Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sisa Rasa di Pinggir Seine
Lampu kristal di langit-langit L'Arpège seolah berputar di atas kepala Kiandra, menciptakan pusing yang tidak ada hubungannya dengan wine.
Ia masih mematung di atas kursi beludru, jemarinya mencengkeram ujung gaun sutra biru gelapnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan, terasa mencekik dan panas.
Di depannya, kursi yang tadi diduduki Blake Harrington kini kosong melompong, menyisakan aura kekalahan yang ditinggalkan sang pangeran Sciences Po.
Namun, bukan kepergian Blake yang membuat dunia Kiandra jungkir balik. Melainkan sisa rasa hangat dan sedikit perih di bibir bawahnya—bekas gigitan kecil Enzo yang baru saja terjadi beberapa detik lalu.
Air mata mulai menggenang di sudut mata Kiandra, memantulkan pendar lilin yang bergetar di atas meja pualam. Ia merasa harga dirinya baru saja diledakkan berkeping-keping di tengah restoran paling prestisius di Paris.
"Mati aku. Papa kalau tahu ini, aku pasti langsung disuruh pulang," batinnya merana. Pikirannya yang absurd mendadak membayangkan ayahnya, Dirga, sedang mengasah parang di Jakarta sambil menatap foto Enzo.
Enzo Romano tidak bergeming. Pria itu justru mencondongkan tubuhnya yang dominan, menatap wajah Kiandra yang kini merah padam hingga ke telinga. Alisnya bertaut rapat, hazel matanya yang tajam memindai setiap inci ekspresi Kiandra dengan intensitas yang menghimpit.
"Kamu kenapa, Piccola?" tanya Enzo. Nadanya berat, tertahan, dan sarat akan otoritas yang mendadak melunak.
Suara bariton itu memecah keheningan di meja mereka, namun justru membuat Kiandra semakin ingin menghilang. Ia buru-buru memalingkan wajah, mengusap sudut matanya dengan gerakan cepat yang panik.
Ia tidak mau terlihat lemah, apalagi di depan pria yang baru saja merampas ciumannya dengan cara yang begitu... arogan.
Enzo membuka mulut, hendak bertanya lagi atau mungkin melontarkan sindiran mautnya, namun langkah kaki pelayan yang mendekat memotong niatnya. Dengan profesionalisme yang kaku, pelayan itu meletakkan piring-piring hidangan L'Arpège di atas meja.
Aroma gurih mentega hangat, truffle yang pekat, dan harum rempah rahasia menguar dari hidangan, memenuhi rongga dada Kiandra yang sesak. Jika dalam kondisi normal, ia pasti sudah memuja keindahan presentasi makanan ini. Namun sekarang, aroma itu justru membuatnya mual karena stres yang memuncak.
Enzo meraih garpu peraknya, melirik Kiandra dengan senyum miring yang kembali terpasang di wajah tampannya. Seolah-olah ciuman tadi hanyalah sebuah hidangan pembuka yang tidak berarti baginya.
"Makan dulu," ucap Enzo santai. Nada suaranya terdengar sangat tenang, memotong kecanggungan yang menggantung pekat di udara. "Sayang kalau makanan enak ini disia-siakan hanya karena kamu sibuk menangisi pria pirang yang sudah kabur itu."
"Aku tidak menangisi dia!" desis Kiandra tajam, meski suaranya masih bergetar.
"Bagus. Kalau begitu, sekarang makanlah," tambah Enzo, menyuap potongan daging pertamanya dengan gerakan elegan.
Kiandra mengangguk kaku. Ia mengambil garpunya dengan jemari yang masih bergetar pelan. Ia mencoba memotong sayurannya, namun tangannya terasa lemas.
Sepuluh detik keheningan yang canggung menyergap mereka. Hanya ada suara denting perak halus yang beradu dengan porselen mahal, serta bisikan rendah dari meja-meja lain yang untungnya tidak terlalu memperhatikan drama di sudut ini.
