Aurelia Ganita memiliki seorang kekasih bernana Kevin Bimantara, seorang CEO yang terkenal player. Tapi bersama Aurelia, sifat buruk Kevin sedikit berkurang.
Jiwa pemaaf Aurelia yang sangat luas membuat Kevin yakin kalo Aurelia adalah rumah terakhirnya.
Tapi kesetiaan Kevin diuji ketika dia bertemu Kesi, teman adiknya yang merupakan tetangganya dulu yang kini sudah kembali lagi ke kota ini.
Kevin mulai goyah dan berkhianat setelah dia menjalani kebersamaannya dengan Aurelia selama empat tahun.
Di minggu minggu akhir persiapan pernikahan mereka, Aurelia mengetahui pengkhianatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara gara Nicho
"Kamu nyetir sendiri?" tanya mama Aurel.yang melihat Aurel akan berangkat mengajar.
"Iya, Ma."
"Nanti kamu nemenin Sandrina?"
"Kan, ada Ivan."
"Oh iya, mama lupa," kekeh mamanya.
"Persiapan pernikahannya hampir rampung, ya, ma," puji Aurel. Rumah mereka.tampak sudah didekorasi dengan indah.
Hanya untuk menerima tamu kerabat dekat. Karena pesta akan diadakan di hotel bintang lima yang sudah dibooking dan di urus oleh WO.
"Bagus, kan?" kata mamanya senang.
Aurel menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Mama mau ngundang keluarga Kevim. Tapi mereka sepertinya masih berada di luar negeri," ucap mamanya pelan sambil melihat dalam pada sepasang mata Aurel.
Aurel terdiam. Ngga menanggapi.
Mama Aurel menghela nafas. Tau kalo Aurel masih terluka karena Kevin.
"Sudah, sana berangkat. Nanti kamu telat," kata mamanya saat melihat kabut tipis di mata Aurel.
"Iya, ma," ucap Aurel sambil mencium pipinya.
Kemudian melangkah ke arah luar rumahnya dibawah tatapan sedih Mama Aurel.
Tapi Aurel.dikejutkan oleh seorang ojek online yang mengulurkannya seikat bunga mawar putih.
"Ada titipan buat mba Aurel," kata ojek online itu membuat Aurel tertegun.
Aurel menatap rangkaian mawar putih yang kini sudah berada di tangannya.
Ingat akan seseorang yang tiap melakukan kesalahan selalu memberikannya buket mawar putih.
Mata Aurel terasa panas. Perhatiannya hanya tertuju pada mawar putih yang ada di depannya dengan kenangan kenangan yang berlarian dalam pikirannya.
Sampai Aurel ngga sadar kalo ojek online itu sudah pergi. Aurel bahkan lupa menanyakan padanya siapa yang memintanya mengirimkan mawar putihnya
Tapi ketika Aurel sedang menaruh bunganya di kursi mobilnya, sesuatu terjatuh di sana.
Sebuah kertas ukuran kecil yang berbentuk love.
Miss U, Aurel
kevin
Aurel terpaku. Matanya disipitkan seolah dia takut salah membacanya.
Kevin! hatinya tergetar. Dia berbalik dan keluar ke arah jalan di depannya.
Matanya sibuk mencari. Jantungnya berdebar ngga menentu.
Aurel jadi teringat sosok bertopi dan yang berkaca mata saat dia berada di butik. Aurel sudah merasa kalo itu Kevin
Tapi mungkinkan? Hatinya sedikit menyangkal.
Kenapa Kevin ngga langsung menemuinya?
Dia sudah ngga amnesia lagi?
Sudah ingat dirinya?
Tanpa sadar Aurel mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.
Sementara Kevin yang berada di dalam mobil, terus mengawasi Aurel dengan perasaan sedih dan rindu.
Apa aku setuju saja dengan ide Nicho? Menculikmu dan kita langsung menikah, Aurel? batin Kevin setres.
