NovelToon NovelToon
Surat Wasiat Kakek Robert

Surat Wasiat Kakek Robert

Status: tamat
Genre:Obsesi / Nikah Kontrak / Romansa / Tamat
Popularitas:33.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Irma

Kakek Robert memang orang yang senang melucu, saking lucunya sampai membuat surat wasiat yang mensyaratkan musuh bebuyutan, Jenson dan Rachel, harus tinggal dalam satu atap dan mereka harus menikah.

Padahal setiap kali mereka bertemu, kata-kata setajam pisau akan melesat dan menusuk harga diri mereka. Enam bulan bukan waktu yang singkat dan 150 miliar bukan jumlah yang sedikit. Apalagi warisan sebesar itu hanya diturunkan kepada mereka berdua, bukan kepada saudara-saudara kakek Robert.

Bulan pertama merupakan bulan yang terberat di mana mereka harus saling bertoleransi. Di bulan itu pula juga mereka mulai menyadari percikan gairah yang muncul. Tapi tidak semuanya berjalan lancar karena ternyata ada seseorang yang menginginkan kematian mereka berdua dan memperoleh warisan Kakek Robert…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

“Kalau kau sedang bersikap manis, lebih sulit bagiku untuk mencegah diriku melakukan sesuatu hal yang bodoh.”

Jenson mulai mengangkat gelasnya, tapi kemudian berhenti. “Misalnya?”

“Misalnya....” Rachel menurunkan gelas sampanyenya, lalu mengambil milik Jenson dan juga meletakkannya di atas meja. Sambil memandangi Jenson, Rachel melingkarkan tangannya di leher pria itu, kemudian secara perlahan disentuhkannya bibirnya ke bibir Jenson.

Seperti yang sudah diperkirakannya, bibir Jenson terasa hangat dan lembut. Tangannya menghampiri bahu Rachel, mendekapnya tanpa desakan. Mungkin mereka berdua sudah mengerti bahwa desakan tidak akan sanggup mengekang Rachel. Ketika Rachel melunak, sewaktu ia memberi atas kemauan sendiri, bukan lewat rayuan, bukan melalui tuntutan. Jadi Rachel-lah yang bergerak mendekat, Rachel-lah yang menempelkan tubuhnya ke tubuh Jenson, menawarkan sepercik kemesraan tanpa kepatuhan.

Aroma tubuh Rachel mendekapnya erat, menguatkan emosinya. Di balik tangan Jenson, tubuh Rachel terasa kokoh Rachel menariknya lebih dalam.

Rachel tak menolak sentuhannya, tidak ketika tangan Jenson merayap turun ke pinggangnya atau mendaki lagi ke atas. Sepertinya Jenson sudah pernah melakukannya, dalam mimpi yang ia sendiri menolak untuk mengakui. Jika ini waktu untuk sebuah penerimaan, Rachel akan menerima. Jika ini waktu untuk sebuah kenikmatan, ia akan menyambutnya. Jika ia menemukan keduanya saat bersama Jenson, ia tidak lagi menolak. Mungkin malam ini akan menjadi suatu malam tanpa pertanyaan.

Rachel melepaskan diri tapi hanya untuk tersenyum padanya. “Kau tahu, aku tidak menganggapmu sebagai sepupu waktu aku menciummu.”

“Sungguh?” Jenson meng*lum bibir istrinya. Rachel mempunyai bibir yang sangat menggairahkan penuh dan mencibir. “Kau menganggapku sebagai apa?”

Rachel menautkan alisnya. Lengan Jenson memeluknya, tapi tidak memenjarakannya. Rachel tahu nanti ia mesti menganalisis perbedaannya “Aku belum sempat memikirkannya.”

“Aku pikir kau akan menganggapku suamimu.” Jenson mulai menariknya kembali, tapi Rachel menolak.

“Tidak. Ini hanya hadiah natal dariku, dan ucapan terima kasih karena kau telah memberiku hadiah istimewa, seekor anjing.” ia menghampiri pohon itu, Rachel melongok ke bawah dan menemukan sebuah kotak datar. “Selamat Natal, Jenson.”

Jenson duduk di lengan sebuah kursi untuk membuka kotak itu sementara Rachel mengangkat gelas sampanyenya. Rachel meneguknya, mengamati dengan sedikit gugup, menunggu reaksi Jenson. Bagaimanapun juga itu hanya sebuah kenang-kenangan, ucapnya pada diri sendiri, seraya memain-main kan tangkai gelasnya. Ketika Jenson merobek bungkusnya, Jenson menatap sketsa wajah kakek mereka yang dibuat dengan pensil tanpa tahu apa yang mesti dikatakannya.

Jenson tahu, bingkai foto itu dibuat sendiri oleh Rachel. Bingkai itu terbuat dari perak dan penuh ornamen dengan gaya yang bakal disukai Kakek Robert. Tapi sketsa itu membuat Jenson terpaku. Rachel menggambar Kakek Robert sesuai dengan apa yang paling diingat Jenson, berdiri, agak membungkuk ke depan seakan-akan siap muncul dengan satu masalah baru. Rambut tipisnya yang masih tersisa kelihatan kusut. Pipinya tampak meregang dalam seringai besar yang terbuka lebar. Sketsa itu digambar dengan cinta, bakat, dan humor, tiga kualitas yang dimiliki dan dipuja Kakek Robert. Saat Jenson mendongak, Rachel masih memutar-mutar tangkai gelas di tangannya.