Makan malam itu berlangsung lambat, terasa seperti siksaan yang diperhalus. Kiandra mengunyah makanannya tanpa rasa. Lidahnya yang biasanya sensitif terhadap bumbu, kini seolah mati rasa. Setiap kali ia menelan, tenggorokannya terasa tersumbat, seolah-olah ada gumpalan emosi yang menolak untuk turun.
Enzo menghabiskan hidangannya dengan tenang, sesekali menyesap air putih tanpa banyak bicara. Ia tampak sangat menikmati suasananya, sangat kontras dengan Kiandra yang merasa seperti sedang duduk di atas bara api.
Begitu selesai, Enzo meletakkan beberapa lembar Euro di atas meja pualam, mengabaikan ucapan Blake yang ingin membayar semua tagihan makan malam. Ia bangkit berdiri, merapikan jas hitamnya yang mahal dengan gerakan yang sangat maskulin, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Kiandra.
Kiandra menatap telapak tangan besar itu sejenak, lalu mengabaikannya. Ia memilih berdiri sendiri dengan lutut yang masih terasa lemas. Ia tidak mau lagi ada kontak fisik yang bisa membuat jantungnya meledak.
Enzo tidak memprotes penolakan itu. Namun, begitu Kiandra melangkah di sampingnya, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Kiandra yang dingin.
"Enzo!"
"Jalan saja, Piccola. Jangan buat drama lagi di sini," bisik Enzo dingin.
Kehangatan telapak tangan Enzo menyengat kulit Kiandra, menuntun langkah gontainya keluar dari restoran. Begitu pintu besar L'Arpège tertutup di belakang mereka, angin malam Paris yang menggigit langsung menyapu bahu terbuka Kiandra.
Refleks merinding menjalar di sekujur tubuhnya, namun panas di pipinya menolak turun. Sisa kehangatan bibir Enzo masih terasa sangat nyata, seolah-olah pria itu baru saja menciumnya sedetik yang lalu.
Enzo terus menariknya menyusuri trotoar batu yang licin. Langkah kakinya lebar, matanya lurus ke depan, mengabaikan Kiandra yang harus setengah berlari untuk mengimbanginya. Mereka berjalan mendekati pembatas jembatan Sungai Seine, tempat air yang gelap memantulkan kerlap-kerlip lampu kota Paris yang romantis namun terasa ironis bagi Kiandra.
"Lepaskan!" Kiandra menyentakkan tangannya dengan kasar.
Kali ini ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Enzo. Kiandra berbalik, menatap Enzo dengan mata cokelat gelap yang mulai berair kembali. Napasnya memburu, uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas di udara dingin.
Enzo berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya perlahan, lalu bersandar pada pagar pembatas besi jembatan. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana jasnya, memperhatikan wajah merah Kiandra dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Kenapa kamu melakukan itu, Enzo?" tanya Kiandra. Desisan pelannya bergetar hebat menahan malu dan amarah yang bercampur aduk.
Kiandra meremas clutch kecilnya kuat-kuat, dadanya naik-turun dengan cepat. "Kamu dosenku! Tindakan tadi benar-benar gila dan tidak profesional! Kamu tahu kan konsekuensinya kalau Blake sampai melaporkan kita?"
Enzo menatapnya diam. Ekspresi wajahnya kaku, tidak ada lagi senyuman miring menggoda yang biasanya ia pamerkan untuk memancing emosi Kiandra. Keheningan di bawah lampu jalanan yang remang itu terasa mencekam selama lima detik.
Angin malam menerbangkan helai rambut hitam Kiandra, mengusik wajahnya yang terasa panas membara.
"Kamu merusak segalanya, Enzo," bisik Kiandra, setetes air mata akhirnya lolos dan mengalir di pipinya. "Aku ke Paris untuk belajar, untuk membanggakan orang tuaku. Bukan untuk terjebak skandal murahan dengan dosenku sendiri."
Kiandra menunduk, merasa seluruh pertahanan harga dirinya runtuh di pinggir Seine ini. Ia merasa kotor, merasa bersalah, dan yang paling menakutkan—ia merasa menyukai ciuman itu.