Rasanya dia bisa gila jika membiarkan Aurel tetap menikah dengan Ivan.
*
*
*
"Gimana? Jadi mau diculik, ngga?" tanya Nicho ngga sabar.
Saat ini dia, Kevin. Arkha, dan Denis sedang berkumpul di perusahaan Arkha lagi.
"Gue pengen. Tapi gue bakal mempermalukan keluarga Aurel. Gue ngga tega."
"Berarti lo ikhlas kalo Aurel menikah dengan Ivan," kecam Nicho sebal dengan sikap plin plan Kevin.
Arkha dan Denis hanya tertawa saja.
Rahang Kevin mengeras.
"Tentu saja enggak," bantahnya cepat.
Ngga akan pernah ikhlas.
"Ya udah, satu hari sebelum mereka menikah lo culik Aurel. Kita bantu lo," seru Nicho penuh semangat.
Denis dan Arkha tertawa geli.
Kevin menghembuskan nafas sedikit kecewa.
"Kenapa?" tanya Arkha heran.
"Tadi pagi harusnya udah gue culik Aurel."
"APA?" Ketiganya berseru kaget dan agak bengong.
Kevin jelas jelas menolak ide Nicho, tapi kenapa sekarang ngomongnya kayak gini?
Dasar plin plan, maki ketiganya dalam hati.
"Maksudnya?" tanya Arkha ingin Kevin lebih menjelaskannya.
"Tadi gue nyuruh ojek online ngasih bunga. Aurel tadi sendirian. Gue bimbang mau praktekin ide Nicho." Wajah Kevib kelihatan frustasi.
"Salah lo, kalo udah ada kesempatan di depan mata, malah lo biarkan. Kesempatan jarang datang dua kali, bro," sungut Nicho sebal.
"Aurel tau bunga itu dari lo?" tanya Denis mulai bersuara.
"Ya." Kevin masih teringat wajah sedih Aurel saat mencari ojek online di jalan di depan rumahnya.
"Dibuang bunga lo?" pamcing Nicho mengejek.
"Nggak," bantah Kevin dengan wajah ngga terima.
Nicho batuk bentar sebelum melanjutkan kata katanya.
"Kasian juga kalo Aurel nikah sama Ivam, tapi hatinya masih sama Lo," cetus Nicho yang mengedikkan bahu saat Denis mendelikka matanya. Memperingatkan agar ngga mengompori hati Kevin.
Kevin menghela nafas kasar.
Apa dia belum terlambat?
"Kita makan siang dulu. Teman gue ngundang ke acara launching kafenya. Makanan ala ala jepang. Sekalian mau ngenalin calon suaminya," kata Denis sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Oke," sahut Nicho cepat tanggap. Makanan Jepang adalah favoritnya.
"Nanti habis makan baru kita mikir lagi, Vin," tukas Arkha sambil menepuk bahunya.
Kevin hanya menipiskan bibirnya sekilas kemudian mengikuti sahabat sahabatnya.
Begitu sampai di kafe, mereka pun sudah mendapatkan tempat, karena teman Denis sudah menyiapkan yang spesial untuknya.
"Lo kenal di mana?" tanya Nicho sambil duduk.
"Mama langganan toko rotinya," kekeh Denis.
"Ooo."
"Tuh orangnya," tunjuk Denis tapi kemudian suaranya tercekat.
Pandangan ketiganya pun tertuju ke arah yang sama. Ivan sedang merangkul seorang perempuan yang diakui sebagai teman Denis dengan mesra.
"Kevin," seru Arkha kaget melihat Kevin yang sudah melangkah mendekati Ivan.
Ivan tersenyum.
"Hai, Vin. Udah ketemu.... aahhhh!"
"Aaahhh!"
"Aaahhh!"
"Kevin, sabar," kata Arkha sambil menahan tubuh Kevin yang ingin terus menghajar Ivan.
Sementara Ivam sudah jatuh tersungkur diiringi teriakan Sandrina dan pengunjung kafe lainnya.
