Series ke dua dari novel 14 Februari, yang menceritakan kehidupan karir dan asmara seorang Charity Lilybelle Tjaidjadi, atau yang lebih akrab di sapa Lily.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Baca terus novel Lily ya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER - 34
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya tiba di hari keberangkatan Tara ke Australia. Keberangkatan untuk yang pertama ini, Tara tak sendiri tapi ia di temani oleh kedua orangtuanya, sementara Lily hanya mengantar Tara sampai ke bandara, ia tak bisa ikut karena masih harus mengurus toko dan mempersiapkan kuliahnya.
Namun Lily tak sendiri, ia di temani oleh Gavin dan Luna yang juga turut serta mengantar Tara hingga bandara.
"Lily mengelus bahu Tara dengan kembut. "Dek, semangat belajar ya. Kapan-kapan nanti aku akan ke sana mengunjungimu dan kangguru yang ada di sana," ucap Lily sembari tertawa.
Tara tersenyum mendengar lelucon yang di lontarkan kakanya, kemudian ia menatap Lily dalam-dalam. "Kak, boleh aku memelukmu?" pinta Tara.
"Tentu saja," Lily pun langsung memeluk adiknya dengan hangat, tanggan Tara mencengkram erat pinggang Lily hembusan napasnya yang berat sangat terasa di leher Lily meski dirinya mengenakan hijab. Hembusan itu seirama dengan detak jantung Lily yang mendadak berdegup dengan kencang, Lily langsung melepaskan pelukannya, ia tak ingin Tara mendengar denyut jantungnya. 'Ada apa ini? Mengapa jantungku selalu seperti ini ketika di dekat Tara?' batin Lily, ia mencoba bersikap wajar meski degup jantungnya masih bedegup dengan hebat. "Hati-hati ya dek," ucapnya.
"Ya, kau juga harus semangat belajarnya," ucap Tara, ia masih memandangi Lily lekat-lekat seolah ia tak ingin berpisah dengan Lily. "Maaf aku tidak bisa membuatkan catatan lagi untukmu."
"Tenanglah, ada aku," sambung Gavin. "Aku satu kelasnya dengan ya jadi aku yang akan membuatkan catatan dan menemaninya belajar," ia meraih tangan Lily dan menggegamnya. Pandangan Tara sesaat turun melihat genggaman itu, "Ya baguslah," ujarnya. "Kalau begitu aku masuk dulu ya," ia berpamitan kepada Luna kemudian berlalu meninggal Gavin, Lily dan Luna.
"Mommy dan daddy pergi ya sayang," Fay memeluk dan mencium putri sulungnya bergantian dengan Kendra. "Inget kabari kami jika ada apa-apa," sambung Kendra. "Dan jangan merepotkan aunty Luna."
"Lily sama sekali tak merepotkan kok Ken," ucap Luna. "Aku malah senang kalian menitipkannya kepadaku, dia akan jadi anak gadisku selama kalian di Australi." Sebenarnya ini yang di nanti sejak lama oleh Luna di mana Lily tinggal bersamanya, dirinya bisa mengobrol membahas kewanitaan sepanjang hari, serta memiliki teman untuk mempercantik diri, hal yang sama sekali tidak akan bisa ia lakukan bersama putranya.
"Titip Lily, mba." Fay memeluk dan mencium kedua pipi Luna, "Iya, kalian hati-hati ya. Ambil-lah waktu untuk bulan madu kedua, kalian tak perlu mengkhawatirkan Lily. Aku akan menjaganya 24 jam."
Fay tertawa, rasanya sudah lama sekali ia dan Kendra tak berlibur berduaan. "Ya lihat jadwal nanti," ucap Fay, kemudian beralih menyalami Gavin. "Tetap jaga batasan dengan Lily ya," Fay memperingatkan Gavin untuk tidak macam-macam kepada putrinya.
"Siap aunty," ucap Gavin, meski telah kembali mengantongi izin berpacaran dengan Lily, Gavin tak berani mencium apa lagi berbuat macam-macam kepada Lily, di matanya Lily adalah wanita yang sangat berharga.
