Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Announcement.
Prediksi Sarah benar. Grasian sudah pasti akan mencari ribut dengannya dan Demian. Saat mereka sedang meeting koordinasi bersama perwakilan sejumlah divisi, tiba-tiba ada keributan di luar. Seseorang sepertinya ingin memaksa masuk ke ruangan namun ditahan oleh pihak security. Seluruh peserta rapat otomatis menoleh ke arah pintu itu, termasuk Demian dan Sarah.
Gubrakk!!!
Sepertinya Grasian tidak tertahan oleh sekelompok orang di luar sana. Dia berhasil mendobrak pintu dan kini wajah beringasnya sudah menyapu ruangan rapat, mencari orang yang sedari tadi ingin dia temui.
"Kemari kau pengkhianat!" dia berlari cepat ke arah Sarah seakan ingin menerkamnya. Sontak Demian yang menyadari hal tersebut langsung berdiri untuk melindungi Sarah dengan tubuhnya. Hiruk pikuk seketika memenuhi ruangan. Peserta rapat langsung berhamburan ke luar, sebaliknya pihak security berlomba-lomba masuk ke dalam untuk menangkap si biang kerusuhan. Tentu saja setelah ini mereka akan mendapat SP (Surat Peringatan) karena dianggap tidak becus menjaga keamanan.
Demian lagi-lagi harus pasrah mendapat tinjuan keras dari Grasian. Sarah yang melihat itu langsung panik dan ingin melerai. Namun perkelahian keduanya semakin sengit. Amarah Demian sudah tidak bisa ditahan lagi. Sejak tadi malam dia sudah menahan diri untuk tidak mengeluarkan semua tenaganya karena sedang berada di tempat umum. Tapi kali ini persetan dengan orang-orang. Dia harus memberi Grasian peringatan.
"Demian! Stopp!!" Sarah mencoba menarik Demian untuk menghentikan pukulannya terhadap Grasian yang sudah babak belur di bawahnya.
"Kalian sedang apa??!!! Hentikan mereka sekarang!!!" Sarah membentak histeris semua security yang seakan tidak mampu berbuat apa-apa karena disuruh mundur oleh Demian.
"Ta... tapi, Bu... "
"Kalian mau dia mati digebukin Pak Demian? Kalian mau kita semua masuk penjara hah????" air matanya sudah mulai menetes.
Mendengar kata penjara, orang-orang yang menonton itu pun bergerak cepat memisahkan ke dua orang itu. Setelah berhasil, Sarah dengan cepat mendapati Demian dan tanpa pikir panjang segera memberinya pelukan untuk menenangkan.
"Tahan emosimu, Demian!!! Kau bisa membuatnya mati!!" bentak Sarah keras. Dia juga marah terhadap pria tempramen itu.
"Biar saja dia mati, Sar! Biar nggak ada lagi yang mengganggumu," jawab Demian masih dengan terengah-engah dan emosi yang meluap-luap.
"Kau bohong Sarah!!! Kau yang selingkuh dariku!! Bukan aku yang selingkuh darimu!! Cuihhh!! Kalian berdua sama-sama pengkhianat!!"
"Keluar, Grasian!! Atau kau akan menyesal!" ancam Sarah sambil melemparkan tatapan marah.
"Menyesal kenapa, hah???? Kalau pun aku mati di sini aku tidak akan menyesal, selama aku bisa melihat kalian berdua hancur ditanganku!"
Grasian meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pegangan security, namun dia gagal.
"Bawa dia keluar dan pastikan dia tidak bisa masuk ke gedung ini lagi!" perintah Sarah kepada orang-orang bawahannya. Emosinya sudah memuncak. Dalam hitungan detik orang-orang itu sudah membawa Grasian pergi bersama caci maki yang tidak habis dari mulutnya.
Sarah kembali mengalihkan perhatiannya pada Demian yang masih duduk membisu di lantai. Wajahnya yang lebam-lebam membuat hati Sarah terluka lagi. Emosinya yang sedang tinggi berusaha dikembalikannya ke titik normal.