Denis membantu Sandrina mengangkat tubuh Ivan yang bibirnya sudah terluka dan mengeluarkan darah.
"Apa apaan ini? Kenapa kamu marah?" tanya Ivan ngga terima.
Darah Kevin mendidih.
"Kamu laki laki bajingan!" maki Kevin dengan perasaan muak. Perasaan relanya melepas Aurel untuk Ivan yang disangkanya laki laki yang baik musnah sudah.
Sekarang dia akan bertarung demi mendapatkan Aurel kembali.
"Apa maksud kamu! Bukannya kamu yang bajingan!" sergah Ivam sambil mengusap darah di sudut bibirnya, mulai emosi.
"Denis! Bawa teman kamu pergi!" usir Sandrina marah.
"Sandrina, ini calon suami kamu?" Denis masih mencoba berpikir jernih.
"Iyalah! Bentar lagi kami akan menikah. Lihat ini wajah suamiku bengkak, padahal bentar lagi akan jadi pengantin," marah Sandrina sambil melotot pada Denis.
"Sebentar, sebentar. Jadi yang mau menikah sama Ivan itu kamu, bukan Aurel?" sambung Nicho pucat. Ternyata dia salah paham. Dia juga yang sudah menyebarkan berita ngga benar pada Kevin sampai Kevin marah dan buat keributan.
"Aurel sepupu.gue?" Kening Sandrina mengernyit.
"Sepupu lo?" kaget Denis. Dunia ternyata hanya selebar daun kelor.
"Iya. Kalian kenal?"
Jangan ditanya lagi, kemarahan Kevin langsung mengendur. Tapi matanya kini melotot pada Nicho. Begitu juga Arkha dan Denis
"Elo!" geram Kevin sambil menendang tulang kering Nicho gemas.
Dia sampai panik, kalut dan ngga bisa tidur mikirin Aurel akan memikah dengan Ivan gara gara info yang diberikan Nicho lewat Arkha padanya.
"Sorry, Vin. Tapi karena itu juga, kan, lo pulang," ringis Nicho membela diri.
Kevin hanya mendengus walau dalam hati membenarkan.
Denis dan Arkha juga menatap Nicho geram dan gemas. Mereka pun tertipu mentah mentah oleh Nicho.
"Kevin...."
Aurel menatap Kevin dengan tajam. Dia baru saja sampai di kafe Sandrina dan penasaran dengan keributan yang terjadi.
Tanpa mempedulikan keributan yang sudah dia timbulkan, Kevin menarik tangan Sandrina untuk mengikutinya pergi
*
*
*
"Jadi kamu bohong, waktu kamu bilang amnesia?" todong Aurel kesal. Saat ini Kevin membawa Aurel menjauh dari kafe.
"Maaf," kata Kevin sambil menggusar rambutnya berulang kali.
Semua ini karena Nicho sialan, umpat Kevin kesal dalam hati.
"Kamu kenapa juga mukulin Ivan," kesal Aurel melihat Kevin yang tampak ngga tenang setelah apa yang dia lakukan.
"Kenapa juga tadi kamu ngga nemuin aku," omel Aurel tanpa henti.
"Maaf Aurel. Maaf. Ini semua gara gara Nicbo," bela Kevin ngga mau mutlak disalahkan.
Aurel menghela nafas.
"Kenapa kamu harus nyalahin orang lain, sih, Vin. Sudah jelas kamu mukulin Ivan."
"Aku kira Ivan selingkuh dari kamu. Makanya aku marah."
"Selingkuh gimana? Aku ngga ngerti," tandas Aurel cepat. Bingung.
Kevin menghembuskan nafas kesal.
"Arkha mengirimkan aku foto yang dijepret Nicho. Foto kamu sama Ivan di butik gaun pengantin. Kemaren aku juga lihat kamu di sana."
Jadi benar itu dia? batin Aurel dengan dada berdebar.