Enzo mengembuskan napas panjang, sebuah suara yang terdengar sangat gusar. Ia melangkah maju dua kali, memangkas jarak di antara mereka hingga Kiandra bisa mencium aroma sandalwood dan sisa wine dari tubuh pria itu. Enzo berhenti tepat di depan Kiandra, menghalangi embusan angin dingin dengan tubuh tingginya yang dominan.
Enzo mengulurkan tangan. Jemarinya yang hangat menyeka air mata di pipi Kiandra dengan gerakan yang sangat lembut, sangat kontras dengan kekakuannya tadi.
Kiandra menegang menerima sentuhan itu. Ia ingin menghindar, namun tubuhnya seolah kehilangan tenaga untuk bergerak.
"Aku hanya membantu menyingkirkan pria pirang itu, Piccola," ucap Enzo. Suaranya merendah, terdengar serak dan dalam.
"Membantu tidak perlu sampai menciumku!" balas Kiandra, mendongak menatap mata hazel gelap Enzo. "Kamu bisa pakai cara lain! Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja mau mempermalukanku!"
Kiandra menggigit bibir bawahnya yang masih berdenyut, teringat kembali bagaimana Enzo menyesap bibirnya dan memberikan gigitan kecil yang sensual di restoran tadi.
Enzo tidak langsung menjawab. Ia justru menatap lekat bibir merah Kiandra yang sedikit gemetar. Tatapannya berubah intens, penuh gairah tertahan yang membuat suasana di pinggir sungai itu mendadak terasa panas meski suhu sedang anjlok.
Enzo mendekatkan wajahnya sedikit. Desakan napas spontannya yang beraroma mint dingin terasa sangat dekat di wajah Kiandra.
"Itu ciuman pertamamu, Piccola?" bisik Enzo. Nadanya parau, terdengar sangat serius tanpa ada jejak bercanda sedikit pun.
Kiandra membeku mendengar pertanyaan itu. Ritme napasnya buyar tiba-tiba karena terkejut luar biasa. Ia merasa seolah-olah Enzo baru saja menelanjangi rahasia paling pribadinya.
Kiandra membuang muka dengan cepat, menyembunyikan rona merah yang membakar seluruh kulit wajahnya hingga ke leher.
"Bukan urusanmu!" jawab Kiandra dengan nada panik, mencoba menyangkal kebenaran yang sudah terpampang nyata dari reaksinya yang kaku tadi.
Enzo menarik sudut bibirnya tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat halus. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kepanikan gadis di depannya adalah jawaban mutlak. Ciuman tadi memang yang pertama bagi Kiandra.
Enzo menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan tangannya dari pipi Kiandra dengan gerakan yang tampak enggan. Ia menoleh ke arah jalan raya, mengangkat tangan kirinya untuk menghentikan taksi yang sedang melintas.
Sebuah taksi kuning melambat dan berhenti tepat di samping trotoar tempat mereka berdiri. Enzo membuka pintu taksi belakang, memberikan isyarat dengan dagunya agar Kiandra masuk.
Kiandra melangkah masuk dengan kaku, mengabaikan keheningan pekat yang kembali merayap naik di antara mereka. Ia duduk merapat ke pintu taksi, membuang pandangan ke luar jendela yang mulai basah oleh rintik gerimis tipis.
Enzo menyusul masuk, duduk di sisi lain kursi belakang. Ia menutup pintu taksi dengan bunyi klik yang mantap, menandai akhir dari konfrontasi mereka di pinggir Seine.
Sepanjang perjalanan kembali ke Rue de Rivoli, tidak ada satu kata pun yang terucap. Kiandra terus menatap lampu-lampu Paris yang kabur di balik jendela yang basah, sementara Enzo di sebelahnya tetap diam membisu dengan tatapan yang tidak terbaca.
Pertanyaan tentang ciuman pertama tadi tetap menguap tanpa jawaban, menggantung di udara kabin taksi yang sesak oleh ketegangan yang belum tuntas.