Ketika infeksi misterius yang berasal dari bunga menyebar ke seluruh dunia, mengubah manusia menjadi kawanan zombie, Virz—seorang bocah yang selamat—berjuang untuk bertahan hidup di dalam sebuah shelter. Bersama dengan sekelompok penyintas lainnya, mereka berusaha mencari penyebab wabah tersebut dan melawan para zombie di dunia yang berada di ambang kehancuran. Di tengah kekacauan dan ketakutan, mereka harus menemukan harapan dan jawaban sebelum segalanya benar-benar hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffa Rifky Virziano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengasah
Di bawah langit cerah Siang hariyang membentang luas, Virz, Rio, dan Valdo berada di area latihan kamp mereka, yang terletak Luar Shelter dan dikelilingi oleh pemandangan hijau yang menyegarkan. Udara pagi yang sejuk menyapu area latihan, memberikan suasana yang ideal untuk berlatih.
Virz, Rio, dan Valdo berdiri di lapangan luas, dikelilingi oleh berbagai alat latihan. Mereka mengenakan pakaian latihan yang nyaman dan memulai sesi latihan kekuatan otot mereka. Hari itu, mereka akan fokus pada latihan yang melibatkan beban dan teknik kekuatan fisik.
Rio, dengan tubuh atletis dan semangat yang tinggi, memulai latihan dengan mengangkat beban besar. “Ayo, Virz, Valdo! Jangan malas! Latihan ini akan membuat kita semakin kuat,” serunya sambil mengangkat beban dengan penuh tenaga.
Virz tersenyum, mengikuti semangat Rio. Dia mengambil beban yang lebih ringan dan mulai melakukan angkat beban dengan gerakan yang teratur. “Kita harus memastikan teknik kita benar. Jangan hanya fokus pada beratnya,” kata Virz sambil menunjukkan teknik yang benar kepada Valdo.
Valdo, yang memiliki tubuh yang lebih besar dan kekar, mengangguk setuju. “Kau benar, Virz. Teknik yang benar sangat penting agar kita tidak cedera. Lagipula, aku ingin memastikan kalau otot-otot ini tetap dalam kondisi prima,” ujarnya sambil melakukan angkatan dengan kekuatan penuh.
Sambil melakukan latihan, mereka saling berbincang untuk menghilangkan kejenuhan. Rio, yang tampak sangat bersemangat, mulai berbicara tentang rencana latihan mereka ke depan. “Jadi, setelah kita selesai dengan latihan kekuatan ini, kita harus mulai latihan kardio. Aku dengar ada jalur baru yang bagus di sekitar sini.”
Virz mengangguk, masih fokus pada angkat bebannya. “Kardio memang penting. Selain itu, aku juga ingin mencoba beberapa latihan teknik baru untuk meningkatkan kelincahan kita.”
Valdo, yang sedang beristirahat sejenak, menambahkan, “Kardio dan kekuatan itu penting, tapi jangan lupa juga latihan mental. Kadang-kadang, kita butuh ketahanan mental untuk menghadapi situasi sulit.”
“Setuju,” kata Virz. “Kadang, ketika kita menghadapi misi atau pertempuran, ketahanan mental bisa menjadi faktor penentu.”
Mereka melanjutkan latihan dengan penuh semangat. Rio menunjukkan beberapa teknik angkat beban baru yang ia pelajari, sementara Valdo memberikan tips tentang cara menjaga keseimbangan dan postur yang baik. Virz memperhatikan dan belajar dari keduanya, merasa bersyukur memiliki rekan latihan yang berbakat dan berdedikasi.
Saat sesi latihan mendekati akhir, ketiganya duduk di bawah pohon besar untuk istirahat. Mereka menikmati beberapa air minum sambil berbincang lebih santai.
“Rasa-rasanya latihan hari ini lebih ringan daripada biasanya,” kata Virz, merasa puas dengan hasil latihan mereka.
Rio tersenyum lebar. “Itu karena kita semakin terbiasa. Tapi jangan lengah, masih banyak yang perlu kita tingkatkan.”