"Aku cemburu Aurel. Aku ..... nggak mau Ivan maenin kamu," kata Kevin dengan nada getir. Dia menatap Aurel lemah. Putus asa.
Aurel masih ngga menyahut. Masih terkesima dengan kata kata Kevin.
"Aurel.... aku pernah nyakitin kamu. Aku merasa ngga pantas buat kamu. Tapi aku ngga bisa melepas kamu buat orang lain," kata Kevin sangat putus asa.
Aurel masih terdiam. Tapi jantungnya berdetak ngga menentu.
"Lantas?" tanyanya akhirnya. Pelan.
Kevin meraih tangan Aurel. Menggenggamnya lembut.
"Kita menikah. Aku akan berusaha setia sama kamu. Aku janji, Aurel," ucap Kevin penuh harap.
Aurel masih menatap Kevin lekat. Sampai hari ini pun dia masih belum bisa melupakan Kevin. Cintanya memang aneh. Sudah disakiti tapi masih saja tetap merindukan Kevin.
Bukan ngga ada yang mendekatinya. Tapi Kevin memang punya nilai lebih di hatinya. Dia menyayangi dan juga disayang orang tuanya. Keluarga Kevin juga menyayanginya.Itu yang membuatnya susah move on.
"Kamu janji? Tapi apa aku masih bisa percaya sama kamu?" tanya Aurel sambil melayangkan pandangannya ke tempat lain.
Dia ingin menerima, tapi tetap saja terselip sedikit perasaan ragu.
"Aurel, kali ini aku serius. Aku ngga akan seperti dulu. Aku akan berusaha," desak Kevin membujuk.
Aurel kembali menatap Kevin. Lama. Mencari keseriusan dalam mata itu.
"Aurel."
"Tapi kamu harrus minta maaf sama Ivan," kata Aurel memberi syarat.
"Itu aja?"
"Ya. Sekarang," kesel Aurel melihat senyum Kevin. Seakan mudah baginya.
"Iya, sayang."
"Aku udah maafin, Rel," timbrung Ivan tiba tiba.
Keduanya menoleh. Ternyata Ivan sedang dipapah Sandrina sudah berdiri ngga jauh dari situ.
Di dekat mereka juga ada Arkha, Denis dan Nicho yang berjalan dengan agak terpincang. Mereka sama tersenyum.
"Aku yang akan menghajarnya kalo dia ngga setia," kata Arkha membuat pipi Aurel merona. Rupanya tanpa disadarinya, mereka sudah cukup lama mendengarkan kata kata mereka.
"Kita juga akan membantu Arkha," kekeh Nicho sambil menyenggol Denis yang tersenyum lebar.
Thank's, batin Kevin terharu. Lega melihat mereka semua mendukungnya. Terlebih Ivan yang sudah dipukulnya.
"See?" ucap Kevin dengan senyum di bibirnya.
Aurel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Kevin tertawa lega sekaligus bahagia. Tanpa sungkan dia pun memeluk Aurel diiringi tawa yang lain. Ikut bahagia melihat Kevin dan Aurel.
"Beneran kamu ngga mau balas memukul Kevin?" bisik Sandrina tetap ngga rela melihat wajah Ivan yang bengkak matang biru.
"Mau, sih. Nanti kita ngomong ke Aurel," Ivan balas berbisik, kemudian tergelak.
Sandrina.pun melebarkan senyumnya. Senang dengan jawaban Ivan.
■
♡tamat♡
Terimakasih para author dan para readers yang sudah setia mengikuti cerita ini. Memang sengaja saya buat singkat episodenya, semoga tetap suka, ya....
like, komen, vote dan hadiah yang sudah diberikan benar benar membuat saya bahagia, padahal tulisan saya belum sempurna dan banyak typonya. Maafkan ya....♡
Sehat sehat selalu semuanya....♡♡♡
Kalo berkenan bisa membaca ceritaku yang lainnya.... Klik aja profilnya....♡
good job othor. cerita nya bagus skaliiiii 😘
marathon baca yang lain ahhh