NovelToon NovelToon
MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

Status: tamat
Genre:Poligami / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:80.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia Fajar

Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.

Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.

Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.

Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.

Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?

Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. GLADIS STRES

"Sudah Ma, biarkan saja! Anak susah diatur. Sama seperti ibunya. Begitulah jika terlalu dimanja. Susah mau merubah sifat buruknya itu."

"Tapi Pa, Papa harus kejar Gladis. Jika terjadi hal buruk aku juga yang akan disalahkan oleh Mbak Herlina."

"Mama nggak perlu takut, Herlina yang patut dipersalahkan atas semuanya. Papa tahu untuk apa uang itu, makanya papa ulur waktu untuk memberikannya. Papa ingin memasukkan dia ke tempat rehabilitasi tapi Herlina bersikeras melarang. Sekarang terserah dia, jika sampai anaknya over dosis baru tahu rasa."

Gladis yang kesal dengan sang papa pulang ke rumah Narandra, dia bermaksud minta uang dengan Narandra.

Tapi sesampainya di rumah ternyata Narandra sedang keluar, begitu juga dengan sang mama yang belum juga kembali.

Gladis stres, dia melempar tas miliknya ke arah meja rias hingga alat riasnya berhamburan ke lantai.

Kemudian Gladis menelepon Satria tapi tidak di angkat. Akhirnya diapun pergi ke rumah Aisyah untuk mencarinya di sana.

Sesampainya di rumah Aisyah, Gladis berteriak memanggil Satria dan Aisyah yang mendengar hal itupun hendak keluar tapi Zahra melarang.

Satria baru saja berangkat ke kantor dan Zahra tidak mau sampai Gladis melukai mereka.

Gladis memaksa masuk dan Bibi tidak bisa mencegahnya.

"Dimana Kak Satria! Aku ingin bertemu dengan dia. Kak...kak...Kak Satria!"

Zahra akhirnya keluar kamar dan dia melarang Aisyah untuk ikut.

"Ada apa kamu kesini Dis? Mas Satria nggak ada, dia ke kantor."

"Jangan bohong! Pasti kamu sengaja kan menjauhkan aku dengan Kak Satria! Gara-gara keberadaan kalian, Kak Satria sekarang menjauhiku. Dulu dia sangat menyayangiku!"

"Aisyah keluar kamu! Ayo keluar, gara-gara kamu rencanaku ingin menjadi istri Kak Satria gagal!"

"Aisyah tidak ada di rumah, kamu jangan teriak-teriak sembarangan. Jangan sampai aku kasar dan mengusir mu keluar dari sini!"

"Coba saja kalau berani!"

Gladis bukannya takut, dia malah berlari masuk menggedor-gedor kamar untuk mencari Aisyah. Dia sedang stres jadi tidak pikir panjang lagi dalam bertindak.

Aisyah akhirnya keluar, dia tidak tahan lagi mendengar suara teriakan Gladis yang makin membuat telinga terasa pekak.

Dan saat melihat Aisyah kemarahan Gladispun bertambah, dia mendorong Aisyah hingga hampir saja terjatuh.

"Dasar perempuan udik, gara-gara kamu rencanaku semua gagal! Kamu enak-enakan, punya segalanya. Apa yang kamu minta semua bisa kamu dapatkan dan aku...harus mengemis dulu hanya untuk minta uang jajan!"

"Aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang dan bayi ini tidak boleh lahir!" seru Gladis sembari mendorong Aisyah lagi.

Aisyah jatuh ke lantai, untung saja tangannya sempat menahan hingga dia bisa melindungi tulang ekornya agar tidak menyentuh lantai. Aisyah tidak mau bayinya sampai cacat jika itu sampai terjadi.

Zahra yang melihat hal itu langsung berlari ingin membantu Aisyah, tapi Gladis menangkap lengannya hingga terpelintir dan sakit.

Gladis menyeringai, lalu berkata, "Ngapain Mbak ingin melindunginya? Apa Mbak nggak takut perhatian Kak Satria akan full ke dia!"

"Aku tidak takut! itu wajar saja, Aisyah juga istri Mas Satria. Kamu jangan coba-coba menghasut. Aisyah tidak sepertimu yang serakah!"

"Kamu kan sebenarnya yang ingin menyingkirkan aku, bersyukur aku tahu lebih awal hingga aku buru-buru meminta Mas Satria untuk menikahi Aisyah."

"Bangsat! Kalian berdua akan aku singkirkan biar kita sama-sama nggak dapat!"

Setelah mengatakan hal itu, Gladis gantian menyakiti Zahra, dia menarik baju serta rambut Zahra hingga hampir terlepas.

Zahra berteriak kesakitan dan Aisyah yang melihat hal itu langsung bangkit dan ingin menolong Zahra.

"Syah cepat pergi dari sini, jangan kamu pedulikan aku! Gladis sudah gila dan biar aku saja yang menghadapi dia!"

"Nggak Mbak, aku bukan pengecut!"

"Gladis lepaskan Mbak Zahra!" teriak Aisyah sembari gantian menarik rambutnya."