Valdo menambahkan, “Lagipula, latihan ini juga membantu kita menjadi lebih sigap. Setiap latihan kita lakukan, kita semakin mengenal kekuatan dan kelemahan satu sama lain.”
Setelah sesi latihan kekuatan, Virz mengusulkan untuk melanjutkan dengan latihan menembak. “Bagaimana kalau kita beradu menembak hari ini?” katanya sambil tersenyum lebar. “Kita bisa lihat siapa yang paling akurat di antara kita.”
Valdo, yang sedang merapikan peralatan, mengangguk setuju. “Kedengarannya seru. Aku akan menyiapkan senjata dan papan sasarannya.”
Rio, yang duduk di sisi lapangan, menyeringai. “Aku siap. Mari kita lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang.”
Virz segera mengatur papan sasaran di jarak yang sesuai di area latihan. Dia memastikan semuanya terpasang dengan benar dan posisi papan sasarannya stabil. Sementara itu, Valdo mengeluarkan berbagai senjata api dari tempat penyimpanan, dan dengan hati-hati mengatur senjata-senjatanya di meja.
“Aku akan menggunakan MG42,” kata Virz, mengambil senapan mesin berat yang terkenal dengan kecepatan tembakan tinggi dan daya hancurnya.
Valdo memilih senapan serbu AW60, yang dikenal dengan akurasi dan daya tembak yang handal. “Aku ambil AW60. Senjata ini sangat presisi dan cocok untuk latihan menembak.”
Rio, yang sudah siap dengan senapan AK47 miliknya, tersenyum lebar. “Kalau begitu, aku akan menggunakan AK47. Mari kita lihat bagaimana hasilnya.”
Ketiga teman ini berdiri di posisi mereka masing-masing dengan senapan yang sudah siap. Mereka mulai mempersiapkan diri, memeriksa amunisi, dan memastikan senjata dalam kondisi baik. Virz, Valdo, dan Rio berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari papan sasaran.
“Sebelum kita mulai, ada satu hal yang harus kita sepakati,” kata Virz sambil tersenyum. “Kita semua harus menembak dari posisi berdiri. Tidak ada duduk atau berbaring.”
Valdo setuju. “Baiklah, posisi berdiri. Ayo mulai.”
Ketiganya mengarahkan senjata mereka ke papan sasaran. Virz menyiapkan MG42-nya dan mulai mengarahkan dengan hati-hati. Valdo menyiapkan AW60-nya, menargetkan dengan ketelitian tinggi, sementara Rio memegang AK47-nya, siap menembak.
“Siap?” tanya Virz sambil melihat ke arah dua temannya.
“Siap!” jawab Valdo dan Rio serempak.
Dengan komando dari Virz, ketiga tembakan dimulai. Dentuman senapan mesin MG42 terdengar keras, dengan Virz menembakkan beberapa tembakan berturut-turut ke arah papan sasaran. Di sisi lain, Valdo mengarahkan AW60-nya dengan cermat dan menembakkan satu tembakan demi satu tembakan dengan presisi yang tinggi. Rio, dengan AK47-nya, melepaskan tembakan yang cepat dan terkontrol.
Setelah beberapa menit tembakan, mereka berhenti dan memeriksa hasil tembakan mereka pada papan sasaran. Papan sasaran penuh dengan lubang-lubang dari ketiga senjata, dan masing-masing tembakan menunjukkan hasil yang berbeda.
Virz tersenyum melihat hasil tembakannya. “Lumayan, tapi sepertinya kita harus melihat hasil akhir untuk menentukan pemenangnya.”
Valdo memeriksa hasil tembakannya dan mengangguk dengan puas. “AW60 memang tepat sasaran. Aku rasa aku mendapatkan beberapa poin bagus.”
Rio memeriksa papan sasaran dan tertawa. “AK47-ku memang tidak sepresisi itu, tapi rasanya seru juga.”
Mereka semua tertawa dan berbincang sambil melihat hasil tembakan mereka. Virz mengusulkan, “Bagaimana kalau kita menyusun beberapa latihan tembakan dengan target yang berbeda? Kita bisa meningkatkan keterampilan kita lebih lanjut.”