Kenapa Rachel begitu gugup, Jenson menyadari. Ia tak pernah menduga Rachel akan seperti itu, yang ia tahu Rachel selalu percaya diri, bahkan angkuh akan hasil karyanya. “Rachel. Tak ada seorang pun yang pernah memberiku sesuatu yang lebih berarti dari pada ini.“

Garis-garis di antara kedua alis Rachel menjadi rileks saat senyumnya mengembang. Rasa senang yang ganjil itu sulit disembunyikan. “Sungguh?”

Jenson mengulurkan tangannya. “Sungguh.” Dipandanginya sketsa itu kembali kemudian tersenyum.

“Ini kelihatan persis seperti kakek Robert, aku sangat merindukannya.” kenang Jenson.

“Ini kelihatan seperti kakek yang selalu kuingat.” Rachel membiarkan jemarinya bertaut dengan jemari Jenson. Rachel membatin, Kakek Robert-lah yang membuat mereka bersama, bukan yang lain. Ia nyaris tak mempercayainya. “Kupikir kau mungkin mengingatnya begitu juga. Hiasan bingkainya agak berlebihan.”

“Dan ini sangat cocok sekali.” Jenson mengamati bingkai itu lebih cermat lagi. Peraknya berkilap redup, dihiasi bentuk-bentuk ikal dan garis-garis. Bingkai itu bisa saja ditaruh di toko barang antik dan diwariskan sebagai pusaka, renung Jenson. “Aku tidak tahu bahwa kau juga membuat benda-benda semacam ini.”

“Begitulah. Butik itu memajang beberapa hasil karyaku.”

“Tidak masuk dalam kategori yang sama dengan manik-manik,” renungnya.

“Begitu, ya?” Rachel memiringkan dagunya. “Aku sedang berpikir-pikir untuk membuatkanmu kalung emas besar berhias batu imitasi dari kaca hanya untuk membuatmu jengkel.”

“Mungkin itu akan membuatku jengkel.”

“Mungkin tahun depan saja. Atau mungkin akan kubuat sebuah untuk Bruno.” Rachel melihat ke sekeliling. “Ke mana dia?” ia mencarinya

“Mungkin pergi ke belakang pohon, mengais-ngais hadiah. Selama masa tinggalnya yang singkat di garasi, dia sudah menyantap sepasang sepatu golf.”

“Kita akan menghentikan tindakan semacam itu,” Rachel mengumumkan, dan pergi mencarinya.

“Kau tahu, Rachel, aku tak menyangka kau mampu menggambar seperti ini.” Jenson bersandar di kursi untuk mengamati sketsa itu lagi. “Kenapa kau tidak melukis saja?”

“Kenapa kau tidak menulis Novel Action yang hebat?”

“Karena aku menikmati yang sekarang kulakukan.”

“Tepat sekali.” Tak menemukan tanda-tanda keberadaan anak anjing itu di sekitar pohon, Rachel mulai mencarinya di bawah perabotan. “Meskipun beberapa pelukis pernah cukup sukses dalam mencoba merancang perhiasan, aku merasa…

"Jenson!”

Jenson meletakkan kembali sampanyenya yang belum tersentuh dan bergegas lari ke tempat Rachel berlutut di dekat dipan. “Ada apa?” tuntutnya, lalu ia melihat sendiri apa yang telah terjadi. Dengan mata terpejam, napas tersengal-sengal dan berat, anak anjing itu berbaring di kolong dipan. Bahkan saat Rachel meraihnya, Bruno mengaduh dan berjuang untuk berdiri.

“Oh, Jenson, dia sakit. Kita perlu membawanya ke dokter hewan.”

“Ini sudah tengah malam sayang. Kita tidak akan menemukan dokter hewan yang buka pada tengah malam di malam Natal.” Dengan lembut Jenson mengusap-usap perut Bruno dan mendengarnya mengerang. “Mungkin aku bisa menelepon seseorang.”

1
Christ Mlg
👍🏻
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahh Rachel punya bodyguard sekarang siapa yang mengganggu Rachel akan berhadapan dengan Bruno si anjing jelek dan kejam 😊
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Happy ending, cerita nya menarik. di mana mana yg nama harta warisan pasti di perebutkan. ku alami sendiri dalam keluarga suamiku, itu harta sedikit, apalagi kalau harta nya banyak. kalau berurusan dgn harta warisan orang pun pasti menginginkan nya. meributkan.

selamat kk irma, sukses selalu 🥰🥰🥰
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jebakan nya langsung mengena, good
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
aku membayangkan kalung dan anting nya Rachel, aku yg pakai cantik kali ya🤭🤭🤭🤭
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
mereka bersekongkol & saling membongkar. tapi pemenangnya tetap jenson & Rachel. keren kakIR
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
gempar, gaduh. tapi pembunuh belum ditemukan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
moment luar biasa. mengundang pembunuh ke rumah.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pasti Rachel panik akan bertemu para saudara
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jangan pernah mikir cerai Rachel. itu cinta ❤
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
semua di sketsa itu bersekongkol.
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
kalian harus semakin waspada. pondok yg dulu belum lagi diperiksa
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
para lawan semakin brutal. semoga mereka bisa bertahan
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
pelan2 harapan jessica & nyoman berjalan lancar
◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣క🎸BuNdAιиɑ͜͡✦●⑅⃝ᷟ◌ͩ
jaga2 dengan bor. pinter Rachel.. 😁😁
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mungkin dgn mengundang mereka, siapa tau akan terbongkar semua misteri selama ini
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
demi harta orang melakukan berbagai hal utk mendapatkan nya, apa lagi harta warisan yg mudah di dapat tampa bekerja
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
jenson dan Rachel pasangan anehh
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Rachel wanita kuat, hebat dan keras kepala 🤭
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
mana ada orang siap mau mati🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!