Sebuah kerajaan di negara Inggris sedang dilanda kegelisahan yang besar. Di mana Pangeran pertama dari kerajaan besar itu mengalami musibah. Bahkan, tahta lnya sebagai Putra Mahkota harus digeser. Pangeran Arthur Sebastian Earl yang dulunya menjadi Putra Mahkota harus merelakan tahta tersebut untuk adiknya–Pangeran Phillips Gilbert Earl, setelah kecelakaan.
Yang mana semakin membuat Pangeran Arthur menjadi tak terkendali. Semua meninggalkannya, bahkan kekasihnya. Sejak saat itu, Pangeran Arthur menjadi sosok yang arogan. Sampai pada akhirnya semua anggota kerajaan sepakat mencarikan calon istri untuk Pangeran Arthur.
Namun, siapa yang menyangka bila karakter Maise Rosaline berbanding terbalik. Pangeran Arthur menyadari ada satu hal besar yang sedang disembunyikan oleh Maise saat ini. Apa yang sedang disembunyikan oleh Maise? Mengapa Pangeran Arthur begitu terkejut? Simak kisahnya hanya di Who Are You?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34 Terjatuh
"Apa yang ingin kamu dengar?" tanya Alice.
"Semuanya." Pangeran Arthur menjawab dengan tegas. Semua orang memandang Pangeran Arthur dan Alice yang saat ini sedang beradu argumen.
Kate sangat tidak sabar. Ingin sekali Kate membantu Alice agar tidak dituduh lagi. Padahal semua ini hanya sebuah kebetulan. Akan tetapi siapa memangnya yang akan mempercayai mereka berdua? Kate menggeram dalam diam.
"Kalau aku mengatakan bahwa aku tidak sengaja bertemu dengan Tuan Duke Theo Hamilton, apa kamu akan percaya padaku?" Alic3 memulai sesi pertanyaan itu dengan pertanyaan yang ringan.
"Tergantung apa tujuanmu. Dan bagaimana kamu bisa bertemu dengannya. Bukankah kamu bisa menjelaskan? Aku pikir bukan hanya aku saja yang sedang menunggu penjelasan darimu. Ada orang yang lebih penting dariku sedang menunggu penjelasanmu." Pangeran Arthur menunjuk raja dan ratu yang ada di sana. Membuat semua orang menoleh ke arah sepasang pemimpin negara Inggris.
"Au tidak sengaja bertemu dengan Duke Theo Hamilton. Seperti yang aku katakan. Mungkin mereka mengira bahwa aku mengalami amnesia setelah kecelakaan itu. Mereka membawaku ke rumah mereka. Waktu itu aku memang mengalami beberapa luka setelah mobil mereka menabrakku." Alice memulai 4penjelasannya.
Semuanya terdiam dan menunggunya memberikan penjelasan. Akan tetapi ekspresi Pangeran Arthur sangat berbeda. Laki-laki yang baru saja sembuh dari kebutaan itu memberikan tatapan tajam. Pangeran Arthur seperti ingin menguliti Alice. Meski begitu Alice sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh pangeran Arthur.
"Jadi setelah mereka menabrakmu dan kamu mengalami beberapa luka. Kamu tidak memiliki niat untuk mengatakan secara jujur bahwa kamu tidak mengalami amnesia?" Pangeran Arthur menyipitkan kedua matanya. Laki-laki itu berusaha untuk mengintimidasi Alice.
"Aku pikir dengan pertengkaranku tadi dengan Hugo, kalian bisa menyimpulkan sendiri," sahut Alice.
"Maksudmu pertengkaran yang mana? Ingat bahwa kamu sedang berhadapan dengan anggota keluarga kerajaan. Kami bisa menjatuhkan hukuman yang mengerikan untukmu. Apalagi secara terang-terangan dan sangat jelas bahwa kamu melakukan penipuan terhadap kami. Aku bisa menjamin bahwa lehermu akan terlepas dari badan," ancam Pangeran Arthur.
"Aku tidak peduli tentang hal itu. Karena aku memang tidak memiliki tujuan tertentu. Karena bagiku, aku hanya ingin menikmati hidup. Tujuanku hanya satu. Membunuh orang yang bekerja sama dengan Pangeran Philips. Hanya itu. Aku tidak peduli apabila aku harus mendapatkan hukuman dari kalian." Alice menjelaskan bahwa ia tidak tertarik dengan ancaman Pangeran Arthur.
Bahkan Alice tidak segan-segan untuk mengatakan bahwa ia ingin membunuh seseoranh. Tentu saja semua orang terkejut dengan penjelasan dari Alice. Sebab Alice tidak berbasa-basi dan ia mengatakan dengan jelas bahwa Alice ingin membunuh seseorang yang bekerja sama dengan Pangeran Philips.
"Siapa orang yang bekerjasama dengan apangeran Philips?" tanya Pangeran Arthur.
"Lalu apa tujuan orang itu sehingga ia bekerja sama dengan putraku?" Raja pun ikut berbicara.
"Kalau kamu berbohong, hukum pancung mungkin akan menantimu," ucap Ratu yang ikut campur.
Semua orang memojokkan Alice agar ia mengatakan yang sebenarnya. Sedangkan Kate hanya terdiam kesal. Padahal Alice sudah membantu mereka untuk menyingkirkan musuh. Akan tetapi sekeras apapun Alice berusaha, tetap saja Alice harus tunduk pada aturan negara Inggris.
Ketika Alice ingin menjawab, kedua matanya menangkap satu bayangan yang cukup mengerikan. Dua mata Alice membulat ketika sebuah moncong dari senjata laras panjang itu mengarah ke arah Pangeran Arthur.
Semua orang tidak ada yang melihat pemandangan itu. Hanya Alice yang bisa melihatnya dengan jelas. Lantaran posisi mereka yang berlawanan.
"Awas!"
Alice berlari ke arah Pangeran Arthur yang saat ini sudah duduk di kursi rodanya. Alpha berdiri sedikit jauh dari Pangeran Arthur. Pun juga sama halnya dengan raja dan ratu.
Door!
Suara tembakan itu terdengar berulang kali. Muncratan darah tersebar kemana-mana. Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan apa yang terjadi.
"Arrgh!" Permaisuri Callista merunduk. Ia menutup kedua telinganya dengan tangannya. Tubuh wanita itu bahkan gemetar. Sedikitpun ia tidak membuka kedua matanya semenjak terdengar berulang kali letupan senjata api.
"Keparat!" Kate mengejar bayangan dari seseorang yang sudah menembak Alice.
Pangeran Arthur tidak dapat berkata-kata. Saat ia melihat tubuh Alice penuh dengan darah. Serta kini tubuh tersebut perlahan terjatuh ke lantai marmer. Kedua mata Pangeran Arthur tampak syok ketika ia mendapati Alice rupanya justru menyelamatkannya dari seseorang yang berniat menembaknya.
"Alice!" Untuk pertama kalinya Pangeran Arthur menyebut nama asli dari Alice.
Bagaimana keadaan Alice selanjutnya? Lantas Seperti apa perasaan Pangeran Arthur, ketika ia mengetahui bahwa Alice sudah menyelamatkan nyawanya? Sebab tubuh gadis itu kini terjatuh bersimbah darah tepat di depan matanya. Akankah mereka semua mempercayai Alice?
balaskan dendam gengmu!