NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:20.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 14. Negosiasi

“Kasih aku aja, Yah,” timpal seonggok mas Barraq itu dengan berlari kecil ke arah kami.

“Saham coffee shop di Jawa setengahnya atas nama kau? Gimana?” Ayah langsung mengulurkan tangannya, ia mengajak berjabat tangan.

“Minta Mas aja, Dea. Mas bisa kasih dunia dan seisinya,” ujar mas Barraq yang membuat kami terkekeh geli.

“Berisik kau nih!” Ayah mendorong pelan bahu mas Barraq.

“Eh lupa, aku bukan pewaris di keluarga ini ya, Yah?” Tiba-tiba ia tersenyum getir.

Rahang ayah menegang, urat lehernya tercetak jelas. “Berani ngomong begitu sekali lagi?! Ayah tak main-main loh, Nak!” ucapnya penuh tekanan.

Mas Barraq langsung tertunduk diam, suasana langsung beku seketika.

Kenapa sih mas Barraq tidak mengikuti alur dari keluarganya saja? Kalau memang iya sudah tahu tentang ia anak siapa, ya sudah diam saja. Karena menurutku keluarganya sudah benar memberinya identitas yang baik. Jika semua orang tahu ia anak tanpa pernikahan, kan bukan cuma dirinya saja yang jadi korban omongan orang, tapi keluarganya juga.

“Ayah target Saya berapa lama sampai di Medan ini stabil?” Aku sudah membayangkan jadi orang kaya.

Ya Tuhan, bukan hanya aku, keluargaku bahkan keturunanku pun tidak akan merasakan kesulitan ekonomi lagi jika benar sahamnya akan diberikan padaku meski setengahnya.

“Menurut kau, kau butuh waktu berapa lama?” tanyanya kembali.

Sepertinya orang-orang yang berhubungan dengan keluarga besar ini akan ketularan kaya. Aku sudah merasakan sensasi kesombonganku, padahal aku belum action sekalipun.

Yap, sombongnya saja dulu.

“Satu tahun?” Aku menaikan satu alisku.

Karena sepengalamanku, aku membutuhkan waktu satu tahun untuk membawa cabang yang di Pulau Jawa seperti di atas awan.

“Oke, enam bulan.” Ayah langsung mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.

Aku melotot tak percaya. Enam bulan katanya?

“Hunian berfasilitas standar, transportasi, Ayah cover selama di Sumatera. Kalau enam bulan kau mampu menstabilkan semuanya, uang bonus setara satu tahun gaji kau, ditambah hadiah rumah dan transportasi jadi hak milik kau.” Tangannya masih terulur menggantung.

Dengan segera aku menjabat tangan beliau, aku tergiur dengan iming-imingnya.

“Di mana aku harus tanda tangan, Yah?” tanyaku kemudian.

Beliau terkekeh geli dengan melirik ke arah cucunya yang diajarkan memanggilnya ‘ayah’ itu. “Barraq urus nanti. Tapi karena kau masih terikat kontrak dengan cabang Pulau Jawa, kau harus urus data untuk mutasi. Nanti diarahkan sama anak perempuan Ayah untuk itu. Terus, tuntaskan dulu masalah kau. Karena Ayah tak menerima izin pulang kampung untuk urus sidang, kecuali kabar duka. Itu pun jangan sampai ya? Amit-amit.” Ayah melirik anak bayi yang gelisah dalam dekapannya itu.

“Sidang apa itu, De?” tanya mas Barraq yang ternyata sudah merebahkan tubuhnya dan meringkuk menghadap lutut ayah.

Ia menciumi kepala bayi itu.

“Masalah itu biar jadi urusan dia, Yah. Aku mau fokus kerja, karena usaha di rumah lagi butuh modal,” jawabku mengarah ke pernyataan ayah, aku tidak menghiraukan ucapan mas Barraq.

“Oke, kalau butuh biaya mendadak bilang aja. Nanti bisa dipotong dari gaji kau perbulan. Ada lagi yang perlu penjelasan?” tanya ayah dengan membalik bayi tersebut menjadi tengkurap menghadap mas Barraq.

“Adek panggil Om pake sebutan abi aja ya?” Mas Barraq tengah mengajak dialog bayi yang sepertinya berusia dua bulan itu.

“Buatlah anak sendiri! Ngapain anak kakak kau suruh panggil kau abi!” cetus ayah sembari mengusap-usap kepala anak bayi tersebut.

Bukan nada marah sepertinya, memang logatnya seperti itu setelah kuamati sejak tadi.

“Terus, Yah. Ini tentang rapat tahunan gimana? Terus kedepannya arahan untuk aku gimana?” tanyaku kemudian. Masalahnya aku di sini tanpa persiapan.

“Kau mau obrolin besok sama ayah sama orang-orang bersangkutan aja atau depan semua perwakilan perusahaan? Kau udah baik-baik aja belum untuk hadapi orang banyak? Makanya Ayah minta kau kirim laporannya ke Ayah, biar barangkali kau mau obrolin lebih cepat biar bisa pulang cepat dan bereskan masalah kau dulu. Tapi kau karyawan nih, jadi paling bisa balik kampung maksimal empat hari, itu pun kau tak libur selama sebulan. Nah lepas beres kau ke sini lagi temuin Ayah, kita langsung briefing sama orang-orang yang megang coffee shop di sini.”

Ya Tuhan, aku tidak menyangka ternyata beliau pengertian sekali.

“Tapi aku nggak pernah libur kerja, Yah. Jangankan sebulan. Setahun keknya aku nggak pernah libur,” sahutku yang mendapat ekspresi bingung dari ayah.