“Setuju!” kata Valdo dan Rio serempak.
Mereka menghabiskan sisa waktu latihan dengan berlatih lebih lanjut, mencoba berbagai posisi dan jarak tembak, sambil terus bercanda dan saling memberi semangat. Suasana di lapangan menjadi penuh keceriaan dan rasa camaraderie, menjadikan hari itu penuh dengan kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan.
SEtelah sesi latihan menembak yang penuh semangat, Valdo mengajak Virz dan Rio untuk makan di sebuah tempat makan yang terletak tidak jauh dari area latihan. “Bagaimana kalau kita makan sesuatu setelah latihan? Aku tahu tempat yang menyajikan ayam bakar yang enak di dekat sini.”
Virz dan Rio menyetujui dengan antusias. “Kedengarannya sempurna! Aku benar-benar lapar setelah latihan ini,” kata Virz, merapikan senjatanya.
Ketiganya berjalan menuju restoran kecil yang sederhana namun populer di kalangan penduduk lokal. Restoran itu memiliki suasana yang nyaman, dengan meja-meja kayu dan aroma makanan yang menggugah selera di udara. Mereka memilih meja di luar yang teduh dan menunggu dengan sabar saat pelayan membawa menu.
“Bagaimana kalau kita memesan ayam bakar spesial mereka?” kata Valdo, membuka menu dan menunjukkan pilihan yang menurutnya paling menggugah selera. “Aku dengar ayam bakar mereka luar biasa enak.”
Rio menyetujui, sambil memeriksa menu yang ada. “Setuju! Dan mungkin tambahkan beberapa porsi nasi dan sayuran. Kita butuh energi untuk hari ini.”
Virz tersenyum dan mengangguk. “Bagaimana kalau kita juga memesan beberapa minuman dingin? Setelah latihan seperti ini, rasanya pasti menyegarkan.”
Pelayan datang dan mereka memesan beberapa porsi ayam bakar spesial, nasi, sayuran, dan minuman dingin. Sambil menunggu makanan, ketiganya terus berbincang, membahas berbagai hal mulai dari latihan pagi, rencana masa depan, hingga kisah lucu dari pengalaman mereka.
Tak lama kemudian, makanan mereka tiba. Aroma ayam bakar yang lezat memenuhi udara, dan piring-piring penuh dengan potongan ayam yang dipanggang dengan bumbu yang menggugah selera. Mereka mulai menikmati makanan dengan lahap.
Valdo memotong sepotong ayam bakar dan mengambil gigitan pertama. “Hmm, ini benar-benar enak. Tidak mengecewakan sama sekali!”
Rio tersenyum lebar sambil menyantap makanannya. “Setuju. Ayam bakar ini punya rasa yang unik dan bumbu yang pas. Sempurna setelah latihan.”
Virz menikmati potongan ayamnya dengan penuh kepuasan. “Aku senang kita bisa berbagi waktu ini bersama. Latihan dan makan seperti ini membuat hari kita terasa lebih berarti.”
Mereka melanjutkan makan dengan penuh selera, berbicara tentang berbagai topik dan menikmati kebersamaan mereka. Suasana di restoran menjadi semakin santai dan penuh keceriaan.
Setelah makan, mereka merasa puas dan kenyang. Valdo membayar tagihan, dan ketiganya berdiri untuk pergi. “Terima kasih atas makanannya, Valdo. Itu benar-benar lezat,” kata Virz sambil tersenyum.
Valdo membalas dengan senyuman. “Sama-sama. Aku senang kita bisa menikmati waktu bersama seperti ini.”
Rio menambahkan, “Ya, ini adalah cara yang bagus untuk mengakhiri latihan yang produktif. Sampai jumpa lagi di latihan berikutnya!”
Ketiganya berjalan keluar dari restoran, merasa puas dan bahagia setelah hari yang produktif dan penuh keceriaan. Mereka meninggalkan tempat makan dengan perasaan segar, siap menghadapi tantangan melawan para Zomhie