keputusannya menjadi baby sitter untuk menolong kakaknya, ternyata menimbulkan petaka bagi dirinya sendiri. Ve dijebak menikah dengan bosnya yang misterius dalam situasi yang tidak bisa dia hindari. Ve kira Bosnya angkuh,,, ternyata dibalik sikapnya yang dingin, tersimpan kasih sayang yang besar untuknya.
Namun, Barra yang lebih suka menunjukkan perasaannya lewat tindakan, sering disalah artikan oleh Ve yang menginginkan suaminya mengungkapkan lewat kata-kata.
" Kamu istri saya,,, saya akan memperlakukan kamu layaknya istri...",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konflik
Barra mendapatkan laporan dari Micel, jika ada akun bodong yang menguliti Ve. Akun hatters Ve yang menyebutkan jika istrinya adalah perebut tunangan orang. Barra naik pitam, apalagi ditambah dengan narasi-narasi bodoh yang sama sekali tidak berdasar. Ketimbang mencari siapa pemiliknya, Barra justru langsung memikirkan kondisi mental sang istri.
"Sweety.., are you oke? ",
" Oke mas..Ve nggak apa-apa kok..",
" Nggak usah di pikirkan, saya akan selesaikan semuanya.., kamu percaya kan sama saya? ",
" Iya mas... ",
" Untuk sementara waktu nggak usah buka media sosial apapun..., sampai saya mengizinkan.. ",
" Iya mas.. hmmm... Ve boleh minta izin nggak? ",
" Apa? ",
" Tadi Mama telepon, Ve mau dijemput... ",
" Untuk..? ",
" Katanya mau dikasih kain buat seragam nikahannya Dayana, sekalian GrandMa pengen ketemu..",
" Oke.., kamu diantar Bejo aja sweety... ",
" Boleh minta izin lagi? ",
" Ya..? ",
" Mau mampir ke supermarket dulu.. malu kalau ke rumah nggak bawa apa-apa.. ",
" Oke.. ACC..
minta Bejo turun untuk menemani kamu, oke..? atau.. saya kirim pengawal saja untuk mengawasi? ",
"Ehhmm... nggak perlu mas.., Ve cukup sama Bejo aja.. ",
"Oke.., kalau Mama, GrandMa atau siapapun itu yang berbicara yang nggak-nggak, kamu bilang ke saya..",
"Iya mas..",
"Jangan ada yang ditutupin dari saya , sweety..",
"Ve janji...",
" Oke..setelah pekerjaan dikantor selesai , saya akan menjemput kamu..
"Iya mas.., semangat bekerja.. ",
Curang. Keluarganya ternyata menggunakan Ve pancingan untuk membuatnya bertandang ke rumah Mama. Barra memang mengacuhkan keluarganya yang bertanya soal pemutusan kerja sama dengan keluarga Diana. Sebenarnya bukan hal yang harus diperpanjang. Simple, Barra hanya ingin Diana dan keluarganya meminta maaf kepadanya, khususnya kepada sang istri.
Nyatanya tidak menunggu sampai pekerjaan selesai, Barra buru-buru keluar dari ruang kerjanya. Namun, langkahnya dihentikan oleh Yuda yang ingin melaporkan investigasinya.
"Akun bodong punya Rani pak...
Bapak lihat? kata-katanya nggak senonoh pak.., Bu Ve di hina seperti ini.. ", ucap Yuda menyodorkan ponselnya . Barra membaca seksama postingan akun hatters itu.
"Masih belum kapok dia...? ", ucap Barra yang murka.
Barra mengetuk-ngetuk jemarinya pada kursi meja. Berpikir balasan apa yang setimpal untuk Rani agar dia kapok. Agar perempuan itu menyesal telah bermain-main dengan istri seorang Barra Sanjaya, sang pewaris tahta.
"Beli tempat kos yang ditempati Rani, dan usir dia sekarang juga.. ",
"Lho.. kalo yang punya nggak mau jual pak? ",
"Terserah cara apapun yang kamu pakai, saya mau detik ini juga Rani di depak dari kos-kosan nya.. ",
"Oke pak, laksanakan.. ",
" Ken ikut seminar? ",
"Ikut pak...",
"Bilang ke divisi terkait, semua hape milik peserta sementara waktu disita sampai acara selesai... ",
"Kalau mereka lagi handle kerjaan gimana pak? ",
"Itu urusan kamu Yud, saya memerintah. Jadi nggak usah disuruh mikir lagi.. ",
" Oke-oke baik pak.. ",
"Laksanakan sesuai instruksi saya.. ",
"Siap bos.. ",
"Oh ya.. saya mau ke rumah Mama. Kamu bisa laporkan lewat chat saja, no call ya.. ",
"Baik bos.. ",
Yuda tentu paham dengan maksud Bosnya untuk menyita alat komunikasi semua peserta seminar. Tujuannya, agar Rani tidak bisa menghubungi Ken untuk meminta bantuan. Sunggu brilliant ide bosnya.
Barra berdiri dari duduknya. Berjalan dengan mengancingkan jas miliknya. Tingginya yang proporsional, bentuk wajah yang tegas, wajah yang dingin, visualnya mirip dengan Mafia atau CEO dingin di film-film action.
Barra sampai di kediaman orang tuanya. Tanpa permisi, dia masuk melewati koridor-koridor untuk sampai di ruang tengah, tempat biasa saat keluarganya berkumpul.
Benar dugaannya, istrinya sedang berada disana bersama sepupu-sepupunya yang lain. Lega, saat melihat Micel disana. Setidaknya, gadis itu akan selalu berpihak pada Ve atau Barra.