"Kalau kau harus masuk penjara karena menghabisinya, aku bisa mati Demian..." air matanya menetes lagi. Tangannya terulur meraba tanda kebiru-biruan di wajah suaminya. Padahal baru tadi malam dia mengompres di bagian yang sama, sekarang sudah lebam lagi.
"Maafkan aku. Aku tidak ingin kau terluka, Sar. Aku takut kehilanganmu..." merasa bersalah, Demian meraih jemari Sarah dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.
"Aku akan selalu di sampingmu apa pun yang terjadi! Tolong jangan terluka lagi karena aku!! Paham???!!" intonasi keras itu seakan menunjukkan ketakutan Sarah kalau saja tadi Demian kalap menghabisi Grasian di ruangan itu.
"Iya. Aku janji. Maafkan aku..." Demian semakin merasa bersalah. Dia mendekap Sarah lebih dalam lagi dan mengecup ubun-ubunnya untuk menenangkan istrinya itu.
Pemandangan Demian dan Sarah berpelukan tidak luput dari pengelihatan orang-orang yang sedari tadi berkumpul di pintu ruangan rapat. Bisik-bisik pun mulai terdengar. Ada yang terkejut, ada yang ilfeel seketika, ada yang bersikap biasa saja. Tidak sedikit pula yang diam-diam mengabadikan dengan kamera ponsel mereka.
Selang berapa saat kemudian, Sarah melepaskan dirinya dari dekapan Demian.
"Untung saja aku bawa kotak P3K. Kau babak belur lagi."
"See? Dugaanku tidak pernah meleset. Ahhh, sialan. Perih sekali..."
"Kau disini saja, aku ambil kotak P3K-nya dulu."
"Telepon Office Girl aja, suruh ambilin, jangan jauh-jauh dariku..."
Untungnya Sarah sudah bisa tersenyum. Dia pun menuruti perintah Demian dan menelepon Diana untuk mengambil kotak P3K di ruangannya. Setelah itu dia pun membantu Demian untuk duduk di kursi.
"Sar..."
"M?"
"Sepertinya kita harus segera sounding soal hubungan kita. Aku nggak mau ada kabar aneh-aneh setelah ini."
Lagi, Sarah mengukir senyum di bibirnya. Dia pun sudah memikirkan hal tersebut tepat saat Grasian memaki-maki mereka berdua di depan orang-orang. Setelah mereka keluar dari ruangan ini, sudah dipastikan ada gosip tidak sedap yang beredar di seantero perusahaan. Sarah tidak ingin nama baiknya dan Demian tercoreng.
"Aku setuju, Sayang. Bagaimana kalau setelah aku mengobati lukamu, kita keluar dan mengumumkan ke orang-orang?"
"Sekarang? Serius? Kau siap?"
"More than you know. Menurutmu sudah berapa banyak asumsi liar yang bertebaran di luar sana hanya dengan mendengar cacian Grasian tadi? Aku nggak mau kau terkena dampaknya."
Demian menatap kedua mata Sarah yang teduh. Kata-kata wanita itu sungguh mampu menyejukkan hatinya yang sempat kalang kabut tadi. Sarah benar-benar seorang malaikat yang tidak ada tandingannya.
"Kebaikan apa yang sudah kulakukan di masa lalu sehingga mendapat istri sesempurna ini?" dia sedikit memuji sambil mengelus pipi Sarah yang masih basah dengan lembut.
"Ah lebay. Ini si Diana kemana ya? Kok lama?" sebenarnya Sarah sedang salah tingkah mendengar pujian Demian. Dia pun ingin bergerak mencari Diana namun Demian cepat-cepat menarik tangannya sehingga terjatuh di pangkuannya.
"Sudah kubilang jangan jauh-jauh, Sar!"
"Ya ampun! Aku cuma mau ngecek ke pintu loh! Nggak sampai lima meter juga!"
"Biarin! Di sini aja."
"Oke oke. Tapi nggak dipangku gini juga. Masih banyak yang lihatin tau!"
