan dengan kesalahan atau selisih yang belum dijelaskan."
Nara menyebarkan salinan dokumen itu ke hadapan para pimpinan yang duduk di meja utama. Ia melanjutkan saat semua mata mulai meneliti lembaran itu.
"Kedua, mengenai kondisi kehamilan: saya akui ada hari-hari di mana saya merasa lelah atau tidak nyaman, namun hal itu tidak pernah mengurangi tanggung jawab saya. Justru karena saya ingin menjaga kepercayaan yang diberikan, saya bekerja dengan ketelitian ganda. Bukti kinerja ini dapat dilihat dari penilaian bulanan yang telah disahkan sebelumnya, yang menunjukkan hasil yang baik dan sesuai standar bahkan melebihi target di beberapa bagian."
Nara kemudian menatap lurus ke arah Dinda, dengan pandangan yang tenang namun tajam.
"Dan hal terakhir yang paling penting: mengenai dugaan adanya tekanan pribadi atau pemanfaatan celah kerja. Saya tidak pernah menyembunyikan asal-usul saya—keluarga saya memang hidup sederhana, namun kami hidup dengan prinsip kejujuran yang menjadi harga diri terbesar kami. Kondisi pribadi saya yang tidak saya bahas di kantor adalah hak pribadi yang tidak berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaan. Selama saya bekerja di sini, semua kebutuhan saya terpenuhi dengan baik dari hasil kerja keras saya sendiri, dan tidak ada alasan sedikit pun bagi saya untuk mengambil keuntungan yang bukan hak saya."
Saat Nara selesai berbicara, keheningan menyelimuti ruangan. Dokumen yang disajikan sangat jelas, rinci, dan saling melengkapi—menjadi bukti nyata yang menampik semua tuduhan yang hanya berupa perkataan semata. Namun Dinda tidak mau menyerah begitu saja. Ia segera menyela kembali dengan nada yang makin tegas, berusaha mencari celah baru.
"Bukti di atas kertas bisa saja disusun sedemikian rupa agar terlihat rapi, Nara," serang Dinda. "Bagaimana dengan kesaksian rekan kerja yang sering melihat kamu menerima telepon pribadi di jam kerja, atau terlihat gelisah saat membahas masalah administrasi tertentu? Bukankah itu tanda ada hal yang disembunyikan?"
"Telepon pribadi yang saya terima sebagian besar berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan dan hal penting terkait kehamilan—hal yang saya laporkan sebelumnya kepada atasan langsung, dan tidak pernah mengganggu penyelesaian tugas," jawab Nara tanpa ragu. "Sedangkan perasaan gelisah itu ada bukan karena saya bersalah, melainkan karena saya mendengar banyak hal yang tidak benar disebarkan atas nama saya—hal yang membuat siapa pun akan merasa khawatir jika nama baiknya dipertaruhkan tanpa alasan yang jelas."
Di tengah perdebatan yang makin memanas itu, Arkan yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Ia tidak langsung berpihak, namun ucapannya membawa perubahan besar dalam arah pembicaraan.
"Kita telah mendengar dua sisi pandangan, dan kini kita memiliki dokumen rinci dari kinerja Nara," ujar Arkan tenang namun berwibawa. "Namun untuk menghindari penilaian yang hanya berdasarkan perkataan atau dugaan, saya telah memerintahkan tim audit internal melakukan peninjauan mendalam selama dua hari terakhir terhadap seluruh berkas yang pernah ditangani Nara maupun yang berkaitan dengan keluhan yang masuk. Hasil lengkapnya ada di sini."
Arkan meletakkan berkas lain yang tebal di atas meja utama. "Kesimpulannya: tidak ditemukan indikasi penyalahgunaan wewenang, kelalaian yang disengaja, atau pencatatan yang dimanipulasi. Semua berkas yang menjadi alasan keluhan ternyata memiliki penjelasan yang sah dan telah diverifikasi dengan benar. Selain itu, ada catatan tambahan: beberapa informasi yang menjadi dasar tuduhan ternyata tidak sesuai dengan fakta di lapangan, dan asal-usul penyebarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya."
Wajah Dinda perlahan berubah pucat. Ia tidak menyangka bahwa Arkan telah menyiapkan langkah ini sebelumnya—langkah yang mematahkan pondasi utama rencananya. Ia sempat ingin membantah, namun tidak ada lagi celah yang bisa ia gunakan di hadapan bukti audit resmi dari manajemen.
Kepala bagian administrasi kemudian memimpin diskusi penentuan keputusan. Setelah menimbang dokumen kinerja, hasil audit, serta penjelasan yang disampaikan kedua belah pihak, akhirnya keputusan pun diambil: tuduhan yang diajukan tidak memiliki dasar fakta yang kuat, Nara dinyatakan tetap dapat melanjutkan tugasnya dengan catatan evaluasi kinerja berkala seperti halnya karyawan lain, dan seluruh pihak diminta menjaga lingkungan kerja yang sehat berdasarkan fakta, bukan dugaan semata.
Rapat pun berakhir. Bagi sebagian orang, keputusan ini adalah kelegaan, namun bagi Dinda, ini adalah kekalahan yang pahit. Ia meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa, berusaha menyembunyikan rasa marah dan kecewa yang meluap.
Sementara itu, Nara berjalan keluar dengan perasaan lega yang luar biasa. Beban berat yang bertumpu di bahunya perlahan terangkat, meski ia sadar: meski keputusan telah jatuh, perselisihan dengan Dinda belum sepenuhnya berakhir. Kekalahan hari ini justru bisa memicu kebencian yang makin tajam.
Di lorong menuju kantornya, Arkan menyusul dari belakang, berjalan sejajar dengan istrinya di sela-sela orang yang lalu lalang.
"Kamu hebat, Nara," bisiknya pelan tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain. "Kamu membela diri bukan dengan emosi, tapi dengan fakta—itu yang membuat kebenaranmu tak tergoyahkan."
Nara tersenyum tipis, meski matanya masih terlihat sedikit berkaca-kaca. "Terima kasih, Mas. Rasanya berat sekali saat di dalam sana, tapi dukunganmu dan keyakinan pada kebenaran membuatku mampu berdiri tegak."
"Namun ingat," tambah Arkan dengan nada yang lebih serius, "Ini baru satu pertempuran yang usai. Dinda tidak akan berhenti begitu saja. Kekalahan hari ini justru bisa membuatnya mencari cara lain yang lebih berbahaya untuk merusakmu. Tetaplah waspada dan terus kumpulkan bukti serta kekuatanmu."
Malam harinya di rumah, suasana terasa lebih hangat. Nara duduk bersandar di sofa ruang tengah, membiarkan ketegangan seharian itu perlahan hilang. Ia mengusap perutnya yang kini makin jelas terlihat, sambil berbisik pelan pada calon anaknya—yang telah menjadi kekuatan terbesarnya sepanjang hari itu. Namun jauh di sudut pikirannya, ia masih teringat tatapan tajam Dinda saat keputusan dibacakan—tatapan yang seolah menyiratkan bahwa kisah pertarungan ini masih panjang, dan tantangan yang lebih besar sedang menanti di depan mata.
Bersambung ke Episode 34....