Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat
Lily sudah berumur satu tahun. Kini dia dalam fase belajar berjalan. Dia sedang belajar berdiri dan merambat ke tembok. Arin harus memberikan pengawasan ekstra karena kadang kala Lily tiba-tiba memanjat sesuatu.
"Kak Flora, kok adiknya nggak diajak main?" tanya Arin.
"Flora ingin main sendiri."
Lily ingin bergabung tapi Flora malah menyembunyikan mainannya. Lily pun menangis ketika dia tidak bisa memiliki mainan yang dia inginkan. "Kak, pinjami adiknya mainan!"
"Nggak mau, ini punya Flora." Flora pun ikut menangis. Arin merasa kebingungan. Di satu sisi di sedang menggendong Lily di sisi lain Flora menangis sambil guling-guling.
"Ya ampun, kamu ini jangan terlalu keras pada anak."
'Keras? Memangnya apa yang telah aku lakukan? Masa hanya meminta Flora untuk meminjami mainan adiknya dibilang terlalu keras?'
Arin seolah tidak terima teguran sang ibu. "Mereka berebut mainan saja, Bu. Aku meminta Flora meminjami mainan adiknya tapi dia malah nangis."
Arin mencoba menjelaskan pada ibunya agar tidak salah paham. Tapi sepertinya Bu Nia tidak percaya. "Flora ikut nenek saja. Kita main ke rumah tetangga saja."
Arin membiarkan anaknya ikut dengan sang nenek. Mendadak perut Arin terasa mulas. Dia pun meninggalkan Lily di depan televisi. "Tunggi di sini sebentar ya, Nak."
Baru beberapa menit Arin memasuki toilet anaknya terdengar menangis. Dia terlihat frustasi karena belum menyelesaikan hajatnya. Arin pun memilih keluar dan menahan sakit perutnya.
"Kenapa, Nak?" tanya Arin meski gadis kecil itu belum bisa menjawab. Dia menduga Lily takut sendirian sehingga dia menangis.
Mendadak sakit perut Arin pum menghilang. Dia memilih menemani Lily bermain.
Setelah itu ketika jam makan siang, Arin sedang lahap-lahapnya makan tapi tiba-tiba anaknya yang kecil buang air besar. "Bu, adik eek," teriak Flora.
Arin pun menghela nafasnya berat. "Kenapa tiap kali makan harus ada kejadian kaya gini sih?" Kalau dipikir-pikir lucu tapi juga menyebalkan. Nafsu makan Arin tiba-tiba menghilang setelah mencium bau pup anaknya.
"Yuk, kita bersihkan pantat kamu dulu." Arin menggendong Lily dan mengganti popoknya.
Lagi, ketika sudah sore Arin berniat mandi setelah merasa sangat gerah usai beberes rumah. Akan tetapi ketika dia baru memakai sampo anaknya menangis. "Allahu Akbar, apalagi kali ini?" geram Arin kala merasakan hidupnya tak nyaman.
Arin pun terpaksa menyudahi kegiatan mandinya. Masa bodoh dia tidak memakai sabun pun tak masalah. Arin segera menghampiri anak-anaknya setelah memakai handuk. "Ada apa sayang?"
"Adik melempar mainan ke kepalaku, Bu." Flora mengadu pada ibunya.
"Maafkan adik ya kak. Adik nggak tahu apa yang dia lakukan. Adik belum ngerti. Mungkin dia ingin mengajak kakak bermain." Atin mencoba menjelaskan pada Flora dengan bahasa yang mudah dimengerti.
"Assalamualaikum," Ikbal pulang dari kerja.
"Waalaikumsalam." Anak-anak menyambut kedatangan ayahnya.
Ikbal mengerutkan keningnya ketika melihat sang istri hanya memakai handuk. "Dek?"
"Ini aku baru mau ganti baju, Mas. Tadi anak-anak rewel. Arin berjalan menuju ke kamar. Ikbal pun mengikuti.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Arin.
"Melihatmu ganti baju." Arin membulatkan matanya.
"Hish, jangan sekarang! Aku harus segera ganti baju nanti Lily mencariku."
Ikbal tersenyum menyeringai. "Kalau begitu nanti malam jangan lupa bangunin aku ya. Aku kangen menyusu dari sumbernya."
"Hish, ini milik Lily," tegas Arin sehingga membuat wajah Ikbal berubah sendu.
Ketika anak-anak sudah mulai tidur, Arin bercerita tentang apa yang dia alami hari ini. Meski tiap hari dia alami tapi sesekali dia ingin mengeluh. "Mas, aku capek hari ini menghadapi dua bocil yang rewelnya minta ampun. Dari pagi sampai petang nggak ada istirahatnya..."
Arin menoleh pada Ikbal. Ternyata Ikbal sudah tidur duluan. "Jangan harap dapat jatah," gumam Arin yang kesal pada suaminya.
Hayo, siapa nih suaminya yang sama kaya Ikbal? Dicurhati istri dikira lagi mendongeng.
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...