Sarah sedikit kewalahan dengan sikap protektif Demian. Namun dalam hati dia berbunga-bunga. Siapa yang tidak senang kalau suaminya pengen dekat-dekat terus?
*****
Demian dan Sarah harus menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari ruangan keramat itu. Sebelumnya, Demian sudah memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan aula utama karena dia akan melakukan pertemuan akbar internal perusahaan. Dia juga membuat himbauan agar seluruh karyawan berkumpul di aula tersebut di jam yang sudah ditentukan Demian.
Dan sekaranglah waktunya...
Mereka berdua berjalan menuju aula dikawal sejumlah tim keamanan. Setelah diserang secara ilegal oleh orang tidak dikenal tadi, tim keamanan itu sadar bahwa mereka harus lebih protektif terhadap Sang Direktur. Jika tidak, hal yang sama bisa terulang kembali di hari-hari yang akan datang dan itu jelas-jelas mengancam karir mereka.
Aula utama sudah dipenuhi karyawan yang berasal dari seluruh divisi. Biasanya jarang sekali mereka berkumpul di aula besar ini. Oleh sebab itu banyak yang bertanya-tanya apa tujuan Direktur tampan yang wajahnya sedang lebam-lebam itu mengumpulkan mereka semua. Namun tidak sedikit yang sudah menduga ini ada hubungannya dengan kejadian yang ramai beredar di grup-grup chat kantor.
Demian langsung mengambil tempat di depan podium sementara Sarah berdiri di sebelah kiri, beberapa langkah di belakangnya.
"Selamat siang semuanya... " Demian menyapa sambil menyunggingkan sedikit senyuman di bibir.
"Siang, Paaaaakkkkkk..." jawab dari ratusan orang itu serentak.
"Baik. Sebelumya saya meminta maaf karena sudah meminta kalian berkumpul di sini, sementara kalian punya banyak pekerjaan yang sedang dateline. Mungkin kalian juga bertanya-tanya kenapa ini terkesan sangat mendadak. Yes, memang cukup mendadak karena ini cukup urgent bagi saya pribadi..." Demian membuat jeda sebentar.
Suasana masih hening, menunggu Demian, si bos besar melanjutkan kalimatnya. Perempuan-perempuan yang sangat mengagumi Demian merasa sangat beruntung hari ini bisa melihat bos tampan itu secara langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Karena biasanya Demian tidak pernah menampakkan dirinya ke khalayak umum karena dia punya sekretaris yang bisa dia andalkan dalam segala hal.
"Mungkin sebagian dari kalian sudah mengetahui insiden yang terjadi di ruang rapat barusan. Video dan foto-fotonya cukup cepat beredar, saya salut dengan kekompakan kita," Demian menyindir halus sambil tetap mengukir senyum di wajahnya, "Saat ini saya ingin memberikan pengumuman penting, sebelum video dan foto-foto itu menimbulkan isu atau gosip yang keliru tentang saya dan Ibu Sarah..."
Sebagian dari hadirin yang sudah menduga topik ini pun mulai berbisik-bisik.
"Benar kan? Pasti tentang itu..."
"Apa gue bilang? Siniin taruhan lo!"
Dan masih banyak bisikan tidak sedap lainnya.
"Saya dan Ibu Sarah sudah menikah."
Dhuarrrr!
Seperti petir yang menyambar di siang bolong, seluruh mata di ruangan itu terbelalak. Membulat sempurna menandakan sangat terkejut dengan announcement Demian barusan. Lagi, bisik-bisik itu semakin terdengar kencang seperti kerumunan lebah.
Demian memanggil Sarah untuk berdiri di sisinya. Lalu mengisyaratkan perempuan itu untuk mengangkat tangannya guna menunjukkan cincin pernikahan mereka.
"Saya dan Ibu Sarah sudah menikah satu bulan yang lalu. Namun memang, ini masih sebatas internal keluarga saya dan Ibu Sarah. Pernikahan kami juga resmi secara agama dan juga hukum."