Setelah Tara dan kedua orangtuanya tak terlihat lagi, Luna mengajak Lily dan putranya pulang, namu sebelum itu Lily meminta Luna untuk mengantarnya ke toko, Lily ingin mengecek kondisi tokonya sekaligus melihat persiapan pembukaan toko emasnya.
Ya, keuntungan penjualan toko bunganya, sebagian ia gunakan untuk memperpanjang kontrak toko bunganya dan sebagian lagi ia gunakan untuk menyewa satu ruko di sebelah toko bunganya serta untuk modal usaha perhiasaan DNA milik ibundanya.
Semula Fay sempat malu begitu mengetahui Lily akan membuka kembali toko perhiasan DNA milik Amanda, karena dirinya sempat menutup toko tersebut demi menjalin kemitraan bersama Kevin. Namun Lily selalu meyakinkan Fay, jika langkah yang Fay ambil kemarin adalah langkah yang tepat mengingat belum adanya pengrajin yang handal untuk bekerja di toko perhiasannya.
Tapi secara keseluruhan baik Fay dan Kendra mendukung penuh kegiatan bisnis yang di lakukan oleh putri sulungnya, tak jarang Lily mengajak kedua orangtuanya berdiskusi dalam mengambil keputusan penting untuk tokonya.
"Padahal baru minggu kemarin mommy kemari, tapi sudah banyak perubahan di tokomu," ucap Luna ketika Gavin memarkirkan kendaraannya di depan toko perhiasan DNA milik Lily.
Mommy.
Luna menoleh ke belakang. "Mau ya, selama mommy dan daddymu di Australi, kamu panggil aunty, jadi mommy," pintanya.
Lily mengangguk. "Tentu saja, bahkan aku akan terus memanggil aunty mommy." Sebetulnya sudah lama Lily ingin memanggil Luna dengan sebutan mommy karena perhatian yang selalu Luna berikan kepadanya ia seperti memiliki tiga mommy dalam hidupnya, namun ia khawatir jika Luna tak nyaman maka Lily masih memanggilnya aunty.
"Ahh senangnya, terima kasih sayang," ucap Luna girang. "Tapi mommymu tidak keberatan kan?"
Lily menggeleng. "Tidak, mommy Fay sudah tahu. Mommy malah meledekku karena dia pikir aku dan Gavin mau buru-buru menikah."
"Jangan dulu, kuliah yang benar, raih semua mimpi-mimpi kalian yang terpenting tetap pegang komitment dan tidak lirik-lirik kanan kiri," ucap Luna dengan tegas.
Lily dan Gavin kompak mengangguk setuju, kemudian ketiganya turun dari mobil dan berjalan masuk ke toko perhiasan. Di dalam toko, Luna melihat pengrajin yang tengah mengerjakan sebuah liontin dari tali pusar yang sudah kering. "Loh Ly, bukankah toko ini belum buka?"
"Insyaallah bulan depan grand openingnya, tapi sekarang kita sudah bisa menerima beberapa pelanggan untuk foto di akun official," jawab Lily.
"Mommy, mau pesan boleh ya?"
"Loh bukannya mommy sudah punya," beberapa kali Lily sempat melihat Luna mengenakan perhiasan dari toko ibundanya saat toko tersebut masih di pegang oleh Fay.
"Itu model lama, mommy ingin yang di dalamnya ada foto Gavin dan daddynya."
"Nanti aku yang buatkan special untuk mommy."
Luna sangat girang mendapatkan kesempatan membeli produk perhiasan Lily, sebelum tokonya resmi di buka, ia berniat mempromosikannya kepada teman-teman arisan dan komutasnya.
Pokoknya sukses untuk semua karya²nya dan semangat berkarya ❤❤
Terimakasih banyak buat Irma yang sudah menghadirkan kisah Lily yang memberikan begitu banyak pelajaran hidup tentang cinta, kesetiaan dan kesabaran.
Semangat terus untuk berkarya dan semoga kesehatan, kesuksesan dan keberkahan selalu membersamai, Aamiin....