Gladis marah, lalu dia melepaskan cengkeramannya di rambut Zahra dan mendorong Aisyah.

Mata Gladis memerah, dia seperti orang kesurupan dan dengan tenaga full Gladis pun menyerang Zahra serta Aisyah.

Aisyah menatap tembok dan dia menyeringai kesakitan.

Zahra bangkit lalu memukul kepala Gladis dengan pas bunga. Kepala Gladis mengeluarkan darah dan darah itu mengalir membasahi wajah Gladis.

Gladis bukannya kesakitan, tapi dengan seringai jahatnya dia mengelap wajah serta membalurkan darahnya yang nempel ditangan ke baju Zahra.

Aisyah mual mencium aroma darah, sambil memegangi perutnya diapun mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Gladis.

Saat Gladis limbung karena kena timpuk, Zahra pun mengambil kesempatan untuk memukulnya kembali.

Satria yang ditelepon Bibi pun buru-buru pulang, dia melajukan mobilnya dengan kencang karena takut kedua istrinya celaka.

Bibi yang melihat Zahra dan Aisyah masih berusaha melawan, segera berlari keluar, beliau berteriak minta pertolongan.

Karena rumah Aisyah berada di kompleks perumahan elite dan jarak tetanggapun lumayan jauh karena di batasi pekarangan serta tembok, belum ada yang mendengar.

Zahra dan Aisyah masih melawan dan itu membuat Gladis makin kalap.

Dia yang melihat pisau buah di kamar Zahra langsung menyambarnya dan dengan amarah yang sudah tak terkendali Gladis mengarahkan pisau tersebut ke Aisyah.

Zahra yang melihat itu langsung mendorong Gladis dan pisau hanya mengenai lengan Aisyah.

Darah menetes dari lengan Aisyah dan diapun bersandar lemas disisi lemari.

Gladis yang belum puas serta kepalang basah, mengarahkan pisaunya sekali lagi ke arah perut Aisyah dan kali ini Zahra lah yang jadi korbannya.

Pisau menancap diperut Zahra hingga membuat Aisyah menangis histeris, lalu pingsan. Bibi pun yang sudah kembali bersama dua orang tetangga ikut histeris.

Gladis tertawa terbahak dan juga menangis, dia seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Bibi panik, beliau bingung bagaimana harus menolong para majikannya.

Salah satu tetangga meminta Bibi untuk memberitahu Satria, sementara mereka menghubungi ambulance untuk membawa Zahra serta Aisyah ke rumah sakit.

Gladis yang tiba-tiba sadar akan perbuatannya berlari keluar, lalu menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan rumah Aisyah.

Satria sangat terkejut mendengar cerita Bibi dan diapun menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai.

Ambulance tiba bersamaan dengan sampainya Satria di sana dan tanpa bertanya tentang kronologis kejadiannya, Satria pun langsung menggendong Zahra, membawanya masuk ke dalam ambulance.

Sementara yang lain mengangkat tubuh Aisyah. Tapi sebelumnya Satria telah memberitahu agar berhati-hati karena Aisyah saat ini sedang mengandung.

Satria meneteskan air mata melihat nasib tragis istrinya dan dia mencoba menghibur Zahra, memberikan semangat agar bisa bertahan hingga mendapatkan pertolongan.

Darah merembes dari celah pisau yang masih menancap, meski mereka sudah membalutnya dengan kain yang tebal.

Zahra meneteskan air mata dan dia sudah pasrah akan takdir hidup serta matinya. Yang terpenting Aisyah beserta calon bayinya selamat.

Ambulance pun melaju dengan kencang, mereka harus segera tiba di rumah sakit untuk menyelamatkan Zahra.

Bersambung.....

1
Dwi ratna
kesian ais
Dwi ratna
upik abu jd Cinderella ya syah
Dwi ratna
kebanyakan ma gladis tuh jd antagonis ya
Dwi ratna
berarti ssatria mw dnikahin sm sepupuny apa?
Dwi ratna
komen ah msa cm bca doang, kesian othorny...
Alya Yuni
Mati aja kau Zahra jdi prmpuan ko trllu bodoh
Alya Yuni
In yg buat ak mls bca npa penulis membuat sya mlas bca
Cinta Suci
alloh irham
neny
wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,,mohon maaf lahir dan batin ya kak othor 🙏😘
neny: aamiin yra 🤲🤲
total 2 replies
Uchi Hafiz
lanjut
Puput pujiati
mantab
Uchi Hafiz
lanjut
neny
kerasa banget euy sakit nya di hati aq ,,,bentengi hati mu aisyah,,km harus kuat,,
Uchi Hafiz
lanjut
Avatar
Semangat..kak..
mama oca
mampir thor.. cerita yang bagus..semangat kakak
neny
cerita nya sangat menarik,,sy senang membaca nya,,semangat kak othor untuk menghasilkan karya terbaik,,tetap sabar dlm mencapai kesuksesan,,krn semua itu tdk instan,,,pokok nya semangat 💪💪💪😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!