Untuk meyakinkan seluruh karyawannya, juga guna menghindari tuduhan yang tidak-tidak, Demian bahkan menunjukkan akta pernikahan mereka melalui layar besar di sebelah kiri dan kanan gedung. Sejumlah foto pernikahan mereka juga ditayangkan, yang tentunya sudah dipilih baik-baik agar tidak mengekspose wajah Sarah yang sedang cemberut. Foto bersama orangtua Demian dan Sarah juga seakan menjadi bukti yang sangat kuat bahwa keduanya menikah dibawah restu sah keluarga besar.
Berbagai jenis suara sumbang lagi-lagi memenuhi langit-langit aula. Ada yang terkagum-kagum, ada yang tidak percaya, ada pula yang tidak terima. Ada yang menerka-nerka kalau mereka dijodohkan diam-diam sehingga Sarah terpaksa meninggalkan kekasihnya yang beberapa hari lalu juga sempat menggegerkan seisi kantor.
"Sebenarnya ini privasi saya dan Ibu Sarah. Rencananya kami akan announce jika waktunya sudah tepat. Namun berhubung ada insiden yang tentunya di luar perkiraan kami, sepertinya memberitahukan kabar sukacita ini kepada kalian harus kita percepat. Lalu, insiden yang terjadi di ruang meeting tadi hanya sebuah kesalahpahaman yang kebetulan belum sempat kami selesaikan karena urusan kantor yang cukup padat. Kami meminta maaf karena ini menjadi konsumsi publik yang tidak semestinya. Kami juga berharap seluruh karyawan bisa menyikapi ini dengan bijaksana."
Sarah sebenarnya sedikit gugup. Dia tahu ratusan wanita penggemar Demian pasti akan kecewa dengan kabar ini. Setelah ini pun dia harus siap kalau-kalau sikap kaum hawa yang biasanya berhubungan langsung dengan dirinya untuk urusan pekerjaan tiba-tiba berubah. Tapi dia sudah memutuskan untuk tidak terlalu perduli. Toh selama ini dia tidak menjalin pergaulan normal dengan siapa pun di kantor. Dia stuck bersama Demian, along day. Lagian sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya justru lebih menyiksa untuk dia dan Demian.
"Sebagai dispensasi untuk kekacauan hari ini, saya dan Ibu Sarah secepatnya akan mengadakan resepsi pernikahan dan semua karyawan di sini diundang, tanpa terkecuali."
Bisik-bisik yang tadinya hanya setengah suara itu mendadak berubah menjadi sorak sorai yang membahana. Kapan lagi coba bisa hadir langsung di acara pernikahan bos besar? Rakyat jelata seperti mereka biasanya tidak pernah diperhitungkan untuk hadir di acara berkelas yang akan mengundang kaum elite dan para pebisnis besar dari seluruh penjuru kota. Belum lagi itu kesempatan mereka untuk makan enak sepuas-puasnya tanpa harus takut kena charge.
"Baiklah, saya rasa pertemuan ini cukup sampai di sini. Terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya. Silahkan kembali ke tempat masing-masing. Selamat siang."
Setelah Demian mengucapkan salam penutup, karyawan-karyawannya pun mulai keluar dari aula. Khusus para petinggi dan dewan direksi yang juga hadir di kursi paling depan menyempatkan diri untuk memberikan ucapan selamat kepada Demian dan Sarah. Sepertinya mereka juga cukup surprise atas kabar tersebut karena melihat profesionalitas keduanya selama satu bulan terakhir. Mereka mengaku kagum karena Demian dan Sarah cukup dewasa untuk tidak mengekspos hubungan pribadi mereka di perusahaan.
Tidak lama kemudian, Demian dan Sarah kembali ke ruangan mereka masing-masing. Sarah harus segera mengatur ulang jadwal rapat koordinasi yang tadi berantakan karena kehadiran Grasian. Sedangkan Demian, dia punya urusan lain yang lebih urgent. Membereskan pria kurang ajar itu.
*****