"Mas kok udah nyusul? Ve mau dijemput ya mas? Tapi, Ve belum selesai diukur, Ve masih bingung mau model yang kayak gimana mas.... ",
" Belum sweety, kamu bisa lanjutkan.. apapun yang kamu pakai, pasti terlihat cantik..",
Percakapan sepasang suami istri itu diperhatikan oleh Mama Rossy. Barra yang dominan, tapi mempunyai istri yang terlampau manja. Sungguh, diluar ekspektasinya. Mama Rossy kira Barra akan menyukai wanita tipe Alpha yang akan mengerjakan semuanya sendiri, ini justru kebalikannya.
Apa ini yang membuat Barra nggak bisa menerima Diana?
"Menurut Mas, yang kanan atau kiri yang bagus..? ", tanya Ve dengan mata yang berbinar. Meminta suaminya untuk memilih design dress untuknya.
"Yang kanan, lebih tertutup.. saya nggak mau pundak kesayangan saya dilihat orang banyak.. ",
"Tapi pendek mas gaunnya... ",
"Pakai design yang kanan, tapi panjang gaunnya pakai yang kiri. Simple kan? ",
"Oh iya ya.., aku tanya designer nya dulu mas.. ",
Si Ibu Suri terus memperhatikan interaksi putra dan menantunya. Sebenarnya tidak ada perasaan benci atau ketidaksukaannya terhadap Ve. Hanya saja, Mama Rossy kecewa karena Barra yang mengingkari kesepakatan yang dibuat. Meskipun, Barra sebenarnya tidak berjanji apapun terhadap hubungan pertunangannya.
"Udah? ",
"Udah.., katanya bagus, cocok cocok aja mas. Jadi gaunnya Ve kayak yang mas Barra tentuin tadi.. ",
"God girl... ", usapnya pada kepala sang istri , tatkala merasa gemas.
Ada perasaan lega di dalam hati Mama Rossy. Bahwa, pernikahan putranya berjalan normal layaknya sepasang suami istri dalam berumah tangga. Meskipun keduanya menikah karena dipaksa oleh keadaan. Mama Rossy kira, Barra akan semena-mena terhadap istrinya, buruknya sampai melakoni pernikahan pura-pura atau nikah kontrak.
"Kak.., dipanggil Papi di ruang kerja sama Mami juga... ", ucap Micel. Mami Papi adalah sebutan Micel untuk Papi Harsa dan Mami Rossy.
Sudah tahu apa yang akan Papanya bahas di dalam sana. Tapi, Barra yang sudah terlanjur turun tangan juga hanya bisa jujur dengan apa yang diperbuat. Barra akan bertanggung jawab dengan konsekuensinya.
"Duduk Bar.. ",
Bukan hanya Papa dan Mama, tapi ada GranPa.
"Barra mau disidang ya? ",
Ingatan Barra bernostalgia ke beberapa tahun yang lalu saat dirinya untuk pertama kali terjun untuk meninjau kontrak dengan klien yang sudah puluhan tahun bekerja sama dengan Sanjaya grup. Barra justru memutuskan hubungan dan memilih supplier baru. Persis, dia sidang seperti ini.
" Kamu cancel kerjasama dengan perusahaan Karyanindo? ",
"Iya Pah.. ",
"Bar.. jangan mencampuradukkan urusan kerjaan sama pribadi.. ",
"Barra nggak asal kok Pa, liat aja kerjannya nggak bener. Papa butuh laporannya? Barra kirim nanti.. ",
"Bar.., Papa sama Mama udah menanggung malu karena mutusin pertunangan sepihak. Sekarang, urusan kerjaannya pun kamu cancel? kamu mau bikin malu keluarga? ",
" Barra lebih memilih bayar penalty daripada nerusin kerja sama.. ",
"Nggak gitu Bar cara mainnya.. ",
"Cara mainnya gimana Pa? nerusin kerja sama juga kita yang nanggung ruginya. Di cancel juga kena penalty. Lebih baik cancel sekalian.. ",
" Kamu ada masalah lagi sama Diana?? ",
"Dia yang kurang ajar sama istri Barra, coba tanya ke dia apa yang udah dilakuin. Kalo Barra bales, ya mereka jangan kebakaran jenggot gitu lah. Barra cuma ngikutin permainan mereka. Di ladenin kok malah ribut.. ",
"Jangan gara-gara soal perempuan kamu pertaruhkan reputasi perusahaan. Dimana profesionalnya kamu? ",
"Bukan perempuan sembarangan Pa, yang Barra bela istri Barra. Kalo menurut Papa, Barra nggak profesional, ya udah.. ganti aja yang bisa urus perusahaan.. ", Barra tersinggung.
Barra keluar dari ruang kerja.
"Bar.. papa belum selesai.. ",
"Persis kayak kamu dulu ya Sa..", ucap GrandPa.
Barra marah, sangat marah dengan perkataan Papanya. Dia menuruti egonya untuk melepas perusahaan. Barra angkat tangan, biarlah dipimpin oleh orang yang dianggapnya profesional.
Bagaikan api yang disiram air, kemarahannya mereda ketika melihat sosok sang istri.
"Sweety.. ayo pulang... ",
"Ve pamit dulu ke Mama.. ",
"Pamit aja ke GrandMa.., saya sudah bilang ke Mama kalo kita pulang.. ",
Ve mengangguk patuh.
...****************...
" Somasi.... kalau perlu penjarakan. Hubungi pengacara saya Yud...",
biar kapok Barra🥰🥰🥰
tapi jangan buat Ve kecewa ya kak,,
kesel aja trus bikin Bara bere bucin akut Ama Ve😄👍
harusnya dia jujur ke Ve ttg mamanya Rere. lanjut Saffa cantik🥰🥰🥰