“Bos kau cina ya?” tukasnya membuatku dan mas Barraq tertawa geli.

“Memang dia mau ngapain libur tuh, Yah? Dia kerja juga bisa sambil nyambi take foto dan video untuk endorse, bisa perawatan ke salon, bisa sambil gym, bisa sambil cek ke dokter. Mending sekalian fingerprint masuk, kan lumayan dapat lemburan, libur juga dia tetap urus laporan,” jelas mas Barraq yang baru aku pahami sekarang. Ternyata ini loh cinanya.

“Berapa jam kerja kau?” Ayah melihatku setelah menatap tak percaya pada mas Barraq.

“Enam belas jam, Yah,” jawabku kemudian.

Ayah terdiam sejenak, lalu geleng-geleng kepala. “Berarti berapa gajian setiap bulannya?”

“Gaji murni sekitar lima puluh, Yah. Ditambah lembur, transport, lain-lain, bisa sampai seratus. Pas lebaran itu, aku tembus dua ratus lima puluh, Yah,” akuku dengan bangga.

“Heh, itu posisi untuk dua orang kau isi sendiri?” tanya ayah kembali, dengan ekspresinya yang benar-benar tidak percaya dengan pengakuanku.

“Dia bisa nyambi jadi waiters itu, Yah. Dia bisa nguasain dapur, dia bisa jadi pengganti kasir kalau nggak berangkat. Cuma satu yang dia tak bisa, cuci piring, Yah,” jelas mas Barraq yang membuatku malu sendiri.

Bukan tidak bisa ya. Aku hanya tidak mau saja.

“Oke, Ayah mau tengok kemampuan kau. Besok bilang ke Ayah ya mau gimana dulu. Pulang dulu atau mau presentasikan laporan aja.”

Dari pembicaraan ini, sepertinya aku diminta pamit.

“Oke siap, Yah.” Hatiku riang gembira membayangkan pusingnya aku di Sumatera nanti.

Eh, lebih tepatnya bayarannya saja dulu yang dibayangkan.

“Aku pamit balik ke penginapan ya, Yah?” Aku merunduk mencoba mencium tangan beliau.

“Ayo, Mas antar,” mas Barraq langsung dalam posisi duduk.

“Jangan aneh-aneh loh, Nak. Ingat kau bukan lagi di kota besar.” Ayah melirik ke arah anaknya itu, kilatan netranya seperti memancarkan kekhawatiran.

“Di sana pun aku tak pernah macam-macam, Yah. Sembarangan aja.” Mas Barraq pun mengeluarkan logat sininya juga.

“Masa? Mau ngawinin istri orang itu tak macam-macam kah disebutnya?” gerutu ayah lirih ketika kami akan mencapai pintu utama.

“Mas cerita tentang aku?” tanyaku dengan berjalan ke arah motornya.

“Bukan cerita lagi, diintimidasi sesepuh sini. Ini pun ada kemungkinan Mas dipindahkan lagi ke Pulau lain, karena kamu megang di sini.” Ia sudah menyalakan motornya.

“Ohh, berarti sepulang di sana Mas tuh megang cabang sini?” Aku naik dan berpegangan pada bahunya.

“Siapa bilang? Mas di sini lagi fokus ngaji, khataman nanti akhir bulan.”

😯

Mungkin ekspresiku seperti emot tersebut sekarang.

Ini benar yang ia katakan?

1
Etik Budiyanto
aduh de gimana sih.. aku kan yang deg deg an😄🤭
Wina Putri Handayani
Paijo aplikasi apa y ka
Khomsatun Doni
lanjut kak makin seru nih
Mesya Rizki Aulia Tahlim
dea harusnya udah tau lah baraq ninggalin dia karna djemput keluarganya 🤭 pake ngerasa dtinggal kaya penyedia jasa🤭
Mesya Rizki Aulia Tahlim
😍 mas barraqqq
Mesya Rizki Aulia Tahlim
ternyata bujang baraq bisa mengimbangi janda 3x
Mesya Rizki Aulia Tahlim
ya ampun 😄
Mesya Rizki Aulia Tahlim
🤭 ikutan minum jg kah thor
Mesya Rizki Aulia Tahlim
se frekuensi...tp sama2 dominan..Dea kalo mau sama2 baraq harus turunin ego
Mesya Rizki Aulia Tahlim
penasaran siapa ya yg ngotak Ngatik data/Left Bah!/
hayoloh Dea..godaan bujang berotot 🤭
Mesya Rizki Aulia Tahlim
kerasa bgt sampe sini capenya dea
Mesya Rizki Aulia Tahlim
udah mulai dah Dig dug nih/Gosh/
Mesya Rizki Aulia Tahlim
sehot itu dea😍
Mesya Rizki Aulia Tahlim
hayu kita jalan2 ke medan😍
Mesya Rizki Aulia Tahlim
suka sama Dea menjalani hidup sesuai yg dia mau..meski harus gagal dulu 3x...
pengalaman hidup membuat bangun dari zona nyaman bangkit dan berdiri
Mesya Rizki Aulia Tahlim
dea mode kepo...
Mesya Rizki Aulia Tahlim
ga jd beli baju tidur c dea🤭
Mesya Rizki Aulia Tahlim
suka bgt karakter baraaq
Mesya Rizki Aulia Tahlim
author wajib punya bagan struktur keturunan ini mah 😁 dari keturunan Adis birt udah keturunan ke berapa ini...seru bgt..selalu larut dl ceritanya
Mesya Rizki Aulia Tahlim
ya ampun 5jt sebulan buat buang sial🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!